Sense of Googling

Kalau pernah dengar istilah “sense of belonging”, maka saya mengusulkan seorang mahasiswa harus mempunyai sense of googling yang kuat. Sense of googling adalah suatu tools untuk membantu mahasiswa yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Sudah bukan jamannya lagi kita bertanya hal-hal definitif di ruang kelas seperti “apa sih bu artinya xxx?” atau “siapa bu yang pertama kali menerapkan teori YYY?”. Suasana dan waktu yang ada di kelas akan banyak terbuang percuma jika hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang dilontarkan. Mengapa? karena tidak perlu seorang dosen untuk menjawab hal-hal tersebut, cukup buka handphone, browser, lalu lontarkan pertanyaan tersebut ke Google dan carilah web-web yang pantas untuk dijadikan referensi sehingga kelas akan menjadi ajang diskusi argumentatif, bukan definitif lagi.

Dari pengalaman saya selama menjadi mahasiswa dan mencari informasi di google, saya memang berangkat dari Wikipedia dan Wolfram (karena bidang saya matematika). Beberapa kampus termasuk kampus saya mengharamkan mengambil referensi dari Wikipedia. Tapi bukan berarti lantas kita tidak boleh membaca dari sana. Wikipedia bagus sebagai informasi awal dari apa yang kita cari, bacalah halaman yang kita inginkan lalu setelah mengerti, silahkan lihat di bagian “pranala luar” atau reference, biasanya yang dijadikan reference adalah buku-buku terkait. Itulah yang kemudian harus kita cari selanjutnya dan kita jadikan bahan referensi sebenarnya.

Cara lain adalah mencari paper atau jurnal ilmiah di google. Saya sering sekali menggunakan perintah tambahan “filetype:pdf” untuk mencari dokumen-dokumen yang bisa saya baca terkait suatu hal yang saya cari. Sangat membantu sekali.

Hampir Tidak Percaya Ini Sebuah Kebetulan

Setelah makan bakso Semar di jalan Cihampelas yang enak dan murah itu, saya kembali ke cockpit (ini sebutan untuk meja laptop saya) dan chatting dengan Alde, dia menemukan blog lama saya di multiply. Hehmm.. isinya hanya racauan anak SMA saja. Tetapi yang menarik, saya menemukan tulisan saya tertanggal 19 Januari 2008 seperti berikut :

Dalam cabang ilmu bisnis, terdapat salah satu ilmu aktuaria, selain akuntansi, keuangan, perbankan dan berbagai macam pecahannya. Aktuaria merupakan ilmu yang mengkaji kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di muka atau di masa depan dengan pendekatan keuangan matematika (formula) dan statistics. Aktuaria erat kaitannya dengan keuangan dan perhitungannya.

Aktuaria sering dikaitkan dengan investasi dan valuasi asset (investment and valuation), Manajemen Resiko (Risk Management), asuransi (insurance), dan dana pension superannuation karena tugas seorang aktuaris memang menghitung secara rinci segala resiko dengan keuangan yang mungkin muncul karena kegiatan ekonomi. Pekerjaan seorang aktuaris memang menghitung secara rinci resiko yang berkenaan dengan investasi dan resiko keuangan yang mungkin muncul karena kegiatan ekonomi. Pekerjeaan aktuaris tidak akan jauh-jauh dari urusan prediksi kalkulasi dan perumusan angka-angka keuntungan dan kerugian atas segala kemungkinan yang akan terjadi pada masa depan, maka itu tugas utama mereka disebut Managing Uncertainty. Aktuaris meramal dengan pendekatan matematis dan statistic dan dapat dipertanggung jawabkan dengan rasio dan angka, bukan mistis.

Karir aktuaris menduduki salah satu dari 10 profesi termahal di amerika. Aktuaris di Indonesia belumlah begitu banyak walau diperlukan di banyak sektor seperti perbankan, perusahaan asuransi, investasi atau penanaman modal, badan-badan keuangan, konsultan keuangan, perumus kontrak, perencana keuangan dan lain-lain.

