Resensi Buku: Menyusuri Garis Bumi

Cover Menyusuri Garis Bumi (Goodreads)

Menyusuri Garis Bumi
Clement Steve
Grasindo, 2014
374 halaman

Jujur buku ini merupakan buku bertemakan pendakian gunung pertama yang saya baca. Membaca buku ini seperti membaca catatan pendakian gunung yang sering saya post di blog ini. Penulisnya adalah Oom Clement Steve, mahasiswa (dulu) Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kini bernama Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Saat mahasiswa, beliau sering mendaki gunung lalu sesekali menuliskan catatan perjalanan di notes kecilnya. Di buku ini juga diceritakan awal mula beliau tercebur ke dalam hobi ini yaitu ketika Oom Steve melihat kakaknya yang sering menenteng tas besar di malam minggu.

Beberapa gunung pernah didaki oleh beliau. Dari beberapa gunung yang didaki, kebetulan saya juga pernah mendakinya. Sebut saja Merbabu, Gede – Pangrango, Semeru, Kerinci, Merapi dan lain-lain. Membaca berbagai kisah dari Oom Steve ini seakan-akan membawa saya memasuki mesin waktu. Mungkin keadaan gunung tetap sama antara sekarang dengan tahun 1970an dulu, tetapi untuk mencapainya tentulah sudah berbeda.

Contohnya, Oom Steve menceritakan pengalaman beliau mendaki menuju air terjun Cibereum yang terletak di kaki gunung Gede – Pangrango. Saat itu, belum ada angkutan dari Cimacan menuju Cibodas sehingga mereka harus berjalan kaki. Berbeda dengan keadaan saat ini. Saat itu juga kompleks Gunung Gede – Pangrango belum menjadi Taman Nasional.

Cerita Oom Steve saat ke Kerinci menurut saya yang paling menarik. Oom Steve banyak bercerita tentang almarhum Pak Paiman. Bagi yang pernah mendaki Gunung Kerinci, kemungkinan besar akan tahu nama Paiman yang kini menjadi nama sebuah homestay di Kayu Aro, Jambi. Dari buku ini, saya mendapatkan sebuah pelajaran yaitu jangan lupa mencatat keadaan masyarakat sekitar gunung.

Layaknya sebuah catatan perjalanan, buku ini ditulis dengan bahasa sehari – hari. Kita seakan – akan sedang ngobrol dengan Oom Steve hanya dengan membaca buku ini. Di buku ini juga banyak dokumentasi foto pendakian. Dapat kita lihat bahwa keadaan gunung tidak banyak berubah kecuali Gunung Merapi akibat letusan 2006 (di buku ini, Puncak Garuda masih utuh)

Buku ini cocok untuk kalian yang sedang keranjingan mendaki gunung

Iklan

Lingkar Tanah Lingkar Air

Setelah Ronggeng Dukuh Paruk, Senyum Karyamin, Kubah, Orang – Orang Proyek, Mata yang Enak Dipandang dan Di Kaki Bukit Cibalak, kali ini saya membaca Lingkar Tanah dan Lingkar Air.

source : https://kampungmanisku.wordpress.com/
source : https://kampungmanisku.wordpress.com/

Saya membeli buku ini dari seorang penjual buku bekas di Facebook. Keadaan bukunya sedikit menyebalkan karena beberapa halaman terlepas, bahkan ada 2 halaman blank di dalamnya (kalau yang ini jelas salah dari percetakan). Terbitan LKiS tahun 1999. Beruntung sekali saya bisa membelinya pada Mei 2013. Saya baru membacanya sekarang karena sejak dibeli hingga sekarang, buku itu teronggok di tumpukan kertas bekas di meja kerja saya :|. Terlupakan

Buku ini mengisahkan Amid, seorang penduduk desa di suatu perkampungan yang terletak di perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah. Kampung yang tadinya damai, kini mulai mencekam karena Belanda dikabarkan akan datang. Kiai Ngumar, seorang imam masjid mendapatkan kabar bahwa para Ulama telah berkumpul. Hadratus Syaikh berfatwa bahwa berperang melawan Belanda adalah jalan jihad karena melawan kemungkaran. Seketika pemuda di kampung tersebut bersemangat untuk melawan Belanda. Dengan modal satu senapan, Amid, Kiram, Jun, dan Kang Suyud membentuk kelompok paramiliter dengan nama Hizbullah, tentara Allah.

