What If?: Serious Scientific Answers to Absurd Hypothetical Questions

21413662
 
Kapan (jika mungkin terjadi) jumlah profil Facebook dari orang yang meninggal akan lebih banyak daripada jumlah profil Facebook dari orang yang masih hidup?
 
Jika setiap orang yang ada di Bumi mengarahkan laser pointer ke Bulan pada waktu yang bersamaan, apakah Bulan akan berubah warna?
dan banyak pertanyaan lainnya
 

Kalau anda penggemar komik XKCD, tentu buku ini harus masuk must read. Buku ini ditulis oleh Randall Munroe seorang rocket engineer di NASA komikus. Buku ini berisi berbagai pertanyaan yang tidak masuk akal tetapi Randall akan mencoba menjawabnya dengan masuk akal. Di beberapa pertanyaan yang saking tidak masuk akalnya, Randall bahkan berbaik hati untuk “meluruskan” pertanyaan tersebut dengan menambahkan berbagai asumsi agar dia dapat menjawabnya dengan masuk akal.

Buku disusun dengan format tanya-jawab dan tentunya sebagai rocket engineer di NASA komikus, beberapa jawaban akan dilengkapi dengan ilustrasi human stick ala XKCD. Selain itu ada juga rubrik Weird (and Worrying) Questions from the What If di mana Randall hanya memberikan reaksi atas pertanyaan yang weird dan worrying tadi.

 
Apakah mungkin kita menangis sampai kita mengalami dehidrasi” – Karl Wildermuth
 
Randall: “Hi Karl, apakah kamu baik-baik saja?
 

Buku juga dilengkapi dengan literatur pendukung yang digunakan oleh Randall untuk menjawab pertanyaan tersebut (if you have some time and curious enough).

Menurut saya, buku ini adalah buku yang baik untuk belajar problem solving di mana kita perlu memecah pertanyaan tersebut menjadi pertanyaan yang lebih kecil, menyelesaikannya secara terstruktur dan koheren. Ibaratnya, buku ini versi lebih hardcore dari Problem Solving 101 karya Ken Watanabe karena masalah yang diberikan jauh lebih absurd daripada masalah yang disajikan di Problem Solving 101.

Jika anda penggemar dan praktisi guesstimate (–kegiatan melakukan estimasi dengan menggunakan fakta yang cukup), buku ini dapat melatih skill anda.

 
Judul: What If?: Serious Scientific Answers to Absurd Hypothetical Questions
ISBN: 0544272994
Bahasa: Inggris
Penerbit: Houghton Mifflin Harcourt, 2014.

Resensi Buku: Menyusuri Garis Bumi

Cover Menyusuri Garis Bumi (Goodreads)

Menyusuri Garis Bumi
Clement Steve
Grasindo, 2014
374 halaman

Jujur buku ini merupakan buku bertemakan pendakian gunung pertama yang saya baca. Membaca buku ini seperti membaca catatan pendakian gunung yang sering saya post di blog ini. Penulisnya adalah Oom Clement Steve, mahasiswa (dulu) Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kini bernama Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Saat mahasiswa, beliau sering mendaki gunung lalu sesekali menuliskan catatan perjalanan di notes kecilnya. Di buku ini juga diceritakan awal mula beliau tercebur ke dalam hobi ini yaitu ketika Oom Steve melihat kakaknya yang sering menenteng tas besar di malam minggu.

Beberapa gunung pernah didaki oleh beliau. Dari beberapa gunung yang didaki, kebetulan saya juga pernah mendakinya. Sebut saja Merbabu, Gede – Pangrango, Semeru, Kerinci, Merapi dan lain-lain. Membaca berbagai kisah dari Oom Steve ini seakan-akan membawa saya memasuki mesin waktu. Mungkin keadaan gunung tetap sama antara sekarang dengan tahun 1970an dulu, tetapi untuk mencapainya tentulah sudah berbeda.

Contohnya, Oom Steve menceritakan pengalaman beliau mendaki menuju air terjun Cibereum yang terletak di kaki gunung Gede – Pangrango. Saat itu, belum ada angkutan dari Cimacan menuju Cibodas sehingga mereka harus berjalan kaki. Berbeda dengan keadaan saat ini. Saat itu juga kompleks Gunung Gede – Pangrango belum menjadi Taman Nasional.

Cerita Oom Steve saat ke Kerinci menurut saya yang paling menarik. Oom Steve banyak bercerita tentang almarhum Pak Paiman. Bagi yang pernah mendaki Gunung Kerinci, kemungkinan besar akan tahu nama Paiman yang kini menjadi nama sebuah homestay di Kayu Aro, Jambi. Dari buku ini, saya mendapatkan sebuah pelajaran yaitu jangan lupa mencatat keadaan masyarakat sekitar gunung.

Layaknya sebuah catatan perjalanan, buku ini ditulis dengan bahasa sehari – hari. Kita seakan – akan sedang ngobrol dengan Oom Steve hanya dengan membaca buku ini. Di buku ini juga banyak dokumentasi foto pendakian. Dapat kita lihat bahwa keadaan gunung tidak banyak berubah kecuali Gunung Merapi akibat letusan 2006 (di buku ini, Puncak Garuda masih utuh)

Buku ini cocok untuk kalian yang sedang keranjingan mendaki gunung

Lingkar Tanah Lingkar Air

Setelah Ronggeng Dukuh Paruk, Senyum Karyamin, Kubah, Orang – Orang Proyek, Mata yang Enak Dipandang dan Di Kaki Bukit Cibalak, kali ini saya membaca Lingkar Tanah dan Lingkar Air.

source : https://kampungmanisku.wordpress.com/
source : https://kampungmanisku.wordpress.com/

Saya membeli buku ini dari seorang penjual buku bekas di Facebook. Keadaan bukunya sedikit menyebalkan karena beberapa halaman terlepas, bahkan ada 2 halaman blank di dalamnya (kalau yang ini jelas salah dari percetakan). Terbitan LKiS tahun 1999. Beruntung sekali saya bisa membelinya pada Mei 2013. Saya baru membacanya sekarang karena sejak dibeli hingga sekarang, buku itu teronggok di tumpukan kertas bekas di meja kerja saya :|. Terlupakan

Buku ini mengisahkan Amid, seorang penduduk desa di suatu perkampungan yang terletak di perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah. Kampung yang tadinya damai, kini mulai mencekam karena Belanda dikabarkan akan datang. Kiai Ngumar, seorang imam masjid mendapatkan kabar bahwa para Ulama telah berkumpul. Hadratus Syaikh berfatwa bahwa berperang melawan Belanda adalah jalan jihad karena melawan kemungkaran. Seketika pemuda di kampung tersebut bersemangat untuk melawan Belanda. Dengan modal satu senapan, Amid, Kiram, Jun, dan Kang Suyud membentuk kelompok paramiliter dengan nama Hizbullah, tentara Allah.

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, terjadi gejolak politik di seluruh Indonesia. Salah satunya, Kartosuwiryo yang memproklamirkan Negara Islam Indonesia atau Darul Islam. Kiai Ngumar menyarankan mereka kembali ke kehidupan normal atau mendaftar menjadi tentara republik karena Belanda telah pergi. Sayang, ditengah usaha menjadi tentara republik, terjadi cekcok antara tentara Republik dengan mantan tentara Hizbullah di suatu stasiun yang membuat tentara Hizbullah merasa dikhianati lalu bergabung dengan Darul Islam. Lagipula, Kang Suyud tak mau ikut dengan tentara Republik karena di dalamnya ada orang komunis yang tak pernah sholat.

Secara garis besar, itulah cerita Lingkar Tanah Lingkar Air. Dari buku ini saya baru tahu clash antara tentara Republik vs Darul Islam. Serta tentara Republik dan mantan Darul Islam yang sama-sama memburu PKI ketika terjadi peristiwa tahun 1965. Point of view Ahmad Tohari terhadap PKI di buku sama dengan Kubah.

Selain itu yang sedikit bikin saya kaget, ternyata ketika gerakan Darul Islam sedang gencar-gencarnya, beredar suatu label “kiai pro republik” alias “kiai republiken”. Mereka adalah kiai – kiai yang tak mendukung gerakan atau konsep negara Islam dengan Kartosuwiryo sebagai khalifahnya. Hal ini tampak dari dialog Kiai Ngumar dan Kang Suyud. Kiai Ngumar sami’na wa atho’na dengan Hadratus Syaikh yang mengatakan bahwa pemerintahan Sukarno – Hatta sah. Sedangkan Kang Suyud bersikeras bahwa Negara Islam Indonesia lah yang harus didukung karena berlandaskan syariat Islam. Sampai – sampai Kang Suyud memberikan suatu pertanyaan yang membuat Kiai Ngumar sedikit bersedih, “pilih Islam atau Republik?”