Untuk menjadi aktuaris, ada beberapa tahap yang disyaratkan yaitu lulus ujian mata kuliah yang disyaratkan oleh Ikatan Aktuaris Indonesia untuk tahap Ajun Aktuaris dan Aktuaris seperti probabilitas dan statistik, teori ekonomi, dasar akuntansi, matematika asuransi, teori resiko, asuransi jiwa, dan sebagainya.

Sumber : artikel ini ditulis oleh Macquire University Sydney, Australia (CRICOS Provider Code 00002J)

Buku Panduan Studi ke Luar Negeri 2008/2009 , Erajasa Globalindo

Saya ingat persis 19 Januari 2008 itu masa disaat saya belajar serius untuk mempersiapkan USM ITB di bulan Maret. Tulisan ini saya buat setelah berkunjung ke pameran pendidikan Australia di Kemang, dan membawa pulang beberapa booklet, salah satunya yang berisi ttg program studi yang ada di Australia tetapi tak ada di Indonesia, salah satu yang menarik di hati saya waktu itu sehingga membuat tulisan ini adalah Aktuaria (Actuarial Studies/Actuarial Science).

Entah ini kebetulan atau gerak tidak sadar saya. Pertama kali menginjakkan kaki di kampus gajah itu saya tak pernah mempunyai pikiran akan menekuni bidang aktuaria. Malah setelah diterima di FMIPA saya ingin masuk jurusan Fisika, entah kenapa juga ketika semester 2, di penghujung Tahap Persiapan Bersama, saya mengubah pilihan Matematika di pilihan pertama, lalu berturut-turut Fisika, Astronomi, dan Kimia.

Menariknya lagi, di 2 tahun pertama saya kuliah di Matematika ITB, saya tidak punya pikiran sama sekali untuk menekuni Aktuaria walaupun saat itu saya tahu bahwa jurusan Matematika punya spesialisasi kesana, saya fokus mengambil kuliah kombinatorika seperti Graf dan Teori Koding. Lalu tiba-tiba sekali, semester 7, saya mulai fokus ke kuliah-kuliah Aktuaria (yang berkorespondensi ke modul ujian Persatuan Aktuaris Indonesia).

Dan, bagian paling menarik, Artikel yang saya tulis lebih dari 4 tahun yang lalu itu sumber utamanya adalah booklet dari Macquire University, lalu 4 tahun kemudian saya mempunyai dosen pembimbing tugas akhir yang menyelesaikan Ph.D nya disana.


Update July 14, 2016

Saya tidak mengerti mengapa artikel ini ramai dikunjungi. Saya sudah mencoba beberapa keyword search di Google apakah artikel ini selalu ditampilkan di halaman pertama jika seseorang mencari informasi tentang Aktuaria. Ternyata itupun juga tidak.

Beberapa orang pembaca ada yang mengirim email ke saya (karena saya cantumkan email saya di komentar post ini) untuk bertanya langsung mengenai profesi Aktuaria. Saya sangat mengapresiasinya dan sangat senang sekali untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut. Beberapa pertanyaan masih terkait apa itu jurusan matematika dan aktuaria, perbedaannya apa, kuliahnya bagaimana. Untuk itu saya sudah membuat post ini yang berisi agak lengkap dengan isi dari kuliah di jurusan Matematika.

Saat membuat tulisan di atas, saya masih belum lulus dari kampus Gajah. Itu kira-kira 4 tahun yang lalu. Sebelum wisuda bulan April 2013, saya diterima bekerja di salah satu perusahaan asuransi bertempat di bilangan Sudirman Jakarta Selatan di divisi Product Actuarial.

