Anak Semua Bangsa : Tempat, Waktu Kelahiran, dan Orang Tua Hanyalah Suatu Kebetulan

1398044

Judul: Anak Semua Bangsa

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara 2006

Tebal: 536 halaman

Buku ini adalah seri kedua dari Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Sebenarnya saya sendiri dulu sudah mulai membaca buku ini hanya saja terputus entah di mana akhirnya sehingga mengulang lagi dan sekalian menjadi buku favorit untuk SRC Serapium bulan Januari

Sesuai dengan apa yang dikatakan pada bagian awal setiap buku dari Tetralogi Pulau Buru. Anak Semua Bangsa (kemudian disingkat ASB) menimbulkan suatu keheranan atas bangsa sendiri, mengapa bangsa ini amat mudah dibodohi oleh Eropa? Eropa dengan segala keagungannya mampu melesakkan kehidupan bangsa ini hingga ke tatanan yang paling bawah. Di buku ini bahkan diceritakan bagaimana kaum pribumi menjadi sangat takut dengan seseorang yang memakai jas dan sepatu (pakaian Kristen). Apa hubungan hal tersebut dengan feodalisme. Dan membawa kesadaran bahwa bangsa ini sebenarnya tidak benar-benar dijajah oleh Belanda, tetapi juga dijajah oleh bangsa pribumi sendiri.

Mengambil plot waktu era 1800-an akhir, Minke, tokoh utama dalam buku ini perlahan mulai bisa menerima kehilangan Annelies yang dibawa paksa darinya ke tanah Belanda oleh otoritas pengadilan putih. Nyai Ontosoroh juga perlahan bangkit kembali. Sayangnya, Annelies telah meninggal dunia di tanah leluhurnya sendiri. Suatu keanehan yang membuat dahi mengkerut bahwa orang-orang di sana (Belanda) sangat cuek dengan keadaan Annelies hanya karena beberapa masalah sepele. Dia bukan ‘totok’.

Pada buku ini Minke belajar banyak dari Khouw Ah Soe, seorang pemuda yang berasal dari Tiongkok, aktivis yang ingin membawa bangsanya maju, seorang aktivis yang ingin menyadarkan banyak pihak bahwa Jepang perlahan akan masuk ke tanah Cina. Namun sayang, ia dibunuh oleh suatu kelompok yang tak setuju dengan pemikiran dia. Dari sini saya belajar bahwa Touchang, rambut kunciran yang sering kita lihat di film-film vampire Cina itu adalah tanda rasial yang diwariskan oleh kaum Mongol. Suatu pertanda bahwa mereka berbeda dengan bangsa Mongol, tetapi orang-orang Cina merasa bangga dengan identitas itu. Berbeda dengan Khouw Ah Soe yang merasa tak perlu lagi memakai touchang karena itu lambang penindasan kaumnya.

Cerita yang tidak kalah menariknya adalah ketika Minke berkunjung ke rumah kerabat Nyai Ontosoroh di Sidoarjo, yang kala itu terdapat suatu kebun tebu dan pabrik gula yang dibangun oleh Belanda. Ia melihat berbagai ketidakadilan seperti cerita bos pabrik Gula yang ingin mengawini paksa seorang anak pribumi dengan cara yang tak bisa dikatakan lagi sebagai cara manusia. Seorang petani yang tidak tahu apa-apa yang tetap bertahan di tanah miliknya meskipun tentara Kompeni telah melakukan berbagai cara-cara kotor. Ketika berkunjung ke Sidoarjo, Minke menginap beberapa hari di rumah petani tersebut. Akhirnya ia merasakan bagaimana hidup sebagai pribumi ‘aslinya’ yang bukan priyayi. Berbeda dengan Minke yang anak bupati kabupaten B. Hal menarik adalah ketika anak-anak dari petani itu begitu takut dengan baju dan sepatu (pakaian Kristen) yang dikenakan oleh Minke.

Akhir dari buku ini adalah ketika Tuan Mellema, keluarga ayah Annelies yang berasal dari Belanda datang untuk mengambil alih Borderij Buitonzorg dari tangan Nyai Ontosoroh. Konflik ini menarik karena memainkan perasaan campur aduk dari Nyai ketika mengetahui bahwa modal dari Borderij Buitonzorg berasal dari pabrik Gula Tulangan Sidoarjo yang diperoleh dengan cara yang haram, Borderj Buitonzorg yang merupakan hasil kerja keras dari Nyai Ontosoroh, tidak mau kehilangan apapun setelah kehilangan Annelies, dan suatu kisah mengharukan bahwa Nyai Ontosoroh mempunyai cucu dari Robert Mellema yang telah meninggal di seberang laut karena penyakit kotor.

Overall, buku ini sangat baik, penuh dengan ajaran-ajaran humanisme salah satunya adalah bahwa kita ini semua adalah manusia, segala macam embel-embel yang mengikuti kelahiran kita seperti ras, orang tua, agama, dan lain-lain itu hanya sebatas embel-embel. Kita adalah anak semua bangsa. Tidak mengenal berbagai embel-embel tersebut. Tidak ada alasan lagi bagi kita bahwa kita membeda-bedakan seseorang dari embel-embel tersebut.

 Dengan rendah hati aku mengakui: aku adalah bayi semua bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan yang sekarang. Tempat dan waktu kelahiran, orangtua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat.

Terakhir, Pram telah mengajarkan saya bagaimana sikap menjadi seorang sarjana (mentang-mentang bentar lagi sarjana beneran ) lewat quote dibawah ini. Quote ini berhasil membuat #jleb

 Semua yang terjadi di kolong langit adalah urusan orang yang berpikir. Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminil, biar pun ia sarjana

Iklan

Lauh Mahfuz : Perjalanan Menembus Langit Ketujuh

Lauh Mahfuzh

 

Ketika keyakinan membelenggu, tanpa sadar memandang agama sebagai tiran, manusia sering lupa, bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang tak akan memenjarakan Ciptaan-Nya dengan jeruji keyakinan dan sekat agama.

Kebebasan adalah esensi kehidupan insan merdeka yang memacu mengembangkan akalnya menggapai masa depan, meraih kemenangan. Sementara, perasaan romantis adalah sebuah realitas kepekaan jiwa, yang membuahkan kerinduan akan kemurnian dan kesalehan hidup masa silam, yang membawa kebahagiaan.

Haruskah dua orientasi dan pandangan ini dijadikan pertentangan, ataukah dapat disikapi dan dihadapi sebagai suatu keniscayaan? Dapatkah sekelompok orang mengklaim surga hanya miliknya dan tidak menyisakan bagi kelompok kepercayan lain?

Tiga paragraf diatas adalah potongan tulisan dari belakang cover buku ini. Buku yang berjudul Lauh Mahfuzh ditulis oleh Nugroho Suksmanto. Jujur saya baru mendengar nama beliau, namun 3 paragraf diatas yang membuat saya tidak perlu menimbang-nimbang lagi untuk membeli dan membaca buku setebal 500 halaman ini. Ekspektasi saya tentang cerita yang indah dari keragaman keyakinan yang ada ternyata cukup terpenuhi oleh buku ini. Buku ini bercerita tentang seorang Panji, yang ingin mengubah catatan suatu kitab yang berisi takdir yang telah dituliskan oleh Allah SWT, yaitu Lauh Mahfuzh yang terletak di langit lapis tujuh. Adalah suatu cerita dengan fantasi yang  ‘menantang’ karena yang saya tahu kitab Lauh Mahfuzh ini hanya bisa ditulis dan diubah isinya oleh Allah sendiri. Bagaimanakah cara Panji merubah catatan isi kitab tersebut?