Sayangnya buku ini sulit dicari sekarang. Saya beruntung bisa mendapatkannya 🙂

Tohari, Ahmad. 1999. Lingkar Tanah Lingkar Air. Yogyakarta: LKiS

Cerita Hilangnya “…kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya…” di Pembukaan UUD 1945

Mohammad Hatta (12 Agustus 1902 - 14 Maret 1980) - Wikipedia
Mohammad Hatta (12 Agustus 1902 – 14 Maret 1980) – Wikipedia

Pembukaan UUD 1945 Digugat

Pada sore harinya aku menerima telepon dari Tuan Nishiyama, pembantu Admiral Maeda, yang menanyakan, dapatkah aku menemui seorang opsir Kaigun (Angkatan Laut) karena ia mau mengemukakan suatu hal yang sangat penting bagi Indonesia. Nishiyama sendiri akan menjadi juru bahasyan. Aku persilakan mereka datang. Opsir itu, yang aku lupa namanya, datang sebagai utusan Kaigun dan menginformasikan bahwa wakil – wakil umat Protestan dan Katolik, yang dikuasai oleh Angkatan Laut Jepan, berkeberatan sangat terhadap bagian kalimat dalam Pembukaan Undang – Undang Dasar, yang berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Mereka mengakui bahwa bagian kalimat itu tidak mengikat mereka, hanya menganai rakyat yang beragama Islam. Akan tetapi, tercantumnya ketetapan seperti itu di dalam suatu dasar yang menjadi pokok Undang-Undang Dasar berarti mengadakan “diskriminasi” terhadap mereka golongan minoritas. Jika “diskriminasi” itu ditetapkan juga, mereka lebih suka berdiri di luar Republik Indonesia.

Aku mengatakan bahwa itu bukan suatu diskriminasi sebab penetapan itu hanya mengenai rakyat yang beragama Islam. Waktu merumuskan Pembukaan Undang – Undang Dasar, Mr. Maramis yang ikut serta dalam Panitia Sembilan tidak mempunyai keberatan apa-apa dan pada tanggal 22 Juni ia ikut menandatanganinya. Opsir tadi mengatakan bahwa itu adalah pendirian dan perasaan pemimpin – pemimpin Protestan dan Katolik dalam daerah pendudukan Kaigun. Mungkin waktu itu Mr. A. A Maramis cuma memikirkan bahwa bagian kalimat itu hanya untuk rakyat Islam yang 90 persen jumlahnya dan tidak mengikat rakyat Indonesia yang beragama lain. Ia tidak merasakan bahwa penetapan itu adalah suatu diskriminasi. Pembukaan Undang – Undang Dasar adalah pokok daripada pokok sehingga harus teruntuk bagi seluruh bangsa Indonesia dengan tiada kecualinya. Kalau sebagian daripada dasar pokok itu hanya mengikat sebagian dari rakyat INdonesia, sekalipun yang terbesar, itu dirasakan oleh golongan minoritas sebagai diskriminasi. Sebab itu, kalau diteruskan juga Pembukaan yang mengadung diskriminasi itu, mereka golongan Protestan dan Katolik lebih suka berdiri di luar Republik.

Karena opsir Angkatan laut Jepang itu sungguh – sungguh menyukai Indonesia merdeka yang bersatu sambil mengingatkan pula kepada semboyan yang selama ini didengung-dengungkan “Bersatu kita teguh dan berpecah kita jatuh”, perkataannya itu berpengaruh juga atas pandanganku. Tergambar di mukaku perjunganku yang lebih dari 25 tahun lamanya, dengan melalui bui dan pembuangan, untuk mencapai Indonesia merdeka bersatu dan tidak terbagi-bagi. Apakah Indonesia merdeka yang baru saja dibentuk akan pecah kembali adan mungkin terjajah lagi karena suatu hal yang sebenarnya dapat diatasi? Kalau Indonesia pecah, pasti daerah di luar Jawa dan Sumatera akan dikuasai kembali oleh Belanda dengan menjalankan politik divide et impera, politik memecah dan menguasai. Setelah aku terdiam sebentar, kukatakan kepadanya bahwa esok hari dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan akan kukemukakan masalah yang sangat penting itu. Aku minta ia menyabarkan sementara pemimpin – pemimpin Kristen yang berhati panas dan berkepala panas itu supaya mereka jangan terpengaruh oleh propaganda Belanda.

Toleransi Para Pemimpin Islam

Karena begitu serius rupanya, esok paginya, tanggal 18 Agustus 1945, sebelum sidang Panitia Persiapan bermula, kuajak Ki Bagus Hadikoesoemo, Wahid Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Mr. Teuku Hasan dari Sumatera mengadakan suatu rapat pendahuluan untuk membicarakan masalah itu. Supaya kita jangan pecah sebagai bangsa, kami mufakat untuk menghilangkan bagian kalimat yang menusuk hati kaum Kristen itu dan menggantinya dengan “Ke Tuhanan Yang Maha Esa”. Apabila suatu masalah yang serius dan bisa membahayakan keutuhan negara dapat diatasi dalam sidang kecil yang lamanya kurang dari 15 menit, itu adalah suatu tanda bahwa pemimpin – pemimpin tersebut pada waktu itu benar – benar mementingkan nasib dan persatuan bangsa.

Pada waktu itu kami dapat menginsafi bahwa semangat Piagam Jakarta tidak lenyak dengan menghilangkan perkataan “Ke Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk – pemeluknya” dan menggantinya dengan “Ke Tuhanan Yang Maha Esa”. Dalam negara Indonesia yang kemudian memakai semboyan Bhinneka Tunggal Ika, tiap – tiap peraturan dalam kerangka syariat Islam, yang hanya mengenai orang Islam, dapat dimajukan sebaga rencana undang – undang ke DPR yang setelah diterima oleh DPR mengkikat umat Islam Indonesia. Dengan cara begitu, lambat laun terdapat bagi umat Islam Indonesia suatu sistem syariat Islam yang teratur dalam undang – undang, berdasarkan Al Quran dan Hadis, yang sesuai pula dengan keperluan masyarakat Islam sekarang. Orang tidak perlu mengambil saja dari syariat Islam yang berlaku dahulu di negeri – negeri ARab dalam abad ke -8, ke – 9, atau ke – 10 yang pada waktu itu sesuai pula dengan keadaan masyarakat disitu.

Perbedaan hukum antara penduduk yang beragama Islam atau beragama Kristen akan terdapat terutama dalam bidang hukum keluarga. Dalam bidang hukum perdata lainnya, hukum perniagaan dan hukum dagang tidak perlu ada perbedaan. Dalam bidang – bidang ini mesti ada persatuan hukum bagi rakyat Indonesia seluruhnya. Mungkin di sana – sini ada pengaruh adat sedikit dalam melaksanakan hukum, tetapi tidak akan mempengaruhi pokoknya yang asasi. Misalnya hukum yang menjadi dasar pembayaran dengan wesel atau cek sementara tidak dijalankan pada beberapa bagian Indonesia. Akan tetapi, itu tidak berati bahwa dasar perhubungan wesel dan cek tidak laku disitu.

Kira – kira pukul 09.30 sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dibuka oleh ketuanya, Sukarno. Perubahan yang disetujui lima orang tadi, sebelum rapat resmi, disetujui oleh sidang lengkap Panitia Persiapan Kemerdekaan dengan suara bulat. Sesudah itu, dipersoalkan Undang – Undang Dasar seluruhnya dengan mengadakan sedikit perubahan di sana-sini yang tidak prinsipil. Yang prinsipil hanya perubahan dalam Pembukaan yang tersebut tadi, yang diterima dengan suara bulat.

disadur dari buku Untuk Negeriku, sebuah Otobiografi Mohammad Hatta, Jilid 3, hal 95 -98.

