Carl Sagan on Astrology

The writing below was taken from Carl Sagan’s Cosmos episode 3 “Harmony of The Worlds”. I re-typed the script

Astronomy and astrology were not always so distinct. For most of human history, the one encompassed the other. But there came a time when astronomy escaped from the confines of astrology.

The two traditions began to diverge in the life and mind of Johannes Kepler. It was he who demystified the heavens by discovering that a physical force lay behind the motions of the planets. He was the first astrophysicist and the last scientific astrologer.

The intellectual foundations of astrology were swept away 300 years ago and yet, astrology is still taken seriously by a great many people. Have you ever noticed how easy it is to find a magazine on astrology? Virtually every newspaper in America has a daily column on astrology. Almost none of them have even a weekly column on astronomy. People wear astrological pendants, check their horoscopes in the morning before leaving their house, even our language preserves an astrological aspect. For example, take the word “disaster”. It comes from the Greek for “bad star”. Italians once believed disease was caused by the influence of the stars. It’s the origin of our word “influenza”.

What is all this astrology business? Fundamentally it’s the contention that the constellations of the planets at the moment of your birth profoundly influences your future. A few thousand years ago the idea developed that the motions of the planets determined the fates of kings, dynasties, empires. Astrologers studied the motions of the planets and asked themselves what had happened last time that, say Venus was rising in the constellation of the Goat? Maybe something similar would happen this time as well. It was a subtle and risky business.

Astrologers became employed only by the state. In many countries it became capital offense for anyone but official astrologers to read the portents in the skies. Why? Because a good way to overthrow a regime was to predict its downfall. Chinese court astrologers who made inaccurate predictions were executed. Others simply doctored the records so that afterwards the were in perfect conformity with events. Astrology developed into a strange discipline: A mixture of careful observations, mathematics, and record-keeping with fuzzy thinking and pious fraud.

Nevertheless, astrology survived and flourished. Why? Because it seems to lend a cosmic significance to our daily lives. It pretends to satisfy our longing to feel personally connected with the universe. Astrology suggests a dangerous fatalism. If our lives are controlled by a set of traffic signals in the sky, why try to change anything?

Here, look at this. Two different newspapers, published in the same city on the same day. Let’s see what they do about astrology. Suppose you were a Libra that is born between September 23 and October 22. According to the astrologer for the New York Post: “Compromise will help ease tension”. Well, maybe it’s sort of vague. According to New York Daily News’s astrologer: “Demand more of yourself”. Well, aslo vague. But also pretty different. It’s interesting that these predictions are not predictions. They tell you what to do, they don’t say what will happen. They’re consciously designed to be so vague that it could apply to anybody and they disagree with each other.

Astrology can be tested by the lives of twins. There are many real cases like this: One twin is killed in childhood in, say, a riding accident, or is struck by lightning but the other lives to a prosperous old age. Suppose that happened to me. My twin and I would be born in precisely the sampe place and within minutes of each other. Exactly the same planets would be rising at our births. If astrology were valid how could we have such profoundly different fates? It turns out that astrologers can’t even agree among themselves what a given horoscope means. In careful tests they’re unable to predict the character and future of people they know nothing about except the time and place of birth. Also how could it possibly work? How could the rising of Mars at the moment of my birth affect me then or now? I was born in a closed room. Light from Mars couldn’t get in. The only influence of Mars which could affect me was its gravity. But the gravitational influence of the obstetrician was much larger than the gravitational influence or Mars.

Mars is a lot more massive but the obstetrician was a lot closer.

Lights All Askew In The Heavens

Ketika Eddington melakukan eksperimen gerhana matahari total pada 1919 untuk menguji Teori Relativitas Umum yang mengatakan bahwa cahaya dari bintang akan melengkung jika melewati medan gravitasi. Kala itu Einstein bukan ilmuwan yang dikenal masyarakat eropa. Apalagi di Inggris yang masih merasa superior karena mempunyai Sir Isaac Newton.