Awal dari buku ini bercerita latar belakang Panji, dan kembar bersaudara Menuk dan Menik di suatu pedesaan. Kisah ini dimulai ketika terjadi gejolak besar yang pernah ada di negeri ini yaitu peristiwa 30 September yang konon katanya di dalangi oleh PKI. Amarah warga pun tak ayal membuat mereka beringas, menyeret satu per satu orang yang dicurigai terlibat oleh partai komunis itu termasuk ibu dari kembar bersaudara Menuk dan Menik. Dan terjadilah peristiwa pembakaran rumah seorang warga, Menuk meninggal terbakar didalamnya. Menik yang kehilangan rumah ingin menghindar dari kampungnya, namun ketika di perjalanan, bus yang ditumpanginya berhenti mendadak karena ada sebuah sedan yang menabrak. Kepalanya terantuk sehingga ia kehilangan ingatan.

Kejadian menarik lainnya adalah ketika Menik waktu itu mencoba masuk ke dalam sebuah Gereja. Dalam keadaan yang lupa siapa dirinya, ia melihat ada suatu ketenangan didalamnya dan mencoba untuk berdoa kepada Tuhan. Kisah ini menarik karena memperlihatkan suatu hamba yang sebelumnya tidak pernah berdoa kepada Tuhan, kini belajar dari awal bagaimana cara meraih Tuhan. Pada akhirnya Menik berubah namanya menjadi Maria Secunda, kini ia beragama katolik.

Pada suatu ketika Panji telah mampu berkunjung ke alam barzakh tanpa perlu ia meninggal dunia. Disanalah ia bertemu dengan Menuk. Selain itu ia belajar agama di padepokan As-Salaf yang dipimpin oleh Syekh Abu Salaf Al – Rasyidin, seorang yang bersih dan suci jiwanya. Pembelajaran agama ini dimulai dari hal yang sangat mendasar yang mungkin sebagian besar dari kita yang beragama Islam kita terima begitu saja karena orang tua kita menganut agama Islam. Secara garis besar, pak Nugroho Suksmanto, sang penulis melalui tokoh Syekh Abu Salaf telah memberi ingatan segar tentang enam rukun Iman dan lima rukun Islam dengan penjelasan yang baik sekali. Penjelasan mengenai Allah membuat saya terkesima. Panji bertanya dengan lugunya “Apa itu Allah?” lalu Syekh Abu Salaf menjawab dengan penjelasan yang sangat baik. Selain itu saya pernah menuliskan sebelumnya tentang arti sholat menurut Syekh Abu Salaf di blog ini. Penjelasan yang sangat indah, andaikan semua guru agama di Indonesia mengajarkannya seperti ini, bukan hanya menakuti muridnya jika meninggalkan sholat, maka kau akan masuk neraka atau dijanjikan surga bagi yang mendirikan sholat. Itu baru sholat, masih banyak penjelasan lainnya mengenai enam rukun Iman dan lima rukun Islam dijelaskan secara apik di dalam buku ini melalui tokoh Syekh Abu Salaf.

Selain Syekh Abu Salaf, juga ada Syekh Ibnu Khalaf yang masih ada di dunia. Berbeda dengan Syekh Abu Salaf yang sudah berada di alam barzakh. Syekh Ibnu Khalaf lah yang memberi pengetahuan kepada Panji tentang Lauh Mahfuzh. Lauh Mahfuzh, adalah kitab yang berisi catatan takdir apa yang terjadi dari pertama kali diciptakan hingga akhir dari alam semesta. Buku ini menjelaskan konsep Lauh Mahfuz dengan apik, baik dengan cerita dari keyakinan lain tentang catatan serupa, maupun dengan dalil yang ada di ayat-ayat Quran. Selain itu Syekh Ibnu Khalaf lah yang juga memberi pengetahuan kepada panji tentang hari kiamat, Qada dan Qadar, zakat, iman kepada Malaikat, Nabi, dan Kitab Suci. Penjelasannya mampu memberi saya pencerahan dan penyegaran kembali. Sekaligus menjadi pintu gerbang untuk lebih mencari tahu penjelasan tentang berbagai hal tersebut.

Perjalanan Panji menembus langit ketujuh tidaklah mudah. Ia harus melalui lapis demi lapis langit yang sudah terdapat masalahnya tersendiri disana. Dengan panduan Syekh Abu Salaf dan Pak Ranusiwid, Panji mampu menjalani berbagai ujian yang ada di setiap lapis langitnya. Hingga pada akhirnya Panji mampu mengakses Kitab Lauh Mahfuzh. Diceritakan bahwa kitab tersebut tak ubahnya seperti komputer yang kita gunakan sehari-hari. Fantasi pak Nugroho Suksmanto tentang kitab ini patut diacungi jempol. Panji berusaha merubah takdir yang sudah tertulis disana, yaitu Indonesia bakalan dilanda oleh dua buah bencana alam yang sangat dahsyat. Panji ingin merubah takdir tersebut. Sayangnya Panji tidak dapat merubah sepenuhnya takdir yang telah ada.

Di bagian akhir buku ini menceritakan tentang perkawinan Panji dengan Maria Secunda (yang dulunya bernama Menik). Diceritakan juga bagaimana Panji menghadapi masalah perkawinan beda agama. Pada akhirnya mereka menikah dengan prosesi Katolik dan Islam. Namun ada hal yang tidak diketahui oleh hadirin yang hadir baik di Gereja tempat mereka melaksanakan sakramen maupun Masjid tempat mereka melaksanakan ijab kabul. Akan panjang post ini jika saya menceritakan secara lengkap apa yang terjadi di dua tempat ibadah tersebut :p.

Terakhir cerita saya tentang buku ini. Buku ini membuat saya aware tentang konsep salafi – khalafi dan perdebatan panjang yang sering terjadi dalam dua ‘aliran’ tersebut. Mungkin tidak hanya perdebatan, melainkan bersitegang dan konflik yang terjadi antara salafi dan khalafi. Tentang apa itu salafi dan khalafi, mungkin pembaca bisa mencarinya di internet :p. Terima kasih untuk bapak Nugroho Suksmanto yang telah membuat buku indah ini, semoga bapak selalu dilimpahkan kesehatan oleh Allah SWT, amin.