—————————————

 Saya mengetik ulang potongan isi buku tersebut dengan maksud agar kita semua tahu, inilah kata salah satu bapak pendiri Republik ini tentang syariat Islam. Bukan masalah hilangnya “syariat Islam” di Pembukaan UUD 1945, tetapi selain itu banyak hal yang dapat kita ambil sebagai pelajaran untuk saya sendiri dan teman – teman pembaca note ini. Saya merasakan adanya sebuah keberanian dalam pengambilan keputusan, berani karena Bung Hatta percaya sepenuhnya dengan perkataan salah satu opsir Jepang itu. Mungkin saja kan Bung Hatta menunda rapat untuk membicarakan hal tsb dan mengecek kebenaran berita itu, tetapi karena taruhannya adalah pecahnya Republik, beliau dengan sigap langsung membawa masalah ini untuk dibicarakan. Jika ada yang meragukan sifat dan sikap seorang Bung Hatta sebagai muslim, karena berani mengambil keputusan demikian, saya juga membaca di halaman lain buku ini bahwa selama 11 tahun beliau di sekolah di Belanda, beliau tetap menjalankan perintah agama (tidak minum minuman beralkohol, menjaga pergaulan dengan wanita, dll) . Sebelum itu juga, sebelum beliau berangkat ke Belanda, di Bukittinggi beliau juga rajin belajar agama oleh seorang Syekh di Batuhampar. Beliau juga keturunan ulama besar di Batuhampar.

 Selain itu, untuk teman-teman non Muslim yang kebetulan membaca note ini, inilah yang Bung Hatta inginkan, jika terdapat peraturan syariat Islam, hanya berlaku untuk yang beragama Islam saja. Namun sayangnya di beberapa daerah menerapkan ini kepada seluruh warganya. Sehingga sering timbul berbagai percikan-percikan api karena perbedaan agama ini. Bayangkan bagaimana kita harus menjalankan hukum dimana hukum itu tidak berlaku untuk kita? Jangan sampai negeri ini seperti yang Bung Hatta takutkan, terpecah-pecah kembali.

Sengaja saya post ulang, menjelang ulang tahun Bung Hatta ke 112 tahun pada tanggal 12 Agustus nanti

Inferno

–Spoiler alert!–

Inferno

Amazing! Inilah satu kata yang tepat untuk menggambarkan serunya cerita Dan Brown kali ini. Menurut saya cerita di buku ini, dari segi criminal mind, inilah yang paling elegan setelah penjahat di Angel & Demon dan Digital Fortress.

Lagi – lagi, khas Dan Brown, buku ini berkisah sekitar 24 jam petualangan Robert Langdon di tiga kota, Florence, Venesia dan Istanbul. Cerita berawal dari ia terbangun di suatu rumah sakit di Florence, menderita amnesia yang menyebabkan ia lupa dengan apapun dua hari kebelakang. Disinilah petualangan dimulai. Bersama dengan Sienna Brooks, memecahkan misteri dari seorang scientist yang terobsesi dengan Inferno, suatu puisi karya penyair Renaisans, Dante Alighieri.

Bagi pencinta seni Renaisans dan kota Florence, buku ini adalah buku yang tepat untuk memanjakan pikiran dan imajinasi anda. Pak Brown banyak bercerita mengenai karya seni mulai daru lukisan, mural masif, patung, arsitektur, hingga karya sastra Renaisans dengan suduh pandang Langdon. Akhirnya saya baru tahu ada nama perupa Renaisans selain Michelangelo, Donatello, Leonardo Da Vinci, dan Raphael (saya hanya tahu ini karena keempat nama ini adalah nama para Kura – Kura Ninja) yaitu Giorgio Vasari dan Sandro Boticelli.

Cerita di buku ini memang banyak berpusat di Sandro Boticelli, Giorgio Vasari, dan Dante Alighieri. Dimulai dari puisi Dante, Divine Comedy yang mempunyai tiga bagian yaitu Inferno yang mengisahkan perjalanan dia ke neraka yang mempunyai sembilan lapis dengan Iblis berada di neraka paling bawah, lalu Purgatorio suatu gunung dengan jalan melingkar sebanyak sembilan kali sebagai gunung penebusan dosa, dan Paradiso yang berarti surga. Boticelli yang membuat lukisan Inferno versi Dante dengan judul La Mappa dell’ Inferno. Dari sinilah petualangan dimulai

Map of Hell – Sandro Boticelli (konon lukisan ini banyak membuat orang bertobat)

Lalu kejahatan apa yang membuat buku ini menarik? Kejahatan yang terinspirasi dari karya seni memang khas dan menjadi tema utama pada buku – buku pak Brown sejak buku The Da Vinci Code. Kali ini ada scientist yang khawatir dengan populasi manusia yang semakin banyak. Angka populasi manusia yang terakhir tercatat adalah 7 milyar penduduk pada 2011. Di buku ini juga terdapat grafik proyeksi jumlah penduduk yang mencapai 9 milyar pada tahun 2050, juga terdapat grafik eksponensial yang mengerikan tentang masalah yang dihadapi penduduk Bumi yaitu pemanasan global, mencairnya es di kutub, penipisan lapisan ozon, berkurangnya hutan hijau, berkurangnya tangkapan ikan, kadar CO2 di udara, dll. Semua masalah tersebut, ikut naik mengikuti jumlah populasi bumi yang juga naik. Jadi menurut seorang scientist di buku ini, masalah itu ada karena banyaknya penduduk Bumi. Satu – satunya cara menghilangkan masalah itu adalah, kurangi penduduk Bumi.

inferno_dan_brown_original_drm_not_removed__page_106_image_0001-1

Tersebutlah Bertrand Zobrist, scientist dalam bidang genetika yang berhasil membuat suatu virus. Virus tersebut konon akan memusnahkan milyaran orang karena Zobrist terkenal sebagai orang yang mengatakan seharusnya terjadi kiamat yang menyebabkan berkurangnya sepertiga penduduk Bumi. Ia juga mengatakan bahwa Wabah Hitam di Eropa abad 14 adalah suatu anugerah bagi manusia dan Bumi. Disinilah Langdon dan Sienna Brooks mencari – cari di mana virus itu mulai dilepas karena satu – satunya petunjuk lokasinya dimulai dari suatu proyektor kecil bertenaga mekanik yang menunjukkan Map of Hell karya Boticelli yang telah dimodifikasi. Langdon dan Sienna juga harus berjibaku dengan pihak Konsorsium dan tentara SRS (yang belakangan ternyata tentara SRS adalah tentara dari pihak WHO, World Health Organization).

Berbagai intrik, dan ketidakjelasan mana yang antagonis dan protagonis, kedua hal inilah yang membuatnya menarik pada sekitar Bab 60-an ke atas. Kita disodorkan pada dua pilihan: Menekan sebuah tombol yang dapat mengurangi sepertiga penduduk Bumi, namun Bumi selamat. Atau tidak menekan tombol tersebut, tapi peradaban manusia akan hancur dalam waktu kurang dari 100 tahun?.

Apakah virus yang disebar oleh Zobrist? Ternyata virus tersebut adalah virus vektor yang menyebabkan penderitanya menjadi steril (mandul). Itulah solusi dari Zobrist untuk mengurangi populasi penduduk. Virus ini tidak membuat orang menderita kesakitan layaknya Black Death, apalagi membuat orang meninggal, virus ini hanya membuat orang steril. Entah bagaimana caranya, tidak semua orang terkena virus ini akan steril. Terinspirasi dari Black Death, hanya sepertiga penduduk dunia yang terkena virus ini yang akan steril sehingga spesies manusia masih bisa bereproduksi. Pada bagian tengah buku juga disebutkan bahwa Zobrist menganggap WHO tidak membantu sama sekali tentang bagaimana cara mengurangi populasi penduduk. Membagikan kondom, sosialisasi keluarga berencana, dll seakan – akan hanya mengobati tumor ganas dengan menggunakan plester band-aid.

Apakah anda setuju dengan Zobrist? Inilah area abu – abunya. Ending dari buku ini pun tidak jelas. Memang Sienna dan Sinskey (kepala WHO) akhirnya pergi ke konferensi Jenewa untuk membahas krisis virus Zobrist dengan para petinggi dunia lainnya. Tapi pak Brown tak menyelesaikan masalah ini. Apakah WHO -dibantu Sienna- akan mencari anti virus? Entahlah.

Saya pikir juga, adakah cara lain yang lebih elegan dari cara Zobrist untuk mengurangi penduduk Bumi?

Senyum Karyamin

1302796

Senyum Karyamin adalah buku ketiga karya Ahmad Tohari yang selesai saja baca setelah Ronggeng Dukuh Paruk dan Orang-Orang Proyek. Seperti buku-buku lainnya, karya Ahmad Tohari selalu diisi dengan deskripsi pedesaan yang kuat dan indah hingga merasuk ke dalam pembacanya. Saya sebagai pembacanya yang kini hidup di hiruk pikuk egoisme perkotaan jadi sempat melupakan suasana perkotaan tsb ketika membaca buku Senyum Karyamin ini. Buku ini adalah kumpulan 13 cerita pendek karya Tohari yang salah satu judul cerpennya dijadikan judul buku, yaitu Senyum Karyamin.