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, terjadi gejolak politik di seluruh Indonesia. Salah satunya, Kartosuwiryo yang memproklamirkan Negara Islam Indonesia atau Darul Islam. Kiai Ngumar menyarankan mereka kembali ke kehidupan normal atau mendaftar menjadi tentara republik karena Belanda telah pergi. Sayang, ditengah usaha menjadi tentara republik, terjadi cekcok antara tentara Republik dengan mantan tentara Hizbullah di suatu stasiun yang membuat tentara Hizbullah merasa dikhianati lalu bergabung dengan Darul Islam. Lagipula, Kang Suyud tak mau ikut dengan tentara Republik karena di dalamnya ada orang komunis yang tak pernah sholat.

Secara garis besar, itulah cerita Lingkar Tanah Lingkar Air. Dari buku ini saya baru tahu clash antara tentara Republik vs Darul Islam. Serta tentara Republik dan mantan Darul Islam yang sama-sama memburu PKI ketika terjadi peristiwa tahun 1965. Point of view Ahmad Tohari terhadap PKI di buku sama dengan Kubah.

Selain itu yang sedikit bikin saya kaget, ternyata ketika gerakan Darul Islam sedang gencar-gencarnya, beredar suatu label “kiai pro republik” alias “kiai republiken”. Mereka adalah kiai – kiai yang tak mendukung gerakan atau konsep negara Islam dengan Kartosuwiryo sebagai khalifahnya. Hal ini tampak dari dialog Kiai Ngumar dan Kang Suyud. Kiai Ngumar sami’na wa atho’na dengan Hadratus Syaikh yang mengatakan bahwa pemerintahan Sukarno – Hatta sah. Sedangkan Kang Suyud bersikeras bahwa Negara Islam Indonesia lah yang harus didukung karena berlandaskan syariat Islam. Sampai – sampai Kang Suyud memberikan suatu pertanyaan yang membuat Kiai Ngumar sedikit bersedih, “pilih Islam atau Republik?”

Sayangnya buku ini sulit dicari sekarang. Saya beruntung bisa mendapatkannya 🙂

Tohari, Ahmad. 1999. Lingkar Tanah Lingkar Air. Yogyakarta: LKiS

Cerita Hilangnya “…kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya…” di Pembukaan UUD 1945

Mohammad Hatta (12 Agustus 1902 - 14 Maret 1980) - Wikipedia
Mohammad Hatta (12 Agustus 1902 – 14 Maret 1980) – Wikipedia

Pembukaan UUD 1945 Digugat

Pada sore harinya aku menerima telepon dari Tuan Nishiyama, pembantu Admiral Maeda, yang menanyakan, dapatkah aku menemui seorang opsir Kaigun (Angkatan Laut) karena ia mau mengemukakan suatu hal yang sangat penting bagi Indonesia. Nishiyama sendiri akan menjadi juru bahasyan. Aku persilakan mereka datang. Opsir itu, yang aku lupa namanya, datang sebagai utusan Kaigun dan menginformasikan bahwa wakil – wakil umat Protestan dan Katolik, yang dikuasai oleh Angkatan Laut Jepan, berkeberatan sangat terhadap bagian kalimat dalam Pembukaan Undang – Undang Dasar, yang berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Mereka mengakui bahwa bagian kalimat itu tidak mengikat mereka, hanya menganai rakyat yang beragama Islam. Akan tetapi, tercantumnya ketetapan seperti itu di dalam suatu dasar yang menjadi pokok Undang-Undang Dasar berarti mengadakan “diskriminasi” terhadap mereka golongan minoritas. Jika “diskriminasi” itu ditetapkan juga, mereka lebih suka berdiri di luar Republik Indonesia.

Aku mengatakan bahwa itu bukan suatu diskriminasi sebab penetapan itu hanya mengenai rakyat yang beragama Islam. Waktu merumuskan Pembukaan Undang – Undang Dasar, Mr. Maramis yang ikut serta dalam Panitia Sembilan tidak mempunyai keberatan apa-apa dan pada tanggal 22 Juni ia ikut menandatanganinya. Opsir tadi mengatakan bahwa itu adalah pendirian dan perasaan pemimpin – pemimpin Protestan dan Katolik dalam daerah pendudukan Kaigun. Mungkin waktu itu Mr. A. A Maramis cuma memikirkan bahwa bagian kalimat itu hanya untuk rakyat Islam yang 90 persen jumlahnya dan tidak mengikat rakyat Indonesia yang beragama lain. Ia tidak merasakan bahwa penetapan itu adalah suatu diskriminasi. Pembukaan Undang – Undang Dasar adalah pokok daripada pokok sehingga harus teruntuk bagi seluruh bangsa Indonesia dengan tiada kecualinya. Kalau sebagian daripada dasar pokok itu hanya mengikat sebagian dari rakyat INdonesia, sekalipun yang terbesar, itu dirasakan oleh golongan minoritas sebagai diskriminasi. Sebab itu, kalau diteruskan juga Pembukaan yang mengadung diskriminasi itu, mereka golongan Protestan dan Katolik lebih suka berdiri di luar Republik.