Judul Buku : Lauh Mahfuzh
Penulis : Nugroho Suksmanto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2012
Tebal : 500 halaman

Islam Sontoloyo

Di dalam surat kabar “Pemandangan” 8 April. Saya membaca suatu perkabaran yang ganjil: seorang guru agama dijebloskan kedalam bui tahanan karena ia memperkosa kehormatannya salah seorang muridnya yang masih gadis kecil. Bahwa orang dijebloskan kedalam tahanan kalau ia memperkosa gadis, itu tidaklah ganjil. Dan tidak terlalu ganjil pula kalau seorang guru memperkosa seorang muridnya. Bukan karena ini perbuatan tidak bersifat kebinatangan, jauh dari itu, tetapi oleh karena memang kadang-kadang terjadi kebinatangan yang semacam itu. Yang saya katakan ganjil ialah caranya si guru itu “menghalalkan” ia punya perbuatan. Cobalah tuan baca yang berikut ini, yang saya ambil over dari “Pemandangan” tadi itu :

Keterangan lain-lain mengenai akalnya guru itu mempengaruhi murid-muridnya; kepada tiap-tiap yang menjadi murid diobroli bahwa ia pernah bicara kepada Nabi Besar Muhammad s.a.w, lalu masing-masing diajarkannya untuk mendekati Allah tiap-tiap malam Jumat berzikir sejak maghrib sehingga subuh, dengan permulaan berseru ramai-ramai “Saya muridnya Kyai Anu”; dengan seruan ini katanya supaya terkenal dan Allah mengampuni dosanya.

Tiap-tiap murid perempuan, meskipun masih kanak-kanak musti ditutup mukanya, jika waktu pertemuan malam Jumat golongan perpempuan dipisahkan dalam rumah, untuk murid lelaki spesial dalam langgar.Kyai itu menerangkan dalam ajarannya: “Perempuan itu boleh disedekah”. Artinya demikian: sebagai atas ditegakkan, murid-murid perempuan itu meskipun kanak-kanak, musti ditutup mukanya, karena haram dilihat oleh lelaki lain yang bukan suaminya, katanya.

Tetapi, dari sebab perempuan-perempuan itu perlu diajar olehnya, dan musti bertemuan dan beromong-omong, maka murid-murid perempuan itu “dimahram dahulu”, kata guru itu. Artinya: Perempuan-perempuan itu musti dinikah olehnya.

Yang jadi kyainya ia juga, yang jadi pengantinnya ia juga.

Caranya demikian:

Kalau seorang murid lelaki yang mempunyai isteri yang jadi murid-muridnya juga, isterinya itu dihadapkan dia lantas menjatuhkan talaknya tiga. Seketika juga perempuan itu dinikahkan dengan lain lelaki (kawan muridnya) sehingga tiga lelaki dalam seketika itu juga berturut-turut tiga kali dinikahkan dan diceraikan lagi, keempat kalinya dinikahkan olehnya sendiri.

Kecuali kalau janda atau gadis, tidak dinikahkan dengan lain orang. Tetapi langsung dinikahkan dengan si Dajal sendiri. Dengan cara demikian tiap-tiap isteri yang jadi muridnya berarti isteri daripada Dajal tersebut dalam pemandangan golongan mereka.

Demikianlah cara yang demikian ini berlaku juga dengan gadis yang jadi perkara ini, oleh karena gadis itu sudah dimahram oleh guru itu.

Demikianlah, maka pada satu hari gadis ini dipikat oleh guru itu masuk kedalam satu rumah, dan disitulah dirusak kehormatannya.

Halal, syah, oleh karena sudah isterinya!

Sungguh kalau reportase disurat kabar “Pemandangan” itu benar, maka benar-benarlah disini kita melihat Islam Sontoloyo! Sesuatu perbuatan dosa dihalalkan menurut hukum fiqh. Tak ubahnya dengan tukan merentenkan uang yang “menghalalkan” ribanya itu dengan pura-pura berjual-beli sesuatu barang dengan orang yang mau meminjam uang daripadanya. Tahukan tuan caranya tukang riba itu menghalalkan ia punya pekerjaan riba? Tuan mau pinjam uang daripadanya f 100,-, dan sanggup bayar habis bulang f 120,-. Ia mengambil sehelai kain, atau sebuah kursi, atau sebuah cincin, ataupun sebuah batu, dan ia jual barang itu “op crediet” kepada tuan dengan harga f 120,-. “Tidak usah bayar kontan, habis bulan saja bayar f 120,- itu”. Itu kain atau kursi atau cincin atau batu kini sudah menjadi milik tuan karena sudah tuan beli, walaupun “op crediet”. Lantas ia beli kembali barang itu dari tuan dengan harga kontan f 100,-. Accord? Nah inilah tuan terima uang pembelian kontan yang f 100,- itu. Asal tuan jangan lupa, habis bulan tuan bayar tuan punya hutang kredit yang f 120,- itu!

Simple comme bonjour! – Kata orang Prancis. Artinya : “tidak ada yang lebih mudah dari ini!” Bukan! ini bukan riba, ini bukan merentenkan uang, ini dagang, jual-beli, halal, syah, tidak dilarang oleh agama!

Benar, ini syah, ini halal, tapi halalnya Islam sontoloyo! Halalnya orang yang mau main kikebu dengan Tuhan, atau orang yang mau main “kucing-kucingan” dengan Tuhan. Dan, kalau mau memakai perkataan yang lebih jitu, halalnya orang yang mengabui mata Tuhan!

Seolah-olah Tuhan diabui mata! Seolah-olah agama sudah dipenuhi atau sudah diturut, kalau dilahirnya syariat saja sudah dikerjakan! Tetapi tidakkah justru yang demikian ini sering kita jumpakan?

Tidak justru Islam terlalu menganggap fiqh itu satu-satunya tiang keagamaan. Kita lupa, atau kita tidak mau tahu, bahwa tiang keagamaan ialah terutama sekali terletak didalam ketundukan kita punya jiwa kepada Allah. Kita lupa bahwa fiqh itu, walaupun sudah kita saring semurni-murninya, belum mencukupi semua kehendak agam. Belum dapat memenuhi semua syarat-syarat ke-Tuhan-an yang sejati, yang juga berhajat kepada Tauhid, kepada Akhlak, kepada kebaktian Rohani, kepada Allah, dan kepada lain-lain lagi.

Dulu dilain tempat, pernah saja menulis :

“Adalah orang “sayid” yang sedikit terpelajar, tetapi ia tak dapat memuaskan saja, karena pengetahuannya tak keluar sedikitpun jua dari “kitab-fiqh”: mati-hidup dengan kitab-fiqh itu. Qur’an dan Api Islam seakan-akan mati, karena kitab-fiqh itu sajalah yang mereka jadikan pedoman hidup, bukan kalam ilahi sendiri. Ya, kalau dipikirkan dengan dalam-dalam, maka kitab-fiqh – kitab fiqh itulah yang seakan-akan ikut menjadi algojo roh dan semangat Islam. Bisakah, sebagai misal, suatu masyarakat menjadi hidup, menjadi bernyawa, menjadi leved, kalau masyarakat itu hanya dialaskan saja kepada Wetboek van strafrecht dan Burgerlijk Wetboek, kepada artikel ini dengan artikel itu? Masyarakat yang demikian itu akan segeralah menjadi masyarakat mati, masyarakat bangkai, masyarakat yang bukan masyarakat. Sebab tandanya masyarakat ialah justru ia punya hidup, ia punya nyawa. Begitu pula, maka dunia Islam sekarang ini setengah mati, tiada Roh, tiada nyawa, tiada api, karena ummat Islam sama sekali tenggelam dialam “kitab-fiqh nya” saja, tidak terbang seperti burung garuda diatas udara-udaranya Levend Geloof, yakni udara-udaranya Agama Yang Hidup”.