Sir Arthur Eddington (source: itscom.com)

Maret 1919, Eddington berangkat dari Liverpool ke pulau Principe yang berada di lepas pantai Afrika di Samudera Atlantik untuk mengambil foto bintang yang berada di sekitar matahari saat terjadi gerhana matahari total. Jadi foto tersebut akan dibandingkan dengan foto yang lain dalam keadaan tidak sedang gerhana. Kedua foto akan dibandingkan dan kala itu Einstein mengatakan akan terjadi pembelokan cahaya sebesar 1,7 detik busur.

Royal Society kala itu mengadakan acara khusus untuk mempublikasikan hasil eksperimen Eddington. Suasananya sedikit aneh karena di Perang Dunia I, Inggris berseteru dengan Jerman. Dan kali itu seorang ilmuwan Inggris yang juga seorang Quaker akan membuktikan kebenaran (atau membuktikan salah) teori yang dibangun oleh ilmuwan Jerman yang juga Yahudi. Itulah indahnya sains, berlaku untuk seluruh manusia apapun warga negara, suku, dan agamanya.

Selain keanehan tersebut, ada juga suasana yang sedikit mencekam. Jika teori Einstein tentang 1,7 detik busur benar, maka teori Newton yang memperkirakan pembelokan cahaya hanya 0,8 detik busur akan menjadi salah. Parahnya kesalahan tersebut akan dibuktikan oleh ilmuwan Inggris sendiri. Pengumuman hasil eksperimen dilaksanakan di Burlington House, terdapat foto Sir Isaac Newton di sana seakan-akan akan diperlihatkan suatu momen di mana generasi ilmiah kali ini mengkoreksi apa yang ia kerjakan hampir dua abad yang lalu.

Setelah melewati perhitungan yang cukup kompleks, Eddington menyatakan bahwa pembelokan cahaya yang terjadi sebesar 1,6 detik. Sangat dekat dengan hasil yang diperoleh oleh Einstein, dan dua kali lipat dari apa yang diprediksi oleh teori Newton. Momen setelah ini yang merubah dunia. Merubah anggapan bahwa seorang ilmuwan harus berpakaian rapi dan berambut klimis. Karena efek media kala itu lah, mengapa kita sering temukan ilustrasi mengapa seorang ilmuwan harus berambut acak-acakan seperti Einstein.

Albert Einstein (source: wikipedia)

Media kala itu mulai melirik matanya ke Jerman. Warga dunia yang bosan dengan perang kini mulai terasa cerah kembali. Ternyata kultur media yang memberitakan suatu peristiwa dengan ungkapan hiperbolis itu sudah ada sejak awal abad 20. Berikut kata New York Times

ECLIPSE SHOWED GRAVITY VARIATION

Diversion of Light Rays Accepted as Affectiong Newton’s Principles

HAILED AS EPOCHMAKING

British Scientist Calls the Discovery One of the Greatest of Human Achievements

Esok harinya, New York Times kembali memasang headline

LIGHTS ALL ASKEW IN THE HEAVENS

kalau bahasa anak gaul 2013 sekarang, headline diatas cukup masuk kategori lebay. Ini kurang lebih sama dengan pemberitaan penemuan subpartikel Higgs-Boson tahun lalu. Hanya karena ahli fisika partikel tersebut mengatakan Goddamned particle karena partikel ini sulit dibuktikan (atau sulit dicari?), lalu agar terdengar bombastis media memberitakannya menjadi God Particle. Ketika sampai di Indonesia, istilah tersebut kemudian di salah pahami secara sepihak sebagai sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan.

