Ceremai via Linggarjati lagi

Cerita di bawah ini seharusnya saya post sekitar 10 bulan yang lalu tetapi terlupakan di draft. Karena suatu hal, saya memutuskan untuk menyelesaikannya

—-

Setelah (mendadak) solo hiking Ceremai via Linggarjati pada November 2014 lalu, weekend lalu saya, Masdan, Oki, Rakhel, dan Fitri menjajal (sebagian orang “menjajal lagi”) Ceremai via Linggarjati. Entah kenapa jalur ini sangat berkesan buat saya walau memang tanjakannya agak amit-amit. Dari beberapa gunung yang pernah saya daki, saya akui Ceremai via Linggarjati ini yang paling tough. Pendakian kali ini dilaksanakan atas prakarsa Masdan yang katanya mau latihan dulu sebelum ke Kerinci 13 Mei nanti (saya juga ikut loh), dan Fitri yang mau mencoba mendaki Ceremai.

DSC_0002

Bagi beberapa orang, mendaki gunung yang sama berkali-kali mungkin membosankan dan ndak enak. Apalagi kalau jalurnya start dari 600 MDPL, tidak ada air, dan penuh dengan tanjakan amit-amit 3D (Dengkul bertemu Dada dan Dagu). Menurut saya mendaki gunung yang sama berkali-kali itu berbeda. Tidak ada yang sama. Meskipun anda melewati jalur yang sama sepertinya tidak mungkin anda ingat secara persis jalur tersebut akan mengarah ke mana. Yang ada hanyalah fragmen-fragmen ingatan yang lepas satu sama lain. Menyatukan fragmen – fragmen tersebut dengan suasana baru seperti teman pendakian baru, jelas tidak akan pernah membuat anda bosan dengan pendakian gunung yang sama.

Perjalanan dimulai di terminal Kampung Rambutan. Karena pendakian ini dadakan, jadi kami opsi kendaraan umum yang tersisa hanyalah naik bis. Saya ingat bahwa Masdan awalnya mengajak kita untuk naik bis dari terminal Pulo Gadung. Saya baru ingat bahwa ada bis Setia Negara dari Kp Rambutan tujuan Cirebon. Saat itu hanya saya berpikir bahwa itulah terakhir kali naik bis Setia Negara karena ngetemnya lama sekali. Sebagai bayangan saja, dari depan terminal Kp Rambutan sampai masuk tol JORR, total waktu yang dihabiskan lebih dari 1 jam. Saya sempat frustasi saat itu.

Kekesalan belum selesai, ternyata jalanan macet sampai bis ini beberapa kali keluar tol untuk lewat jalan raya Pantura. Akhirnya kita sampai di Linggarjati sudah cukup siang, sekitar jam 6 pagi. Seharusnya pagi buta kami sudah sampai dan jam 6 sudah start mendaki.

Rencananya, kami akan naik lewat Linggarjati dan turun lewat Palutungan. Sehingga target hari itu adalah camp di puncak Pangolongokan. Sayang sekali, baru sampai Batu Lingga, kami kehujanan akhirnya kami buka tenda dan hari itu sudah malam. Lokasinya hanya beberapa puluh meter dari lokasi awal saya ke Ceremai, hanya lebih rendah saja. Jika saja tidak hujan, kami akan tetap meneruskan perjalanan walau hari gelap. Sebelum pendakian ini, saya sempat mendaki sendirian (yang akhirnya ikut kelompok dari Bekasi karena pendaki solo tidak akan mendapatkan simaksi), berangkat jam 6 pagi, dan sampai di camp Pengasinan jam 8 malam.

Jika saat pendakian pertama saya dan teman-teman kehabisan air, pendakian kali ini kami benar-benar mapan air! Bayangkan saja, di tempat kami membuka tenda, Fitri bisa mencuci kaki dan matrasnya dengan cara menyiramnya dengan air. Ceritanya dimulai dengan masing-masing orang membawa minimal 4 botol air mineral berukuran 1.5 liter. Kami sepakat hanya boleh minum maksimal sebanyak satu botol saat perjalanan naik, 2 botol untuk masak, dan satu botol sisanya untuk perjalanan turun. Okay, semua sepertinya mengikuti aturan tersebut. Tiba-tiba malam itu hujan turun dengan derasnya di pos Batu Lingga sehingga flysheet kami menampung banyak sekali air hujan. Dari situ, kami berilma mendapatkan ekstra 6 botol air hujan. Di dalam gunung dan hutan yang diketahui tidak ada sumber air, air hujan dan air mineral botol rasanya sama saja. Bahkan beberapa kali saya minum air tersebut mentah-mentah atau untuk menyeduh kopi sachet.

Review App: Blinkist

Blinkist adalah suatu app yang dapat membuat anda menjadi lebih pintar dalam waktu singkat, dan berpotensi untuk ditakuti warga sekitar.

Oke, yang di atas tadi bercanda. Blinkist adalah suatu app yang dibuat oleh Blinks Lab GmbH yang berisi rangkuman dari buku-buku non fiksi terkenal. Blinkist memungkinkan para penggunanya untuk mengetahui inti dari suatu buku, dan dibahas secara bab per bab. Kurang lebih ini seperti percakapan suatu hari di pojok sekolah / kampus (perhaps)

“Kamu sudah baca Freakonomist?”

“Sudah”

“Itu isinya apa sih?”