Sesudah beberapa kali membaca saya punya tulisan-tulisan didalam P.I Ini, tuan barangkali lantas mengira, bahwa saya adalah pembenci fiqh. Saya bukan pembeci fiqh, saya malahan berkata bahwa tiada masyarakat Islam dapat berdiri zonder hukum-hukumnya fiqh. Sebagaimana tiada masyarakat satupun dapat berdiri zonder Wetboek van Strafrecht dan Burgerlijk Wetboek, maka begitu juga tiada perikehidupan Islam dapat ditegakkan zonder wetboeknya fiqh. Saya bukan pembenci fiqh, saya hanyalah pembenci orang atau perikehidupan agama yang terlalu mendasarkan diri kepada fiqh itu saja, kepada hukum-hukumnya syariat itu saja.

Dan sungguh, tuan-tuan, pendapat yang begini bukanlah pendapat saja yang picik ini saja, juga Farid Wadjdi, juga Muhammad Ali, juga Kwadja Kamaludin, juga Amir Ali berpendapat begitu. Farid Wadji pernah berpidato dihadapan kaum Orientalis Eropa tentang arti fiqh itu buah perikehidupan Islam, dan beliau berkatalah bahwa “kaum Orientalis yang mau mengukur Islam dengan fiqh itu saja, sebenarnya adalah berbuat tidak adil kepada Islam, oleh karena fiqh belumlah Islam seluruhnya, dan malahan kadang-kadang sudahlah menjadi satu sistem yang bertentangan dengan Islam yang sejati!”. Muhammad Ali tidak berhenti-henti berjuang dengan kaum-kaum yang mau membelenggu Islam itu kedalam mereka punya monopoli undang-undang dan Kwadja Kamaludin menulis didalam ia punya “Evangelie van de Daad”, satu kitab yang dulu pernah saya katakan brilian dan saya pujikan keras kepada semua orang Islam dan bukan Islam, sebagai berikut : “Kita hanya ngobrol tentang sembayang dan puasa, dan kita sudah mengira bahwa kita sudah melakukan agama. Khatib-khatib membuat khotbah tentang rahasia-rahasianya surga dan neraka, atau mereka mengajar kita caranya mengambil air wudu atau rukun-rukun yang lain, dan itu sudahlah dianggap cukup buat mengerjakan agama. Begitu jualah keadannya kitab-kitab agama kita. Tetapi yang demikian itu bukanlah gambar kita punya agama yang sebenarnya. “Cobalah kita punya ulama-ulama itu menerangkan kepada dunia wetenschap betapa rupanya etika yang diajarkan oleh Quran. Maka tidak akan sukarlah bangsa-bangsa Barat ditarik masuk Islam, kalau literatur yang demikian itu disebarkan kemana-mana”

Dan bagaimana perkataan Sajid Amir Ali? Mempelajari kitab-kitab fiqh tidaklah cukup buat mengenal semangat dan rohnya Islam yang sejati. malahan kitab-kitab fiqh itu kadang-kadang berisi hal-hal yang berlawanan dengan Rohnya Islam yang sejati. Dan maukah tuan mendengar pendapatnya orang lain alim yang bukan Islam? Masih ingatkah tuan akan perkataan Prof Snouck Hurgronje yang saya siti dalam P.I dua minggu yang lalu? Yang mengatakan bahwa Quran kini yang menjadi wetboeknya orang Muslim pada umumnya, tetapi apa yang “dicabutkan oleh ulama-ulama dari segala waktu dari Quran itu dan sunnah itu”? Maka ini ulama-ulama dari segala waktu adalah terikat pula kepada ucapan-ucapannya ulama-ulama yang terdahulu dari mereka. Masing-masing didalam lingkungannya mahzabnya sendiri-sendiri. Mereka hanya dapat memilih antara pendapat-pendapatnya autoriteit-autoriteit yang terdahulu dari mereka. Maka syariat itu seumumnya akhirnya tergantung kepada ijma’ dan tidak kepada maksud-maksudnya firman yang asil. Atau ambillah misalnya lagi pendapatnya Prof Tor Andres! Professor inipun berkata : “Tiap-tiap agama akhirnya hilang ia punya jiwa yang dinamis oleh karena pengikut-pengikutnya lebih ingat kepada ia punya wettensysteem saja, daripada kepada ia punya ajaran jiwa. Islam pun tidak luput dari paham ini.”

Tuan barangkalai berkata, apa kita pusingkan pendapat orang lain? Janganlah tuan berkata begitu. Orang lain sering kali mempunyai pendapat yang lebih benar diatas agama kita, sering kali mempunyai pendapat yang lebih “onbevangen” diatas agama kita dairpada kita sendiri, oleh karena mereka tidak terikat oleh tradisi pikiran yang mengikat kita, tidak terikat oleh “cinta buta” yang mengikat kita kepada agama kita, tidak pula, benarkah mereka punya pendapat itu bahwa tidak ada orang asing yang benar? Apakah tidak ada orang asing yang tepat didalam pendapatnya?

Cobalah kita mengambil satu contoh. Islam melarang kita makan daging babi. Islam juga melarang kita menghina kepada si miskin, memakan haknya anak yatim, memfitnah orang lain, menyekutukan Tuhan yang Esa itu. Malahan yang belakangan ini dikatakan dosa yang terbesar, dosa datuknya dosa. Tetapi apa yang kita lihat? Coba tuan menghina si miskin, makan haknya anak yatim, memfitnah orang lain, musyrik didalam tuan punya pikiran atau perbuat, maka tidak banyak orang yang akan menunjuk kepada tuan dengan jari seraya berkata : tuan menyalahi Islam. Tetapi coba tuan makan daging babi, walau hanya sebesar biji asam pun dan seluruh dunia akan mengatakan tuan orang kafir! Inilah gambarnya jiwa Islam sekarang ini: terlalu mementingkan kulih saja, tidak mementingkan isi. Terlalu terikat kepada “uiterlijke vormen” saja, tidak menyala-nyalakan “intrinsieke waarden”. Dulu pernah saya melihat satu kebiasaan aneh disalah satu kota kecil di tanah Priangan. Disitu banyak sundal, banyak bidadari-bidadari yang menyediakan tubuhnya buat pelepas nafsu yang tersebut. Tetapi semua “bidadari-bidadari” itu bidadari “Islam” bidadari yang tidak melanggar sesuatu ajaran agama. Kalau tuan ingin melepaskan tuan punya birahi kepada salah seorang dari mereka, maka adalah seorang penghulu yang akan menikahkan tuan lebih dulu dengan dia buat satu malam. Satu malam ia tuan punya isteri yang syah, satu malam tuan boleh berkumpul dengan dia zonder melanggar larangan zina. Keesokan harinya bolehlah tuan jatuhkan talaq tiga kepada tuan punya kekasih itu tadi! Dia mendapat “nafkah” dan “mas kawin” dari tuan, dan mas penghulupun mendapat persen dari tuan. Mas penghulu ini barangkalai malahan berulang-ulang juga mengucapkan syukur kepada Tuhan, bahwa Tuhan telah memperkenankan dia berbuat suatu kebajikan, yakni menghindarkan dua orang anak Adam daripada dosanya perzinaan!