Oh media…

Referensi :

Walter Isaacson, 2013, Albert Einstein, Bentang Pustaka
Einstein and Eddington (TV Movie), 2008, Director: Philip Martin

Pidato Bacharudin Jusuf Habibie di Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 2012

Pidato Bacharudin Jusuf Habibie
Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 2012

Bandung, 10 Agustus 2012 adrianpradana.wordpress.com

Reaktualisasi Peran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Membangun Kemandirian Bangsa

Ysh. Gubernur/Kepala Daerah Propinsi Jawa Barat,
Ysh. Para Pejabat Kementrian Riset dan Teknologi,
Ysh. Muspida dan Pejabat tingkat Propinsi Jawa Barat,
Bapak – bapak dan ibu-ibu para peneliti, dan pemerhati Iptek yang saya cintai,
Hadirin yang terhormat,

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,

HAKTEKNAS DAN N-250 sumber: adrianpradana.wordpress.com

Hari ini tanggal 10 Agustus 2012, 17 tahun lalu, tepatnya 10 Agustus 1995, dalam rangka peringatan 50 tahun kemerdekaan Indonesia, bangsa kita telah menggoreskan pena sejarahnya dengan terbang perdana pesawat terbang canggih N-250. Pesawat turboprop tercanggih — hasil disain dan rancang bangung putra-putri bangsa sendiri — mengudara diatas kota Bandung dalam cuaca yang amat cerah, seolah melambangkan cerahnya masa depan bangsa karena telah mampu menunjukkan kedapa dunia kemampuan dalam penguasaan sain dan teknologi secanggih apapu oleh generasi penerus bangsa.

Bandung memang mempunayi arti dan peran yang khusus bagi bangsa Indonesia. Bukan saja sebagai kota pendidikan, kota pariwisata, atau kota perjuangan, namun Bandung juga kota yang menampung dan membina pusat – pusat keunggulan Iptek, sebagai penggerak utama proses nilai tambah industri yang memanfaatkan teknologi tinggi (high tech).

Kita mengenang peristiwa terbang perdana pesawat N250 itu sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS), yang dalam pandangan saya salah satu dari lima “Tonggak Sejarah” bangsa Indonesia, yaitu :

Pertama : Berdirinya Budi Utomo, 20 Mei 1908 (Hari Kebangkitan Nasional – 20 Mei); adrianpradana.wordpress.com

Kedua : Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 (Hari Sumpah Pemuda – 28 Oktober);

Ketiga : Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 (Hari Proklamasi Kemerdekaan – 17 Agustus);

Keempat : Terbang perdananya pesawat paling canggih Turboprop N250 (Hari Kebangkitan Teknologi Nasional – 10 Agustus);

Kelima : Diperolehnya “Kebebasan”, dengan dimulainya kebangkitan demokrasi pada tanggal 21 Mei 1998.

Pada Tahun 1985, sepuluh tahun sebelum terbang perdananya, telah dimulai riset dan pengembangan pesawat N250. Semua hasil penelitian dari pusat – pusat keunggulan penelitian di Eropa dan Amerika Utara dalam bidang ilmu dirgantara, ilmu aerodinamik, ilmu aeroelastik, ilmu konstruksi ringan, ilmu rekayasa, ilmu propulsi, ilmu elektronik, ilmu avionik, ilmu produksi, ilmu pengendalian mutu (quality control) dsb, telah dikembangkan diterapkan di industri IPTN, di Puspitek, di BPPT, dan di ITB. adrianpradana.wordpress.com

Dengan terbangnya N250 pada kecepatan tinggi dalam daerah “subsonik” dan stabilitas terbang dikendalikan secara elektronik dengan memanfaatkan teknologi “fly by wire”, adalah prestasi nyata bangsa Indonesia dalam teknologi dirgantara. Dalam sejarah dunia penerbangan sipil, pesawat N250 adalah pesawat turboprop yang pertama dikendalikan dengan teknologi fly by wire.

Dalam sejarah dunia dirgantara sipi, pesawat Jet AIRBUS A300 adalah yang pertama kali menggunakan fly by wire, namun AIRBUS 300 ini terbang dalam daerah “transsonik” dengan kecepatan tinggi, sebagaimana kemudian juga Boeing 777.

