Serapium Reading Challenge 2013

Serapium Reading Challenge (SRC) ini adalah event yang dibuat oleh serapers (penghuni subforum Buku di Kaskus) berupa tantangan membaca buku dengan tema bulanan yang ditentukan di awal tahun dan membuat review dari buku itu setiap bulannya. Tahun ini juga telah diadakan tetapi saya belum ikutan, tahun depan saya mencoba untuk ikut, hitung-hitung menghabiskan stok buku yang belum dibaca yang mangkrak karena lebih konsentrasi membaca textbook kuliah -.-

Ini list buku yang rencananya saya akan baca tahun depan

Image

Image

Image

Januari : Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca РPramoedya Ananta Toer (kalau seminar TA dah kelar mungkin bisa ketiganya)

Image
Februari : Rumah Tangga yang Bahagia (Family Happiness) – Leo Tolstoy

ImageMaret : To Kill a Mockingbird – Harper Lee (pernah ada filmnya kan ya?)

ImageApril : Siti Nurbaya – Marah Rusli

Image
Mei : Catatan Bawah Tanah (Notes from Underground) – Fyodor Dostoevsky

ImageImage
Juni : Sherlock Holmes (Memoar dan Koleksi Kasus) – Sir Arthur Conan Doyle

Image

Juli : Alice in Wonderland – Lewis Caroll

Image

Agustus : Desersi – M.T.H Perelaer

Image
September : Robinson Crusoe – Daniel Defoe

Image
Oktober : The Hobbit – J.R.R Tolkien

Image
November : Cerita Cinta Enrico – Ayu Utami
Desember : –

Film Life of Pi, Eksistensi Tuhan dan Kepercayaan

Life of Pi
Life of Pi

Kira – kira seminggu setelah saya menyelesaikan buku Life of Pi, baru hari ini saya menonton filmnya di bioskop. Mengenai ceritanya seperti apa, mungkin pembaca bisa membaca post saya sebelumnya tentang buku ini disini. Kini saya ingin bercerita mengenai apa yang saya harapkan dari apa yang ada di buku yang bisa dituangkan dalam bentuk film dan kesimpulan apa yang dapat saya ambil dari semua cerita Life of Pi ini.

Ketika mendengar buku ini akan difilmkan, saya mengharapkan beberapa cerita dimasukkan ke dalam film ini antara lain kisah Pi yang menganut tiga agama yaitu Hindu, Kristen, dan Islam; perdebatan antara pandita (pemuka agama Hindu), Imam Masjid, dan Pendeta ketika mereka dipertemukan oleh Pi; dan suasana ‘pulau karnivora’ yang sebenarnya saya tidak terbayang bagaimana visualisasinya ketika membaca bukunya. Cerita yang pertama dan ketiga masuk ke dalam film ini dan digambarkan dengan apik. Sedangkan yang kedua tidak, tentu ini sedikit mengecewakan karena saya ingin tahu cara Ang Lee menyajikan perdebatan seru yang cenderung memojokkan ajaran agama satu sama lain yang dilakukan oleh pemuka ketiga agama ini dan mengambil sebuah pelajaran bahwa Tuhan bukanlah monopoli dari salah satu agama tersebut. Ketiga pemuka agama ini harus belajar dari Pi, bahwa kecintaan kepada Tuhan itulah yang penting, hal ini tercermin dari alasan Pi mengapa harus menganut tiga agama tersebut, yaitu ingin mengasihi Tuhan.

Terakhir adalah suatu kesimpulan. Di bagian buku ini dituliskan bahwa cerita ini akan membuat kita percaya kepada Tuhan. Pada awalnya saya berpikir apakah membuat kita percaya kepada Tuhan itu melalui mukjizat seperti Pi yang mampu bertahan hidup terombang-ambing di tengah samudera Pasifik bersama harimau Royal Bengal bernama Richard Parker? Menurut saya tidak. Kisah Pi di tengah lautan menurut saya hanyalah suatu metode. Metode yang dibuat oleh Yann Martel.

Hal ini saya simpulkan setelah di bagian akhir film ini, Pi menceritakan dua versi cerita yang berbeda mengenai bagaimana ia bertahan hidup di lautan setelah kapal Tsimtsum tenggelam. Ia mengasosiakan bahwa dirinya adalah Richard Parker, ibunya adalah Orang Utan bernama Orange Juice, koki adalah hyena, dan zebra adalah pelaut. Lalu Pi mempersilahkan kepada pendengarnya, cerita mana yang ingin kau percayai?