Tidakkah bernah perkataan saya, bahwa ini bernama main kikebu dengan Tuhan, atau mau mengabui mata Tuhan? Perungklukan, persundalan, perzinaan, di-“putarkan” menjadi perbuatan yang halal! Tetatpi juga: tidakkah benar ini hanya satu faset saja dari gambarnya masyarakat kita seluruhnya, yang lebih mementingkan fiqh saja, haram makruh saja, daripada “intrinsieke waarden” yang lain-lain?

Ah, saya meniru perkataan budiman Kwadja Kamaludin: alangkah baiknya kita disampingnya fiqh itu mempelajari juga dengan sungguh-sungguh etiknya Quran, intrinsieke waardennja Quran. Alangkah baiknya pula kita meninjau sejarah yang telah lampau, mempelajari sejarah itu, melihat dimana letaknya garis menaik dan dimana letaknya garis menurun dari masyarakat Islam, akan menguji kebenarannya perkataan Prof Tor Andrea yang mengatakan bahwa juga Islam terkena kehilangan jiwanya yang dinamis, sesudah lebih ingat kepada ia punya sistem perundang-undangan daripada kepada ia punya ajaran jiwa. Dulupun dari Endeh pernah saya tuliskan : “Umumnya kita punya kyai-kyai dan kita punya ulama-ulama tak ada sedikitpun “feeling” kepada sejarah”, ya boleh saja katakan kebanyakan tak mengetauhi sedikitpun dari sejarah itu. Mereka punya minat hanya menuju kepada agama khusus saja, dan dari agama ini, terutama sekali bagian fiqh. Sejarah, apalagi bagian “yang lebih dalam”, yakni yang mempelajari kekuatan-kekuatan masyarakat yang menyebabkan kemajuannya atau kemundurannya sesuatu bangsa, sejarah itu sama sekali tidak menarik mereka punya perhatian. Pdahal disini, disinilah padang penyeledikan yang maha penting! Apa sebab mundur? Apa sebab maju? Apa sebab bangsa ini dizaman ini begini? Apa sebab bangsa itu di zaman itu begitu? Inilah pertanyaan – pertanyaan yang maha-penting yang harus berputar, terus – menerus didalam kita punya ingatan, kalau kita mempelajari naik-turunnya sejarah itu.

Tetapi bagaimana kita punya kyai-kyai dan ulama-ulama? Tajwid membaca Qur’an, hafidz ratusan hadits, mahir didalam ilmu syarak, tetapi pengetahuannya tentang sejarah umumnya nihil. Paling mujur mereka hanya mengetahui “tarikh Islam” saja, dan inipun terambil dari buku-bukunya tarikh Islam yang kuno, yang tak dapat tahan ujiannya ilmu pengetahuan modern!

Padahal dari tarikh Islam inipun saja mereka sudah akan dapat menggali juga banyak ilmu yang berharga. Kita umumnya mempelajari hukum, tetapi kita tidak mempelajari caranya orang-dulu mentanfidzkan hukum itu.

Kita cakap mengajikan Quran seperti maha-guru di Mesir, kita kenal isinya kitab-kitab fiqh seperti seorang advokat kenal isinya ia punya kitab hukum pidana dan hukum perdata, kita mengetahui tiap-tiap perintah agama dan tiap-tiap larangan agama sampai yang sekecil-kecilnyapun juga, tetapi kita tidak mengetahui betapa caranya Nabi, sahabat-sahabat, tabiin-tabiin, khalifah-khalifah mentanfidzkan perintah-perintah dan larangan-larangan itu didalam urusan sehari-hari dan didalam urusannya negara. Kita sama sekali gelap dan buta buat didalam hal pentanfidzkan itu, oleh karena kita tidak mengenal tarikh.

Dan apakah Pengajaran Besar, yang tarikh itu kasihkan kepada kita? Pengajaran Besar tarikh ini ialah, bahwa Islam di zamannya yang pertama dapat terbang meninggi seperti burung garuda diatas angkasa, oleh karena fiqh tidak berdiri sendiri, tetapi ialah disertai dengan tauhid dan ethieknya Islam yang menyala-nyala.

Fiqh pada waktu itu hanyalah “kendaraan” saja, tetapi kendaraan ini dikusiri olehnya Rohnya Ethiek Islam serta Tauhid yang hidup, dan ditarik oleh kuda-sembrani yang diatas tubuhnya ada tertulis ayat Quran: “Janganlah kamu lembek, dan janganlah kamu mengeluh, sebab kamu akan menang, asal kamu mukmin sejati”. Fiqh ditarik oleh Agama Hidup, dikendarai Agama Hidup, disemangati Agama Hidup: Roh Agama Hidup yang berapi-api dan menyala-nyala! Dengan fiqh yang demikian itulah umat Islam menjadi cakrawarti diseparuh dunia!

Tetapi apakah pula kebalikan dari Pengajaran Besar ini? Kebalikan Pengajaran Besar ini ialah Pengajaran Besa pula yang tarikh itu mengasihkan kepada kita didalam periodenya yang kedua. Pengajaran Besar, bahwa sejak Islam-studie dijadikan fiqh-studie dari pusakanya Imam yang Empat saja dan bahwa sejak fiqh-studie ini mendapat kedudukan sentral dalam Islam-studie itu, disitulah garis-kenaikan itu menjadi membelok dibawah, menjadi garis yang menurun. Disitulah Islam lantas “membeku” menurut katanya Essad Bey, membeku menjadi satu sistem formil belaka. Lenyaplah ia punya ketangkasan yang mengingatkan kepada ketangkasannya harimau. Kendaraan tiada lagi ia punya kuda, tiada lagi ia punya kusir. Ia tiada bergerak lagi, ia mandek!

Dan bukan saja mandek! Kendaraan mandek lama-lamapun menjadi amoh. Fiqh bukan lagi menjadi petunjuk dan pembatas hidup, fiqh kini kadang-kadang menjadi penghalalannya perbuatan-perbuatan kaum soontoolooyoo!

Maka benarlah perkatannya Halide Edib Hanum, bahwa Islam di zaman akhir-akhir ini “bukan lagi agama pemimpin hidup, tetapi agama pokrol-bambu”.

Jikalau umat Islam tetap tidak mengindahkan Pengajaran – pengajaran Besar sejarahnya sendiri, jikalau pemuka-pemuka Islam di Indonesia tidak mengikuti jejaknya pemimpin besar di negeri lain seperti Muhammad Ali, Farid Wadjdi, Kwadja Kamaludin, Amir Ali dll yang menghendaki satu grentelijke wedergeboorte (kebangunan roh baru) didalam dunia Islam, jikalau pemuka-pemuka kita itu hanya mau bersifat ulama-ulama-fiqh saja dan bukan pemimpin kejiwaan sejati, maka janganlah ada harapan umat Islam Indonesia akan dapat mempunyai Kekuatan Jiwa atau Kekuatan Jiwa yang hebat untuk menjunjung dirinya dari keadaan aib yang sekarang ini.