Senyum Karyamin berisi cerita tentang Karyamin yang bekerja sebagai pengambil batu. Cerita ini masih lekat oleh suasana pedesaan lengkap dengan deskripsi manusianya. Terdapat suatu ironi yang kental didalam setiap kalimatnya. Betapa Karyamin yang juga mengalami kesulitan hidup harus dituntut untuk membantu kelaparan di benua Afrika. “Senyum” nya kini abadi, Senyum yang berlandaskan ironi hidup.

Kehidupan desa yang lengkap dengan segala dinamikanya mampu disajikan dengan apik. Terdapat beberapa karakter buatan Tohari yang kadang kita sepelekan jika bertemu di dunia nyata. Sebut saja namanya Blokeng, seorang wanita yang mengalami gangguan jiwa yang biasa hidup di tumpukan sampah pasar tradisional. Blokeng yang hidup sendiri ini tiba-tiba mengandung seorang bayi. Manusia mana yang tega menghamili Blokeng? Tohari memberikan kelucuan penuh ironi di mana manusia desa mulai bertindak nyeleneh karena ulah Blokeng yang menebak-nebak siapa pria yang menghamilinya. Ketika Blokeng berkata pria yang menghamilinya adalah bukan pria yang botak, mendadak mode rambut botak tenar di seluruh kampung

Cowet, anakku. Ayahmu itu mbuh. Tetapi jangan bersedih ya. Lihallah itu, orang-orang gundul. Lucu, ya?

Banyak hikmah yang dapat kita ambil sebagai manusia yang tak dapat hidup sendiri di dunia ini. Antara lain cerita yang berjudul Wangon Jatilawang. Bercerita tentang orang dengan keterbelakangan mental yang tak jelas arahnya tetapi memberikan pelajaran tentang ketulusan dan saling memberi.

Ada pula cerita tentang Minem Beranak Bayi. Keluguan tercipta karena orang tua Minem yang terheran-heran mendengar kabar Minem melahirkan. Ia bingung Minem kok bisa beranak bayi, padahal Minem masih bocah. Itulah yang membuatnya heran, kok bisa bocah melahirkan seorang bocah? Inilah cerita tentang perkawinan usia dini yang masih lazim di pedesaan.

Bagaimanapun, disinilah keunggulan dan yang menjadi ciri khas Tohari. Mampu memberikan suasana desa yang penuh dengan kepolosan, keluguan, dan kesederhanaan. Buku ini menjadi oase tersendiri bagi saya yang setiap harinya sumpek dengan kemacetan, egoisme, kekurangtulusan, dan kemunafikan.

Tulisan tentang orang dewasa dan cintanya

Tulisan dibawah ini adalah karya J.Sumardianta. Saya ketik ulang dari buku beliau yang berjudul Guru Gokil Murid Unyu halaman 278.

Orang dewasa yang berada jauh dari orangtua akan sering merindukan ibu. Mungkin karena ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaan setiap hari. Namun, sesungguhnya ayahlah lah yang mengingatkan ibu untuk meneleponmu. Saat kecil ibu memang sering mendongeng. Namun, sepulang kerja dengan wajah berminyak karena kelelahan, ayah yang menanyakan apa yang kamu lakukan seharian.

 

Saat kamu batuk atau pilek, ayah membentak, “Sudah dibilang jangan minum es,” karena ayah khawatir. Saat remaja, kamu menuntut untuk boleh keluar malam. Ayah melarang karena hanya ingin menjaga anak yang dikasihinya.

 

Saat kamu melanggar aturan jam malam, ayah selalu menunggu di ruang tamu dengan sangat cemas. Ketika kamu pamit hendak kuliah di kota lain, badan ayah seperti kaku ingin memelukmu. Saat kamu merengek keperluan ini itu, ayah mengernyitkan dahi. Tanpa menolak ayah memenuhinya. Saat kamu wisuda, ayah orang yang pertama berdiri dan bertempik sorak kegirangan. Ayah tersenyum bangga.

 

Sampailah saat ketika calon pasanganmu datang minta izin mengambilmu. Dengan hati-hati ayah mengikhlaskanmu disunting. Saat melihatmu duduk di pelaminan dengan orang yang dianggapnya layak, ayah sangat berbesar hati.

Ayah berdoa dalam hati, Ya, Tuhan, jihadku sudah selesai. Setelah itu, ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu membawa cucu-cucunya. Tentu dengan rambut memutih dan tubuh mulai renta. Ia sudah tidak begitu kuat lagi untuk melindungi, menjaga, dan merawatmu.

 

Mengapa orang gampang jatuh cinta? Karena saat itu buta, bisu, dan tuli terhadap keburukan calon pasangannya. Saat memasuki pernikahan, tiada yang bisa ditutupi lagi. Semua belang akan tersingkap dalam interaksi 24 jam per hari dalam seminggu.

 

Dari kisah heroik seorang ayah di atas bisa ditemukan perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta. Jatuh cinta dalam keadaan menyukai. Bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel. Cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan itikad baik memahami konflik. Bersama-sama mencari solusi yang dapat diterima kedua belah pihak. Cinta yang dewasa tidak menyembunyikan unek-unek.

 

Syarat keberhasilan pembicaraan masing-masing bisa saling memperhitungkan perasaan. Jika suami – istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi. Rumah tangga berubah bukan surga lagi, melainkan neraka. Masing-masing harus mengingat komitmen awal mereka. Apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup? Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang justru bermusuhan?

 

Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta. Kedua pihak saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, berbagi, mengalah, dan bertanggung jawab.

 

Ada kecerendungan kuat mahligai rumah tangga keluarga-keluarga muda modern kandas di tengah jalan. Perselisihan biasanya dipicu persoalan remeh, tapi berujung keributan besar. Ludwig Witgenstein, filsuf dari Jerman, punya alegori, “Jika yang kau miliki hanya palu, segalanya akan tampak seperti paku.” Maksudnya, jika di benak pasangan suami – istri yang ada hanya ketidakcocokan yang mereka pikirkan, ya, berpisah melulu.

 

….

 

Anak Semua Bangsa : Tempat, Waktu Kelahiran, dan Orang Tua Hanyalah Suatu Kebetulan

1398044

Judul: Anak Semua Bangsa

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara 2006

Tebal: 536 halaman

Buku ini adalah seri kedua dari Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Sebenarnya saya sendiri dulu sudah mulai membaca buku ini hanya saja terputus entah di mana akhirnya sehingga mengulang lagi dan sekalian menjadi buku favorit untuk SRC Serapium bulan Januari

Sesuai dengan apa yang dikatakan pada bagian awal setiap buku dari Tetralogi Pulau Buru. Anak Semua Bangsa (kemudian disingkat ASB) menimbulkan suatu keheranan atas bangsa sendiri, mengapa bangsa ini amat mudah dibodohi oleh Eropa? Eropa dengan segala keagungannya mampu melesakkan kehidupan bangsa ini hingga ke tatanan yang paling bawah. Di buku ini bahkan diceritakan bagaimana kaum pribumi menjadi sangat takut dengan seseorang yang memakai jas dan sepatu (pakaian Kristen). Apa hubungan hal tersebut dengan feodalisme. Dan membawa kesadaran bahwa bangsa ini sebenarnya tidak benar-benar dijajah oleh Belanda, tetapi juga dijajah oleh bangsa pribumi sendiri.

Mengambil plot waktu era 1800-an akhir, Minke, tokoh utama dalam buku ini perlahan mulai bisa menerima kehilangan Annelies yang dibawa paksa darinya ke tanah Belanda oleh otoritas pengadilan putih. Nyai Ontosoroh juga perlahan bangkit kembali. Sayangnya, Annelies telah meninggal dunia di tanah leluhurnya sendiri. Suatu keanehan yang membuat dahi mengkerut bahwa orang-orang di sana (Belanda) sangat cuek dengan keadaan Annelies hanya karena beberapa masalah sepele. Dia bukan ‘totok’.

