Gunung Ceremai via Linggarjati

Setelah sekian lama hanya dalam lamunan, akhirnya terwujud juga keinginan saya untuk mendaki gunung Ceremai yang berdiri kokoh di kabupaten Kuningan – Cirebon. Gunung ini merupakan tertinggi di Jawa Barat, sekitar 3078 mdpl, hutannya masih asri karena statusnya yang Taman Nasional. Sebenarnya terdapat dua jalur lain yang dikenal untuk mendaki gunung ini yaitu jalur Palutungan (Majalengka) dan Apuy. Kata catper-catper yang ada di internet, jalur Linggarjati terkenal paling berat, saya pikir mungkin mirip-mirip lah dengan jalur Cikuray. Setelah turun dari gunung ini, ternyata mereka itu jujur!

Stasiun Prujakan
Stasiun Prujakan

Perjalanan bersama DeBOP dimulai dari stasiun Pasar Senen. Tim kami berjumlah 20 orang, jujur baru kali ini saya mendaki bersama 19 orang. Biasanya juga paling banyak sekitar 7 atau 8 orang (sebelum bersama DeBOP :p). Kami naik kereta api Bogowonto jam 21.55, sampai di Cirebon Prujakan sekitar jam 1 malam. Dari sana lanjut dengan angkot carteran ke arah Linggarjati. Karena jalan raya di tengah malam sepi, stasiun Prujakan ke pos Linggarjati tak sampai satu jam. Setelah mengurus pendaftaran di pos Linggarjati, kami langsung naik menuju pos pertama, pos Cibunar (750 mdpl). Jujur saya tak terbayang pemandangan apa yang ada diantara pos Linggarjati ke Cibunar karena jalanan gelap. Jalanan masih berupa aspal, awalnya landai, sampai berbelok melipir ke kanan lalu bertemu dengan belokan menanjak berbentuk “S” kemudian diikuti dengan tanjakan panjang hingga bertemu dengan gapura pos Cibunar. Di pos Cibunar ada beberapa bangunan dan warung. Vegetasinya berupa hutan pinus. Ada WC umum juga dengan fasilitas seadanya. Kami numpang tidur sambil menunggu pagi di mushola yang terletak di ujung pos, bersebelahan dengan sebuah pohon besar yang bikin saya merinding setiap melihat (bahkan mengingatnya ketika mengetik ini :o). Belakangan saya baru tahu bahwa ada 3 pocong penghuni sekitar pohon itu, itu kata mamang penjaga pos Linggarjati setelah saya turun Ceremai. Diceritakan setelah saya menyantap mie rebus telor plus sebatang sampoerna mild.

cibunar 1

Sabtu pagi, kami mulai berangkat, Cibunar tempat terakhir untuk mengambil air (belaknagan saya baru tahu bahwa di atas masih ada air). Kami mulai naik sekitar pukul 7.30. Pos selanjutnya adalah pos Leweung Datar (1.225 mdpl), tapi menurut GPS-GPSan (baca: apps OruxMap) yang saya bawa, jaraknya lumayan jauh. Mungkin sekitar satu jam. Jalur Cibunar – Leweung Datar didominasi oleh kebun kopi dan semak-semak kebun tumpang sari. Tanjakannya masih landai, malah lebih mudah jika dibandingkan dengan Cikuray. Pokoknya walau trek Cibunar – Leweung Datar tergolong jauh, tapi masih bisa happy lah. Waktu itu kami juga tidak terlalu buru-buru karena menunggu 3 orang teman kami yang mengambil sarapan di pos Linggarjati. Sembah sujud lah buat kekuatan Chandra, Eja, dan Masdan yang mampu membawa puluhan nasi bungkus + belasan botol air mineral di kerilnya.

Leweung Datar
Para Tersangka, Foto di Leweung Datar

Kami sarapan di pos Leweung Datar, saya lupa saat itu jam berapa, mungkin sekitar jam 10an pagi. Akhirnya lanjut jalan. Pos selanjutnya adalah pos Condang Amis (1.250 mdpl), jarak Leweung Datar – Condang Amis jauh lebih dekat ketimbang Cibunar – Leweung Datar. Di pos Condang Amis ada bangunan mirip seperti pangkalan ojek. Ada bekas api unggun yang tidak dibersihkan di dalam pos itu. Disekitarnya ada tanah lapang yang mungkin muat untuk 5-6 tenda, dan terakhir, juga ada pohon besar yang bikin bergidik ngeliatnya :|. Kenapa bergidik ngeri? Karena setelah turun saya baru dikasih tahu sama Mamang kalau di Pos itu pernah ada yang diganggu maung KW super made in alam ghoib.

Pos Condang Amis
Pos Condang Amis

Setelah pos Condang Amis, adalah pos Kuburan Kuda (1.450 mdpl). Saya ndak ngerti kenapa namanya mesti “Kuburan Kuda”. Dari Condang Amis ke Kuburan Kuda jaraknya lumayan jauh. Pos Kuburan Kuda tidak ada apa-apa, hanya tanah kosong yang muat sekitar 4-5 tenda ukuran 2-3 orang. Pos ini yang paling berkesan buat saya karena ketika turun di pos ini, saya melihat kobaran api yang mendadak menyala di arah trek turun, lalu setelah disorot beberapa detik dengan menggunakan headlamp, eh api itu hilang begitu saja. Awalnya saya pikir itu pendaki yang membawa obor. Tapi kata Mamang (ah lagi-lagi Mamang bikin saya takut), itu Banaspati (silahkan googling kalau mau tau itu makhluk apa).

Setelah Kuburan Kuda, ada pos Pangalap (1.650 mdpl). Jaraknya juga lumayan jauh. Sampai di Pangalap kami istirahat untuk makan siang. Pos Pangalap berupa tanah lapang yang lebar dan datar. Baik sekali untuk dijadikan camp tetapi tempat ini mempunyai ketinggian yang lumayan rendah jika anda berniat untuk pergi ke Puncak. Setelah Pangalap, ada pos Tanjakan Seruni (1.825 mdpl). Ya, seperti nama posnya, benar ada tanjakan di sana. Lebih detail lagi, tanjakan yang paling seru berada setelah pos Tanjakan Seruni. Tanjakannya komplit deh. Ada yang pakai akar, atau yang mulus tanah saja. Bisa pilih tergantung selera. Mungkin yang pakai sepatu yang kurang grip, bisa pilih menu tanjakan plus akar. Saya lupa berapa tanjakan yang lumayan heboh di setelah Tanjakan Seruni.

Setelah pos Tanjakan Seruni, dan beberapa tanjakan yang entah berapa jumlahnya yang lumayan bikin haus, akhirnya kami sampai di favorit saya, pos Bapa Tere! (2.025 mdpl). Mengapa menjadi paling favorit? Bahkan teman se-tim kami, kalau ada yang menyebut Bapa Tere, mereka langsung ketawa. Ya karena di pos ini, ada satu tanjakan yang lumayan bikin ampun. Dengkul bertemu dengan Dada bahkan Dagu. Besar sekali pahala orang yang memasang webbing di tanjakan setelah pos Bapa Tere. Jasa kalian sangat besar. Amal jariah itu. Mungkin levelnya sudah mirip pahala mewakafkan tanah untuk kuburan umum. Entah berapa orang yang sudah dimudahkan jalannya karena tali webbing itu. Rasanya saya ingin mentraktir beberapa bungkus rokok ke orang itu.