Fakta sejarah mencatat bahwa urutan pesawat penumpang sipil yang menerapkan teknologi canggih untuk pengendalian dan pengawasan terbang dengan “fly by wire” adalah sebagai berikut :

  1. A-300 hasil rekayasa dan produksi Airbus Industri (Eropa)
  2. N-250 hasil rekayasa dan produksi industrie Pesawat Terbang Nusantara IPTN, sekarang bernama PT. Dirgantara Indonesia (Indonesia)
  3. BOEING 777 hasil rekayasa dan produksi BOEING (USA)

Fakta sejarah dunia dirgantara juga mencatat bahwa 9 bulan sebelum N250 melaksanakan terbang perdananya, pada hari Rabu tanggal 7 December 1994 di Montreal Canada, kepada tokoh yang dianggap paling berjasa dalam industri dirgantara sipil dunia diberikan medali emas “Edward Warner Award – 50 Tahun ICAO“. Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka memperingati 50 tahun berdirinya “International Civil Aviation Organisation atau ICAO”, yang didirikan pada hari Kamis tanggal 7 Desember 1944 di Chicago – USA oleh Edward Warner bersama beberapa tokoh industri dirgantara yang lain. ICAO didirikan dengan tujuan membina perkembangan industri dirgantara sipil di dunia. Upacara penghargaan tersebut dihadiri oleh para Menteri Perhubungan Negara yang anggota Perserikatan Bangsa – Bangsa.

Dalam upacara yang sangat meriah, khidmat dan mengesankan tersebut, Sekretaris Jenderal ICAO Phillippe Rochat yang didampingi oleh Sekretaris Jenderal Boutros Boutros – Ghali, menyerahkan medali emas “Edward Warner Award 50 Tahun ICAO” oleh kepada putra Indonesia, Bacharudin Jusuf Habibie.

-> Bukankah kedua Fakta Sejarah Dirgantara ini telah membuktikan bahwa kualitas SDM Indonesia sama dengan kualitas SDM di Amerika, Eropa, Jepang, dan China?

Dengan peristiwa tersebut kita dapat membuktikan kepada generasi penerus Indonesia serta masyarakat dunia, bahwa bangsa Indonesia memiliki kemampuan dan kualitas yang sama dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) secanggih apapun yang sekaligus dilengkapi dengan kokohnya iman dan taqwa (imtaq). Peningkatan jumlah dan kualitas manusia Indonesia yang terdidik tersebut juga melahirkan kesadaran akan peran dan tanggung jawab mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya generasi muda.

Para hadirin yang berbahagia

Bukan hanya Pesawar Terbang N250 yang dipersembahkan oleh Generasi Penerus sebagai hadiah Ulang Tahun Kemerdekaan ke-50 kepada Bangsa Indonesia 17 tahun yang lalu, tetapi mereka juga menyerahkan Kapal untuk 500 penumpang dan Kereta Api Cepat, yang semuanya dirancang bangun oleh Generasi Penerus.

Hal yang sekarang patut kita tanyakan adalah :

  • Hadiah HUT Kemerdekaan ke 67 apa yang dapat kita persembahkan pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, 17 tahun setelah prestasi membanggakan itu?
  • Bagaimana keadaan Industri strategis yang telah menghasilkan produk andalan yang membanggakan 17 tahun yang lalu?
  • Bagaimana perkembangan pusat keunggulan ilmu Aerodinamik, Godynamik, Getaran (LAGG), ilmu Konstruksi Ringan (LUK), Elektronik (LEN) dsb. yang telah dimulai puluhan tahun yang lalu?
  • Bagaimana keadaan pendidikan SDM yang mampu menguasai teknologi secanggih apapun?
  • masih banyak pertanyaan yang patut kita berikan dan jawab!