Janganlah kita ada harapan dapat mencapai persanggupannya Allah yang tertulis diatas tubuhnya kuda-sembrani tadi itu.

Janganlah kita kira diri kita sudah mukmin tetapi hendaklah kita insyaf, bahwa banyak dikalangan kita yang Islamnya masih Islam Sontoloyo!

Soekarno

Pandji Islam, 1940
Di Bawah Bendera Revolusi Jilid 1, hal 493-499

Serapium Reading Challenge 2013

Serapium Reading Challenge (SRC) ini adalah event yang dibuat oleh serapers (penghuni subforum Buku di Kaskus) berupa tantangan membaca buku dengan tema bulanan yang ditentukan di awal tahun dan membuat review dari buku itu setiap bulannya. Tahun ini juga telah diadakan tetapi saya belum ikutan, tahun depan saya mencoba untuk ikut, hitung-hitung menghabiskan stok buku yang belum dibaca yang mangkrak karena lebih konsentrasi membaca textbook kuliah -.-

Ini list buku yang rencananya saya akan baca tahun depan

Image

Image

Image

Januari : Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca – Pramoedya Ananta Toer (kalau seminar TA dah kelar mungkin bisa ketiganya)

Image
Februari : Rumah Tangga yang Bahagia (Family Happiness) – Leo Tolstoy

ImageMaret : To Kill a Mockingbird – Harper Lee (pernah ada filmnya kan ya?)

ImageApril : Siti Nurbaya – Marah Rusli

Image
Mei : Catatan Bawah Tanah (Notes from Underground) – Fyodor Dostoevsky

ImageImage
Juni : Sherlock Holmes (Memoar dan Koleksi Kasus) – Sir Arthur Conan Doyle

Image

Juli : Alice in Wonderland – Lewis Caroll

Image

Agustus : Desersi – M.T.H Perelaer

Image
September : Robinson Crusoe – Daniel Defoe

Image
Oktober : The Hobbit – J.R.R Tolkien

Image
November : Cerita Cinta Enrico – Ayu Utami
Desember : –

Film Life of Pi, Eksistensi Tuhan dan Kepercayaan

Life of Pi
Life of Pi

Kira – kira seminggu setelah saya menyelesaikan buku Life of Pi, baru hari ini saya menonton filmnya di bioskop. Mengenai ceritanya seperti apa, mungkin pembaca bisa membaca post saya sebelumnya tentang buku ini disini. Kini saya ingin bercerita mengenai apa yang saya harapkan dari apa yang ada di buku yang bisa dituangkan dalam bentuk film dan kesimpulan apa yang dapat saya ambil dari semua cerita Life of Pi ini.

Ketika mendengar buku ini akan difilmkan, saya mengharapkan beberapa cerita dimasukkan ke dalam film ini antara lain kisah Pi yang menganut tiga agama yaitu Hindu, Kristen, dan Islam; perdebatan antara pandita (pemuka agama Hindu), Imam Masjid, dan Pendeta ketika mereka dipertemukan oleh Pi; dan suasana ‘pulau karnivora’ yang sebenarnya saya tidak terbayang bagaimana visualisasinya ketika membaca bukunya. Cerita yang pertama dan ketiga masuk ke dalam film ini dan digambarkan dengan apik. Sedangkan yang kedua tidak, tentu ini sedikit mengecewakan karena saya ingin tahu cara Ang Lee menyajikan perdebatan seru yang cenderung memojokkan ajaran agama satu sama lain yang dilakukan oleh pemuka ketiga agama ini dan mengambil sebuah pelajaran bahwa Tuhan bukanlah monopoli dari salah satu agama tersebut. Ketiga pemuka agama ini harus belajar dari Pi, bahwa kecintaan kepada Tuhan itulah yang penting, hal ini tercermin dari alasan Pi mengapa harus menganut tiga agama tersebut, yaitu ingin mengasihi Tuhan.

Terakhir adalah suatu kesimpulan. Di bagian buku ini dituliskan bahwa cerita ini akan membuat kita percaya kepada Tuhan. Pada awalnya saya berpikir apakah membuat kita percaya kepada Tuhan itu melalui mukjizat seperti Pi yang mampu bertahan hidup terombang-ambing di tengah samudera Pasifik bersama harimau Royal Bengal bernama Richard Parker? Menurut saya tidak. Kisah Pi di tengah lautan menurut saya hanyalah suatu metode. Metode yang dibuat oleh Yann Martel.

Hal ini saya simpulkan setelah di bagian akhir film ini, Pi menceritakan dua versi cerita yang berbeda mengenai bagaimana ia bertahan hidup di lautan setelah kapal Tsimtsum tenggelam. Ia mengasosiakan bahwa dirinya adalah Richard Parker, ibunya adalah Orang Utan bernama Orange Juice, koki adalah hyena, dan zebra adalah pelaut. Lalu Pi mempersilahkan kepada pendengarnya, cerita mana yang ingin kau percayai?

Saya mencoba menghubungkan beberapa poin besar dari cerita ini yaitu Pi yang menganut tiga agama, dan dibagian akhir Pi membuat alternatif cerita yang mempunyai inti yang sama yaitu kapal Tsimtsum tenggelam, ia menderita selama di lautan, dan ia selamat dengan terdampar di pantai Meksiko. Lalu saya mengasosiasikan versi cerita dengan ajaran agama. Setiap agama mempunyai ceritanya tersendiri, dan ceritanya jelas berbeda-beda. Dari cerita yang berbeda-beda inilah akhirnya keputusan kembali kepada diri kita, ‘cerita’ mana yang ingin kita percayai? Pi juga mengatakan bahwa kedua versi cerita tersebut sama-sama sulit dibuktikan secara logis, sehingga kembali kepada diri kita, cerita mana yang ingin kita percayai? setelah cerita itu kita percayai, maka cerita itu adalah milik kita.

Selain cerita ini, terdapat sebuah pulau karnivora yang merupakan pulau yang aneh dengan banyak meerkat dan misterius. Ada juga potongan adegan yang menunjukkan pulau ini berbentuk Wisnu yang sedang tidur. Menurut teman saya ketika berdiskusi dengan saya, pulau karnivora ini adalah perlambang Tuhan. Apa yang Ia beri, akan Ia ambil kembali.

Dari sekian banyak cerita tersebut, mempunyai inti yang sama. Jika Pi mengatakan bahwa inti dari ceritanya adalah kapal tenggelam, ia menderita di lautan, dan akhirnya ia selamat. Maka definisikanlah masing-masing, apa inti dari berbagai agama yang ada di muka bumi. Ambillah pelajaran dari sana. Itulah jalan yang membuat kita mencintai Tuhan itu sendiri.

Diakhir film, sang penulis tentu ragu, cerita mana yang ingin ia percayai. Keraguan bukanlah suatu kelemahan iman dan bahan cemoohan. Justru dengan ragu itulah yang membuat kita yakin akan cerita apa yang ingin kita percayai. Ragu dalam konteks ini adalah kita telah berpikir tentang cerita mana yang ingin kita percayai, walau semuanya tidak mampu kita raih dengan rasionalitas. Dari sini saya dapat belajar bahwa keraguan itulah yang membuat kepercayaan kita atas suatu cerita semakin bertambah kuat nantinya.