Saya mencoba menghubungkan beberapa poin besar dari cerita ini yaitu Pi yang menganut tiga agama, dan dibagian akhir Pi membuat alternatif cerita yang mempunyai inti yang sama yaitu kapal Tsimtsum tenggelam, ia menderita selama di lautan, dan ia selamat dengan terdampar di pantai Meksiko. Lalu saya mengasosiasikan versi cerita dengan ajaran agama. Setiap agama mempunyai ceritanya tersendiri, dan ceritanya jelas berbeda-beda. Dari cerita yang berbeda-beda inilah akhirnya keputusan kembali kepada diri kita, ‘cerita’ mana yang ingin kita percayai? Pi juga mengatakan bahwa kedua versi cerita tersebut sama-sama sulit dibuktikan secara logis, sehingga kembali kepada diri kita, cerita mana yang ingin kita percayai? setelah cerita itu kita percayai, maka cerita itu adalah milik kita.

Selain cerita ini, terdapat sebuah pulau karnivora yang merupakan pulau yang aneh dengan banyak meerkat dan misterius. Ada juga potongan adegan yang menunjukkan pulau ini berbentuk Wisnu yang sedang tidur. Menurut teman saya ketika berdiskusi dengan saya, pulau karnivora ini adalah perlambang Tuhan. Apa yang Ia beri, akan Ia ambil kembali.

Dari sekian banyak cerita tersebut, mempunyai inti yang sama. Jika Pi mengatakan bahwa inti dari ceritanya adalah kapal tenggelam, ia menderita di lautan, dan akhirnya ia selamat. Maka definisikanlah masing-masing, apa inti dari berbagai agama yang ada di muka bumi. Ambillah pelajaran dari sana. Itulah jalan yang membuat kita mencintai Tuhan itu sendiri.

Diakhir film, sang penulis tentu ragu, cerita mana yang ingin ia percayai. Keraguan bukanlah suatu kelemahan iman dan bahan cemoohan. Justru dengan ragu itulah yang membuat kita yakin akan cerita apa yang ingin kita percayai. Ragu dalam konteks ini adalah kita telah berpikir tentang cerita mana yang ingin kita percayai, walau semuanya tidak mampu kita raih dengan rasionalitas. Dari sini saya dapat belajar bahwa keraguan itulah yang membuat kepercayaan kita atas suatu cerita semakin bertambah kuat nantinya.

Jadi inilah yang kesimpulan saya menanggapi statement ‘cerita ini akan membuat anda percaya adanya Tuhan’, bukan dari kisah bertahan hidup Pi bersama Richard Parker sampai selamat. Karena kalau hanya kisah bertahan hidup saja yang dijadikan alasan adanya Tuhan, tentu cerita ini tidak menarik. Kita cukup hanya tahu bahwa ada seorang remaja berhasil selamat terombang-ambing di samudera Pasifik bersama harimau Royal Bengal, tentu ini semua atas campur tangan Tuhan. Kalau hanya begini saja, ngapain saya membaca buku ini. Cukup tau itu saja toh?

Setidaknya ini yang ada di kepala saya sebelum keluar dari bioskop, bagaimana dengan kalian?

Sholat menurut Syekh Abu Salaf

Paparan dibawah ini adalah salah satu potongan isi buku karya Nugroho Suksmanto yang berjudul Lauh Mahfuz. Jikalau nanti tulisan ini dianggap melanggar hak cipta, dengan rela saya akan hapus postingan blog ini. Semoga turut membantu pak Nugroho untuk mempromosikan bukunya itu ūüôā

Perihal salat, Syekh Abu Salaf menyampaikan :

“Mengacu kepada Alquran, sebagaimana dinyatakan dalam awal surat Al-Baqarah (Ayat 1-4), setelah yakin atau percaya kepada yang gaib, maka umat Islam diperintahkan untuk beribadah secara vertikal atau transeden, yang berarti menjangkau Sang Khalik ke luar batas semesta alam.

“Dan secara horizontal berupa tuntutan kesungguhan akan kepedulian kepada sesama umat manusia. Inilah konsep paling mendasar dari ibadah Islam, yang disebut sebagai¬†hablum-minallah dan¬†hablum-minannas.¬†Hal itu mengandung pengertian ‘segala yang kulakuan adalah penghambaan kepada Allah semata dan segala karunia-Nya, akan kusyukuri dan sebagian kusisihkan bagi kemaslahatan manusia’.