Untuk ujian profesi dari Persatuan Aktuaris Indonesia, dari total 10 mata ujian, saya sudah menyelesaikan 9 mata ujian. Sehingga butuh satu lagi ujian untuk menjadi Fellow Society Actuaries Indonesia (FSAI). Informasi mengenai ujian profesi aktuaris dapat dilihat di web Persatuan Aktuaris Indonesia ini dan ini

Bagi teman-teman pembaca yang mempunyai pertanyaan, dapat langsung kontak saya via email adrianpradana@gmail.com atau Telegram @adrianpradana

Sedikit Tentang Mortalitas Dalam Asuransi Jiwa

Bagi perusahaan asuransi jiwa (life insurance), mortalitas adalah hal yang sangat penting sekali untuk menentukan berapa premi yang pantas untuk seseorang. Mortalitas disajikan dalam bentuk peluang, iya, peluang seseorang berumur (x) akan meninggal t tahun lagi. Wah kok umur orang bisa dihitung peluangnya? katanya hidup-mati orang tidak ada yang tahu? ini adalah pemahaman yang salah, matematikawan hanya bisa mengukur peluang, angka yang muncul di peluang itu adalah suatu proses ‘mengintip’ masa depan, yang Maha Kuasa lah yang menentukan. Tetapi sebagai manusia, lebih baik dari sekedar mempasrahkan hal ini, setidaknya kita sedikit berusaha dengan kemampuan hehe, ngomong apa saya ini.

Terdapat beberapa model matematika untuk mortalitas manusia ini, yang saya tahu diantaranya Makeham, De Moivre, dan Gompertz. Ketiga hal yang saya sebut sebelumnya adalah ‘formula’ dari manusia yang berumur (x). Dari situ kita bisa tahu berapa peluang seseorang berumur (x) mati atau hidup t tahun lagi. Karena berkaitan dengan peluang, lamanya manusia bertahan hidup ini merupakan suatu peubah acak, sebut saja itu dengan T(x). T(x) ini sifatnya spesial, fungsinya akan berbeda karena bergantung dengan nilai (x). Sebagai ilustrasi, distribusi dari lamanya umur dari orang yang berumur 25 tahun dengan 65 tahun akan berbeda. Orang yang berumur 25 tahun distribusinya lebih menceng ke kanan (diperkirakan masih berpeluang besar untuk dapat hidup sampai umur 60++) sedangkan yang umurnya 65 lebih menceng ke kiri, mungkin ‘saatnya sudah dekat’ :D.

Grafik Peluang Hidup

Model mortalitas yang saya sebut diatas berbentuk suatu formula, namun pada prakteknya perusahaan asuransi lebih suka menggunakan tabel mortalitas. Tabel mortalitas adalah tabel yang berisi peluang orang dapat bertahan hidup atau mati pada umur tertentu. Tabel ini dibuat melalui penelitian dan mungkin hanya berlaku untuk satu negara. Pasti pembaca sangat setuju bahwa mortalitas warga negara antara negara satu dan yang lainnya jelas berbeda. Di Indonesia rata-rata umurnya itu 60 tahun mungkin. Hidup sampai umur 70 tahunan saja sudah alhamdulillah. Tapi bagaimana dengan kawan kita di negara-negara yang sedang konflik seperti Somalia, Palestina, Irak atau negara dengan tingkat kelaparan/persebaran penyakit yg parah. Mungkin saja jarang ditemukan orang berumur panjang.

Tabel mortalitas sebenarnya juga dibangun dari model mortalitas yang saya sebut diatas, Saya pernah mendapatkan tugas untuk memodelkan umur seseorang dengan menggunakan Matlab. Mudah ternyata karena beberapa koefisien penting dari model Gompertz yang kami gunakan sudah diberikan. Sangat menarik apabila saya mencari peluang hidup saya berakhir dalam 1 tahun? 5 tahun? 10 tahun? atau 5 menit lagi? hehe.

Mendaki Gunung Burangrang PP

Sebelumnya saya ceritakan dulu mengenai gunung Burangrang. Gunung ini terletak di sebelah utara dari kota Bandung. Bersebelahan dengan gunung Tangkuban Perahu yang berada di sebelah timurnya. Mempunyai ketinggian 2064 meter diatas permukaan laut. Gunung ini adalah gunung purba. Saya kurang tahu kenapa disebut gunung purba, mungkin karena gunung ini sudah ada dari jaman prasejarah #ngasal.