Jadi inilah yang kesimpulan saya menanggapi statement ‘cerita ini akan membuat anda percaya adanya Tuhan’, bukan dari kisah bertahan hidup Pi bersama Richard Parker sampai selamat. Karena kalau hanya kisah bertahan hidup saja yang dijadikan alasan adanya Tuhan, tentu cerita ini tidak menarik. Kita cukup hanya tahu bahwa ada seorang remaja berhasil selamat terombang-ambing di samudera Pasifik bersama harimau Royal Bengal, tentu ini semua atas campur tangan Tuhan. Kalau hanya begini saja, ngapain saya membaca buku ini. Cukup tau itu saja toh?

Setidaknya ini yang ada di kepala saya sebelum keluar dari bioskop, bagaimana dengan kalian?

Sholat menurut Syekh Abu Salaf

Paparan dibawah ini adalah salah satu potongan isi buku karya Nugroho Suksmanto yang berjudul Lauh Mahfuz. Jikalau nanti tulisan ini dianggap melanggar hak cipta, dengan rela saya akan hapus postingan blog ini. Semoga turut membantu pak Nugroho untuk mempromosikan bukunya itu 🙂

Perihal salat, Syekh Abu Salaf menyampaikan :

“Mengacu kepada Alquran, sebagaimana dinyatakan dalam awal surat Al-Baqarah (Ayat 1-4), setelah yakin atau percaya kepada yang gaib, maka umat Islam diperintahkan untuk beribadah secara vertikal atau transeden, yang berarti menjangkau Sang Khalik ke luar batas semesta alam.

“Dan secara horizontal berupa tuntutan kesungguhan akan kepedulian kepada sesama umat manusia. Inilah konsep paling mendasar dari ibadah Islam, yang disebut sebagai hablum-minallah dan hablum-minannasHal itu mengandung pengertian ‘segala yang kulakuan adalah penghambaan kepada Allah semata dan segala karunia-Nya, akan kusyukuri dan sebagian kusisihkan bagi kemaslahatan manusia’.

“Manifestasi hablum-minallah adalah sebagaimana diperintahkan Tuhan, yaitu dengan mendirikan salat. Syariat lain yang melengkapi Rukun Islam adalah : menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadan, dan naik haji.

“Salat arti semantiknya adalah doa. Didahului dengan kata mendirikan, mengandung arti harus dijalankan dengan disertai niat yang kuat serta dilakukan dengan penuh kesungguhan. Hingga menumbuhkan nuansa atau suasana khusyuk. Apalagi Tuhan kemudian menetapkan rukun – rukun yang sangat jelas menyertai. Tanpa itu ritual yang dijalani hanyalah semacam olahraga belaka atau prosesi tanpa arti.

“Rukun – rukun tersebut menyiratkan akan hakikat diciptakannya manusia, yaitu sebagai makhluk yang dibekali kemampuan menangkap perlambang atau simbol, atau yang disebut sebagai makhluk simbolik. Perlambang atau simbol tersebut merupakan kekayaan budaya dan peradaban manusia. Dengan menggunakan simbol – simbol itulah komunikasi atau hubungan tali rasa dengan Tuhan dilakukan, … dengan tanpa perantara. Simbol atau perlambang dalam berkomunikasi dengan Tuhan adalah melalui rukun – rukun dalam salat, yaitu takbir, rukuk, sujud, dan salam.

“Sebenarnya, doa dari para penganut agama samawi sebelumnya, juga memiliki rukun yang sama. Namun, sekarang ini terlupakan sebagai sebuah ritual simbolik transenden yang sebenarnya paling dikehendaki oleh Tuhan. Yang tertinggal hanya berbagai prosesi yang diciptakan, baik merupakan kreasi sendiri atau melalui lembaga keagamaan. Puji – pujian serta dakwah ulama kemudian menjadi unsur utama dalam melakukan renungan atau kebaktian. Karena itulah melalui Alquran Tuhan mengingatkan kembali agar mendirikan salat, sebagai ritual doa transenden saat berkomunikasi atau melakukan kontak batiniah dengan-Nya.

“Transendensi juga diisyaratkan secara simbolis oleh Tuhan melalui turunnya ayat Kursi, yaitu ayat ke – 255 surat Al-Baqarah. Esensinya, yang bermakna simbolik, adalah menerangkan bahwa kolong dari kursi atau singgasana Tuhan adalah alam semesta atau jagat raya. Dengan demikian Tuhan tentu tidak berada bersama manusia di alam atau kosmos yang sama. Karena itulah diperlukan cara bagaimana menjangkau Tuhan yang berada di kosmos atau realm yang berbeda. Dengan sangat jelas dan tegas, dalam Alquran, Tuhan memberikan jalan atau cara, yaitu melalui salat.”

“Apa sebenarnya yang akan didapat manusia dengan mendirikan salat, Syekh?” tanya Panji.

“Setiap agama menuntun umatnya pada suatu perenungan. Perenungan yang mengarahkan batin menukik tajam ke dalam kalbu dilakukan melalui meditasi. Salat adalah meditasi tertinggi dalam Islam.

“Manfaat salat tentu amatlah banyak, baik yang membawa dampak positif secara fisik, psikologis, ataupun medis.

“Coba simak yang diungkapkan oleh cendekiawan Budiman Mustofa:

‘Pertama, salat dapat digunakan sebagai penyaluran atau aktualisasi peran penghambaan atau ubudiyah manusia kepada Sang Khalik. Allah berfirman dalam surat adz-Dzariyat, ‘Tidaklah Aku ciptakan manusia melainkan agar mereka menghamba/menyembah kepada-Ku.’

“Kedua, untuk memperoleh penguatan jiwa. Karena dengan menjalankan salat, jiwa seseorang akan mendapat semangat baru dari Rabbul ‘Izzati, Allah, saat dia merasakan kedekatan dirinya dengan Sang Khalik.

“Ketiga, terangkatnya martabat atau harga diri seseorang. Karena dengan salat seseorang akan merasa dirinya bersandar pada Dzat Yang Mahamulia, yang kemudian akan juga menumbuhkan rasa percaya diri, sebab merasa dirinya seorang hamba yang mulia.

“Keempat, salat akan menjadi rehat jiwa atau yang disebut rahan nafsiyyah dan membuahkan ketenangan rohani atau thuma ninah ruhiyyah, yang menjauhkan manusia dari kelalaian yang memalingkan dari tujuan mulianya. Dalam khusyuk salat, manusia diarahkan untuk lepas dari masalah duniawi atau yang terkait dengan kebendaan, yang kemudian akan meraih ketenangan dan kedamaian jiwa.

“Kelima, salat akan merupakan pijakan untuk melakukan loncatan dari dunia atau kehidupan yang sempit mengurungnya, munuju dunia atau kehidupan yang sangat luas tak terbatas. Karena itu terlepaslah perasaan yang memenjarakan. Muncullah kebebasan yang meruntuhkan penghalang pikiran atau mind block, yang akan membuahkan kemampuan berekspresi dan menumbuhkan kreativitas dan inovasi.