Pada buku ini Minke belajar banyak dari Khouw Ah Soe, seorang pemuda yang berasal dari Tiongkok, aktivis yang ingin membawa bangsanya maju, seorang aktivis yang ingin menyadarkan banyak pihak bahwa Jepang perlahan akan masuk ke tanah Cina. Namun sayang, ia dibunuh oleh suatu kelompok yang tak setuju dengan pemikiran dia. Dari sini saya belajar bahwa Touchang, rambut kunciran yang sering kita lihat di film-film vampire Cina itu adalah tanda rasial yang diwariskan oleh kaum Mongol. Suatu pertanda bahwa mereka berbeda dengan bangsa Mongol, tetapi orang-orang Cina merasa bangga dengan identitas itu. Berbeda dengan Khouw Ah Soe yang merasa tak perlu lagi memakai touchang karena itu lambang penindasan kaumnya.

Cerita yang tidak kalah menariknya adalah ketika Minke berkunjung ke rumah kerabat Nyai Ontosoroh di Sidoarjo, yang kala itu terdapat suatu kebun tebu dan pabrik gula yang dibangun oleh Belanda. Ia melihat berbagai ketidakadilan seperti cerita bos pabrik Gula yang ingin mengawini paksa seorang anak pribumi dengan cara yang tak bisa dikatakan lagi sebagai cara manusia. Seorang petani yang tidak tahu apa-apa yang tetap bertahan di tanah miliknya meskipun tentara Kompeni telah melakukan berbagai cara-cara kotor. Ketika berkunjung ke Sidoarjo, Minke menginap beberapa hari di rumah petani tersebut. Akhirnya ia merasakan bagaimana hidup sebagai pribumi ‘aslinya’ yang bukan priyayi. Berbeda dengan Minke yang anak bupati kabupaten B. Hal menarik adalah ketika anak-anak dari petani itu begitu takut dengan baju dan sepatu (pakaian Kristen) yang dikenakan oleh Minke.

Akhir dari buku ini adalah ketika Tuan Mellema, keluarga ayah Annelies yang berasal dari Belanda datang untuk mengambil alih Borderij Buitonzorg dari tangan Nyai Ontosoroh. Konflik ini menarik karena memainkan perasaan campur aduk dari Nyai ketika mengetahui bahwa modal dari Borderij Buitonzorg berasal dari pabrik Gula Tulangan Sidoarjo yang diperoleh dengan cara yang haram, Borderj Buitonzorg yang merupakan hasil kerja keras dari Nyai Ontosoroh, tidak mau kehilangan apapun setelah kehilangan Annelies, dan suatu kisah mengharukan bahwa Nyai Ontosoroh mempunyai cucu dari Robert Mellema yang telah meninggal di seberang laut karena penyakit kotor.

Overall, buku ini sangat baik, penuh dengan ajaran-ajaran humanisme salah satunya adalah bahwa kita ini semua adalah manusia, segala macam embel-embel yang mengikuti kelahiran kita seperti ras, orang tua, agama, dan lain-lain itu hanya sebatas embel-embel. Kita adalah anak semua bangsa. Tidak mengenal berbagai embel-embel tersebut. Tidak ada alasan lagi bagi kita bahwa kita membeda-bedakan seseorang dari embel-embel tersebut.

 Dengan rendah hati aku mengakui: aku adalah bayi semua bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan yang sekarang. Tempat dan waktu kelahiran, orangtua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat.

Terakhir, Pram telah mengajarkan saya bagaimana sikap menjadi seorang sarjana (mentang-mentang bentar lagi sarjana beneran ) lewat quote dibawah ini. Quote ini berhasil membuat #jleb

 Semua yang terjadi di kolong langit adalah urusan orang yang berpikir. Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminil, biar pun ia sarjana

Lauh Mahfuz : Perjalanan Menembus Langit Ketujuh

Lauh Mahfuzh

 

Ketika keyakinan membelenggu, tanpa sadar memandang agama sebagai tiran, manusia sering lupa, bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang tak akan memenjarakan Ciptaan-Nya dengan jeruji keyakinan dan sekat agama.

Kebebasan adalah esensi kehidupan insan merdeka yang memacu mengembangkan akalnya menggapai masa depan, meraih kemenangan. Sementara, perasaan romantis adalah sebuah realitas kepekaan jiwa, yang membuahkan kerinduan akan kemurnian dan kesalehan hidup masa silam, yang membawa kebahagiaan.

Haruskah dua orientasi dan pandangan ini dijadikan pertentangan, ataukah dapat disikapi dan dihadapi sebagai suatu keniscayaan? Dapatkah sekelompok orang mengklaim surga hanya miliknya dan tidak menyisakan bagi kelompok kepercayan lain?

Tiga paragraf diatas adalah potongan tulisan dari belakang cover buku ini. Buku yang berjudul Lauh Mahfuzh ditulis oleh Nugroho Suksmanto. Jujur saya baru mendengar nama beliau, namun 3 paragraf diatas yang membuat saya tidak perlu menimbang-nimbang lagi untuk membeli dan membaca buku setebal 500 halaman ini. Ekspektasi saya tentang cerita yang indah dari keragaman keyakinan yang ada ternyata cukup terpenuhi oleh buku ini. Buku ini bercerita tentang seorang Panji, yang ingin mengubah catatan suatu kitab yang berisi takdir yang telah dituliskan oleh Allah SWT, yaitu Lauh Mahfuzh yang terletak di langit lapis tujuh. Adalah suatu cerita dengan fantasi yang  ‘menantang’ karena yang saya tahu kitab Lauh Mahfuzh ini hanya bisa ditulis dan diubah isinya oleh Allah sendiri. Bagaimanakah cara Panji merubah catatan isi kitab tersebut?

Awal dari buku ini bercerita latar belakang Panji, dan kembar bersaudara Menuk dan Menik di suatu pedesaan. Kisah ini dimulai ketika terjadi gejolak besar yang pernah ada di negeri ini yaitu peristiwa 30 September yang konon katanya di dalangi oleh PKI. Amarah warga pun tak ayal membuat mereka beringas, menyeret satu per satu orang yang dicurigai terlibat oleh partai komunis itu termasuk ibu dari kembar bersaudara Menuk dan Menik. Dan terjadilah peristiwa pembakaran rumah seorang warga, Menuk meninggal terbakar didalamnya. Menik yang kehilangan rumah ingin menghindar dari kampungnya, namun ketika di perjalanan, bus yang ditumpanginya berhenti mendadak karena ada sebuah sedan yang menabrak. Kepalanya terantuk sehingga ia kehilangan ingatan.

Kejadian menarik lainnya adalah ketika Menik waktu itu mencoba masuk ke dalam sebuah Gereja. Dalam keadaan yang lupa siapa dirinya, ia melihat ada suatu ketenangan didalamnya dan mencoba untuk berdoa kepada Tuhan. Kisah ini menarik karena memperlihatkan suatu hamba yang sebelumnya tidak pernah berdoa kepada Tuhan, kini belajar dari awal bagaimana cara meraih Tuhan. Pada akhirnya Menik berubah namanya menjadi Maria Secunda, kini ia beragama katolik.

Pada suatu ketika Panji telah mampu berkunjung ke alam barzakh tanpa perlu ia meninggal dunia. Disanalah ia bertemu dengan Menuk. Selain itu ia belajar agama di padepokan As-Salaf yang dipimpin oleh Syekh Abu Salaf Al – Rasyidin, seorang yang bersih dan suci jiwanya. Pembelajaran agama ini dimulai dari hal yang sangat mendasar yang mungkin sebagian besar dari kita yang beragama Islam kita terima begitu saja karena orang tua kita menganut agama Islam. Secara garis besar, pak Nugroho Suksmanto, sang penulis melalui tokoh Syekh Abu Salaf telah memberi ingatan segar tentang enam rukun Iman dan lima rukun Islam dengan penjelasan yang baik sekali. Penjelasan mengenai Allah membuat saya terkesima. Panji bertanya dengan lugunya “Apa itu Allah?” lalu Syekh Abu Salaf menjawab dengan penjelasan yang sangat baik. Selain itu saya pernah menuliskan sebelumnya tentang arti sholat menurut Syekh Abu Salaf di blog ini. Penjelasan yang sangat indah, andaikan semua guru agama di Indonesia mengajarkannya seperti ini, bukan hanya menakuti muridnya jika meninggalkan sholat, maka kau akan masuk neraka atau dijanjikan surga bagi yang mendirikan sholat. Itu baru sholat, masih banyak penjelasan lainnya mengenai enam rukun Iman dan lima rukun Islam dijelaskan secara apik di dalam buku ini melalui tokoh Syekh Abu Salaf.