Karena opsir Angkatan laut Jepang itu sungguh – sungguh menyukai Indonesia merdeka yang bersatu sambil mengingatkan pula kepada semboyan yang selama ini didengung-dengungkan “Bersatu kita teguh dan berpecah kita jatuh”, perkataannya itu berpengaruh juga atas pandanganku. Tergambar di mukaku perjunganku yang lebih dari 25 tahun lamanya, dengan melalui bui dan pembuangan, untuk mencapai Indonesia merdeka bersatu dan tidak terbagi-bagi. Apakah Indonesia merdeka yang baru saja dibentuk akan pecah kembali adan mungkin terjajah lagi karena suatu hal yang sebenarnya dapat diatasi? Kalau Indonesia pecah, pasti daerah di luar Jawa dan Sumatera akan dikuasai kembali oleh Belanda dengan menjalankan politik divide et impera, politik memecah dan menguasai. Setelah aku terdiam sebentar, kukatakan kepadanya bahwa esok hari dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan akan kukemukakan masalah yang sangat penting itu. Aku minta ia menyabarkan sementara pemimpin – pemimpin Kristen yang berhati panas dan berkepala panas itu supaya mereka jangan terpengaruh oleh propaganda Belanda.

Toleransi Para Pemimpin Islam

Karena begitu serius rupanya, esok paginya, tanggal 18 Agustus 1945, sebelum sidang Panitia Persiapan bermula, kuajak Ki Bagus Hadikoesoemo, Wahid Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Mr. Teuku Hasan dari Sumatera mengadakan suatu rapat pendahuluan untuk membicarakan masalah itu. Supaya kita jangan pecah sebagai bangsa, kami mufakat untuk menghilangkan bagian kalimat yang menusuk hati kaum Kristen itu dan menggantinya dengan “Ke Tuhanan Yang Maha Esa”. Apabila suatu masalah yang serius dan bisa membahayakan keutuhan negara dapat diatasi dalam sidang kecil yang lamanya kurang dari 15 menit, itu adalah suatu tanda bahwa pemimpin – pemimpin tersebut pada waktu itu benar – benar mementingkan nasib dan persatuan bangsa.

Pada waktu itu kami dapat menginsafi bahwa semangat Piagam Jakarta tidak lenyak dengan menghilangkan perkataan “Ke Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk – pemeluknya” dan menggantinya dengan “Ke Tuhanan Yang Maha Esa”. Dalam negara Indonesia yang kemudian memakai semboyan Bhinneka Tunggal Ika, tiap – tiap peraturan dalam kerangka syariat Islam, yang hanya mengenai orang Islam, dapat dimajukan sebaga rencana undang – undang ke DPR yang setelah diterima oleh DPR mengkikat umat Islam Indonesia. Dengan cara begitu, lambat laun terdapat bagi umat Islam Indonesia suatu sistem syariat Islam yang teratur dalam undang – undang, berdasarkan Al Quran dan Hadis, yang sesuai pula dengan keperluan masyarakat Islam sekarang. Orang tidak perlu mengambil saja dari syariat Islam yang berlaku dahulu di negeri – negeri ARab dalam abad ke -8, ke – 9, atau ke – 10 yang pada waktu itu sesuai pula dengan keadaan masyarakat disitu.

Perbedaan hukum antara penduduk yang beragama Islam atau beragama Kristen akan terdapat terutama dalam bidang hukum keluarga. Dalam bidang hukum perdata lainnya, hukum perniagaan dan hukum dagang tidak perlu ada perbedaan. Dalam bidang – bidang ini mesti ada persatuan hukum bagi rakyat Indonesia seluruhnya. Mungkin di sana – sini ada pengaruh adat sedikit dalam melaksanakan hukum, tetapi tidak akan mempengaruhi pokoknya yang asasi. Misalnya hukum yang menjadi dasar pembayaran dengan wesel atau cek sementara tidak dijalankan pada beberapa bagian Indonesia. Akan tetapi, itu tidak berati bahwa dasar perhubungan wesel dan cek tidak laku disitu.