“Keenam, dengan salat manusia akan terbiasa dengan disiplin dan keteraturan. Karena itu dalam melakukan tugas – tugas lain akan merasa tak terbebani, karena rasa enggan dan malas dikikis melaui salat.

“Ketujuh, dengan salat akan tumbuh jiwa persaudaraan, kebersamaan, dan kesetaraan yang kita kenal sebagai jiwa gotong royong. Karena dalam salat tiada keistimewaan bagi pelaku salat atau umat. Semua menjalankan ritual yang sama.

“Kedelapan, yaitu yang paling penting, salat akan menumbuhkan akhlak mulia, melalui lafal dan doa yang maknanya diresapi.””

“Mengapa salat harus menghadap ke kiblat, Syekh?”

“Nuansa yang diupayakan sewaktu menunaikan salat adalah khusyuk. Karena itu segala sikap dan tindakan harus diarahkan untuk mencapai kekhusyukan itu. Diawali niat yang melahirkan kesadaran penuh yang mengalir, dilanjutkan dengan orientasi kepada pusat kesucian Islam yaitu Kakbah, yang telah ditetapkan sebagai kiblat.

“Sebelum Kakbah menjadi kiblat, pernah Masjidil Aqsha menjadi arah menghadap ketika umat Islam menunaikan salat. Perubahan kiblat terjadi ketika Nabi sedang salat, menerima perintah untuk mengalihkan kiblat. Karena itu masjid tempat Nabi melakukan salat dan kemudian menerima perintah mengubah kiblat, dinamakan Masjid Qiblatain.

“Sikap – sikap lain menunjang kekhusyukan kemudian menyertai, seperti kebersihan diri, pakaian yang dikenakan, tegaknya berdiri, fokus pandangan, konsentrasi, dan lain-lainnya.”

“Lalu, sebenarnya apa yang harus dilafalkan dalam salat?”

“Lafal atau bacaan salat dapat bermacam-macam. Tetapi semua ulama mengatakan bahwa salat tidaklah sah tanpa membaca Al-Fatihah, sebagaimana Rasul pernah bersabda, ‘Tidaklah sah salat seseorang yang tidak membaca fatihatul kitab.’

“Kalaupun takbir kemudian disertai kata Allahu akbar, karena sudah dari asalnya dua hal itu menjadi satu kesatuan. Demikian pula menyatunya salam dengan kalimat assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

“Untuk kesempurnaan salat, para ulama Salaf menerbitkan fatwa, dengan menganjurkan sebagaimana dilakukan Rasul dan para sahabatnya, untuk menyampaikan satu bacaan yang dinamakan bacaan pendahulu sebelum membaca Al-Fatihah.

“Ini menyiratkan bahwa seseorang telah masuk dalam salat dengan menghadapkan wajah kepada Allah dan memberikan kesaksian bahwa apa yang dilakukan baik dalam salat dan memberikan kesaksian hidup serta matinya adalah hanya untuk Allah.

“Dan para ulama Salaf menganjurkan pula pada dua rakaat pertama salat, untuk membacakan cuplikan ayat-ayat Alquran setelah mengakhiri pembacaan Al-Fatihah.

“Aku kira dari uraian di atas, kamu dapat memahami, mengapa salat harus dilaksanakan dengan menggunakan bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab.”

“Ya, Syekh. Sepenuhnya saya mengerti sekarang. Salat adalah ritual simbolik yang diperintahkan Allah untuk menjalin tali rasa dengan-Nya, yang harus dijalankan dengan khusyuk dan perlu diresapi makna lafalnya. Nuansa itu kurang mencapai atau sasaran serta tidak memberikan kesempurnaan dalam khidmat, ketika dilakukan dengan menggunakan bahasa selain Arab.”

Life Of Pi, Bukan Sekedar Satu Sekoci Bersama Harimau Royal Bengal

Judul Buku : Life of Pi (Kisah Pi)
Penulis : Yann Martel
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2012
Tebal : 446 halaman

Sinopsis :
Bagi seorang anak laki – laki seperti Piscine Molitor Patel atau Pi, mungkin banyak hal – hal yang kurang ia pahami mengenai kehidupan. Tetapi ia terus menerus menggali makna kehidupan. Mulai dari bertanya-tanya mengapa agama Hindu mempunyai banyak Dewa sedangkan Islam tidak. Mengapa Yesus rela berkorban untuk menebus dosa anak manusia di muka bumi. Bagi ia, Tuhan dapat dicapai oleh jalan apapun seperti kata Gandhi bahwa semua agama itu baik. Oleh karena itu ia ingin mengasihi Tuhan dengan cara menganut ketiga agama tersebut sekaligus. Dibesarkan ditengah keluarga sekuler India era 1970-an, ayahnya pengusaha kebun binatang di kota Pondicherry, India.

Karena suatu hal, akhirnya keluarga Pi memutuskan untuk pindah ke Kanada. Keputusan ini tidak diambil dengan mudah karena keluarga besar di sana. Akhirnya beberapa binatang yang memungkinkan dijual untuk menambah biaya transportasi mereka ke Kanada. Kapal barang bernama Tsimtsum, kapal yang berasal dari Jepang yang akan membawa keluarga beserta beberapa koleksi kebun binatang. Perjalanan dari India hingga ke Manila untuk mengisi stok makanan, lalu dilanjutkan menuju ke timur menyebrangi samudera Pasifik. Sayang, samudera yang luas ini gagal dilalui oleh kapal tersebut. Kapal Tsimtsum tenggelam!

Demi Wisnu, Yesus dan Muhammad! Pi berhasil selamat. Ia berhasil menaiki sekoci kapal. Terombang-ambing di tengah samudera Pasifik yang ganas bersama seekor Zebra yang patah kaki depannya, seekor Orang Utan bernama Orange Juice, seekor hyena, dan seekor harimau Royal Bengal. Sekoci dengan panjang kira-kira 8 meter itulah yang akan menjadi panggung utama dari novel ini.

Life of Pi menceritakan pergulatan Pi untuk bertahan dan menjaga semangat hidup, belajar menghadapi segala rintangan mulai dari cuaca, makanan, harimau Royal Bengal, hingga musuh terberatnya yaitu diri sendiri.

—————

Pertama kali mengetahui novel ini ketika saya SMP dari sebuah koran. Sayang sekali saat itu minat membaca saya tidak sebesar sekarang. Lagipula akses mendapatkan buku di Kalimantan Tengah saat itu masih sulit. Ketika bertemu novel ini disuatu toko buku, tidak banyak ragu-ragu saya langsung membelinya.

Ternyata buku ini tidak sekedar menceritakan petualangan Pi untuk bertahan hidup, tetapi juga pengalaman spiritual yang dapat diambil sebagai pelajaran dari buku ini bagi pembacanya. Sebuah cerita yang menakjubkan dan segar untuk menambah inspirasi.

“…kisah ini akan membuat orang percaya pada Tuhan.”, itulah potongan kalimat dari bagian belakang buku ini. Yann Martel sedikit banyak telah membuat saya bersikap tentang itu.

Kabar bahagianya adalah, film Life Of Pi garapan sutradara peraih Academy Award, Ang Lee baru saja dirilis. Mari kita tunggu filmnya di Indonesia.