Selain Syekh Abu Salaf, juga ada Syekh Ibnu Khalaf yang masih ada di dunia. Berbeda dengan Syekh Abu Salaf yang sudah berada di alam barzakh. Syekh Ibnu Khalaf lah yang memberi pengetahuan kepada Panji tentang Lauh Mahfuzh. Lauh Mahfuzh, adalah kitab yang berisi catatan takdir apa yang terjadi dari pertama kali diciptakan hingga akhir dari alam semesta. Buku ini menjelaskan konsep Lauh Mahfuz dengan apik, baik dengan cerita dari keyakinan lain tentang catatan serupa, maupun dengan dalil yang ada di ayat-ayat Quran. Selain itu Syekh Ibnu Khalaf lah yang juga memberi pengetahuan kepada panji tentang hari kiamat, Qada dan Qadar, zakat, iman kepada Malaikat, Nabi, dan Kitab Suci. Penjelasannya mampu memberi saya pencerahan dan penyegaran kembali. Sekaligus menjadi pintu gerbang untuk lebih mencari tahu penjelasan tentang berbagai hal tersebut.

Perjalanan Panji menembus langit ketujuh tidaklah mudah. Ia harus melalui lapis demi lapis langit yang sudah terdapat masalahnya tersendiri disana. Dengan panduan Syekh Abu Salaf dan Pak Ranusiwid, Panji mampu menjalani berbagai ujian yang ada di setiap lapis langitnya. Hingga pada akhirnya Panji mampu mengakses Kitab Lauh Mahfuzh. Diceritakan bahwa kitab tersebut tak ubahnya seperti komputer yang kita gunakan sehari-hari. Fantasi pak Nugroho Suksmanto tentang kitab ini patut diacungi jempol. Panji berusaha merubah takdir yang sudah tertulis disana, yaitu Indonesia bakalan dilanda oleh dua buah bencana alam yang sangat dahsyat. Panji ingin merubah takdir tersebut. Sayangnya Panji tidak dapat merubah sepenuhnya takdir yang telah ada.

Di bagian akhir buku ini menceritakan tentang perkawinan Panji dengan Maria Secunda (yang dulunya bernama Menik). Diceritakan juga bagaimana Panji menghadapi masalah perkawinan beda agama. Pada akhirnya mereka menikah dengan prosesi Katolik dan Islam. Namun ada hal yang tidak diketahui oleh hadirin yang hadir baik di Gereja tempat mereka melaksanakan sakramen maupun Masjid tempat mereka melaksanakan ijab kabul. Akan panjang post ini jika saya menceritakan secara lengkap apa yang terjadi di dua tempat ibadah tersebut :p.

Terakhir cerita saya tentang buku ini. Buku ini membuat saya aware tentang konsep salafi – khalafi dan perdebatan panjang yang sering terjadi dalam dua ‘aliran’ tersebut. Mungkin tidak hanya perdebatan, melainkan bersitegang dan konflik yang terjadi antara salafi dan khalafi. Tentang apa itu salafi dan khalafi, mungkin pembaca bisa mencarinya di internet :p. Terima kasih untuk bapak Nugroho Suksmanto yang telah membuat buku indah ini, semoga bapak selalu dilimpahkan kesehatan oleh Allah SWT, amin.

Judul Buku : Lauh Mahfuzh
Penulis : Nugroho Suksmanto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2012
Tebal : 500 halaman

Islam Sontoloyo

Di dalam surat kabar “Pemandangan” 8 April. Saya membaca suatu perkabaran yang ganjil: seorang guru agama dijebloskan kedalam bui tahanan karena ia memperkosa kehormatannya salah seorang muridnya yang masih gadis kecil. Bahwa orang dijebloskan kedalam tahanan kalau ia memperkosa gadis, itu tidaklah ganjil. Dan tidak terlalu ganjil pula kalau seorang guru memperkosa seorang muridnya. Bukan karena ini perbuatan tidak bersifat kebinatangan, jauh dari itu, tetapi oleh karena memang kadang-kadang terjadi kebinatangan yang semacam itu. Yang saya katakan ganjil ialah caranya si guru itu “menghalalkan” ia punya perbuatan. Cobalah tuan baca yang berikut ini, yang saya ambil over dari “Pemandangan” tadi itu :

Keterangan lain-lain mengenai akalnya guru itu mempengaruhi murid-muridnya; kepada tiap-tiap yang menjadi murid diobroli bahwa ia pernah bicara kepada Nabi Besar Muhammad s.a.w, lalu masing-masing diajarkannya untuk mendekati Allah tiap-tiap malam Jumat berzikir sejak maghrib sehingga subuh, dengan permulaan berseru ramai-ramai “Saya muridnya Kyai Anu”; dengan seruan ini katanya supaya terkenal dan Allah mengampuni dosanya.

Tiap-tiap murid perempuan, meskipun masih kanak-kanak musti ditutup mukanya, jika waktu pertemuan malam Jumat golongan perpempuan dipisahkan dalam rumah, untuk murid lelaki spesial dalam langgar.Kyai itu menerangkan dalam ajarannya: “Perempuan itu boleh disedekah”. Artinya demikian: sebagai atas ditegakkan, murid-murid perempuan itu meskipun kanak-kanak, musti ditutup mukanya, karena haram dilihat oleh lelaki lain yang bukan suaminya, katanya.

Tetapi, dari sebab perempuan-perempuan itu perlu diajar olehnya, dan musti bertemuan dan beromong-omong, maka murid-murid perempuan itu “dimahram dahulu”, kata guru itu. Artinya: Perempuan-perempuan itu musti dinikah olehnya.

Yang jadi kyainya ia juga, yang jadi pengantinnya ia juga.

Caranya demikian:

Kalau seorang murid lelaki yang mempunyai isteri yang jadi murid-muridnya juga, isterinya itu dihadapkan dia lantas menjatuhkan talaknya tiga. Seketika juga perempuan itu dinikahkan dengan lain lelaki (kawan muridnya) sehingga tiga lelaki dalam seketika itu juga berturut-turut tiga kali dinikahkan dan diceraikan lagi, keempat kalinya dinikahkan olehnya sendiri.

Kecuali kalau janda atau gadis, tidak dinikahkan dengan lain orang. Tetapi langsung dinikahkan dengan si Dajal sendiri. Dengan cara demikian tiap-tiap isteri yang jadi muridnya berarti isteri daripada Dajal tersebut dalam pemandangan golongan mereka.

Demikianlah cara yang demikian ini berlaku juga dengan gadis yang jadi perkara ini, oleh karena gadis itu sudah dimahram oleh guru itu.

Demikianlah, maka pada satu hari gadis ini dipikat oleh guru itu masuk kedalam satu rumah, dan disitulah dirusak kehormatannya.

Halal, syah, oleh karena sudah isterinya!

Sungguh kalau reportase disurat kabar “Pemandangan” itu benar, maka benar-benarlah disini kita melihat Islam Sontoloyo! Sesuatu perbuatan dosa dihalalkan menurut hukum fiqh. Tak ubahnya dengan tukan merentenkan uang yang “menghalalkan” ribanya itu dengan pura-pura berjual-beli sesuatu barang dengan orang yang mau meminjam uang daripadanya. Tahukan tuan caranya tukang riba itu menghalalkan ia punya pekerjaan riba? Tuan mau pinjam uang daripadanya f 100,-, dan sanggup bayar habis bulang f 120,-. Ia mengambil sehelai kain, atau sebuah kursi, atau sebuah cincin, ataupun sebuah batu, dan ia jual barang itu “op crediet” kepada tuan dengan harga f 120,-. “Tidak usah bayar kontan, habis bulan saja bayar f 120,- itu”. Itu kain atau kursi atau cincin atau batu kini sudah menjadi milik tuan karena sudah tuan beli, walaupun “op crediet”. Lantas ia beli kembali barang itu dari tuan dengan harga kontan f 100,-. Accord? Nah inilah tuan terima uang pembelian kontan yang f 100,- itu. Asal tuan jangan lupa, habis bulan tuan bayar tuan punya hutang kredit yang f 120,- itu!

Simple comme bonjour! – Kata orang Prancis. Artinya : “tidak ada yang lebih mudah dari ini!” Bukan! ini bukan riba, ini bukan merentenkan uang, ini dagang, jual-beli, halal, syah, tidak dilarang oleh agama!

Benar, ini syah, ini halal, tapi halalnya Islam sontoloyo! Halalnya orang yang mau main kikebu dengan Tuhan, atau orang yang mau main “kucing-kucingan” dengan Tuhan. Dan, kalau mau memakai perkataan yang lebih jitu, halalnya orang yang mengabui mata Tuhan!