Kira – kira pukul 09.30 sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dibuka oleh ketuanya, Sukarno. Perubahan yang disetujui lima orang tadi, sebelum rapat resmi, disetujui oleh sidang lengkap Panitia Persiapan Kemerdekaan dengan suara bulat. Sesudah itu, dipersoalkan Undang – Undang Dasar seluruhnya dengan mengadakan sedikit perubahan di sana-sini yang tidak prinsipil. Yang prinsipil hanya perubahan dalam Pembukaan yang tersebut tadi, yang diterima dengan suara bulat.

disadur dari buku Untuk Negeriku, sebuah Otobiografi Mohammad Hatta, Jilid 3, hal 95 -98.

—————————————

 Saya mengetik ulang potongan isi buku tersebut dengan maksud agar kita semua tahu, inilah kata salah satu bapak pendiri Republik ini tentang syariat Islam. Bukan masalah hilangnya “syariat Islam” di Pembukaan UUD 1945, tetapi selain itu banyak hal yang dapat kita ambil sebagai pelajaran untuk saya sendiri dan teman – teman pembaca note ini. Saya merasakan adanya sebuah keberanian dalam pengambilan keputusan, berani karena Bung Hatta percaya sepenuhnya dengan perkataan salah satu opsir Jepang itu. Mungkin saja kan Bung Hatta menunda rapat untuk membicarakan hal tsb dan mengecek kebenaran berita itu, tetapi karena taruhannya adalah pecahnya Republik, beliau dengan sigap langsung membawa masalah ini untuk dibicarakan. Jika ada yang meragukan sifat dan sikap seorang Bung Hatta sebagai muslim, karena berani mengambil keputusan demikian, saya juga membaca di halaman lain buku ini bahwa selama 11 tahun beliau di sekolah di Belanda, beliau tetap menjalankan perintah agama (tidak minum minuman beralkohol, menjaga pergaulan dengan wanita, dll) . Sebelum itu juga, sebelum beliau berangkat ke Belanda, di Bukittinggi beliau juga rajin belajar agama oleh seorang Syekh di Batuhampar. Beliau juga keturunan ulama besar di Batuhampar.

 Selain itu, untuk teman-teman non Muslim yang kebetulan membaca note ini, inilah yang Bung Hatta inginkan, jika terdapat peraturan syariat Islam, hanya berlaku untuk yang beragama Islam saja. Namun sayangnya di beberapa daerah menerapkan ini kepada seluruh warganya. Sehingga sering timbul berbagai percikan-percikan api karena perbedaan agama ini. Bayangkan bagaimana kita harus menjalankan hukum dimana hukum itu tidak berlaku untuk kita? Jangan sampai negeri ini seperti yang Bung Hatta takutkan, terpecah-pecah kembali.

Sengaja saya post ulang, menjelang ulang tahun Bung Hatta ke 112 tahun pada tanggal 12 Agustus nanti

Inferno

–Spoiler alert!–

Inferno

Amazing! Inilah satu kata yang tepat untuk menggambarkan serunya cerita Dan Brown kali ini. Menurut saya cerita di buku ini, dari segi criminal mind, inilah yang paling elegan setelah penjahat di Angel & Demon dan Digital Fortress.

Lagi – lagi, khas Dan Brown, buku ini berkisah sekitar 24 jam petualangan Robert Langdon di tiga kota, Florence, Venesia dan Istanbul. Cerita berawal dari ia terbangun di suatu rumah sakit di Florence, menderita amnesia yang menyebabkan ia lupa dengan apapun dua hari kebelakang. Disinilah petualangan dimulai. Bersama dengan Sienna Brooks, memecahkan misteri dari seorang scientist yang terobsesi dengan Inferno, suatu puisi karya penyair Renaisans, Dante Alighieri.

Bagi pencinta seni Renaisans dan kota Florence, buku ini adalah buku yang tepat untuk memanjakan pikiran dan imajinasi anda. Pak Brown banyak bercerita mengenai karya seni mulai daru lukisan, mural masif, patung, arsitektur, hingga karya sastra Renaisans dengan suduh pandang Langdon. Akhirnya saya baru tahu ada nama perupa Renaisans selain Michelangelo, Donatello, Leonardo Da Vinci, dan Raphael (saya hanya tahu ini karena keempat nama ini adalah nama para Kura – Kura Ninja) yaitu Giorgio Vasari dan Sandro Boticelli.