“Manifestasi¬†hablum-minallah adalah sebagaimana diperintahkan Tuhan, yaitu dengan mendirikan salat. Syariat lain yang melengkapi Rukun Islam adalah : menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadan, dan naik haji.

“Salat arti semantiknya adalah doa. Didahului dengan kata mendirikan, mengandung arti harus dijalankan dengan disertai niat yang kuat serta dilakukan dengan penuh kesungguhan. Hingga menumbuhkan nuansa atau suasana khusyuk. Apalagi Tuhan kemudian menetapkan rukun – rukun yang sangat jelas menyertai. Tanpa itu ritual yang dijalani hanyalah semacam olahraga belaka atau prosesi tanpa arti.

“Rukun – rukun tersebut menyiratkan akan hakikat diciptakannya manusia, yaitu sebagai makhluk yang dibekali kemampuan menangkap perlambang atau simbol, atau yang disebut sebagai makhluk simbolik. Perlambang atau simbol tersebut merupakan kekayaan budaya dan peradaban manusia. Dengan menggunakan simbol – simbol itulah komunikasi atau hubungan tali rasa dengan Tuhan dilakukan, … dengan tanpa perantara. Simbol atau perlambang dalam berkomunikasi dengan Tuhan adalah melalui rukun – rukun dalam salat, yaitu¬†takbir, rukuk, sujud,¬†dan¬†salam.

“Sebenarnya, doa dari para penganut agama samawi sebelumnya, juga memiliki rukun yang sama. Namun, sekarang ini terlupakan sebagai sebuah ritual simbolik transenden yang sebenarnya paling dikehendaki oleh Tuhan. Yang tertinggal hanya berbagai prosesi yang diciptakan, baik merupakan kreasi sendiri atau melalui lembaga keagamaan. Puji – pujian serta dakwah ulama kemudian menjadi unsur utama dalam melakukan renungan atau kebaktian. Karena itulah melalui Alquran Tuhan mengingatkan kembali agar mendirikan salat, sebagai ritual doa transenden saat berkomunikasi atau melakukan kontak batiniah dengan-Nya.

“Transendensi juga diisyaratkan secara simbolis oleh Tuhan melalui turunnya ayat Kursi, yaitu ayat ke – 255 surat Al-Baqarah. Esensinya, yang bermakna simbolik, adalah menerangkan bahwa kolong dari kursi atau singgasana Tuhan adalah alam semesta atau jagat raya. Dengan demikian Tuhan tentu tidak berada bersama manusia di alam atau kosmos yang sama. Karena itulah diperlukan cara bagaimana menjangkau Tuhan yang berada di kosmos atau¬†realm yang berbeda. Dengan sangat jelas dan tegas, dalam Alquran, Tuhan memberikan jalan atau cara, yaitu melalui salat.”

“Apa sebenarnya yang akan didapat manusia dengan mendirikan salat, Syekh?” tanya Panji.

“Setiap agama menuntun umatnya pada suatu perenungan. Perenungan yang mengarahkan batin menukik tajam ke dalam kalbu dilakukan melalui meditasi. Salat adalah meditasi tertinggi dalam Islam.

“Manfaat salat tentu amatlah banyak, baik yang membawa dampak positif secara fisik, psikologis, ataupun medis.

“Coba simak yang diungkapkan oleh cendekiawan Budiman Mustofa:

‘Pertama, salat dapat digunakan sebagai penyaluran atau aktualisasi peran penghambaan atau¬†ubudiyah manusia kepada Sang Khalik. Allah berfirman dalam surat adz-Dzariyat, ‘Tidaklah Aku ciptakan manusia melainkan agar mereka menghamba/menyembah kepada-Ku.’

“Kedua, untuk memperoleh penguatan jiwa. Karena dengan menjalankan salat, jiwa seseorang akan mendapat semangat baru dari¬†Rabbul ‘Izzati, Allah, saat dia merasakan kedekatan dirinya dengan Sang Khalik.

“Ketiga, terangkatnya martabat atau harga diri seseorang. Karena dengan salat seseorang akan merasa dirinya bersandar pada Dzat Yang Mahamulia, yang kemudian akan juga menumbuhkan rasa percaya diri, sebab merasa dirinya seorang hamba yang mulia.