Bapa Tere
Bapa Tere

Ternyata tidak hanya disitu saja, setelah tanjakan Bapa Tere, masih ada lagi tanjakan-tanjakan lain. Setelah pos Bapa Tere adalah pos Batu Lingga (2.250 mdpl). Namun kami tak sampai di Batu Lingga, hanya beberapa puluh meter sebelum pos Batu Lingga karena hari sudah gelap. Tepat di pos Batu Lingga, menurut Eja sudah penuh dengan beberapa tenda. Memang pos Batu Lingga sempit. Hanya bisa menampung 4 tenda sementara kami perlu ruang untuk 7 tenda. Akhirnya kami camp diantara Bapa Tere – Batu Lingga, tetapi hanya sekitar 5 menit dari Batu Lingga. Disini kami menemukan tanah lumayan datar dan cukup luas untuk mendirikan tenda. Tak banyak kegiatan malam itu karena mungkin semuanya sudah pada capek setelah menikmati Tanjakan Seruni dan Bapa Tere. Saya pun makan malam di dalam tenda, sudah malas keluar tenda karena mulai terasa dingin. Pelajaran dari Cikuray sangat berharga karena di sana saya pernah terkena serangan dingin mendadak hingga gemetaran. Jadi saya tak mau cari penyakit dan langsung masuk ke sleeping bag. Tidur lumayan nyenyak dan lama. Mungkin saat itu menjadi tidur terlama saya ketika tidur di tengah gunung. Kira-kira saya tidur jam 9 malam, dan bangun sekitar jam 5. Wah, serasa tidur di kasur saja. Tetapi sesekali terbangun karena ada pendaki yang lewat (karena kami mendirikan tenda tepat di pinggir jalur) sembari mengucapkan “Assalamualaikum!” setengah berteriak. Dan saya juga mendengar derap langkahnya. Lumayan, kali ini tidak ada gangguan seperti yang saya alami di Merbabu karena ada yang “grasak-grusuk” di luar tenda 😐

camp

Rencana awal tim kami adalah naik via Linggarjati, dan turun via Palutungan. Konsekuensinya adalah kita harus bawa keril hingga ke puncak, lalu memutari kawah, lalu turun. Dengan rencana sedemikian rupa, kami pun sepakat untuk tak mengejar sunrise. Jadi berangkat ke puncak santai saja. Kira – kira jam setengah 8 pagi, kami mulai jalan lagi. Pos Batu Lingga lewat karena hanya beberapa menit saja dari tempat camp. Setelah pos Batu Lingga, ada pos Sangga Buana 1 (2.500 mdpl) dan Sangga Buana 2. Kali ini saya berjalan di deretan terdepan dari tim. Tentu yang paling depan saat itu adalah Eja yang tau-tau sudah hilang di depan mata. Saya jalan bersama 5 orang lainnya, Didit, Dhani, Dika, Farah, dan Vindy. Sisanya ada di belakang dengan jarak yang lumayan jauh. Setelah pos Sangga Buana 2, ada pos Pangasinan (2.800 mdpl). Pos ini adalah pos terakhir sebelum ke puncak. Dari pos Pangasinan, kita bisa melihat penampakan gunung Slamet di Purwokerto Jawa Tengah. Vegetasi di sini pun sudah didominasi oleh tanaman semak dan pohon yang pendek. Oleh karena itu, jalur Pangasinan – Puncak sangat panas di siang hari. Belum lagi banyak trek tanjakan berbatu dan berpasir berdebu. Jarak Pangasinan ke Puncak menurut papan “hanya” 800 meter. Menurut saya, dari semua jalur di Linggarjati, Pangasinan – Puncak inilah yang paling bikin merana. Mungkin karena kita melewati jalur itu ketika hari mulai siang sambil bawa keril plus persediaan air yang kurang.

puncak

Kira – kira adzan Dhuhur, dengan jalan sambil tergopoh-gopoh membawa beban, akhirnya kami berenam sampai di Puncak Ciremai (Puncak Panglongokan 3027 mdpl). Eja malah sudah mulai turun karena salah satu teman kami, Cila tak melanjutkan perjalanan ke puncak yang berarti kami harus turun lagi lewat Linggarjati. Puncak Panglongokan hanya berupa tanah sempit, langsung mepet jurang kawah Ceremai. Lumayan bikin ngeri kalau duduk di pinggir jurang. Rupanya pengurus Taman Nasional Gunung Ceremai juga memperhatikan hal ini dengan menuliskan “Awas Terpeleset” di papan penunjuk Puncak Panglongokan sebanyak dua kali. Memang, kalau dilihat jika terpeleset ke sana, game over.

Kawah
Kawah Ceremai

Akhirnya kami santai-santai di puncak. Saat itu siang bolong, langit sedang cerah dan terik. Saya sempat saja berteduh sambil leyeh – leyeh di semak sembari menunggu rombongan belakang tiba. Ternyata mereka tiba dengan tidak membawa keril (karena sudah tau akan turun lewat Linggarjati lagi). Ah, tahu begitu saya pun tak akan bawa keril sampai ke atas. Rombongan belakang tiba sekitar setengah 1 siang. Akhirnya kami duluan turun ke bawah. Saya dengan Oki berdua sampai juga di Sangga Buana 2, tempat mereka menaruh keril di sana. Awalnya saya, Oki, dan Indra turun. Di pos Sangga Buana 1 kami bertemu Cila dan Chandra. Akhirnya kita turun berlima. Termasuk rombongan yang turun duluan dengan persediaan air hanya seperempat botol 1.5 liter untuk berlima, dengan satu orang sakit. Belakangan Oki juga muntah-muntah setelah pos Batu Lingga. Kami dengar kabar bahwa bakal ada Ranger yang membawakan air dari bawah. Inilah harapan kami. Ekspektasi kami sih bakal ketemu Ranger tsb di Pangalap.

Target turun saat itu tak muluk-muluk, minimal jangan sampai keburu gelap ketika melewati Bapa Tere dan Tanjakan Seruni. Beruntung ketika lewat sana, masih terang sore hari. Ketika menjelang Pangalap, baru malam tiba. Di Pangalap kami bertemu rombongan dari Cirebon. Lumayan, kami mendapatkan sebotol air minum dari mereka. Mudah-mudahan perjalanan mereka dimudahkan. Setelah lewat Pangalap, akhirnya sampai di Kuburan Kuda. Saat itu sekitar jam 7 atau setengah 8 malam. Masih belum bertemu dengan Ranger yang berangkat dari bawah. Tetapi di pos Kuburan Kuda, kami bertemu lagi dengan rombongan 3 orang dari Cirebon. 2 orang mbak-mbak dan seorang mas yang baru saya tahu belakangan kalau dia itu ternyata salah satu Ranger pos Linggarjati. Di sini Cila diberikan oralit rasa jeruk (belakangan saya minum juga ini karena keburu haus) oleh mbak-mbak dan mas tadi. Nah, di pos inilah, saya melihat kobaran api di semak-semak. Saya kira di sana ada orang yang mendaki dengan membawa obor. Saat itu saya ngomong ke yang lain, itu api apa ya. Tapi Mas ranger itu hanya diam melihat api itu. Menyorot api itu dengan menggunakan senternya. Eh lama-lama api itu hilang begitu saja. Tak ada orang sama sekali. Karena masih di tengah hutan, saya ga mau berpikiran aneh-aneh saat itu. Tapi harus saya ingat dan saya tanya ke Mamang di Linggarjati. Menurut beliau, itu Banaspati. Dan bisa berbentuk bola api, lalu mengganggu 😐

Setelah itu lanjut jalan. Kecepatan jalan kami melambat. Oki dan Masdan (yang tau-tau nongol di Tanjakan Seruni) sudah berangkat duluan ke bawah. Mereka mau lari katanya, mungkin sudah ngebet dengan es teh manis di warung. Akhirnya kami bertemu ranger, saya lupa lokasi persisnya di mana, mungkin setelah lewat Condang Amis, sebelum Leweung Datar. Kami mendapatkan sebotol air minum lagi dari mereka. Mungkin mereka tahu sumber mata air lain karena nampaknya mereka menghabiskan persediaan airnya untuk kami. Setelah itu, saya mulai terasa capek. Kaki saya sudah lemas. Akhirnya kami sampai di Cibunar pukul 10 malam lewat. Apa yang saya lakukan ketika sampai di Cibunar? Tak banyak omong, langsung taruh keril di dekat gapura, lalu jalan ke WC, ambil air di kerannya, lalu saya teguk air itu persis di depan pintu WC. Ternyata cuma setengah botol 1.5 liter yang membuat saya kenyang minum :). Tak lupa saya isi penuh kembali botol itu untuk 2 yang lain.