Untuk dapat mencapai gunung ini, dari kota Bandung kita dapat mengambil angkutan umum ke arah Ledeng, lalu tinggal nyebrang dari terminal Ledeng ada angkot putih jurusan Ledeng – Parongpong. Parongpong adalah salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Bandung Barat. Dari sini, dengan melihat ke arah utara kita sudah dapat betapa gagahnya gunung Burangrang di sebelah kiri dan gunung Tangkuban Perahu di sebelah kanannya. Biasanya puncak Burangrang tertutup oleh kabut.

Sedangkan untuk mendaki ke puncaknya, yang saya tahu terdapat 2 jalur pendakian yaitu pertama melewati gerbang Komando dan kedua melewati jalur legok haji. Disebut jalur komando mungkin karena jalur ini melewati daerah latihan Kopassus, sehingga untuk dapat naik ke gunung kita harus lapor dulu di pos pintu angin, sekitar 20 menit berjalan kaki dari gapura bertuliskan “KOMANDO” di sisi jalan raya Parongpong – Cisarua. Jalur ini sangat terkenal di kalangan pendaki pemula (mungkin) karena mempunyai trek yang lebih landai dan pemandangan yang lebih memukau dibandingkan jalur legok haji yang lebih curam dan hanya melewati rimbunan hutan saja.

Hari Sabtu, 14 Januari 2012, saya berdua dengan teman saya Rifqi FI09 mendaki gunung ini secara PP (pulang pergi tanpa camping). Kami berangkat dari gerbang belakang kampus ITB jam 7 naik angkot Cicaheum – Ledeng, lalu lanjut dengan angkot Ledeng – Parongpong yang ngetemnya super lama itu. Kira2 sampai di gerbang komando sekitar pukul 9 kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju pos pintu angin kira2 20 menit menuju utara. Disana kami beristirahat sebentar sembari minta izin ke Burangrang oleh seorang anggota Kopassus. Dari pos itu terdapat dua jalur yaitu ke kanan dan ke kiri. Jalur kanan adalah jalur menuju Situ Lembang dan ke kiri jalur menuju puncak Burangrang.

Tepat setengah 10 kami mulai mendaki. Trek benar2 landai dan masih santai tidak terlalu menguras tenaga. Pemandangan yang dapat dinikmati adalah hutan pinus dan kokohnya Burangrang di sebelah kiri jalan. Kira-kira 10-15 menit melewati hutan pinus, vegetasi mulai berubah menjadi semak-semak lalu mulai memasuki hutan. Di dalam hutan trek masih landai dengan sesekali ada tanjakan. Karena malamnya hujan, tanjakan ini menjadi arena “perosotan” bagi kami berdua yang tidak memakai sepatu khusus trekking, malah Rifqi memakai sepatu futsal.

Makin keatas, hutan semakin padat dan sesekali jalan setapak dihalangi oleh pohon yang tumbang. Perpaduan gerakan mendaki dan merunduk menjadi sebuah kelaziman. Kira-kira setelah berjalan 1 jam, hutan semakin rimbun dan semakin basah karena kabut. Jalan setapak ini dibuat di punggungan sehingga di sebelah kiri dan kanan jalan dapat berupa jurang atau memiliki tanah yang lebih rendah. Waspadai jalanan yang licin yang mungkin saja dapat membuat kita terperosok. Setelah jalan 2 jam-an, di sebelah kanan dapat terlihat jelas (jika tidak ada kabut) pemandangan cekungan antara gunung Tangkuban Perahu dan Situ Lembang, indah sekali, sayang waktu itu kami berdua tidak membawa kamera sehingga perjalanan ini tidak ada dokumentasinya. Jika pembaca penasaran silahkan di googling saja fotonya, saya kira pemandangan ini adalah pemandangan favourite dan unik ketika mendaki Burangrang lewat jalur Komando.