Cerita di buku ini memang banyak berpusat di Sandro Boticelli, Giorgio Vasari, dan Dante Alighieri. Dimulai dari puisi Dante, Divine Comedy yang mempunyai tiga bagian yaitu Inferno yang mengisahkan perjalanan dia ke neraka yang mempunyai sembilan lapis dengan Iblis berada di neraka paling bawah, lalu Purgatorio suatu gunung dengan jalan melingkar sebanyak sembilan kali sebagai gunung penebusan dosa, dan Paradiso yang berarti surga. Boticelli yang membuat lukisan Inferno versi Dante dengan judul La Mappa dell’ Inferno. Dari sinilah petualangan dimulai

Map of Hell – Sandro Boticelli (konon lukisan ini banyak membuat orang bertobat)

Lalu kejahatan apa yang membuat buku ini menarik? Kejahatan yang terinspirasi dari karya seni memang khas dan menjadi tema utama pada buku – buku pak Brown sejak buku The Da Vinci Code. Kali ini ada scientist yang khawatir dengan populasi manusia yang semakin banyak. Angka populasi manusia yang terakhir tercatat adalah 7 milyar penduduk pada 2011. Di buku ini juga terdapat grafik proyeksi jumlah penduduk yang mencapai 9 milyar pada tahun 2050, juga terdapat grafik eksponensial yang mengerikan tentang masalah yang dihadapi penduduk Bumi yaitu pemanasan global, mencairnya es di kutub, penipisan lapisan ozon, berkurangnya hutan hijau, berkurangnya tangkapan ikan, kadar CO2 di udara, dll. Semua masalah tersebut, ikut naik mengikuti jumlah populasi bumi yang juga naik. Jadi menurut seorang scientist di buku ini, masalah itu ada karena banyaknya penduduk Bumi. Satu – satunya cara menghilangkan masalah itu adalah, kurangi penduduk Bumi.

inferno_dan_brown_original_drm_not_removed__page_106_image_0001-1

Tersebutlah Bertrand Zobrist, scientist dalam bidang genetika yang berhasil membuat suatu virus. Virus tersebut konon akan memusnahkan milyaran orang karena Zobrist terkenal sebagai orang yang mengatakan seharusnya terjadi kiamat yang menyebabkan berkurangnya sepertiga penduduk Bumi. Ia juga mengatakan bahwa Wabah Hitam di Eropa abad 14 adalah suatu anugerah bagi manusia dan Bumi. Disinilah Langdon dan Sienna Brooks mencari – cari di mana virus itu mulai dilepas karena satu – satunya petunjuk lokasinya dimulai dari suatu proyektor kecil bertenaga mekanik yang menunjukkan Map of Hell karya Boticelli yang telah dimodifikasi. Langdon dan Sienna juga harus berjibaku dengan pihak Konsorsium dan tentara SRS (yang belakangan ternyata tentara SRS adalah tentara dari pihak WHO, World Health Organization).

Berbagai intrik, dan ketidakjelasan mana yang antagonis dan protagonis, kedua hal inilah yang membuatnya menarik pada sekitar Bab 60-an ke atas. Kita disodorkan pada dua pilihan: Menekan sebuah tombol yang dapat mengurangi sepertiga penduduk Bumi, namun Bumi selamat. Atau tidak menekan tombol tersebut, tapi peradaban manusia akan hancur dalam waktu kurang dari 100 tahun?.

Apakah virus yang disebar oleh Zobrist? Ternyata virus tersebut adalah virus vektor yang menyebabkan penderitanya menjadi steril (mandul). Itulah solusi dari Zobrist untuk mengurangi populasi penduduk. Virus ini tidak membuat orang menderita kesakitan layaknya Black Death, apalagi membuat orang meninggal, virus ini hanya membuat orang steril. Entah bagaimana caranya, tidak semua orang terkena virus ini akan steril. Terinspirasi dari Black Death, hanya sepertiga penduduk dunia yang terkena virus ini yang akan steril sehingga spesies manusia masih bisa bereproduksi. Pada bagian tengah buku juga disebutkan bahwa Zobrist menganggap WHO tidak membantu sama sekali tentang bagaimana cara mengurangi populasi penduduk. Membagikan kondom, sosialisasi keluarga berencana, dll seakan – akan hanya mengobati tumor ganas dengan menggunakan plester band-aid.