Sembari menunggu rombongan belakang tiba, kami masak air, minum milo, saya sempat merokok sebatang, cerita-cerita, tapi hawa lumayan dingin. Mendadak datang sebuah motor dari bawah, ternyata salah satu Ranger dari Linggarjati yang ingin konfirmasi apakah perlu Vindy dijemput berhubung lokasi terakhirnya di sekitar kebun kopi. Pertimbangannya, ranger yang membawa air tadi sudah bertemu dengan rombongan belakang di Pangalap. Dipikir-pikir, kita sama sekali belum makan sejak siang. Jadi saya ikut turun ke Linggarjati numpang dengan Aa’ tadi, saya dipinjami motor untuk cari makanan buat yang lain. Untuk ga terlalu jauh, di pertigaan Linggarjati – Jalan Raya Kuningan masih ada tukang nasi goreng yang jualan. Padahal seingat saya saat itu jam setengah 2. Mungkin aa’ penjual nasi goreng ini bingung. Ada orang berjaket dan berkupluk, dengan muka lelah, mata sudah segaris, di tengah malam memesan 15 bungkus nasi goreng 😐

Setelah beli nasi goreng, saya balik lagi ke Linggarjati, dan memutuskan untuk tinggal di pos Linggarjati saja dan tidur di sana. Saya tidur di mushola belakang hanya ditemani nyamuk-nyamuk yang kelaparan. Terus terang saya ndak bisa tidur saat itu. Jauh lebih nyenyak tidur di Batu Lingga ketimbang di sana. Setelah pagi yang cerah, saya puas makan mie rebus di warung emak, dan berjemur matahari pagi sambil merokok, wah nikmatnya. Sembari menunggu rombongan turun dari Cibunar, saya banyak mendengar cerita mistis dari Mamang di Linggarjati ini. Mulai dari tempat Wali ceramah, macan jadi-jadian, cara bedain macan jadi-jadian dengan macan betulan, makhluk yang bernama Banaspati, 3 Pocong di pohon pos Cibunar, sampai cerita dia jadi guide ke beberapa kelompok. Wah komplit lah, sampai ngantuk saya dengarnya.

Karena sudah ketinggalan kereta minggu malam, kami pulang naik kereta lewat stasiun Cirebon dengan Cirebon Ekspress. Sampai di Gambir sekitar setengah 7 malam. Dan saya sampai di Karawaci jam 9 malam karena Ibu Kota jam pulang kantor itu lebih kejam dari Ibu Tiri. Tapi masih lebih kejam lagi Bapa Tere.

—–

Terima kasih untuk Masdan, Didit, Vindy, dan Farah atas foto-foto trip Ceremai 🙂

Ini Indonesia Bung!

Saya pernah menyampaikan uneg – uneg betapa anu – nya transportasi umum di Indonesia via Twitter. Uneg – uneg saya itu terkait ketepatan dan kepastian waktu berangkat dan tiba. Hal ini cukup penting karena tak ada yang bisa tahu pasti kapan bis antar kota berangkat dan sampai di tempat tujuan. Yang kita tahu hanya kita cukup datang di terminal bis (bahkan cukup tunggu saja di pinggir jalan, atau di pinggir tol bahkan), lalu carilah bis yang sesuai dengan tujuan kita. Tahukah kita kapan bis berangkat? tak ada yang tahu. Hanya supir dan kenek yang tahu.

Ketika saya berlibur ke Ijen, Jawa Timur, saya berbarengan dengan sepasang bule yang asalnya dari Jerman. Hal itu dimulai ketika kami baru sampai di terminal Probolinggo

Apa uneg – uneg mereka? :

—-

Kapan bis ini berangkat?” – Menunggu bis penuh dengan penumpang

Sesudah menaiki bis ini, kita lanjut naik bis lagi bukan? Kamu tahu bis tersebut berangkat berapa menit/jam sekali?” – Jelas menunggu bis penuh dengan penumpang

Berapa lama kita naik bis ini?” – Errr… bagaimana kalau saya kasih tahu berapa kilometer?

Di Sulawesi kami bisa menyewa sepeda motor dengan tarif Rp50.000 per hari. Mengapa di sini tidak bisa? Bukankah masih sama-sama di Indonesia?” – Negara kami luas dan tak ada regulasi atau undang – undang yang mengatur sewa-menyewa motor

Mengapa tarif ojek disini mahal sekali. Kalau jarak yang ditempuh 60 km, mereka ingin tarif Rp100.000,- bukankah itu berlebihan? Bukankah disini harga bensin murah?” – Sepertinya saya perlu ajari para tukang ojek itu bahasa Inggris, biar langsung debat dengan Anda.

Dan terakhir….

Kamu mengerti apa yang mereka bicarakan?” (note: Tukang ojek di Bondowoso berbicara dalam bahasa Madura) – Ini Indonesia bung! Emangnya negara Anda :p

Mendaki Gunung Merbabu

2013-12-29 05.44.22

Setelah hiking ke Kawah Ijen, saya dan Alde langsung berangkat menuju Magelang untuk mendaki Merbabu. Kami berdua kembali ke Surabaya dengan menggunakan moda transportasi yang sama. Total waktu yang kami perlukan untuk sampai ke Magelang mungkin sekitar 15 jam.

26 Januari 2013 (Kawah Ijen – Terminal Bungurasih)

Jam 15.00, kami berdua turun dari Kawah Ijen. Dilanjutkan dengan ojek langsung ke Gardu Atak dan menunggu minibus tujuan Situbondo di daerah Wonosari (di depan Indo*maret) karena kami harus repack ulang tas dan cek logistik. Kira-kira mendekati maghrib, kami baru dapat bis menuju Situbondo. Pada tulisan sebelumnya, saya mengatakan bahwa kedua bule Jerman berangkat duluan dari Paltuding, kami bertemu lagi di bis yang sama ketika menuju Situbondo. Waktu itu bis lumayan penuh, saya duduk di bangku deretan paling belakang, menikmati angin bersuana senja. Kurang lebih satu jam kemudian, kami sampai di terminal Situbondo, kami naik bis bumel AKAS menuju Probolinggo. Bis tersebut bertuliskan “Surabaya – Banyuwangi”, jadi saya pikir saya tak perlu mengulangi kesalahan yang sama seperti kemarin yaitu harus ganti bis di Probolinggo. Ternyata hal tersebut salah besar, mendadak kenek bis berteriak kalau yang ingin ke Surabaya, pindah ke bis sebelah. Saat itu bis yang saya tumpangi sedang berada di suatu pom bensin. Oh okelah, ternyata bis ini memang sampai Probolinggo saja, tiketnya pun menurut saya murah, tak sampai sepuluh ribu tiap orang, lebih murah daripada tarif Karawaci – Blok M dengan Mayasari Bhakti AC34. Bis yang kami tumpangi juga bis bumel tujuan Madura yang ternyata ngebutnya minta ampun. Di Probolinggo lah kita berpisah dengan dua bule Jerman ini karena mereka ingin ke Bromo.

Sekitar tengah malam kira-kira jam 23.00 atau jam 00.00, kami sampai di terminal Bungurasih. Di terminal kami istirahat untuk makan, mandi (WC umum disini lumayan bersih), dan sekedar “meluruskan” kaki karena berjam-jam berada di bis. Kami berencana naik bis Eka. Tadinya saya ingin coba jajal Sumber Kencono yang sekarang namanya menjadi Sumber Selamat / Sugeng Rahayu. Ternyata bis yang terkenal sebagai jet darat tanah Jawa itu tak ada yang ke Magelang, hanya ke Yogyakarta atau Semarang saja. Bis Eka sangat menarik karena di kaca depan bis ditempel tulisan besar-besar “CEPAT”. Semoga benar-benar CEPAT.

27 Januari 2013 (Terminal Bungurasih – di tengah Hutan Gunung Merbabu)

Tak banyak yang ingin diceritakan mengenai perjalanan dengan bis Eka ini. Yang saya ingat, saya mulai tidur setelah bis melewati tanggul lumpur Lapindo, Porong, Sidoarjo. Saya sempat terbangun beberapa kali tapi memang tak mau tau sudah sampai di mana. Sekitar jam 5 pagi, ketika hari sudah mulai terang, kami sampai di daerah Ngawi, masih Jawa Timur. Sebelah kiri bis saya dapat melihat gagahnya Gunung Lawu. Bis berhenti di rumah makan Duta, saya sarapan rawon. Bis berangkat, saya tidur lagi.

Bis masuk kota Solo sekitar jam 8 pagi. Alde banyak bercerita tentang Ibunya di kota ini. Juga bercerita tentang Sate Jamu yang ternyata terbuat dari daging anjing. Jalanan lumayan padat, jadi dipastikan bis yang kami tumpangi lumayan terlambat sampai Magelang, bahkan tak sampai Magelang. Lagi – lagi kami “dipaksa” turun oleh kenek bis di terminal Giwangan. Bis Eka tak sampai Magelang karena mereka terlambat. Yang menarik adalah bahasa yang digunakan oleh kru bis Eka ketika mengatakan bis hanya sampai Yogyakarta saja. Ya, ia menggunakan bahasa Jawa yang halus dan enak didengar. Kami pikir, orang mana yang bakal marah kalau bahasa yang digunakan seperti itu? Uang tiket dikembalikan Rp20.000,- yang ternyata itu tarif bis bumel dari Yogyakarta ke Magelang. Kira – kira tengah hari kami sampai di Giwangan. Lanjut ke Magelang dengan bis Sumber Waras yang kata Alde sudah terkenal tukang ngebut. Padahal jalur Yogyakarta – Magelang jalurnya berupa tanjakan panjang. Sekitar 2 jam kemudian, kami sampai di terminal Magelang. Makan siang terlebih dahulu, lalu melanjutkan perjalanan menuju desa Wekas dengan menggunakan minibus tujuan Salatiga via Kopeng. Tarifnya hanya Rp6000,-. Bis ini seperti Metro Mini atau Kopaja kalau di Jakarta.