Pertanyaan tersebut di atas dapat dijawab dengan mengkaji fakta dan kecerendungan sebagai berikut :

  • Produk pesawat terbang, produk kapal laut, dan produk kereta api — yang pernah kita rancang – bangun — dalam “eufori reformasi” telah kita hentikan pembinaannya atau bahkan sedang dalam “proses penutupan”. Misalnya PT. DI yang dahulu memiliki sekitar 16.000 karyawan, sekarang tinggal kurang lebih 3000 karyawan, yang dalam 3 sampai 4 tahun mendatang dipensiun karena tidak ada kaderisasi dalam segala tingkat.
  • Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) yang mengkordinir 10 perusahaan yang pada tahun 1998 memiliki kinerja turn-over sekitar 10 Milliard US$ dengan 48.000 karyawan, kemudian dalam “eufori reformasi” dibubarkan! Pembinaan Industri Dirgantara, industri Kapa, industri Kereta Api, industri Mesin, industri Elektronik – Komunikasi dan industri Senjata, dsb, tidak lagi mendapat perhatian dan pembinaan!
  • KEPPRES No. 1 tahun 1980 tentang ketentuan penggunaan produk pesawat buatan dalam negeri dihapus dan PTDI tidak lagi didukung secara finansial maupun kebijakan industri pendukung lain.
  • PTDI berupaya untuk tetap bertahan hidup (survive) dengan berkonsentrasi kepada penjualan produk yang ada a.l. CN235 dan pesawat lisensi NC212 dan helikopter.
  • Di lain pihak, biaya pengembangan pesawat – termasuk pendidikan SDM terampil – dianggap hutang kepada Pemerintah, yang mengakibatkan PTD buruk di mata perbankan sehingga menyulitkan industri untuk dapat beroperasi dan tidak memungkinkan industri berinvestasi.
  • PTDI melakukan diversifikasi usaha di berbagai bidang a.l jasa aerostructure, engineering service, dan maintenance-repair-overhaul dan tidak lagi menitikberatkan pada rancang bangun dan produksi.
  • Dengan terpuruknya program pengembangan dalam negeri, banyak design engineers yang memilih pergi ke luar negeri (a.l. Amerika, Eropa) untuk bekerja di industri pesawat terbang lain. Sebagian besar dalam beberapa tahun pulang, setelah negara setempat mendahulukan pekerja lokal dibandingkan dengan pekerja asing (kasus: Embraer).
  • Dengan berjalannya waktu, tanpa program pengembangan, PTDI tidak dapat melakukan pergantian/regenerasi karyawan engineering, yang pada gilirannya mengancam kapabilitas dan kompetensi PTDI sebagai produsen pesawat.
  • Apa yang dialami oleh PT. Dirgantara, dialami pula oleh semua perusahaan yang dahulu dikordinir oleh Badan Pengelolah Industri Strategis, BPIS.
  • Segala investasi yang dilaksanakan pada perkembangan dan pendidikan SDM yang terampil tanpa kita sadari telah “dihancurkan” secara sistematik dan statusnya kembali seperti kemampuan bangsa Indonesia 60 tahun yang lalu!
  • Prasarana dan sarana pengembangan SDM di industri, di PUSPITEK, di Perguruan Tinggi (ITB, ITS, UI, UGM, dsb) serta di pusat-pusat keunggulan yang dikoordinasikan olem Menteri Riset dan Teknologi dialihkan ke bidang lain atau dihentikan, sehingga teknologi — untuk meningkatkan “nilai tambah” suatu produk canggih apapun — yang dibutihkan oleh pasar domestik dikurangi dan bahkan dihentikan pembinaannya dan diserahkan kepada karya SDM bangsa lain dengan membuka pintu selebar-lebarnya untuk impor!