Apakah anda setuju dengan Zobrist? Inilah area abu – abunya. Ending dari buku ini pun tidak jelas. Memang Sienna dan Sinskey (kepala WHO) akhirnya pergi ke konferensi Jenewa untuk membahas krisis virus Zobrist dengan para petinggi dunia lainnya. Tapi pak Brown tak menyelesaikan masalah ini. Apakah WHO -dibantu Sienna- akan mencari anti virus? Entahlah.

Saya pikir juga, adakah cara lain yang lebih elegan dari cara Zobrist untuk mengurangi penduduk Bumi?

Senyum Karyamin

1302796

Senyum Karyamin adalah buku ketiga karya Ahmad Tohari yang selesai saja baca setelah Ronggeng Dukuh Paruk dan Orang-Orang Proyek. Seperti buku-buku lainnya, karya Ahmad Tohari selalu diisi dengan deskripsi pedesaan yang kuat dan indah hingga merasuk ke dalam pembacanya. Saya sebagai pembacanya yang kini hidup di hiruk pikuk egoisme perkotaan jadi sempat melupakan suasana perkotaan tsb ketika membaca buku Senyum Karyamin ini. Buku ini adalah kumpulan 13 cerita pendek karya Tohari yang salah satu judul cerpennya dijadikan judul buku, yaitu Senyum Karyamin.

Senyum Karyamin berisi cerita tentang Karyamin yang bekerja sebagai pengambil batu. Cerita ini masih lekat oleh suasana pedesaan lengkap dengan deskripsi manusianya. Terdapat suatu ironi yang kental didalam setiap kalimatnya. Betapa Karyamin yang juga mengalami kesulitan hidup harus dituntut untuk membantu kelaparan di benua Afrika. “Senyum” nya kini abadi, Senyum yang berlandaskan ironi hidup.

Kehidupan desa yang lengkap dengan segala dinamikanya mampu disajikan dengan apik. Terdapat beberapa karakter buatan Tohari yang kadang kita sepelekan jika bertemu di dunia nyata. Sebut saja namanya Blokeng, seorang wanita yang mengalami gangguan jiwa yang biasa hidup di tumpukan sampah pasar tradisional. Blokeng yang hidup sendiri ini tiba-tiba mengandung seorang bayi. Manusia mana yang tega menghamili Blokeng? Tohari memberikan kelucuan penuh ironi di mana manusia desa mulai bertindak nyeleneh karena ulah Blokeng yang menebak-nebak siapa pria yang menghamilinya. Ketika Blokeng berkata pria yang menghamilinya adalah bukan pria yang botak, mendadak mode rambut botak tenar di seluruh kampung

Cowet, anakku. Ayahmu itu mbuh. Tetapi jangan bersedih ya. Lihallah itu, orang-orang gundul. Lucu, ya?

Banyak hikmah yang dapat kita ambil sebagai manusia yang tak dapat hidup sendiri di dunia ini. Antara lain cerita yang berjudul Wangon Jatilawang. Bercerita tentang orang dengan keterbelakangan mental yang tak jelas arahnya tetapi memberikan pelajaran tentang ketulusan dan saling memberi.

Ada pula cerita tentang Minem Beranak Bayi. Keluguan tercipta karena orang tua Minem yang terheran-heran mendengar kabar Minem melahirkan. Ia bingung Minem kok bisa beranak bayi, padahal Minem masih bocah. Itulah yang membuatnya heran, kok bisa bocah melahirkan seorang bocah? Inilah cerita tentang perkawinan usia dini yang masih lazim di pedesaan.

Bagaimanapun, disinilah keunggulan dan yang menjadi ciri khas Tohari. Mampu memberikan suasana desa yang penuh dengan kepolosan, keluguan, dan kesederhanaan. Buku ini menjadi oase tersendiri bagi saya yang setiap harinya sumpek dengan kemacetan, egoisme, kekurangtulusan, dan kemunafikan.

Tulisan tentang orang dewasa dan cintanya

Tulisan dibawah ini adalah karya J.Sumardianta. Saya ketik ulang dari buku beliau yang berjudul Guru Gokil Murid Unyu halaman 278.