Seolah-olah Tuhan diabui mata! Seolah-olah agama sudah dipenuhi atau sudah diturut, kalau dilahirnya syariat saja sudah dikerjakan! Tetapi tidakkah justru yang demikian ini sering kita jumpakan?

Tidak justru Islam terlalu menganggap fiqh itu satu-satunya tiang keagamaan. Kita lupa, atau kita tidak mau tahu, bahwa tiang keagamaan ialah terutama sekali terletak didalam ketundukan kita punya jiwa kepada Allah. Kita lupa bahwa fiqh itu, walaupun sudah kita saring semurni-murninya, belum mencukupi semua kehendak agam. Belum dapat memenuhi semua syarat-syarat ke-Tuhan-an yang sejati, yang juga berhajat kepada Tauhid, kepada Akhlak, kepada kebaktian Rohani, kepada Allah, dan kepada lain-lain lagi.

Dulu dilain tempat, pernah saja menulis :

“Adalah orang “sayid” yang sedikit terpelajar, tetapi ia tak dapat memuaskan saja, karena pengetahuannya tak keluar sedikitpun jua dari “kitab-fiqh”: mati-hidup dengan kitab-fiqh itu. Qur’an dan Api Islam seakan-akan mati, karena kitab-fiqh itu sajalah yang mereka jadikan pedoman hidup, bukan kalam ilahi sendiri. Ya, kalau dipikirkan dengan dalam-dalam, maka kitab-fiqh – kitab fiqh itulah yang seakan-akan ikut menjadi algojo roh dan semangat Islam. Bisakah, sebagai misal, suatu masyarakat menjadi hidup, menjadi bernyawa, menjadi leved, kalau masyarakat itu hanya dialaskan saja kepada Wetboek van strafrecht dan Burgerlijk Wetboek, kepada artikel ini dengan artikel itu? Masyarakat yang demikian itu akan segeralah menjadi masyarakat mati, masyarakat bangkai, masyarakat yang bukan masyarakat. Sebab tandanya masyarakat ialah justru ia punya hidup, ia punya nyawa. Begitu pula, maka dunia Islam sekarang ini setengah mati, tiada Roh, tiada nyawa, tiada api, karena ummat Islam sama sekali tenggelam dialam “kitab-fiqh nya” saja, tidak terbang seperti burung garuda diatas udara-udaranya Levend Geloof, yakni udara-udaranya Agama Yang Hidup”.

Sesudah beberapa kali membaca saya punya tulisan-tulisan didalam P.I Ini, tuan barangkali lantas mengira, bahwa saya adalah pembenci fiqh. Saya bukan pembeci fiqh, saya malahan berkata bahwa tiada masyarakat Islam dapat berdiri zonder hukum-hukumnya fiqh. Sebagaimana tiada masyarakat satupun dapat berdiri zonder Wetboek van Strafrecht dan Burgerlijk Wetboek, maka begitu juga tiada perikehidupan Islam dapat ditegakkan zonder wetboeknya fiqh. Saya bukan pembenci fiqh, saya hanyalah pembenci orang atau perikehidupan agama yang terlalu mendasarkan diri kepada fiqh itu saja, kepada hukum-hukumnya syariat itu saja.

Dan sungguh, tuan-tuan, pendapat yang begini bukanlah pendapat saja yang picik ini saja, juga Farid Wadjdi, juga Muhammad Ali, juga Kwadja Kamaludin, juga Amir Ali berpendapat begitu. Farid Wadji pernah berpidato dihadapan kaum Orientalis Eropa tentang arti fiqh itu buah perikehidupan Islam, dan beliau berkatalah bahwa “kaum Orientalis yang mau mengukur Islam dengan fiqh itu saja, sebenarnya adalah berbuat tidak adil kepada Islam, oleh karena fiqh belumlah Islam seluruhnya, dan malahan kadang-kadang sudahlah menjadi satu sistem yang bertentangan dengan Islam yang sejati!”. Muhammad Ali tidak berhenti-henti berjuang dengan kaum-kaum yang mau membelenggu Islam itu kedalam mereka punya monopoli undang-undang dan Kwadja Kamaludin menulis didalam ia punya “Evangelie van de Daad”, satu kitab yang dulu pernah saya katakan brilian dan saya pujikan keras kepada semua orang Islam dan bukan Islam, sebagai berikut : “Kita hanya ngobrol tentang sembayang dan puasa, dan kita sudah mengira bahwa kita sudah melakukan agama. Khatib-khatib membuat khotbah tentang rahasia-rahasianya surga dan neraka, atau mereka mengajar kita caranya mengambil air wudu atau rukun-rukun yang lain, dan itu sudahlah dianggap cukup buat mengerjakan agama. Begitu jualah keadannya kitab-kitab agama kita. Tetapi yang demikian itu bukanlah gambar kita punya agama yang sebenarnya. “Cobalah kita punya ulama-ulama itu menerangkan kepada dunia wetenschap betapa rupanya etika yang diajarkan oleh Quran. Maka tidak akan sukarlah bangsa-bangsa Barat ditarik masuk Islam, kalau literatur yang demikian itu disebarkan kemana-mana”

Dan bagaimana perkataan Sajid Amir Ali? Mempelajari kitab-kitab fiqh tidaklah cukup buat mengenal semangat dan rohnya Islam yang sejati. malahan kitab-kitab fiqh itu kadang-kadang berisi hal-hal yang berlawanan dengan Rohnya Islam yang sejati. Dan maukah tuan mendengar pendapatnya orang lain alim yang bukan Islam? Masih ingatkah tuan akan perkataan Prof Snouck Hurgronje yang saya siti dalam P.I dua minggu yang lalu? Yang mengatakan bahwa Quran kini yang menjadi wetboeknya orang Muslim pada umumnya, tetapi apa yang “dicabutkan oleh ulama-ulama dari segala waktu dari Quran itu dan sunnah itu”? Maka ini ulama-ulama dari segala waktu adalah terikat pula kepada ucapan-ucapannya ulama-ulama yang terdahulu dari mereka. Masing-masing didalam lingkungannya mahzabnya sendiri-sendiri. Mereka hanya dapat memilih antara pendapat-pendapatnya autoriteit-autoriteit yang terdahulu dari mereka. Maka syariat itu seumumnya akhirnya tergantung kepada ijma’ dan tidak kepada maksud-maksudnya firman yang asil. Atau ambillah misalnya lagi pendapatnya Prof Tor Andres! Professor inipun berkata : “Tiap-tiap agama akhirnya hilang ia punya jiwa yang dinamis oleh karena pengikut-pengikutnya lebih ingat kepada ia punya wettensysteem saja, daripada kepada ia punya ajaran jiwa. Islam pun tidak luput dari paham ini.”

Tuan barangkalai berkata, apa kita pusingkan pendapat orang lain? Janganlah tuan berkata begitu. Orang lain sering kali mempunyai pendapat yang lebih benar diatas agama kita, sering kali mempunyai pendapat yang lebih “onbevangen” diatas agama kita dairpada kita sendiri, oleh karena mereka tidak terikat oleh tradisi pikiran yang mengikat kita, tidak terikat oleh “cinta buta” yang mengikat kita kepada agama kita, tidak pula, benarkah mereka punya pendapat itu bahwa tidak ada orang asing yang benar? Apakah tidak ada orang asing yang tepat didalam pendapatnya?

Cobalah kita mengambil satu contoh. Islam melarang kita makan daging babi. Islam juga melarang kita menghina kepada si miskin, memakan haknya anak yatim, memfitnah orang lain, menyekutukan Tuhan yang Esa itu. Malahan yang belakangan ini dikatakan dosa yang terbesar, dosa datuknya dosa. Tetapi apa yang kita lihat? Coba tuan menghina si miskin, makan haknya anak yatim, memfitnah orang lain, musyrik didalam tuan punya pikiran atau perbuat, maka tidak banyak orang yang akan menunjuk kepada tuan dengan jari seraya berkata : tuan menyalahi Islam. Tetapi coba tuan makan daging babi, walau hanya sebesar biji asam pun dan seluruh dunia akan mengatakan tuan orang kafir! Inilah gambarnya jiwa Islam sekarang ini: terlalu mementingkan kulih saja, tidak mementingkan isi. Terlalu terikat kepada “uiterlijke vormen” saja, tidak menyala-nyalakan “intrinsieke waarden”. Dulu pernah saya melihat satu kebiasaan aneh disalah satu kota kecil di tanah Priangan. Disitu banyak sundal, banyak bidadari-bidadari yang menyediakan tubuhnya buat pelepas nafsu yang tersebut. Tetapi semua “bidadari-bidadari” itu bidadari “Islam” bidadari yang tidak melanggar sesuatu ajaran agama. Kalau tuan ingin melepaskan tuan punya birahi kepada salah seorang dari mereka, maka adalah seorang penghulu yang akan menikahkan tuan lebih dulu dengan dia buat satu malam. Satu malam ia tuan punya isteri yang syah, satu malam tuan boleh berkumpul dengan dia zonder melanggar larangan zina. Keesokan harinya bolehlah tuan jatuhkan talaq tiga kepada tuan punya kekasih itu tadi! Dia mendapat “nafkah” dan “mas kawin” dari tuan, dan mas penghulupun mendapat persen dari tuan. Mas penghulu ini barangkalai malahan berulang-ulang juga mengucapkan syukur kepada Tuhan, bahwa Tuhan telah memperkenankan dia berbuat suatu kebajikan, yakni menghindarkan dua orang anak Adam daripada dosanya perzinaan!