“Keempat, salat akan menjadi rehat jiwa atau yang disebut¬†rahan nafsiyyah dan membuahkan ketenangan rohani atau¬†thuma ninah ruhiyyah, yang menjauhkan manusia dari kelalaian yang memalingkan dari tujuan mulianya. Dalam khusyuk salat, manusia diarahkan untuk lepas dari masalah duniawi atau yang terkait dengan kebendaan, yang kemudian akan meraih ketenangan dan kedamaian jiwa.

“Kelima, salat akan merupakan pijakan untuk melakukan loncatan dari dunia atau kehidupan yang sempit mengurungnya, munuju dunia atau kehidupan yang sangat luas tak terbatas. Karena itu terlepaslah perasaan yang memenjarakan. Muncullah kebebasan yang meruntuhkan penghalang pikiran atau¬†mind block, yang akan membuahkan kemampuan berekspresi dan menumbuhkan kreativitas dan inovasi.

“Keenam, dengan salat manusia akan terbiasa dengan disiplin dan keteraturan. Karena itu dalam melakukan tugas – tugas lain akan merasa tak terbebani, karena rasa enggan dan malas dikikis melaui salat.

“Ketujuh, dengan salat akan tumbuh jiwa persaudaraan, kebersamaan, dan kesetaraan yang kita kenal sebagai jiwa gotong royong. Karena dalam salat tiada keistimewaan bagi pelaku salat atau umat. Semua menjalankan ritual yang sama.

“Kedelapan, yaitu yang paling penting, salat akan menumbuhkan akhlak mulia, melalui lafal dan doa yang maknanya diresapi.””

“Mengapa salat harus menghadap ke kiblat, Syekh?”

“Nuansa yang diupayakan sewaktu menunaikan salat adalah khusyuk. Karena itu segala sikap dan tindakan harus diarahkan untuk mencapai kekhusyukan itu. Diawali niat yang melahirkan kesadaran penuh yang mengalir, dilanjutkan dengan orientasi kepada pusat kesucian Islam yaitu Kakbah, yang telah ditetapkan sebagai kiblat.

“Sebelum Kakbah menjadi kiblat, pernah Masjidil Aqsha menjadi arah menghadap ketika umat Islam menunaikan salat. Perubahan kiblat terjadi ketika Nabi sedang salat, menerima perintah untuk mengalihkan kiblat. Karena itu masjid tempat Nabi melakukan salat dan kemudian menerima perintah mengubah kiblat, dinamakan Masjid Qiblatain.

“Sikap – sikap lain menunjang kekhusyukan kemudian menyertai, seperti kebersihan diri, pakaian yang dikenakan, tegaknya berdiri, fokus pandangan, konsentrasi, dan lain-lainnya.”

“Lalu, sebenarnya apa yang harus dilafalkan dalam salat?”

“Lafal atau bacaan salat dapat bermacam-macam. Tetapi semua ulama mengatakan bahwa salat tidaklah sah tanpa membaca Al-Fatihah, sebagaimana Rasul pernah bersabda,¬†‘Tidaklah sah salat seseorang yang tidak membaca fatihatul kitab.’

“Kalaupun takbir kemudian disertai kata¬†Allahu akbar, karena sudah dari asalnya dua hal itu menjadi satu kesatuan. Demikian pula menyatunya salam dengan kalimat¬†assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

“Untuk kesempurnaan salat, para ulama Salaf menerbitkan fatwa, dengan menganjurkan sebagaimana dilakukan Rasul dan para sahabatnya, untuk menyampaikan satu bacaan yang dinamakan bacaan pendahulu sebelum membaca Al-Fatihah.

“Ini menyiratkan bahwa seseorang telah masuk dalam salat dengan menghadapkan wajah kepada Allah dan memberikan kesaksian bahwa apa yang dilakukan baik dalam salat dan memberikan kesaksian hidup serta matinya adalah hanya untuk Allah.

“Dan para ulama Salaf menganjurkan pula pada dua rakaat pertama salat, untuk membacakan cuplikan ayat-ayat Alquran setelah mengakhiri pembacaan Al-Fatihah.

“Aku kira dari uraian di atas, kamu dapat memahami, mengapa salat harus dilaksanakan dengan menggunakan bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab.”