Orang dewasa yang berada jauh dari orangtua akan sering merindukan ibu. Mungkin karena ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaan setiap hari. Namun, sesungguhnya ayahlah lah yang mengingatkan ibu untuk meneleponmu. Saat kecil ibu memang sering mendongeng. Namun, sepulang kerja dengan wajah berminyak karena kelelahan, ayah yang menanyakan apa yang kamu lakukan seharian.

 

Saat kamu batuk atau pilek, ayah membentak, “Sudah dibilang jangan minum es,” karena ayah khawatir. Saat remaja, kamu menuntut untuk boleh keluar malam. Ayah melarang karena hanya ingin menjaga anak yang dikasihinya.

 

Saat kamu melanggar aturan jam malam, ayah selalu menunggu di ruang tamu dengan sangat cemas. Ketika kamu pamit hendak kuliah di kota lain, badan ayah seperti kaku ingin memelukmu. Saat kamu merengek keperluan ini itu, ayah mengernyitkan dahi. Tanpa menolak ayah memenuhinya. Saat kamu wisuda, ayah orang yang pertama berdiri dan bertempik sorak kegirangan. Ayah tersenyum bangga.

 

Sampailah saat ketika calon pasanganmu datang minta izin mengambilmu. Dengan hati-hati ayah mengikhlaskanmu disunting. Saat melihatmu duduk di pelaminan dengan orang yang dianggapnya layak, ayah sangat berbesar hati.

Ayah berdoa dalam hati, Ya, Tuhan, jihadku sudah selesai. Setelah itu, ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu membawa cucu-cucunya. Tentu dengan rambut memutih dan tubuh mulai renta. Ia sudah tidak begitu kuat lagi untuk melindungi, menjaga, dan merawatmu.

 

Mengapa orang gampang jatuh cinta? Karena saat itu buta, bisu, dan tuli terhadap keburukan calon pasangannya. Saat memasuki pernikahan, tiada yang bisa ditutupi lagi. Semua belang akan tersingkap dalam interaksi 24 jam per hari dalam seminggu.

 

Dari kisah heroik seorang ayah di atas bisa ditemukan perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta. Jatuh cinta dalam keadaan menyukai. Bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel. Cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan itikad baik memahami konflik. Bersama-sama mencari solusi yang dapat diterima kedua belah pihak. Cinta yang dewasa tidak menyembunyikan unek-unek.

 

Syarat keberhasilan pembicaraan masing-masing bisa saling memperhitungkan perasaan. Jika suami – istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi. Rumah tangga berubah bukan surga lagi, melainkan neraka. Masing-masing harus mengingat komitmen awal mereka. Apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup? Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang justru bermusuhan?

 

Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta. Kedua pihak saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, berbagi, mengalah, dan bertanggung jawab.

 

Ada kecerendungan kuat mahligai rumah tangga keluarga-keluarga muda modern kandas di tengah jalan. Perselisihan biasanya dipicu persoalan remeh, tapi berujung keributan besar. Ludwig Witgenstein, filsuf dari Jerman, punya alegori, “Jika yang kau miliki hanya palu, segalanya akan tampak seperti paku.” Maksudnya, jika di benak pasangan suami – istri yang ada hanya ketidakcocokan yang mereka pikirkan, ya, berpisah melulu.

 

….

 

Anak Semua Bangsa : Tempat, Waktu Kelahiran, dan Orang Tua Hanyalah Suatu Kebetulan

1398044

Judul: Anak Semua Bangsa

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara 2006

Tebal: 536 halaman

Buku ini adalah seri kedua dari Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Sebenarnya saya sendiri dulu sudah mulai membaca buku ini hanya saja terputus entah di mana akhirnya sehingga mengulang lagi dan sekalian menjadi buku favorit untuk SRC Serapium bulan Januari

Sesuai dengan apa yang dikatakan pada bagian awal setiap buku dari Tetralogi Pulau Buru. Anak Semua Bangsa (kemudian disingkat ASB) menimbulkan suatu keheranan atas bangsa sendiri, mengapa bangsa ini amat mudah dibodohi oleh Eropa? Eropa dengan segala keagungannya mampu melesakkan kehidupan bangsa ini hingga ke tatanan yang paling bawah. Di buku ini bahkan diceritakan bagaimana kaum pribumi menjadi sangat takut dengan seseorang yang memakai jas dan sepatu (pakaian Kristen). Apa hubungan hal tersebut dengan feodalisme. Dan membawa kesadaran bahwa bangsa ini sebenarnya tidak benar-benar dijajah oleh Belanda, tetapi juga dijajah oleh bangsa pribumi sendiri.