Tidakkah bernah perkataan saya, bahwa ini bernama main kikebu dengan Tuhan, atau mau mengabui mata Tuhan? Perungklukan, persundalan, perzinaan, di-“putarkan” menjadi perbuatan yang halal! Tetatpi juga: tidakkah benar ini hanya satu faset saja dari gambarnya masyarakat kita seluruhnya, yang lebih mementingkan fiqh saja, haram makruh saja, daripada “intrinsieke waarden” yang lain-lain?

Ah, saya meniru perkataan budiman Kwadja Kamaludin: alangkah baiknya kita disampingnya fiqh itu mempelajari juga dengan sungguh-sungguh etiknya Quran, intrinsieke waardennja Quran. Alangkah baiknya pula kita meninjau sejarah yang telah lampau, mempelajari sejarah itu, melihat dimana letaknya garis menaik dan dimana letaknya garis menurun dari masyarakat Islam, akan menguji kebenarannya perkataan Prof Tor Andrea yang mengatakan bahwa juga Islam terkena kehilangan jiwanya yang dinamis, sesudah lebih ingat kepada ia punya sistem perundang-undangan daripada kepada ia punya ajaran jiwa. Dulupun dari Endeh pernah saya tuliskan : “Umumnya kita punya kyai-kyai dan kita punya ulama-ulama tak ada sedikitpun “feeling” kepada sejarah”, ya boleh saja katakan kebanyakan tak mengetauhi sedikitpun dari sejarah itu. Mereka punya minat hanya menuju kepada agama khusus saja, dan dari agama ini, terutama sekali bagian fiqh. Sejarah, apalagi bagian “yang lebih dalam”, yakni yang mempelajari kekuatan-kekuatan masyarakat yang menyebabkan kemajuannya atau kemundurannya sesuatu bangsa, sejarah itu sama sekali tidak menarik mereka punya perhatian. Pdahal disini, disinilah padang penyeledikan yang maha penting! Apa sebab mundur? Apa sebab maju? Apa sebab bangsa ini dizaman ini begini? Apa sebab bangsa itu di zaman itu begitu? Inilah pertanyaan – pertanyaan yang maha-penting yang harus berputar, terus – menerus didalam kita punya ingatan, kalau kita mempelajari naik-turunnya sejarah itu.

Tetapi bagaimana kita punya kyai-kyai dan ulama-ulama? Tajwid membaca Qur’an, hafidz ratusan hadits, mahir didalam ilmu syarak, tetapi pengetahuannya tentang sejarah umumnya nihil. Paling mujur mereka hanya mengetahui “tarikh Islam” saja, dan inipun terambil dari buku-bukunya tarikh Islam yang kuno, yang tak dapat tahan ujiannya ilmu pengetahuan modern!

Padahal dari tarikh Islam inipun saja mereka sudah akan dapat menggali juga banyak ilmu yang berharga. Kita umumnya mempelajari hukum, tetapi kita tidak mempelajari caranya orang-dulu mentanfidzkan hukum itu.

Kita cakap mengajikan Quran seperti maha-guru di Mesir, kita kenal isinya kitab-kitab fiqh seperti seorang advokat kenal isinya ia punya kitab hukum pidana dan hukum perdata, kita mengetahui tiap-tiap perintah agama dan tiap-tiap larangan agama sampai yang sekecil-kecilnyapun juga, tetapi kita tidak mengetahui betapa caranya Nabi, sahabat-sahabat, tabiin-tabiin, khalifah-khalifah mentanfidzkan perintah-perintah dan larangan-larangan itu didalam urusan sehari-hari dan didalam urusannya negara. Kita sama sekali gelap dan buta buat didalam hal pentanfidzkan itu, oleh karena kita tidak mengenal tarikh.

Dan apakah Pengajaran Besar, yang tarikh itu kasihkan kepada kita? Pengajaran Besar tarikh ini ialah, bahwa Islam di zamannya yang pertama dapat terbang meninggi seperti burung garuda diatas angkasa, oleh karena fiqh tidak berdiri sendiri, tetapi ialah disertai dengan tauhid dan ethieknya Islam yang menyala-nyala.

Fiqh pada waktu itu hanyalah “kendaraan” saja, tetapi kendaraan ini dikusiri olehnya Rohnya Ethiek Islam serta Tauhid yang hidup, dan ditarik oleh kuda-sembrani yang diatas tubuhnya ada tertulis ayat Quran: “Janganlah kamu lembek, dan janganlah kamu mengeluh, sebab kamu akan menang, asal kamu mukmin sejati”. Fiqh ditarik oleh Agama Hidup, dikendarai Agama Hidup, disemangati Agama Hidup: Roh Agama Hidup yang berapi-api dan menyala-nyala! Dengan fiqh yang demikian itulah umat Islam menjadi cakrawarti diseparuh dunia!

Tetapi apakah pula kebalikan dari Pengajaran Besar ini? Kebalikan Pengajaran Besar ini ialah Pengajaran Besa pula yang tarikh itu mengasihkan kepada kita didalam periodenya yang kedua. Pengajaran Besar, bahwa sejak Islam-studie dijadikan fiqh-studie dari pusakanya Imam yang Empat saja dan bahwa sejak fiqh-studie ini mendapat kedudukan sentral dalam Islam-studie itu, disitulah garis-kenaikan itu menjadi membelok dibawah, menjadi garis yang menurun. Disitulah Islam lantas “membeku” menurut katanya Essad Bey, membeku menjadi satu sistem formil belaka. Lenyaplah ia punya ketangkasan yang mengingatkan kepada ketangkasannya harimau. Kendaraan tiada lagi ia punya kuda, tiada lagi ia punya kusir. Ia tiada bergerak lagi, ia mandek!

Dan bukan saja mandek! Kendaraan mandek lama-lamapun menjadi amoh. Fiqh bukan lagi menjadi petunjuk dan pembatas hidup, fiqh kini kadang-kadang menjadi penghalalannya perbuatan-perbuatan kaum soontoolooyoo!

Maka benarlah perkatannya Halide Edib Hanum, bahwa Islam di zaman akhir-akhir ini “bukan lagi agama pemimpin hidup, tetapi agama pokrol-bambu”.

Jikalau umat Islam tetap tidak mengindahkan Pengajaran – pengajaran Besar sejarahnya sendiri, jikalau pemuka-pemuka Islam di Indonesia tidak mengikuti jejaknya pemimpin besar di negeri lain seperti Muhammad Ali, Farid Wadjdi, Kwadja Kamaludin, Amir Ali dll yang menghendaki satu grentelijke wedergeboorte (kebangunan roh baru) didalam dunia Islam, jikalau pemuka-pemuka kita itu hanya mau bersifat ulama-ulama-fiqh saja dan bukan pemimpin kejiwaan sejati, maka janganlah ada harapan umat Islam Indonesia akan dapat mempunyai Kekuatan Jiwa atau Kekuatan Jiwa yang hebat untuk menjunjung dirinya dari keadaan aib yang sekarang ini.

Janganlah kita ada harapan dapat mencapai persanggupannya Allah yang tertulis diatas tubuhnya kuda-sembrani tadi itu.

Janganlah kita kira diri kita sudah mukmin tetapi hendaklah kita insyaf, bahwa banyak dikalangan kita yang Islamnya masih Islam Sontoloyo!

Soekarno

Pandji Islam, 1940
Di Bawah Bendera Revolusi Jilid 1, hal 493-499