Resensi Buku: Menyusuri Garis Bumi

Cover Menyusuri Garis Bumi (Goodreads)

Menyusuri Garis Bumi
Clement Steve
Grasindo, 2014
374 halaman

Jujur buku ini merupakan buku bertemakan pendakian gunung pertama yang saya baca. Membaca buku ini seperti membaca catatan pendakian gunung yang sering saya post di blog ini. Penulisnya adalah Oom Clement Steve, mahasiswa (dulu) Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kini bernama Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Saat mahasiswa, beliau sering mendaki gunung lalu sesekali menuliskan catatan perjalanan di notes kecilnya. Di buku ini juga diceritakan awal mula beliau tercebur ke dalam hobi ini yaitu ketika Oom Steve melihat kakaknya yang sering menenteng tas besar di malam minggu.

Beberapa gunung pernah didaki oleh beliau. Dari beberapa gunung yang didaki, kebetulan saya juga pernah mendakinya. Sebut saja Merbabu, Gede – Pangrango, Semeru, Kerinci, Merapi dan lain-lain. Membaca berbagai kisah dari Oom Steve ini seakan-akan membawa saya memasuki mesin waktu. Mungkin keadaan gunung tetap sama antara sekarang dengan tahun 1970an dulu, tetapi untuk mencapainya tentulah sudah berbeda.

Contohnya, Oom Steve menceritakan pengalaman beliau mendaki menuju air terjun Cibereum yang terletak di kaki gunung Gede – Pangrango. Saat itu, belum ada angkutan dari Cimacan menuju Cibodas sehingga mereka harus berjalan kaki. Berbeda dengan keadaan saat ini. Saat itu juga kompleks Gunung Gede – Pangrango belum menjadi Taman Nasional.

Cerita Oom Steve saat ke Kerinci menurut saya yang paling menarik. Oom Steve banyak bercerita tentang almarhum Pak Paiman. Bagi yang pernah mendaki Gunung Kerinci, kemungkinan besar akan tahu nama Paiman yang kini menjadi nama sebuah homestay di Kayu Aro, Jambi. Dari buku ini, saya mendapatkan sebuah pelajaran yaitu jangan lupa mencatat keadaan masyarakat sekitar gunung.

Layaknya sebuah catatan perjalanan, buku ini ditulis dengan bahasa sehari – hari. Kita seakan – akan sedang ngobrol dengan Oom Steve hanya dengan membaca buku ini. Di buku ini juga banyak dokumentasi foto pendakian. Dapat kita lihat bahwa keadaan gunung tidak banyak berubah kecuali Gunung Merapi akibat letusan 2006 (di buku ini, Puncak Garuda masih utuh)

Buku ini cocok untuk kalian yang sedang keranjingan mendaki gunung

Iklan

Menghadapi Pandangan Orang Awam Mengenai Matematika

jonathanhoseana

Pengantar

Ada beberapa persepsi tidak benar mengenai matematika yang dimiliki oleh orang awam. Persepsi-persepsi tersebut menjadikan matematika tidak lagi bermakna, dan berangsur-angsur kehilangan jati dirinya. Tulisan ini akan membahas dua persepsi yang menurut penulis paling sering muncul. Yang pertama adalah persepsi bahwa matematika adalah pelajaran menghitung, sedangkan yang kedua adalah persepsi bahwa matematika adalah pelajaran yang tidak berguna karena jauh dari kehidupan nyata.

Persepsi Pertama: Matematika Sebagai Pelajaran Menghitung

Ketika sekumpulan mahasiswa dari berbagai bidang studi yang sedang bersantai di kafe ingin menghitung besar patungan yang harus dibayar oleh masing-masing dari mereka atau besar uang kembalian yang seharusnya mereka peroleh, secara spontan mereka langsung menunjuk mahasiswa matematika untuk melakukannya. Mari kita kritisi fenomena ini.

Sebagai seseorang yang menekuni matematika, sudah tidak jarang lagi penulis berhadapan dengan situasi seperti ini. Sekali dua kali, penulis menganggapnya sebagai candaan. Lama kelamaan, penulis merasa bahwa ada yang bisa dikaji dari pengalaman itu.

Pertama-tama, penulis…

Lihat pos aslinya 1.586 kata lagi