Perjalanan Magelang – Wekas sangat menarik. Udaranya mulai sejuk dan pemandangannya sangat oke. Kita dapat melihat Merapi dan Merbabu sekaligus. Merapi ada di bagian kanan bis, dan Merbabu ada di depan. Saat itu cuaca sedang cerah, puncak kedua gunung itu pun tak ada kabut jadi pemandangan sangat jelas terlihat. Saya kira perjalanan menuju Wekas hanya satu jam saja. Ternyata lebih lama, sekitar 2 jam karena jalan raya juga berupa tanjakan. Sampai gerbang desa Wekas, saya membeli 1 liter spiritus dan dua botol air mineral untuk keperluan memasak di atas sana. Kami lanjut dengan ojek bertarif Rp20.000,- per orang menuju basecamp pendakian Wekas.

Sesampainya basecamp Wekas, kami repack ulang tas agar enak dibawa. Seingat saya kami mendaki mulai pukul 16.30. Memang terlalu sore, tapi apa boleh buat. Trek awal masih berupa perkampungan dan perkebunan penduduk. Jalanannya juga masih berbatu seperti ketika naik ojek dari gerbang desa. Setelah beberapa menit, kami melewati jalan paving block sampai sebuah makam. Belok kanan, jalur mulai jalan setapak dengan kiri kanannya pohon pinus. Sesekali dapat ditemui sungai kecil bagi yang ingin sekedar cuci muka atau mengisi persediaan air.

Target kami hari itu sebenarnya sampai Pos 2 (Pipa Bocor). Tetapi kita memutuskan untuk hanya sampai Pos 1 (kemudian kami baru tahu bahwa tak ada Pos 1) karena mulai mendaki terlalu sore. Trek selalu menanjak, jarang ada bonus. Kiri kanan masih dipenuhi pohon pinus, sesekali pohon cemara. Waktu itu jalur pendakian sepi walaupun sesekali kami bertemu dengan beberapa rombongan yang turun. Kecepatan kami mendaki juga terhitung santai karena kami memang belum istirahat dengan baik setelah semalaman berada di bus. Ketika malam tiba, Alde mengusulkan untuk berhenti dan membuka tenda sebelum sampai Pos 2. Saja juga tak mau jalan malam karena tak tahu jalan dan belum pernah mendaki Merbabu.

Akhirnya kami buka tenda yang jaraknya sekitar 1-2 jam menuju Pos 2, memang tanggung, tapi apa boleh buat karena kondisi kami berdua sudah kelelahan, dan saya tak mau ambil risiko untuk jalan malam hari. Tak ada kegiatan yang terlalu berarti selama di tenda. Alde memasak, saya dirikan tenda. Saat itu hari sudah gelap kira-kira pukul 19.00. Kita langsung tidur.

2013-12-27 18.17.36
Sunset dari tempat camp

Setelah ini merupakan bagian yang lumayan bikin seram. Kira – kira jam 21.00 atau jam 22.00, kami berdua terbangun karena di luar berisik. Ada sesuatu yang grasak grusuk di luar tenda. Entah itu binatang atau apa saya sendiri tak berani cek keluar. Untuk jaga – jaga, saya pindahkan golok ke tempat yang mudah dijangkau, lalu resleting tenda diikat dengan menggunakan karet gelang. Kami lanjut tidur.

28 Januari 2013 (Hutan Merbabu – Pos 2)

Kami bangun kira – kira pukul setengah 7 pagi. Alde memasak sarapan nasi dengan telur agar hari itu lebih bertenaga. Jam setengah 9 pagi kami mulai jalan kembali, target awalnya adalah langsung puncak untuk menikmati sunset. Kenyataannya, kira – kira jam 11.00 siang kami telah sampai di Pos 2 Pipa Bocor. Perjalanan agak lama karena di tengah jalan kami mencuci piring dan bekas makanan, saya juga melakukan “ritual pagi” mumpung ada air yang mengalir di dekat jalur pendakian. Tanda – tanda bahwa sudah dekat dengan Pos 2 adalah jalur bersinggungan dengan pipa air berwarna putih. Kadang ada bagian pipa air yang bocor sehingga membentuk sebuah pancuran.

Begitu sampai Pos 2, ternyata sudah ada beberapa tenda di sana. Kurang lebih ada sekitar 6 sampai 7 tenda, tapi kebanyakan dari mereka ingin turun hari itu. Sebagian habis dari puncak. Sebagian lagi ada yang sudah 2 hari di Merbabu via jalur lain, turun lewat jalur Wekas.

2013-12-28 17.35.56
Pos 2

Pos 2 berupa tanah lapang dengan sesekali ada semak. Banyak monyet liar di sana. Jadi hati – hati dengan barang dan logistik, simpan di tempat yang aman (dalam tenda). Tetapi tak papa, toh monyet – monyet itu takut dengan manusia. Sulit sekali berada di dekat mereka karena begitu mereka melihat manusia mendekat, mereka kabur.

Tak banyak juga kegiatan selama di Pos 2. Saya hanya berkeliling Pos 2 untuk mengenal medan, bertanya – tanya mengenai jalur ke puncak, dan berkenalan dengan orang – orang baru. Ternyata ada juga yang mendaki Merbabu berdua, kalau tak salah mereka dari Bekasi. Yang menarik adalah mereka membuka tenda tepat di pinggir jurang di bagian selatan Pos 2. Saya hanya terpikir angin yang kencang di sana. Saya sendiri memilih lokasi agak jauh dari jurang atau tebing tersebut, lebih ke arah Utara, dengan posisi tenda mendekati semak. Tenda juga saya dirikan di bawah pohon agar tidak terlalu panas atau jaga – jaga jika nanti malam hujan. Di dekat kami buka tenda, ada rombongan yang baru datang sekitar pukul 19.00 malam. Orang Magelang, tiga –tiganya cowok.

Dari Pos 2, kita dapat melihat puncak pemancar di arah utara. Puncak pemancar ini harus dilewati pendaki yang melewati jalur Cunthel. Saya baru tau hal ini ketika nyasar di punggungan esok harinya J

Hari itu kami tidur lebih cepat, kalau tak salah pukul 20.00 kami sudah tidur. Sayup – sayup terdengar lagu “buka sitik Joss” atau “Oplosan” di Pos 2. Sesekali juga ada Dream Theater, Netral, dll. Rupanya rombongan yang baru datang, yang membuka tenda di dekat tenda kami ada salah satu pendaki tipe broadcaster di sana. Jadi berpikir apakah ada pendaki broadcaster yang menyetel lagu – lagu yang biasa diputar di radio – radio Jakarta? (sebut saja Rihanna, Katty Perry, atau Bruno Mars)

29 Januari 2013 (Pos 2 – Puncak Janagiri & Puncak Geger Sapi – Pos 2 – Basecamp – Magelang – Yogyakarta)

Kami bangun pukul 02.00 dinihari. Kira – kira pukul setengah 3 pagi, kami berangkat menuju puncak. Target hari itu jelas, ketiga puncak yang kami idamkan sebelum naik Merbabu yaitu puncak Syarief (3.119 mdpl), Kenteng Songo (3.140 mdpl), dan Triangulasi (3.142 mdpl). Kenyataan? Hanya dua puncak yang berhasil kami lewati, itupun bukan bagian dari ketiga puncak yang saya sebut di atas.

Kami berdua mulai berangkat. Hanya bermodalkan penerangan headlamp, kami menelusuri jalan setapak menuju puncak. Jalur mulai menanjak lagi seperti jalur antara Basecamp – Pos 2. Hanya perbedaannya, kini jalur menanjak tersebut dihiasi dengan bebatuan yang lumayan besar. Ada satu batu yang besar sekali, tapi sayang penuh dengan coretan tangan – tangan usil. Di sana kami sedikit jalan ke bagian kanan. Saya yakin batu besar inilah yang dimaksud oleh kawan – kawan yang pernah ke Merbabu via Wekas sebagai percabangan menuju puncak pemancar – puncak Syarief. Ternyata hal tersebut salah. Saya justru menuju –yang setelah turun saya baru tahu- air terjun. Pantas saja, di tengah kegelapan pagi, sayup – sayup saya mendengar bunyi air terjun. Saya baru tahu ada air terjun di sini. Tetapi belum sampai air terjun yang dimaksud, saya sudah menyadari bahwa kami salah jalur. Hal itu berasal dari entah intuisi atau apa, juga bukti bahwa wajah saya selalu terkena sarang laba – laba. Saya pikir tak mungkin jalur ini tertutup sarang laba – laba padahal ditengah perjalanan tadi, kami berdua didahului oleh dua orang pria yang membuka tenda di sebelah saya. Akhirnya saya berinisiatif untuk balik lagi. Saya mengingat ada jalan setapak berbelok ke arah kiri, tak sampai 100 m dari tempat saya berhenti untuk kembali.