  • Pasar Domestik yang begitu besar di bidang transportasi, komunikasi, kesehatan dsb. “diserahkan” kepada produk diimpor yang mengandung jutaan “jam kerja” untuk penelitian, pengembangan dan produksi produk yang kita butuhkan.
  • Produk yang dibutuhkan itu harus kita biayai dengan pendapatan hasil ekspor sumber daya alam terbaharukan dan tidak terbaharukan, energi, agro industri, pariwisata, dsb. Ternyata potensi ekspor kita ini tidak dapat menyediakan jam kerja yang dibutuhkan sehingga SDM di desa harus ke kota untuk mencari lapangan kerja atau ke luar negeri sebagai TKI dan TKW. Akibatnya proses pembudayaan dalam rumah tangga terganggu dsb, dsb. Proses pembudayaan (“Opvoeding, Erszeihung, Upbringing”) harus disempurnakan dengan proses pendidikan dan sebaliknya, karena hanya dengan demikian sajalah produktivitas SDM dapat terus ditingkatkan melalui pendidikan dan pembudayaan sesuai kebutuhan pasar.
  • Pertumbuhan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi seharusnya dipelihara setinggi mungkin untuk dapat meningkatan “pendapatan burto masyarakat” atau peningkatan ” kekayaan national” atau “national wealth“. Namun pemerataan pemberian kesempatan berkembang, pemerataan pendidikan – pembudayaan dan pemerataan pendapatanlah yang pada akhirnya menentukan kualitas kehidupan, kualitas kesejahteraan dan kualitas ketentraman yang menjadi sasaran tiap masyarakat.
  • Bukankah jam kerja yang terselubung pada tiap produk yang kita beli itu pada akhirnya menentukan tersedianya lapangan kerja atau mekanisme proses pemerataan dalam arti yang luas itu?
  • Kita harus pandak memproduksi barang apa saja yang dibutuhkan di pasar nasional dan memberi insentip kepada siapa saja, yang memproduksi di dalam negeri, menyediakan jam kerja dan akhirnya lapangan kerja.
  • Potensi pasar nasional domestik kita yang sangat besar. Misalnya pertumbuhan penumpang pesawat terbang sejak 10 tahun meningkat sangat tinggi, sekitar 10% – 20% rata2 tiap tahun. Produksi pesawat terbang turboprop N250 untuk 70 penumpang — yang sesuai rencana pada tahun 2000 sudah mendapat sertifikasi FAA pada tahun 2004 — adalah jawab kita untuk memenuhi kebutuhan pasar. Kedua produk yang dirancang bangun oleh putra-putri generasi penerus ini yang mengandung jutaan jam kerja, bahkan terus dihentikan. MENGAPA? ? ?
  • Demikian pula dengan produksi Kapal Caraka Jaya, Palwobuwono dan kapa Container yang harus dihentikan. Produksi kereta api harus pula dihentikan.
  • walaupun pasar domestik nasional begitu besar, namun sepeda motor, telepon genggam dsb. — yang semuanya mengandung jam kerja yang sangat dibutuhkan — nyatanya barang – barang tersebut tidak diproduksi di dalam negeri. MENGAPA ? MENGAPA ? MENGAPA?
  • Memang kesejahteraan meningkat, golongan menengah meningkat dan pertumbuhan meningkat pula, namun proses pemerataan belum berjalan sesuai kebutuhan dan kemampuan kita
  • Ini hanya mungkin jikalau jam kerja yang terkandung dalam semua produk yang dibutuhkan itu secara nyata diberikan kepada masyarakat madani Indonesia. Oleh karena itu pada kesempatan untuk berbicara di hadapan peserta Sidang Paripurna MPR tanggal 1 Juni tahun 2011, saya garis bawahi pentingnya kita menjadikan NERACA JAM KERJA  sebagai Indikator Makro Ekonomi disamping NERACA PERDANGANGAN  dan NERACA PEMBAYARAN.