Kabut juga sering turun di tempat yang tinggi ini. Kadang juga disertai oleh gerimis, sehingga wajib bawa jas hujan atau minimal jaket yang tahan air. Ketika mendekati puncak, vegetasi mulai berubah menjadi tumbuhan paku setinggi pinggang. Ada beberapa tanjakan curam sebelum sampai di puncak. Tanjakan ini berupa campuran batu dan tanah liat yang akan sangat licin jika hujan.

Kurang lebih pukul 12 siang kami telah sampai di puncak Burangrang. Pertanda anda sudah mencapai puncak adalah tugu triangulasi yang menandakan anda berada di ketinggian 2064 mdpl. Sayang masih ada saja vandalisme di tugu ini. Banyak coretan dan bahkan “relief-relief” nama diukir disana! Dari puncak Burangrang kita dapat melihat pemandangan kota Bandung di arah Tenggara (jika tidak tertutup kabut). Kota Bandung bagai kota yang digelar di dasar mangkok pegunungan yang mengelilinginya. Percayalah bahwa Bandung itu berada di cekungan dan dikelilingi oleh gunung-gunung. Melihat ke sedikit arah timur, ada gunung Manglayang yang menjadi target pendakian saya selanjutnya.

Kira-kira hanya setengah jam kami keatas, karena kabut mulai tebal dan hujan mulai turun, kami memutuskan untuk turun. Tapi kami tidak melalui jalur yang sama dengan berangkat, kami melalui jalur lain yaitu jalur legok haji yang langsung mengarah ke selatan dari puncak. Dan jalur ini curam. Bahkan ditengah jalan akan sering kita temui turunan yang membuat kita sedikit lompat karena tinggi sekali. Karena malamnya hujan, jalur ini sangat licin sekali. Saya berkali-kali terpeleset dan jatuh. Malah yang lebih parah saya sekali terpeleset jatuh terduduk, lalu meluncur ke bawah dan terguling-guling. Untung tidak ada luka yang berarti, hanya lecet-lecet sedikit. Saya perkirakan saya meluncur dari ketinggian kira-kira 2 meter.

Turunan yang curam ini akan terus ada hingga kami melewati 2 “terowongan” yang sebenarnya adalah tumbuhan yang membentuk terowongan. Jika vegetasi berubah dari hutan hujan menjadi semak-semak, anda sudah dekat dengan tepi hutan. Kira-kira setelah berjalan 2 jam 15 menit kami sudah keluar dari hutan. Kini kiri-kanan jalanan adalah padang rumput. Saya lihat ke belakang gunung Burangrang sangat kokoh dengan kabut di puncaknya. Jalur masih turun kebawah, lama-lama akan melewati perkebunan milik warga lalu akan berujung ke jalan beraspal suatu kampung (saya tidak tahu nama kampungnya). Dari jalanan kampung menuju jalan utama Parongpong Cisarua ternyata masih jauh. Beruntung kami mendapat tumpangan motor oleh penduduk setempat yang mau ke pertigaan SPN Cisarua. Disana kami naik angkot ke arah Parongpong, lanjut Ledeng dan pulang.

Mungkin ada beberapa tips dari saya

1. pastikan bawa air yang cukup. Selama diperjalanan mendaki saya tidak melihat sumber air

2. jangan lupa memakai sepatu trekking yang mempunyai sol yang tidak licin dan kasar

3. hati-hati tanaman berduri, banyak sekali di jalur legok. mungkin jika kita membawa golok akan sangat membantu

Hiking Parongpong – Tangkuban Perahu

Hiking ini dimulai dari kebun teh Sukawana, Parongpong. Saya berangkat berdua dengan teman saya, Eve. Karena perjalanan ini cukup cepat (hanya berkisar 3-4 jam saja), jadi saya tidak membawa perlengkapan yang terlalu lengkap, hanya bawa air minum 1,5 liter dan makanan kecil untuk ngemil di jalan. Kami berangkat dari pos Polisi Gandok Ciumbeleuit kemudian naik angkot ke Ledeng. Setelah disana kami menyebrang ke jalan Sersan Bajuri dan naik angkot putih Ledeng – Parongpong. Ngetemnya cukup lama, kira-kira setengah jam. Sekitar 8.30 kami sampai di gerbang menuju kebun teh Sukawana.