Feeling saya kami mulai salah jalur sejak batu besar penuh coretan itu. Seharusnya mengambil jalan ke arah kiri karena bagian kiri dari jalan yang kami lalui saat itu berupa tebing tinggi. Jalur menuju puncak pastilah lewat jalur di sebelah tebing ini. Tanpa perlu berbalik sampai ke batu besar tadi, kami melewati jalur yang saya lihat tak sampai 100 meter dari tempat kami berputar. Berbelok ke kanan, saya sorot headlamp, hampir mendongak saya dibuatnya. Jalur ini curam sekali, mungkin mempunyai kemiringan lebih dari 70 derajat, tetapi sudah ada pijakan yang menandakan jalur ini pernah dilewati orang.

Akhirnya kami lewat jalur tersebut. Langit mulai terang. Itu berarti kami gagal mencari sunrise di puncak. Ah sudahlah, kini yang penting kami kembali ke “jalur yang benar”. Kami benar – benar mendaki, bahkan memanjat ketika melewati jalur itu. Kaki saya terhitung panjang, jadi enak saja melewatinya. Berbeda dengan Alde yang perlu pijakan lebih banyak. Di beberapa tempat, jalur semakin vertikal. Sebagai ilustrasi, jika anda berdiri, pijakan yang ada selanjutnya berada di ketinggian leher anda. Tempat berpegang hanya di akar dan batang pohon Edelweis saja. Pengalaman saya mendaki gunung, ini trek yang sulit, tetapi menantang. Jadi saya nikmati saja trek ini sembari menikmati sinar lembut matahari di pagi hari.

2013-12-29 05.42.21
Trek merayap

Kira – kira satu jam kemudian, kami berhasil berada di atas tebing. Saya kira bagian atas tebing ini adalah jalur yang sebenarnya. Padahal jalur yang benar masih ada di tebing satu lagi. Jadi ada dua punggungan, tempat saya berdiri, dan satu lagi yang dipisahkan oleh lembah yang dalam yang merupakan jalur yang benar. Saya bisa melihat pendaki lain berada di persimpangan batu besar antara puncak pemancar dengan puncak Syarief. Akhirnya kami telusuri punggungan bukit tersebut, hingga di suatu titik paling tinggi, ternyata ada papan bertuliskan puncak Janagiri. Terus terang saya baru tahu ada puncak Merbabu yang bernama Janagiri. Kami istirahat di sana sekitar 10 menit untuk memikirkan bagaimana caranya menuju kembali ke jalur yang benar, tanpa melewati jalur yang curam tadi. Saya melihat sebuah jalan setapak yang menurut saya tidak terlalu jelas karena sudah banyak ditumbuhi rumput, ternyata jalan tersebut menuju puncak Geger Sapi. Saya tahu itu puncak Geger Sapi karena ada papan yang mengatakan hal itu. Tak jauh dari sana, bertemu suatu pertigaan, kanan menuju puncak Syarief, dan kiri menuju kembali ke Wekas. Akhirnya kami bertemu dengan jalur yang benar.

2013-12-29 05.45.01
Pemandangan dari puncak Janagiri

Kami memutuskan untuk tidak ke puncak Syarief (berarti juga tidak ke puncak Kenteng Songo dan Triangulasi), karena Alde mengalami sakit di betisnya. Saya juga tak mau memaksakan berhubung trek menuju puncak Syarief lumayan terjal. Begitu juga saya masih memikirkan perlu tenaga juga untuk kembali sampai ke Pos 2. Toh puncak Syarief – Kenteng Songo – Triangulasi tak bakal tutup, saya masih bisa mengujunginya lain waktu. Akhirnya kami kembali ke Pos 2, memasak makan, dan membereskan tenda. Dari Pos 2 menuju kembali ke Basecamp Wekas ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam. Saat itu cuaca sedang mendung. Hal ini jelas berbeda 2 hari dan 2 malam sebelumnya di mana cuaca sangat cerah.

Jalur menuju Puncak Syarief, dilihat dari Puncak Geger Sapi
Jalur menuju Puncak Syarief, dilihat dari Puncak Geger Sapi

Kami sampai di Yogyakarta sekitar pukul 8 malam. Saya di rumah orang tua Alde selama 3 hari 2 malam. Kata seorang teman, 3 hari 2 malam di rumah orang tua pacar itu ujian mental. Ternyata tidak, orang tua Alde asik 😀

Perjalanan ini memberikan pengalaman yang sangat berharga karena saya telah mengalahkan ego saya, tak pergi ke puncak sendirian.

Benar kata soundtrack film Gie, berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu sebenarnya. Ya saya orang yang egois dan saya berhasil kalahkan itu.

Hiking ke Kawah Ijen

Kawah Ijen
Kawah Ijen

Lihatlah tingginya gunung itu

Lihatlah hijaunya lembah dan bukit, serta birunya langit waktu itu

Lihatlah jalan menuju puncak yang berliku itu

Raung menyapa dari arah barat, minta untuk dikunjungi

Merupakan ide dari Alde untuk bermain ke Kawah Ijen yang terletak di perbatasan Bondowoso dan Banyuwangi, Jawa Timur. Kami berdua berangkat dari Bandung tanggal 25 Desember 2013 dengan menggunakan kereta Pasundan. Kereta berangkat pukul 5.30 dan sampai di Stasiun Gubeng sekitar pukul 21.00. Perjalanan yang agak panjang dan sulit tidur karena kereta ini bukan kereta malam yang bisa kita lewatkan begitu saja pemandangannya karena dari kaca kereta hanya gelap saja. Termasuk kami melihat gagahnya gunung Lawu di sebelah kanan kereta ketika kereta ini sudah melewati stasiun Solo Jebres.

Sesampainya di Gubeng, kami lanjutkan perjalanan ke terminal Bungurasih. Beruntung di dalam angkot F, bertemu dengan seorang ibu dengang dua anaknya yang dulunya mantan anak pecinta alam ketika SMA. Begitu katanya sembari menggendong anaknya. Mungkin ia tahu setelah melihat kita berdua memakai keril ‘full tank’. Terima kasih bu atas tipsnya tentang malam hari di kota Surabaya yang ternyata juga banyak copet. Angkot F hanya sampai terminal Joyoboyo, Wonokromo. Lanjut lagi dengan menggunakan angkot kuning jurusan Sidoarjo. Kami diturunkan persis di bawah jembatan penyebrangan yang langsung menuju pintu keluar terminal Bungurasih.

Terminal Bungurasih, jadi teringat masa kecil saya dulu di Jawa Timur. Mata saya sudah akrab dengan bis Eka, Mira, Akas, Restu dan Harapan Jaya. Hanya saja bis-bis tersebut kini tampak jauh lebih keren ketimbang terakhir kali saya melihatnya akhir tahun 1990an. Bentuk terminal pun sudah berubah, hanya bagian ruang tunggu penumpang yang masih sama seperti dulu. Disana kami makan dan meluruskan kaki sembari mencari bis menuju Situbondo.

Dengan menumpang Akas Patas AC jurusan Banyuwangi, kami sukses hanya sampai Probolinggo saja karena ternyata bis ini lewat Jember sebelum ke Banyuwangi. Di terminal Probolinggo, kami lanjut dengan bis bumel Akas menuju Situbondo. Kami berdua bertemu dua bule asal Jerman berumur kira-kira 50 tahunan yang tak jelas mau kemana, dan tiba-tiba memutuskan untuk pergi ke Ijen juga. Saya pikir mereka berdua ingin pergi ke Bromo. Oke, kini kita berempat.