“Ya, Syekh. Sepenuhnya saya mengerti sekarang. Salat adalah ritual simbolik yang diperintahkan Allah untuk menjalin tali rasa dengan-Nya, yang harus dijalankan dengan khusyuk dan perlu diresapi makna lafalnya. Nuansa itu kurang mencapai atau sasaran serta tidak memberikan kesempurnaan dalam khidmat, ketika dilakukan dengan menggunakan bahasa selain Arab.”

Life Of Pi, Bukan Sekedar Satu Sekoci Bersama Harimau Royal Bengal

Judul Buku : Life of Pi (Kisah Pi)
Penulis : Yann Martel
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2012
Tebal : 446 halaman

Sinopsis :
Bagi seorang anak laki – laki seperti Piscine Molitor Patel atau Pi, mungkin banyak hal – hal yang kurang ia pahami mengenai kehidupan. Tetapi ia terus menerus menggali makna kehidupan. Mulai dari bertanya-tanya mengapa agama Hindu mempunyai banyak Dewa sedangkan Islam tidak. Mengapa Yesus rela berkorban untuk menebus dosa anak manusia di muka bumi. Bagi ia, Tuhan dapat dicapai oleh jalan apapun seperti kata Gandhi bahwa semua agama itu baik. Oleh karena itu ia ingin mengasihi Tuhan dengan cara menganut ketiga agama tersebut sekaligus. Dibesarkan ditengah keluarga sekuler India era 1970-an, ayahnya pengusaha kebun binatang di kota Pondicherry, India.

Karena suatu hal, akhirnya keluarga Pi memutuskan untuk pindah ke Kanada. Keputusan ini tidak diambil dengan mudah karena keluarga besar di sana. Akhirnya beberapa binatang yang memungkinkan dijual untuk menambah biaya transportasi mereka ke Kanada. Kapal barang bernama Tsimtsum, kapal yang berasal dari Jepang yang akan membawa keluarga beserta beberapa koleksi kebun binatang. Perjalanan dari India hingga ke Manila untuk mengisi stok makanan, lalu dilanjutkan menuju ke timur menyebrangi samudera Pasifik. Sayang, samudera yang luas ini gagal dilalui oleh kapal tersebut. Kapal Tsimtsum tenggelam!

Demi Wisnu, Yesus dan Muhammad! Pi berhasil selamat. Ia berhasil menaiki sekoci kapal. Terombang-ambing di tengah samudera Pasifik yang ganas bersama seekor Zebra yang patah kaki depannya, seekor Orang Utan bernama Orange Juice, seekor hyena, dan seekor harimau Royal Bengal. Sekoci dengan panjang kira-kira 8 meter itulah yang akan menjadi panggung utama dari novel ini.

Life of Pi menceritakan pergulatan Pi untuk bertahan dan menjaga semangat hidup, belajar menghadapi segala rintangan mulai dari cuaca, makanan, harimau Royal Bengal, hingga musuh terberatnya yaitu diri sendiri.

—————

Pertama kali mengetahui novel ini ketika saya SMP dari sebuah koran. Sayang sekali saat itu minat membaca saya tidak sebesar sekarang. Lagipula akses mendapatkan buku di Kalimantan Tengah saat itu masih sulit. Ketika bertemu novel ini disuatu toko buku, tidak banyak ragu-ragu saya langsung membelinya.

Ternyata buku ini tidak sekedar menceritakan petualangan Pi untuk bertahan hidup, tetapi juga pengalaman spiritual yang dapat diambil sebagai pelajaran dari buku ini bagi pembacanya. Sebuah cerita yang menakjubkan dan segar untuk menambah inspirasi.

“…kisah ini akan membuat orang percaya pada Tuhan.”, itulah potongan kalimat dari bagian belakang buku ini. Yann Martel sedikit banyak telah membuat saya bersikap tentang itu.

Kabar bahagianya adalah, film Life Of Pi garapan sutradara peraih Academy Award, Ang Lee baru saja dirilis. Mari kita tunggu filmnya di Indonesia.

Tuhan dan Aqidah

Kemampuan berpikir manusia itu memang terbatas, tapi batas itu sendiri kita tidak tahu. Persoalannya apakah keterbatasan kita itu akan kita gunakan secara maksimum ataukah akan kita gunakan setengah – setengah.

Yang paling dekat untuk mengerti yang mutlak (Tuhan) itu adalah puncak dari kenisbian akal dan bukan bagian tengah atau bawahnya. Karena itu pertinggi… dan pertinggilah terus puncak dari akal yang nisbi itu. Kejar dan kejar terus puncak kenisbian itu. Hanya dengan demikian kita akan makin dekat pada kemutlakan dari Yang Maha Mutlak.