Kebun Teh Sukawana - Ikuti saja tiang listriknya

Dari pinggir jalan menuju kebun teh Sukawana hanya perlu 10 menitan, kebun tehnya cukup luas dan jalannya berbatu. Disana kami berhenti dulu di warung karena Eve belum sarapan. kata pemilik warung jalur yang mudah itu ikuti saja kabel listrik ke arah utara hingga habis, kemudian masuk hutan dan nanti ketemu jalan berbatu. Oke kita ikutin aja itu tiang listrik lewat kebun teh. Kira-kira 40 menit kami mencapai ke ujung kebun teh Sukawana yang berbatasan langsung dengan hutan. Iya memakan waktu 40 menit karena kami beberapa kali berhenti untuk berfoto-foto, hehe :D. Setelah tiang listrik habis, kami merayap masuk hutan karena banyak semak-semak menutupi jalan setapak sehingga beberapa kali kami harus sedikit menunduk (mungkin yang badannya pendek bisa tinggal jalan aja ya hehe). Hutannya benar-benar lembab dan jalanannya agak basah, jadi hati-hati bisa terpeleset.

Hutan Setalah Kebun Teh

Kira-kira 10-20 menit masuk hutan yang rimbun itu, kami menemukan jalan berbatu, persis dengan perkataan bapak pemilik warung di kebun Teh Sukawana tadi. Akhirnya kami ke arah kiri dimana jalanan mulai menanjak tapi landai. Jalanan inilah yang nantinya akan menuju ke tower (entah tower apa itu saya kurang tahu). Perjalanan dari mulai ketemu jalan berbatu sampai tower memakan waktu kira2 satu jam, saya kurang tahu persis berapa jarak yang ditempuh karena saya benar-benar blank jalurnya. Jalanan itu sepi sekali, sesekali kami bertemu dengan penduduk sekitar yang mengambil rumput dan berburu (membawa senapan angin). Setelah sampai di tower yang berada di kiri jalan, kami mulai masuk ke jalan setapak hutan dengan berbelok sedikit ke kanan. Disana mulai berkabut, lumayan tebal dan dingin.

Jalanan setapak ini cukup sempit dan banyak sarang laba-labanya. Untung saya mengambil tongkat kayu di sepanjang jalanan berbatu tadi. Sehingga layaknya pemain aikido, posisi tongkat itu saya pegang layaknya memegang pegang untuk menyapu sarang laba-laba yang menghalangi jalan karena tidak enak sekali kalau kena muka :(. Beberapa kali kami menemukan trek berlumpur dan becek karena disini kabut sangat tebal. Kira-kira satu jam-an kami sampai di tower penelitian petir ITB. Disana ada persimpangan yaitu lurus menuju parkiran Tangkuban Perahu dan kiri adalah kawah. Kami mengira bahwa mengambil jalur kiri dapat sekalian ke arah parkiran dengan menyusuri pinggiran kawah, ternyata tidak. Jalur kiri banyak sekali turunan curam dan sedikit tanjakan. Dan benar saja, kawah adalah benar-benar pinggir kawah dan jalan buntu, tidak ada jalan lagi. Saat itu kawah sedang diselubungi kabut sehingga kami tidak dapat melihat apa-apa disana, hanya jurang menganga dan kabut dibawahnya serta bau belerang dan suara uap kawah dari bawah.

Kembali ke persimpangan menara petir inilah yang berat. Berat karena tanjakan dan cuaca mulai hujan deras. Beberapa kali kami hampir terpeleset karena jalanan licin. Setelah sampai kembali di menara petir, kami berteduh dulu di sebuah pos mirip pangkalan ojek cuman tidak ada motor disana. Setelah hujan reda, kami berangkat lagi mengambil jalur ke parkiran Tangkuban Perahu. Keadannya jalurnya tidak terlalu berbeda dengan jalan batu ke menara petir. Sempit, becek dan banyak sarang laba-laba. Makin jauh kami berjalan, makin terdengar bunyi bising mobil-mobil dan suara orang, pertanda bahwa kami semakin dekat. Kami sampai di bagian selatan dari parkiran setelah susah payah menuruni turunan berbatu dengan tanah liat yang licin karena hujan (disana juga sedang hujan berangin). Hujan berangin, kami membuka payung, ide yang sangat buruk sekali karena angin disini sangat kencang.