Bis menuju Situbondo bukan bis ber AC. Saya lebih suka menyebutnya Bumel. Suatu istilah yang biasa dipakai di komunitas Bismania yang merupakan akronim dari mlebu kumel. Heran saya dengan supir bis di Jawa Timur ini. Doyan ngebut dengan suntikan musik dangdut koplo yang lagi trendi (buka sitik joss!). Alhasil saya tak bisa tidur, di kepala berputar bagaimana seandainya bis ini terguling, menabrak truk dari arah berlawanan (sembari perhatikan jalan yang berkelok-kelok di sekitar Paiton). Saya lihat ke deretan kursi belakang bis, bapak Jerman tadi sudah tidur telentang di bangku berkonfigurasi 2-3 ala Bumel.

Sampai Situbondo kurang lebih jam setengah 6. Kami turun, saya keluarkan keril dari bagasi, dan langsung pergi pipis ke WC terdekat. Sudah ada lagi minibis (kalau di Jakarta mungkin seperti Metro Mini atau Kopaja) jurusan Situbondo – Bondowoso. Inilah bis yang kami tumpangi sebelum menuju ke Ijen. Ongkosnya murah, hanya 6 ribu rupiah (saya sampai bilang “twelve thousand” ke bapak bule untuk memastikan bahwa kedua bule itu membayar dengan jumlah yang sama).  Sepanjang jalan Situbondo – Bondowoso akan melewati lahan tebu, rel lori tebu (entah lorinya ke mana), dan bagian yang saya suka: Gunung Argopuro di sebelah kanan jalan. Tidak sampai 2 jam kira-kira pukul 8, kami turun di daerah yang bernama Gardu Atak. Hanya pertigaan seperti biasanya. Lengkap dengan pangkalan ojek dan Indo*maret.

Hampir dua jam kami menawar, mempertimbangkan, menghitung-hitung, menolak, mengajukan, menawar kembali, dan seterusnya angkutan yang akan kami gunakan menuju Kawah Ijen. Si bapak Jerman ini menganggap ongkos yang dikenakan tukang ojek ini terlalu mahal. Jelas mahal karena ia membandingkan ongkos tersebut dengan ongkos sewa motor harian 50 ribu di pedalaman Sulawesi Tengah, bagian Indonesia yang telah ia kunjungi selama 3 minggu belakangan. Ujung – ujungnya kami deal naik angkot terlebih dahulu sampai daerah Sukosari (sekitar 15 km), dan jarak ke Kawah Ijen dari desa tersabut masih sekitar 51 kilometer lagi. Dari sana, kami naik ojek dengan ongkos Rp70.000,-

Pada mulanya, ongkos sebesar itu saya anggap mahal. Namun setelah betapa sadar saya naik ojek dengan jarak 51 kilometer selama hampir 3 jam dengan trek aspal menanjak, kiri-kanan hutan lalu masuk perkebunan kopi milik PTPN, akhirnya saya lumayan berbaik hati untuk menganggap tarif tersebut lumayan fair. Rutenya adalah dari Sukosari menuju Sempol, lalu dari Sempol menuju pos pertama Kawah Ijen atau yang bernama Paltuding. Di Paltuding, kami harus kembali membayar tiket masuk per orang kalau tidak salah Rp2000,- (kecuali untuk bapak-ibu Jerman tadi).

Fasilitas di areal kawasan Kawah Ijen lumayan lengkap, ada camping ground, WC -yang tak boleh digunakan untuk mandi- , dan beberapa warung. Beberapa hari sebelumnya saya browsing, tertulis bahwa diperlukan waktu 3 jam jalan kaki  dengan jalan setapak berpasir untuk sampai ke Kawah Ijen dari Paltuding. Keril kami titip di kantor, saya hanya membawa botol air 900ml dan tas pinggang.

“Hiking Ceria”, itulah yang pantas saya sematkan untuk trek dari Paltuding menuju Kawah Ijen. Benar-benar ceria karena trek sudah rapi dibuat berpasir untuk memudahkan penambang belerang lalu lalang melalui jalan tersebut. “Ceria” bagi kita yang sekedar hiking ke Kawah, mungkin “tidak terlalu Ceria” untuk penambang belerang yang memanggul bongkahan belerang yang beratnya mungkin mencapai 80 kg atau lebih.

Trek didominasi oleh jalan berpasir dengan lebar kira-kira dua meter. Tidak seperti kebanyakan gunung lain yang hanya berupa jalan setapak. Pemandangan selama naik pun cukup oke. Kita bisa lihat gagahnya gunung Raung di belakang, dan bukit hijau di depan kita jika menjelang sampai ke tepi kawah. FYI, jarak dari Paltuding menuju ke puncak adalah 3 km. Yah mirip-miriplah dengan jarak parkiran Cibodas ke air terjun Cibereum di Taman Nasional Gede Pangrango. Sedangkan elevasinya dimulai dari ketinggian 1800an meter naik hingga 2300an meter. Jadi kira-kira akan menanjak setinggi 500 meter.

Pondok BunderDengan info di atas dan menggunakan konsep trigonometri sederhana, jalur mempunyai kemiringan sekitar 12 derajat. Tidak terlalu curam kan? karena itu hanya pendekatan secara sederhana saja. Padahal terdapat bonus turunan atau jalan mendatar di beberapa tempat sehingga jalur menjadi defisit beberapa derajat. Defisit beberapa derajat berarti harus dibayar dengan kecuraman di tempat lain karena jalur yang kita lewati berupa kontur permukaan kontinu. Tentu kecuraman sudut akan berkurang jika trek atau cara berjalan kita zig – zag. Cara berjalan zig – zag ini yang sering saya gunakan ketika naik gunung.

Setelah di Paltuding, kita akan melewati suatu tempat yang bernama Pondok Bunder di ketinggian 2214 mdpl. Pondok Bunder mungkin tempat peristirahatan para penambang belerang karena disini ada beberapa bangunan. Ada juga warung kalau anda ingin rehat sebentar sebelum menuju ketinggian 2300 mdpl. Kira – kira satu jam 45 menit, kita berdua telah sampai di Kawah Ijen. Saat itu angin mengarah ke (kalau tidak salah) utara sehingga bau belerang tidak terlalu terasa. Dinding kawah didominasi warna putih – cokelat, air di dalam kawah berwarna biru. Lengkap dengan kepulan asap putih pekat. Angin di bibir kawah lumayan kencang. Menurut Wiki, tingkat keasaman air di kawah mencapai 0.5, tentu ide yang buruk jika anda ingin berenang di sana. Karena kami berdua naik ke atas saat siang hari, jadi matahari sedang terik-teriknya di atas kepala. Namun percayalah tidak terlalu panas karena angin yang bertiup bagai AC, sangat sejuk. Tetapi saran saya tetap menggunakan sunblock.

Setelah kira-kira satu jam menikmati Kawah Ijen, kami berdua langsung turun. Ternyata turun lebih cepat lagi karena selain perut sudah lapar karena kami tidak sarapan, juga kami harus mengejar bis terakhir menuju Situbondo hari itu juga untuk ke Magelang. Si bule Jerman memutuskan untuk pulang duluan karena sudah ada tukang ojek yang menunggu sedari tadi di parkiran. Mereka ingin pergi ke Bromo sepertinya. Pada awalnya mereka ingin mengikuti kami berdua untuk naik Merbabu (yang tadinya mereka kira kami ingin naik Merapi sampai – sampai mereka tanya apa lewat jalur Selo atau Kaliurang setelah membaca Lonely Planet). Sebelum berangkat dan packing ulang, kami berdua masak spaghetti terlebih dahulu di bawah pohon yang rimbun seperti orang lagi piknik 🙂

Kira – kira jam 4 atau setengah 5 sore kami sampai kembali di Gardu Atak. Saya menunggu bis menuju Situbondo di depan Indo*maret Wonosari sembari packing ulang dan cek logistik untuk pendakian selanjutnya yaitu Merbabu

Berikut tips yang mungkin perlu di catat:

  • Sebenarnya ada angkutan umum yang melewati Gardu Atak namun hanya sampai Sempol. Angkutan umum berupa Elf besar ini mulai ada sekitar pukul 9 pagi (kami sampai Gardu Atak terlalu pagi). Entah berapa tarifnya, tetapi jelas lebih irit ketimbang naik ojek dari Sukosari atau bahkan dari Gardu Atak langsung. Dari beberapa info di internet, naik ojek dari Sempol ke Paltuding sekitar Rp50.000,-
  • Bawa uang secukupnya karena ATM di daerah ini sangat jarang. Hanya ada beberapa ATM BRI dan semacam sudah lama tidak digunakan. Jika tidak ketemu, coba anda ke daerah Wonosari (sekitar 2 km arah Bondowoso dari Gardu Atak). Ada ATM Mandiri dan BNI di sana.
  • Jangan barengan dengan wisatawan bule kalau tak mau kena ongkos mahal. Ini juga yang menjadi curhat si bule ke Alde, ia bilang mengapa di Asia selalu begitu? (bule kena ongkos lebih mahal)
  • Sekali anda sampai Paltuding, pikirkanlah bagaimana cara pulang. Ide yang paling bagus adalah anda janjian dengan tukang ojek. Tawarkan suatu harga untuk pulang dan pergi, bayar kira-kira sepertiganya terlebih dahulu lalu dua pertiga ketika pulang untuk menjamin mereka kembali ke Paltuding.
  • Kalau mau beli minuman/makanan kecil, Sempol adalah lokasi terakhir jika anda ingin harga yang lebih murah 🙂
  • Pastikan sebelum bermain ke Kawah Ijen, anda harus olah raga terlebih dahulu. Jangan anggap enteng jarak 3 km. Jika tubuh anda belum terbiasa berjalan kaki, mulailah terbiasa. Jangan pernah anggap enteng gunung apapun. Sudah ada korban jatuh di Gunung Ijen

Save as Draft

Mungkin ada juga yang sering mengalami suatu situasi di mana anda sudah mengetik suatu artikel panjang lebar, namun seketika itu pula tulisan tersebut dibuang karena merasa tulisan ini sampah. Entah dibuang dengan cara di delete (jika menggunakan komputer), diremuk-remuk kertasnya menjadi bola lalu dibuang ke bak sampah, atau yang terakhir yang merupakan favorit saya, Save as Draft lalu tak disentuh kembali di kemudian hari

Beruntung tulisan ini tidak berakhir ke Save as Draft

Tulisan tentang orang dewasa dan cintanya

Tulisan dibawah ini adalah karya J.Sumardianta. Saya ketik ulang dari buku beliau yang berjudul Guru Gokil Murid Unyu halaman 278.

Orang dewasa yang berada jauh dari orangtua akan sering merindukan ibu. Mungkin karena ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaan setiap hari. Namun, sesungguhnya ayahlah lah yang mengingatkan ibu untuk meneleponmu. Saat kecil ibu memang sering mendongeng. Namun, sepulang kerja dengan wajah berminyak karena kelelahan, ayah yang menanyakan apa yang kamu lakukan seharian.

 

Saat kamu batuk atau pilek, ayah membentak, “Sudah dibilang jangan minum es,” karena ayah khawatir. Saat remaja, kamu menuntut untuk boleh keluar malam. Ayah melarang karena hanya ingin menjaga anak yang dikasihinya.

 

Saat kamu melanggar aturan jam malam, ayah selalu menunggu di ruang tamu dengan sangat cemas. Ketika kamu pamit hendak kuliah di kota lain, badan ayah seperti kaku ingin memelukmu. Saat kamu merengek keperluan ini itu, ayah mengernyitkan dahi. Tanpa menolak ayah memenuhinya. Saat kamu wisuda, ayah orang yang pertama berdiri dan bertempik sorak kegirangan. Ayah tersenyum bangga.

 

Sampailah saat ketika calon pasanganmu datang minta izin mengambilmu. Dengan hati-hati ayah mengikhlaskanmu disunting. Saat melihatmu duduk di pelaminan dengan orang yang dianggapnya layak, ayah sangat berbesar hati.

Ayah berdoa dalam hati, Ya, Tuhan, jihadku sudah selesai. Setelah itu, ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu membawa cucu-cucunya. Tentu dengan rambut memutih dan tubuh mulai renta. Ia sudah tidak begitu kuat lagi untuk melindungi, menjaga, dan merawatmu.

 

Mengapa orang gampang jatuh cinta? Karena saat itu buta, bisu, dan tuli terhadap keburukan calon pasangannya. Saat memasuki pernikahan, tiada yang bisa ditutupi lagi. Semua belang akan tersingkap dalam interaksi 24 jam per hari dalam seminggu.

 

Dari kisah heroik seorang ayah di atas bisa ditemukan perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta. Jatuh cinta dalam keadaan menyukai. Bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel. Cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan itikad baik memahami konflik. Bersama-sama mencari solusi yang dapat diterima kedua belah pihak. Cinta yang dewasa tidak menyembunyikan unek-unek.

 

Syarat keberhasilan pembicaraan masing-masing bisa saling memperhitungkan perasaan. Jika suami – istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi. Rumah tangga berubah bukan surga lagi, melainkan neraka. Masing-masing harus mengingat komitmen awal mereka. Apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup? Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang justru bermusuhan?

 

Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta. Kedua pihak saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, berbagi, mengalah, dan bertanggung jawab.

 

Ada kecerendungan kuat mahligai rumah tangga keluarga-keluarga muda modern kandas di tengah jalan. Perselisihan biasanya dipicu persoalan remeh, tapi berujung keributan besar. Ludwig Witgenstein, filsuf dari Jerman, punya alegori, “Jika yang kau miliki hanya palu, segalanya akan tampak seperti paku.” Maksudnya, jika di benak pasangan suami – istri yang ada hanya ketidakcocokan yang mereka pikirkan, ya, berpisah melulu.

 

….

 

Sholat menurut Syekh Abu Salaf

Paparan dibawah ini adalah salah satu potongan isi buku karya Nugroho Suksmanto yang berjudul Lauh Mahfuz. Jikalau nanti tulisan ini dianggap melanggar hak cipta, dengan rela saya akan hapus postingan blog ini. Semoga turut membantu pak Nugroho untuk mempromosikan bukunya itu 🙂

Perihal salat, Syekh Abu Salaf menyampaikan :

“Mengacu kepada Alquran, sebagaimana dinyatakan dalam awal surat Al-Baqarah (Ayat 1-4), setelah yakin atau percaya kepada yang gaib, maka umat Islam diperintahkan untuk beribadah secara vertikal atau transeden, yang berarti menjangkau Sang Khalik ke luar batas semesta alam.

“Dan secara horizontal berupa tuntutan kesungguhan akan kepedulian kepada sesama umat manusia. Inilah konsep paling mendasar dari ibadah Islam, yang disebut sebagai hablum-minallah dan hablum-minannasHal itu mengandung pengertian ‘segala yang kulakuan adalah penghambaan kepada Allah semata dan segala karunia-Nya, akan kusyukuri dan sebagian kusisihkan bagi kemaslahatan manusia’.

“Manifestasi hablum-minallah adalah sebagaimana diperintahkan Tuhan, yaitu dengan mendirikan salat. Syariat lain yang melengkapi Rukun Islam adalah : menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadan, dan naik haji.

“Salat arti semantiknya adalah doa. Didahului dengan kata mendirikan, mengandung arti harus dijalankan dengan disertai niat yang kuat serta dilakukan dengan penuh kesungguhan. Hingga menumbuhkan nuansa atau suasana khusyuk. Apalagi Tuhan kemudian menetapkan rukun – rukun yang sangat jelas menyertai. Tanpa itu ritual yang dijalani hanyalah semacam olahraga belaka atau prosesi tanpa arti.

“Rukun – rukun tersebut menyiratkan akan hakikat diciptakannya manusia, yaitu sebagai makhluk yang dibekali kemampuan menangkap perlambang atau simbol, atau yang disebut sebagai makhluk simbolik. Perlambang atau simbol tersebut merupakan kekayaan budaya dan peradaban manusia. Dengan menggunakan simbol – simbol itulah komunikasi atau hubungan tali rasa dengan Tuhan dilakukan, … dengan tanpa perantara. Simbol atau perlambang dalam berkomunikasi dengan Tuhan adalah melalui rukun – rukun dalam salat, yaitu takbir, rukuk, sujud, dan salam.

“Sebenarnya, doa dari para penganut agama samawi sebelumnya, juga memiliki rukun yang sama. Namun, sekarang ini terlupakan sebagai sebuah ritual simbolik transenden yang sebenarnya paling dikehendaki oleh Tuhan. Yang tertinggal hanya berbagai prosesi yang diciptakan, baik merupakan kreasi sendiri atau melalui lembaga keagamaan. Puji – pujian serta dakwah ulama kemudian menjadi unsur utama dalam melakukan renungan atau kebaktian. Karena itulah melalui Alquran Tuhan mengingatkan kembali agar mendirikan salat, sebagai ritual doa transenden saat berkomunikasi atau melakukan kontak batiniah dengan-Nya.