Lantas apakah isi aqidah itu? Inilah yang harus didiskusikan antara kita, sebab kita belum sama sependapat. Apakah aqidah itu melarang adanya suatu pertanyaan dalam akal yang meragukan sebagian dari isi aqidah itu? Di sinilah kita berbeda pendapat. Mungkin secara tidak sadar sebagian orang telah berkata bahwa: aqidah¬†anti terhadap “anti aqidah“. Menurut saya aqidah itu demokratis, yaitu aqidah¬†mencintai sekaligus juga menghargai “anti aqidah”, walaupun aqidah tidak menyetujui isinya. Hanya dengan demikian orang akan sampai pada aqidah yang sebenar-benarnya dan bukan “pseudo aqidah” atau “aqidah slogan”. Biarlah semua ulama – ulama tua dan calon – calon ulama itu berbeda pendapat dengan saya. Saya ingin berbicara langsung dengan Tuhan dan berkenalan langsung dengan Muhammad. Saya yakin bahwa Tuhan mencintai dan menghargai pikiran – pikiran yang meragukan sebagai ajarannya. Tuhan memberi hak hidup dan memberi kesempatan pada “musuh – musuhnya” untuk berpikir untuk kemudian menjadi “sahabat – sahabatnya”.

Sesungguhnya, bagaimana orang disuruh sukarela percaya pada Tuhan ada, kalau tidak boleh memikirkan kemungkinan benarnya “kepercayaan” bahwa Tuhan tidak ada. Bagaimana kita bisa yakin seluruh ajaran Islam benar kalau kemungkinan adanya kelemahan pada ajaran Islam tidak pernah terlintas di pikiran untuk selanjutnya dipikirkan kemungkinan betulnya. Apalagi kalau ada hasrat untuk memikirkan itu kemudian dinyatakan terlarang dan salah.

Si A dinyatakan salah umpamanya. Dan setiap pertanyaan dalam pikiran akan kemungkinan tidak salahnya A dianggap salah. Jadi bukan hanya si A yang dianggap salah, tapi juga setiap orang yang bertanya tentang si A. Alangkah kejamnya! Saya percaya Tuhan tidak suka pada sikap orang yang kejam ini, walaupun Tuhan menyalahkan si A. Tuhan menyalahkan si A, dan Tuhan tersenyum pada setiap orang yang bertanya tentang benar salahnya tentang si A.

Saya berpendapat, akal itu tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Meninggalkan akal bisa. Tapi inipun memakai akal. Menggunakan akal untuk meninggalkan akal. Menggunakan akal dalam meninggalkan obyektivitas menuju subyektivitas untuk sampai pada kebenaran.

Ahmad Wahib – 15 Oktober 1969

Interpretasi Harfiah, Fundamentalis, Literalis, dan Cinta

Ini adalah salah satu isi dari buku Life of Pi karya Yann Martell

…Tapi sepatutnya kita tidak berpegang pada interpretasi harfiah. Celakalah para fundamentalis dan literalis! Aku teringat cerita tentang Batara Krishna ketika menjadi penggembala sapi. Setiap malam dia mengundang gadis-gadis pemerah susu untuk menari dengannya di dalam hutan. Mereka pun datang dan menari. Malam gelap, api unggun di tengah-tengah mereka berkobar-kobar dan berderak-derak, irama musik mengalun makin cepat dan makin cepat, gadis-gadis itu menari, menari, dan terus menari dengan junjungan mereka yang telah membuat dirinya berlipat ganda, sehingga bisa menari dengan setiap gadis. Tapi begitu gadis-gadis itu mulai posesif, begitu seorang gadis menganggap Krishna hanya untuk dirinya, sang batara pun menghilang. Begitu pula kita, tidak seharusnya posesif terhadap Tuhan.

Paragraf diatas sangatlah menarik. Yann Martell mampu membungkus makna spiritual dengan baik. Dan saya kira ini bukan hanya untuk agama Hindu saja. Namun semua agama yang mungkin beberapa penganutnya mulai ‚Äėposesif‚Äô terhadap Tuhannya masing-masing.