Setelah sampai ke “peradaban manusia”, kami beristirahat sambil mengeringkan baju. Makan siomay haha. Ada hal lucu, orang2 disini pada masih cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Kita berdua sampai disini dengan sepatu kotor karena becek, tampang lusuh karena lelah, dan baju basah.

Kami pulang dengan naik angkot menuju lembang, lalu lanjut lagi dengan angkot Lembang – ST Hall. Kami turun di pertigaan deket jalan Ciumbeleuit.

kalau tidak hujan, sepertinya kami akan kembali lewat jalur hutan hehe

selanjutnya gunung Burangrang. Rencananya minggu ini 😀

Kembang Pete

Saya kurang ngerti, definisi romantis itu seperti apa

menurut saya lagu Kembang Pete – Iwan Fals termasuk romantis, demikian liriknya :

kuberikan padamu, setangkai kembang pete

tanda cinta abadi namun kere

buang jauh-jauh, impian mulukmu

sebab kita tak boleh bikin uang palsu

kalau diantara kita jatuh sakit

lebih baik tak usah ke dokter

sebab ongkos dokter disini,

terkait di awan tinggi

cinta kita, cinta jalanan…

yang tegar, mabuk di persimpangan

cinta kita, cinta jalanan…

yang sombong menghadang keadaan

semoga hidup kita … bahagia

semoga hidup kita … sejahtera

semoga hidup kita … bahagia

semoga hidup kita … sejahtera

kuberikan untukmu, sebuah batu akik

tanda sayang batin yang tercekik

rawat baik-baik, walau kita terjepit

dari kesempatan yang semakin sempit


2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads This blog is on fire!.

Crunchy numbers

Featured image

A helper monkey made this abstract painting, inspired by your stats.

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 1,900 times in 2010. That’s about 5 full 747s.

 

In 2010, there were 27 new posts, growing the total archive of this blog to 151 posts. There were 6 pictures uploaded, taking up a total of 2mb.

The busiest day of the year was November 28th with 46 views. The most popular post that day was Menulis Equation di Blog dengan LaTeX.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were kaskus.us, twitter.com, id.wordpress.com, google.co.id, and facebook.com.

Some visitors came searching, mostly for palangkaraya, wieteke van dort, telkom indonesia, peta konsep, and neil amstrong mendarat di bulan.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Menulis Equation di Blog dengan LaTeX March 2009
1 comment

2

Logo Baru Telkom Indonesia October 2009
1 comment

3

Sedikit Tentang Palangkaraya October 2008
1 comment

4

UTS 1 Kalkulus + Kunci Jawaban (versi saya) March 2009
2 comments

5

Wieteke Van Dort July 2009
2 comments

Tahun Baru Hanyalah Suatu Definisi

Hingar bingar diluar sana orang-orang merayakan pergantian tahun dari 2010 ke 2011. Namun tidak bagi saya. Saya tetap diam di rumah, bahkan sudah tidur sekitar jam 10 malam. Sesekali terbangun karena berisiknya kembang api yang dinyalakan orang-orang, tapi tidur lagi 😀

Selama kuliah semester kemarin, secara tidak langsung saya selalu merayakan “Hari Baru” dengan selalu begadang di depan komputer dan baru tidur menjelang subuh. Tetapi tidak pernah secara khusus merayakan “Bulan Baru” karena saya adalah tipe orang yang suka lupa sekarang hari apa atau tanggal apa.