“Transendensi juga diisyaratkan secara simbolis oleh Tuhan melalui turunnya ayat Kursi, yaitu ayat ke – 255 surat Al-Baqarah. Esensinya, yang bermakna simbolik, adalah menerangkan bahwa kolong dari kursi atau singgasana Tuhan adalah alam semesta atau jagat raya. Dengan demikian Tuhan tentu tidak berada bersama manusia di alam atau kosmos yang sama. Karena itulah diperlukan cara bagaimana menjangkau Tuhan yang berada di kosmos atau realm yang berbeda. Dengan sangat jelas dan tegas, dalam Alquran, Tuhan memberikan jalan atau cara, yaitu melalui salat.”

“Apa sebenarnya yang akan didapat manusia dengan mendirikan salat, Syekh?” tanya Panji.

“Setiap agama menuntun umatnya pada suatu perenungan. Perenungan yang mengarahkan batin menukik tajam ke dalam kalbu dilakukan melalui meditasi. Salat adalah meditasi tertinggi dalam Islam.

“Manfaat salat tentu amatlah banyak, baik yang membawa dampak positif secara fisik, psikologis, ataupun medis.

“Coba simak yang diungkapkan oleh cendekiawan Budiman Mustofa:

‘Pertama, salat dapat digunakan sebagai penyaluran atau aktualisasi peran penghambaan atau ubudiyah manusia kepada Sang Khalik. Allah berfirman dalam surat adz-Dzariyat, ‘Tidaklah Aku ciptakan manusia melainkan agar mereka menghamba/menyembah kepada-Ku.’

“Kedua, untuk memperoleh penguatan jiwa. Karena dengan menjalankan salat, jiwa seseorang akan mendapat semangat baru dari Rabbul ‘Izzati, Allah, saat dia merasakan kedekatan dirinya dengan Sang Khalik.

“Ketiga, terangkatnya martabat atau harga diri seseorang. Karena dengan salat seseorang akan merasa dirinya bersandar pada Dzat Yang Mahamulia, yang kemudian akan juga menumbuhkan rasa percaya diri, sebab merasa dirinya seorang hamba yang mulia.

“Keempat, salat akan menjadi rehat jiwa atau yang disebut rahan nafsiyyah dan membuahkan ketenangan rohani atau thuma ninah ruhiyyah, yang menjauhkan manusia dari kelalaian yang memalingkan dari tujuan mulianya. Dalam khusyuk salat, manusia diarahkan untuk lepas dari masalah duniawi atau yang terkait dengan kebendaan, yang kemudian akan meraih ketenangan dan kedamaian jiwa.

“Kelima, salat akan merupakan pijakan untuk melakukan loncatan dari dunia atau kehidupan yang sempit mengurungnya, munuju dunia atau kehidupan yang sangat luas tak terbatas. Karena itu terlepaslah perasaan yang memenjarakan. Muncullah kebebasan yang meruntuhkan penghalang pikiran atau mind block, yang akan membuahkan kemampuan berekspresi dan menumbuhkan kreativitas dan inovasi.

“Keenam, dengan salat manusia akan terbiasa dengan disiplin dan keteraturan. Karena itu dalam melakukan tugas – tugas lain akan merasa tak terbebani, karena rasa enggan dan malas dikikis melaui salat.

“Ketujuh, dengan salat akan tumbuh jiwa persaudaraan, kebersamaan, dan kesetaraan yang kita kenal sebagai jiwa gotong royong. Karena dalam salat tiada keistimewaan bagi pelaku salat atau umat. Semua menjalankan ritual yang sama.

“Kedelapan, yaitu yang paling penting, salat akan menumbuhkan akhlak mulia, melalui lafal dan doa yang maknanya diresapi.””

“Mengapa salat harus menghadap ke kiblat, Syekh?”

“Nuansa yang diupayakan sewaktu menunaikan salat adalah khusyuk. Karena itu segala sikap dan tindakan harus diarahkan untuk mencapai kekhusyukan itu. Diawali niat yang melahirkan kesadaran penuh yang mengalir, dilanjutkan dengan orientasi kepada pusat kesucian Islam yaitu Kakbah, yang telah ditetapkan sebagai kiblat.

“Sebelum Kakbah menjadi kiblat, pernah Masjidil Aqsha menjadi arah menghadap ketika umat Islam menunaikan salat. Perubahan kiblat terjadi ketika Nabi sedang salat, menerima perintah untuk mengalihkan kiblat. Karena itu masjid tempat Nabi melakukan salat dan kemudian menerima perintah mengubah kiblat, dinamakan Masjid Qiblatain.

“Sikap – sikap lain menunjang kekhusyukan kemudian menyertai, seperti kebersihan diri, pakaian yang dikenakan, tegaknya berdiri, fokus pandangan, konsentrasi, dan lain-lainnya.”

“Lalu, sebenarnya apa yang harus dilafalkan dalam salat?”

“Lafal atau bacaan salat dapat bermacam-macam. Tetapi semua ulama mengatakan bahwa salat tidaklah sah tanpa membaca Al-Fatihah, sebagaimana Rasul pernah bersabda, ‘Tidaklah sah salat seseorang yang tidak membaca fatihatul kitab.’

“Kalaupun takbir kemudian disertai kata Allahu akbar, karena sudah dari asalnya dua hal itu menjadi satu kesatuan. Demikian pula menyatunya salam dengan kalimat assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

“Untuk kesempurnaan salat, para ulama Salaf menerbitkan fatwa, dengan menganjurkan sebagaimana dilakukan Rasul dan para sahabatnya, untuk menyampaikan satu bacaan yang dinamakan bacaan pendahulu sebelum membaca Al-Fatihah.

“Ini menyiratkan bahwa seseorang telah masuk dalam salat dengan menghadapkan wajah kepada Allah dan memberikan kesaksian bahwa apa yang dilakukan baik dalam salat dan memberikan kesaksian hidup serta matinya adalah hanya untuk Allah.

“Dan para ulama Salaf menganjurkan pula pada dua rakaat pertama salat, untuk membacakan cuplikan ayat-ayat Alquran setelah mengakhiri pembacaan Al-Fatihah.

“Aku kira dari uraian di atas, kamu dapat memahami, mengapa salat harus dilaksanakan dengan menggunakan bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab.”

“Ya, Syekh. Sepenuhnya saya mengerti sekarang. Salat adalah ritual simbolik yang diperintahkan Allah untuk menjalin tali rasa dengan-Nya, yang harus dijalankan dengan khusyuk dan perlu diresapi makna lafalnya. Nuansa itu kurang mencapai atau sasaran serta tidak memberikan kesempurnaan dalam khidmat, ketika dilakukan dengan menggunakan bahasa selain Arab.”

Definisi

Jika kemarin sewaktu interview Dream Destination Papua saya ditanya :

“seandainya kamu terpilih dan berangkat ke Papua, kamu berani coba pake koteka tidak?”

pertanyaan ini saya jawab

“berani, asalkan tidak ada yang foto dan tidak ada orang sini (rombongan, hanya bersama suku dari Papua itu) yang bersama dengan saya pakai koteka”

Itulah jawaban saya, itu bukanlah ekspresi dari saya malu menggunakan koteka. Tapi jika dipikir jauh lebih dalam, saya berani bilang jawaban saya bermakna lebih dari itu

Sebelum ke apa arti makna jawaban saya itu, saya mempertanyakan mengapa definisi beradab atau tidak primitif bagi sebagian besar masyarakat itu adalah harus memakai baju dan beragama salah satu agama langit? Bagi kita yang sehari-hari pakai baju untuk bepergian, inilah yang kita namakan beradab, berbeda jika kita melihat suku-suku yang kita bilang primitif hanya karena tidak menganut agama dari pilihan 6 agama yang telah disediakan dan tidak memakai baju.

Sayangnya hanya segelintir orang yang mempunyai insight tentang asas definisi ini. Jangankan untuk berpikir tentang definisi apa yang sedang berlaku, tetapi kita cenderung memaksakan definisi tersebut dengan memakaikan mereka baju dan memberikan mereka ajaran agama yang sama dengan kita.

Oleh karena itu, saya menjawab berani dengan syarat tidak ada yang foto dan tidak ada orang yang berasal dari ‘kalangan’ saya sendiri, berarti tidak ada orang lain kecuali saya dan suku tersebut melihat saya memakai koteka saja. Berarti saya menutup kemungkinan pemaksaan definisi tersebut. Pemaksaan dari segelintir orang yang membuat saya atau bahkan bisa saja melabeli saya dengan label primitif.

Ini mungkin dapat sekaligus menjawab pertanyaan apa hubungannya travel dengan matematika. Kami terbiasa men-set otak kita untuk menyepakati definisi yang berlaku 😀