Mengambil plot waktu era 1800-an akhir, Minke, tokoh utama dalam buku ini perlahan mulai bisa menerima kehilangan Annelies yang dibawa paksa darinya ke tanah Belanda oleh otoritas pengadilan putih. Nyai Ontosoroh juga perlahan bangkit kembali. Sayangnya, Annelies telah meninggal dunia di tanah leluhurnya sendiri. Suatu keanehan yang membuat dahi mengkerut bahwa orang-orang di sana (Belanda) sangat cuek dengan keadaan Annelies hanya karena beberapa masalah sepele. Dia bukan ‘totok’.

Pada buku ini Minke belajar banyak dari Khouw Ah Soe, seorang pemuda yang berasal dari Tiongkok, aktivis yang ingin membawa bangsanya maju, seorang aktivis yang ingin menyadarkan banyak pihak bahwa Jepang perlahan akan masuk ke tanah Cina. Namun sayang, ia dibunuh oleh suatu kelompok yang tak setuju dengan pemikiran dia. Dari sini saya belajar bahwa Touchang, rambut kunciran yang sering kita lihat di film-film vampire Cina itu adalah tanda rasial yang diwariskan oleh kaum Mongol. Suatu pertanda bahwa mereka berbeda dengan bangsa Mongol, tetapi orang-orang Cina merasa bangga dengan identitas itu. Berbeda dengan Khouw Ah Soe yang merasa tak perlu lagi memakai touchang karena itu lambang penindasan kaumnya.

Cerita yang tidak kalah menariknya adalah ketika Minke berkunjung ke rumah kerabat Nyai Ontosoroh di Sidoarjo, yang kala itu terdapat suatu kebun tebu dan pabrik gula yang dibangun oleh Belanda. Ia melihat berbagai ketidakadilan seperti cerita bos pabrik Gula yang ingin mengawini paksa seorang anak pribumi dengan cara yang tak bisa dikatakan lagi sebagai cara manusia. Seorang petani yang tidak tahu apa-apa yang tetap bertahan di tanah miliknya meskipun tentara Kompeni telah melakukan berbagai cara-cara kotor. Ketika berkunjung ke Sidoarjo, Minke menginap beberapa hari di rumah petani tersebut. Akhirnya ia merasakan bagaimana hidup sebagai pribumi ‘aslinya’ yang bukan priyayi. Berbeda dengan Minke yang anak bupati kabupaten B. Hal menarik adalah ketika anak-anak dari petani itu begitu takut dengan baju dan sepatu (pakaian Kristen) yang dikenakan oleh Minke.

Akhir dari buku ini adalah ketika Tuan Mellema, keluarga ayah Annelies yang berasal dari Belanda datang untuk mengambil alih Borderij Buitonzorg dari tangan Nyai Ontosoroh. Konflik ini menarik karena memainkan perasaan campur aduk dari Nyai ketika mengetahui bahwa modal dari Borderij Buitonzorg berasal dari pabrik Gula Tulangan Sidoarjo yang diperoleh dengan cara yang haram, Borderj Buitonzorg yang merupakan hasil kerja keras dari Nyai Ontosoroh, tidak mau kehilangan apapun setelah kehilangan Annelies, dan suatu kisah mengharukan bahwa Nyai Ontosoroh mempunyai cucu dari Robert Mellema yang telah meninggal di seberang laut karena penyakit kotor.

Overall, buku ini sangat baik, penuh dengan ajaran-ajaran humanisme salah satunya adalah bahwa kita ini semua adalah manusia, segala macam embel-embel yang mengikuti kelahiran kita seperti ras, orang tua, agama, dan lain-lain itu hanya sebatas embel-embel. Kita adalah anak semua bangsa. Tidak mengenal berbagai embel-embel tersebut. Tidak ada alasan lagi bagi kita bahwa kita membeda-bedakan seseorang dari embel-embel tersebut.

 Dengan rendah hati aku mengakui: aku adalah bayi semua bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan yang sekarang. Tempat dan waktu kelahiran, orangtua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat.

Terakhir, Pram telah mengajarkan saya bagaimana sikap menjadi seorang sarjana (mentang-mentang bentar lagi sarjana beneran ) lewat quote dibawah ini. Quote ini berhasil membuat #jleb

 Semua yang terjadi di kolong langit adalah urusan orang yang berpikir. Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminil, biar pun ia sarjana