Ketika membicarakan ini, Alde bertanya, apakah ada cinta yang tidak posesif? Bukankah cinta itu harus posesif? Saya bilang tergantung, jika saya mencintai Alde saya bilang tidak ada wanita lain yang saya cintai selain dia. Tetapi jika definisi yang digunakan adalah cinta secara universal maka saya harus mengakui bahwa saya tidak hanya menduakan kamu, tapi menggandakan cinta itu untuk beberapa hal lainnya seperti cinta kepada Orang tua, hobby, matematika, statistik, laptop dan lain-lainnya.

Begitu pula Tuhan, mengapa kita bisa bertindak posesif sama Tuhan? seakan-akan tugas Tuhan itu hanya untuk ngurusin kita saja. Yang lain juga butuh kasih sayang Tuhan, mulai dari makhluk hidup paling sederhana, rerumputan, pepohonan, hewan-hewan, hingga planet dan galaksi yang ada di luar angkasa sana. Sadarlah manusia itu kecil kawan.

Jika cinta kepada lawan jenis itu adalah hubungan one to one, Boleh saya bilang bahwa hubungan cinta Tuhan ke hambanya itu one to many. Apakah kita berhak ber-posesif terhadap Tuhan?

Lolita

Lolita, salah satu buku yang masuk dalam list 1001 Books You Must Read Before You Die ini memang sangat fenomenal. Tema yang di angkat pun jikalau tidak dapat diterima dengan sedikit saja open minded, pasti tidak ada yang mau baca buku ini. Menarik memang, bagaimana seorang professor berumur setengah baya yang sangat tertarik dengan bocah berumur 12 tahun. Memang ini bukan novel porno sekelas buku stensilan, tapi Vladimir Nabokov dapat menyajikan kisah cinta ‚Äúaneh‚ÄĚ itu menjadi sebuah cerita yang menarik dan dibungkus dengan humor pertentangan psikologis Humbert Humbert dan caranya mendeskripsikan keindahan alam maupun lingkungan selama Humbert membawa Dolores Haze berkeliling Amerika untuk menikmati cinta terlarangnya itu.

Mengenai fisik bukunya, penerbit Serambi kelihatan tidak main-main, memang bukan hardcover sih (dan saya lebih suka yang softcover), tetapi kertas yang digunakan adalah jenis kertas HSSD (kalau nggak salah namanya ini) yang berwarna krem sehingga mata tidak lelah membacanya selama berjam-jam. Dimensi buku juga tidak terlalu besar, standar lah menurut saya, tidak lebih besar dari buku Harry Potter. Design sampulnya benar-benar sudah merepresentasikan deskripsi fisik dari sang Lolita, sebuah kaki jenjang dan jelas bukan punya ABG, tetapi bocah berumur 12 tahun.

Alur ceritanya dimulai dari masa kecil Humbert di Eropa, lalu pindah ke Amerika dan menumpang menginap (mungkin mirip dengan indekost) di rumah suatu keluarga yang hanya terdiri dari ibu dan anak. Awalnya Humbert seperti keberatan untuk tinggal disana karena lingkungannya yang menurut dia tidak sesuai dengan seleranya, tetapi semua berubah ketika rumah itu ternyata juga dihuni oleh seorang bocah perempuan berumur 12 tahun, anak dari ibu yang punya rumah, dan yang membuatnya tertarik karena teringat seorang bocah yang merupakan pacar dari Humbert ketika bocah juga.

Entah memang takdir Tuhan, si ibu dari anak itu meninggal karena kecelakaan, dan akhirnya tinggal mereka berdua, walaupun ketika kejadian Lolita tidak berada dirumah melainkan sedang di acara kemping bersama teman-temannya, setelah itu cerita berkisar di petualangan mereka berdua mengelilingi Amerika dengan menggunakan mobil. Berbagai cerita lucu, mengenaskan, membahayakan, mencurigakan, dan lain-lainnya mereka alami. Hingga berujung kepada Lolita dibawa oleh orang dan akhirnya hamil dengan orang lain itu.

Memang buku ini adalah bacaan dewasa, anak kecil jika membaca buku ini mungkin akan banyak bertanya-tanya mengapa bisa begini dan begitu. Bagi saya ini memang bacaan yang bagus. Cerita yang diusung dari segi temanya juga menarik, tidak perlu takut anda menjadi pedofilia ketika setelah membaca ini. Justru anda akan menemukan betapa cinta itu memang buta. Buta segalanya, juga termasuk umur Open-mouthed smile