Blinkist mengklaim terdapat 1000+ buku non fiksi yang sudah dalam bentuk Blinks, yaitu summary dari buku non fiksi, dalam format yang mudah dibaca tetapi masih dalam bentuk narasi.

Blinks tersebut dibuat oleh para expert di bidangnya dan dikerjakan secara manual. Jadi misalkan ada buku bertema ekonomi, mungkin yang membuat Blinks-nya adalah ekonom. Sayang mereka tidak memberi tahu siapa yang merangkum buku tersebut.

Menurut saya koleksi Blinks yang tersedia cukup variatif dan bertambah terus setiap harinya. Kita juga dapat browse koleksi Blinks secara kategori sesuai minat kita. Entah itu science, economics, psychology, etc. Terdapat nama-nama penulis yang terkenal mulai dari Jared Diamond sampai Karl Marx.

Karena yang Blinks yang kita baca dalam bentuk summary per bab, jadi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu buah buku menjadi sangat singkat. Freakonomist saja bisa selesai dibaca tak sampai 15 menit. Bisa membuat waktu bermacet-macet anda di jalan menjadi lebih produktif.

App ini dapat diunduh secara gratis via Google Play atau Apple Store. Sayangnya, hanya gratis trial selama 3 hari. Setelah 3 hari, anda dipersilahkan untuk subscribe menjadi user Blink Plus atau Premium yang masing-masingnya seharga US$ 49.99 dan US$ 79.99 per tahunnya. Perbedaannya adalah pada plan Premium, ada fasilitas audiobook dan sinkronisasi ke Kindle.

Idealnya, kita harus membaca buku secara lengkap. Saya setuju dengan hal ini. Tetapi jika itu tidak dapat kita lakukan, cara seperti ini lebih baik daripada tidak membaca buku sama sekali. Toh kita mengambil pengetahuan yang ada di dalamnya.

Carl Sagan on Astrology

The writing below was taken from Carl Sagan’s Cosmos episode 3 “Harmony of The Worlds”. I re-typed the script

Astronomy and astrology were not always so distinct. For most of human history, the one encompassed the other. But there came a time when astronomy escaped from the confines of astrology.

The two traditions began to diverge in the life and mind of Johannes Kepler. It was he who demystified the heavens by discovering that a physical force lay behind the motions of the planets. He was the first astrophysicist and the last scientific astrologer.

The intellectual foundations of astrology were swept away 300 years ago and yet, astrology is still taken seriously by a great many people. Have you ever noticed how easy it is to find a magazine on astrology? Virtually every newspaper in America has a daily column on astrology. Almost none of them have even a weekly column on astronomy. People wear astrological pendants, check their horoscopes in the morning before leaving their house, even our language preserves an astrological aspect. For example, take the word “disaster”. It comes from the Greek for “bad star”. Italians once believed disease was caused by the influence of the stars. It’s the origin of our word “influenza”.

What is all this astrology business? Fundamentally it’s the contention that the constellations of the planets at the moment of your birth profoundly influences your future. A few thousand years ago the idea developed that the motions of the planets determined the fates of kings, dynasties, empires. Astrologers studied the motions of the planets and asked themselves what had happened last time that, say Venus was rising in the constellation of the Goat? Maybe something similar would happen this time as well. It was a subtle and risky business.

Astrologers became employed only by the state. In many countries it became capital offense for anyone but official astrologers to read the portents in the skies. Why? Because a good way to overthrow a regime was to predict its downfall. Chinese court astrologers who made inaccurate predictions were executed. Others simply doctored the records so that afterwards the were in perfect conformity with events. Astrology developed into a strange discipline: A mixture of careful observations, mathematics, and record-keeping with fuzzy thinking and pious fraud.

Nevertheless, astrology survived and flourished. Why? Because it seems to lend a cosmic significance to our daily lives. It pretends to satisfy our longing to feel personally connected with the universe. Astrology suggests a dangerous fatalism. If our lives are controlled by a set of traffic signals in the sky, why try to change anything?

Here, look at this. Two different newspapers, published in the same city on the same day. Let’s see what they do about astrology. Suppose you were a Libra that is born between September 23 and October 22. According to the astrologer for the New York Post: “Compromise will help ease tension”. Well, maybe it’s sort of vague. According to New York Daily News’s astrologer: “Demand more of yourself”. Well, aslo vague. But also pretty different. It’s interesting that these predictions are not predictions. They tell you what to do, they don’t say what will happen. They’re consciously designed to be so vague that it could apply to anybody and they disagree with each other.

Astrology can be tested by the lives of twins. There are many real cases like this: One twin is killed in childhood in, say, a riding accident, or is struck by lightning but the other lives to a prosperous old age. Suppose that happened to me. My twin and I would be born in precisely the sampe place and within minutes of each other. Exactly the same planets would be rising at our births. If astrology were valid how could we have such profoundly different fates? It turns out that astrologers can’t even agree among themselves what a given horoscope means. In careful tests they’re unable to predict the character and future of people they know nothing about except the time and place of birth. Also how could it possibly work? How could the rising of Mars at the moment of my birth affect me then or now? I was born in a closed room. Light from Mars couldn’t get in. The only influence of Mars which could affect me was its gravity. But the gravitational influence of the obstetrician was much larger than the gravitational influence or Mars.

Mars is a lot more massive but the obstetrician was a lot closer.