Fenomena tahun baru memang menarik. Selain mengganti kalender dari yang lama ke yang baru, Tahun baru merupakan tahun dimana semua aspek menjadi dimulai dari awal. Seperti pembukuan perusahaan, pelaksanaan program kerja, perencanaan keuangan, dan lain-lainnya. Sehingga momen tahun baru, dimanfaatkan untuk menjadi momentum untuk memperbaiki diri karena segalanya dimulai dari nol.

Namun alam mungkin tidak ada yang berubah di tanggal spesial saat ini. Bumi tetap berotasi dan berevolusi seperti hari-hari biasa yang sudah-sudah. Definisi yang ada, tahun baru dimulai pukul dimulai setelah pukul 23.59 tanggal 31 Desember. Bumi juga berevolusi terhadap matahari seperti biasanya. Jika satu tahun diibaratkan Bumi telah menyelesaikan satu putaran revolusinya terhadap matahari, toh itupun terserah kita meletakkan acuannya dimana, tidak harus tanggal 1 Januari, asalkan sudah satu kali putaran. Hehe 😀

Jadi, Tahun Baru hanyalah suatu definisi..

Air Di Botol, Botol Di Pesawat

Sebenarnya post ini ga terlalu penting, hanya berisi sedikit fenomena yang mungkin bagi orang lain biasa saja tapi bagi saya sangat menarik sekali untuk “dikaji”

Permasalahannya seperti ini. Kemarin saya naik pesawat dari Jakarta ke Banjarmasin. Seperti biasa, saya duduk (saya selalu meminta di window) dengan tenang di dalam Boeing 737-900ER ini. Sayang kursinya tidak terlalu nyaman bagi yang punya postur badan tinggi. Jarak antar kursi bisa saya bilang sempit, dan kursi kurang empuk, hampir mirip kursi bis kota malah.

Sudahlah masalah kursi. Seperti biasa, dan suatu kewajiban bagi maskapai penerbangan untuk memberi tahu penumpang tentang aturan keselamatan di dalam kabin termasuk jika terjadi keadaan darurat seperti pesawat mendarat darurat atau adanya penurunan tekanan udara di dalam kabin.

Hal darurat kedua ini lah yang menarik bagi saya. Waktu itu saya membawa sebotol air minum mineral yang sudah saya minum setengah botolnya. Botol itu kemudian saya taruh di bersama saya, tidak dalam kompartemen tas yang berada diatas tempat duduk. Ketika pesawat mulai lepas landas dan mulai di ketinggian jelajah (menurut pilotnya 35.000 feet), botol mulai tampak seperti menggembung.

Saya mencoba memencet botol itu dengan jari saya. Dan benar, seperti tampak mau meledak. Lalu saya coba membuka botol pelan di dekat telinga saya. Saya mendengar suara “cess” seperti suara ban yang sedang di kempesi namun bunyi itu sebentar saja. Lalu saya tutup lagi hingga pesawat mendarat di Banjarmasin

Ketika sudah mendarat, saya melihat nasib botol ini lagi. Dan ternyata sekarang remuk dengan sendirinya. Padahal saya taruh di tempat yg aman dan tidak mungkin untuk saya duduki. Kini botol yang tinggal berisi seperempat, remuk tanpa ada yang meremuknya. Lemah bagai sudah digempur atau dilindas sesuatu. Saya mencoba membuka botol itu sebelum turun dari pesawat, dan yang terjadi botol itu kembali ke bentuknya semula.

Penjelasan sederhana dari fenomena itu adalah tekanan. Tekanan udara di ketinggian jelajah pesawat lebih rendah dengan berada di atas daratan. Namun perbedaannya sebenarnya tidak terlalu mencolok karena kabin pesawat berusaha menjaga tekanan untuk tetap sama sesuai dengan kebutuhan manusia. Sedangkan botol remuk menunjukkan tekanan udara di atas lebih rendah daripada dibawah. Akibatnya udara yang berada di luar botol menekan botol ke arah dalam sehingga menyebabkan botol remuk.

Mungkin agar lebih menarik lagi, saya akan mencoba membawa minuman bersoda. Tentu saja sangat beresiko membuka botol minuman soda yang ditutup sejak pesawat belum lepas landas. hehe