Para hadirin yang berbahagia

Pada peringatan HAKTEKNAS tahun 2012 saat ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang sudah dikemukakan banyak kalangan yakni perlunya kita melakukan reaktualisasi peran iptek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka meningkatkan daya saing dan produktivitas nasional, serta untuk menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang. Problema kebangsaan yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, dan hal tersebut akan mensyaratkan solusi yang tepat, terencana dan terarah.

Kita tahu bahwa fenomena globalisasi mempunayi berbagai bentuk. Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, adalah pengalihan kekayaan alam suatu Negara ke Negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke Negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus “membeli jam kerja’ bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu “VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru”. (Hal tersebut telah saya sampaikan pada Pidato Peringatan Kelahiran Pancasila di hadapan Sidang Pleno MPR RI tanggal 1 Juni 2011 yang lalu).

Dalam forum yang terhormat ini, sya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para tokoh dan cendekiawan di kampus-kampus serta di lembaga-lembaga kajian dan penelitian lain untuk secara serius merumuskan impelementasi peran iptek dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dalam konteks masa kini dan masa depan.

Terkait dengan hal tersebut, saya sangat menghargai upaya Pemerintah dalam membentuk Komite Inovasi Nasional (yang dikenal dengan KIN) dan Komite Ekonomi Nasional (yang dikenal dengan KEN) dengan tugas sebagai advisory council untuk mendorong inovasi di segala bidang dan mempercepat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Saya mengetahui bahwa KIN maupun KEN telah merumuskan berbagai strategi dan kebijakan dan agenda aksi, khususnya yang menyangkut perbaikan ekosistem inovasi dan pengembangan wahana transformasi industri. Apa yang ingin saya ingatkan ialah, jangan sampai berbagai konsep yang dirumuskan oleh KIN maupun KEN tersebut hanya berhenti ditingkat masukan kepada Presiden saja, ataupun di tingkat rencana pembangunan saja, namun perlu direalisasikan dalam kegiatan pembangunan nyata. Jangan kita merasa puas dengan wacana maupun berencana, namun ketahuilah bahwa rakyat menunggu aksi nyata kita semua, baik para penggiat teknologi, penggiat ekonomi, pemerintah maupun lembaga legislatif.

Saya juga menyarankan agar Pemerintah maupun Legislatif lebih proaktip dan peduli bersungguh-sungguh dalam pemanfaat produk dalam negeri dan “perebutan jam kerja”. Kerjasama Pemerintah daerah dan Pusat bersama dengan wakil rakyat di lembaga Legislatif daerah dan Pusat perlu ditingkatkan konvergensinya ke arah yang lebih pro rakyat, lebih pro pertemubuhan dan lebih pro pemerataan.

Pada kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan pesan dan himbauan, hendaknya kita pandai-pandai belajar dari sejarah. Janganlah kita berpendapat tiap pergantian kepemimpinan harus dengan serta – merta disertai pergantian kebijakan, khususnya yang terkait dengan program penguasaan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ktia mengetahui bahwa dalam penguasaan, pengembangan dan penerapan teknologi diperlukan keberlanjutan (continuity). Jangan sampai pengalaman pahit yang dialami industri dirgantara dan industri strategis pada umumnya — sebagaimana saya sampaikan di atas — terulang lagi di masa depan! Jangan sampai karena eufori regormasi atau karena pertimbangan politis sesaat kita tega “menghabisi” karya nyata anak bangsa dengan penuh ketekunan dan semangat patriotisme tinggi yang didedikasikan bagi kejayaan masa depan Indonesia.

Para hadirin yang berbahagia

Kita dapat bersyukur bahwa bangsa Indonesia adalah suatu bangsa yang multi etnik dan sangat peka terhadap keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa, Allah subahana wata’alla. Oleh karena itu PANCASILA adalah falsafah hidup nyata bangsa ini yang dari masa ke masa selalu disesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan peradaban yang dikembangkan dan diterapkan oleh kita bersama. sumber: adrianpradana.wordpress.com

Dapat kita catat, bahwa saat ini bangsa kit asudah keluar dari “eufori kebebasan” dan mulai kembali ke “kehidupan nyata” antara bangsa-bangsa dalam era globalisasi. Persaingan menjadi lebih ketat dan berat. Peran SDM lebih menuntukan dan informasi sangat cepat mengalir. Kita menyadari bahwa tidak semua informasi menguntungkan peningkatan produktivitas dan daya saing SDM Indonesia. Budaya masyarakat lain dapat memasuki ruang hidup keluarga. Kita harus meningkatkan “Ketahanan Budaya” sendiri untuk mengamankan kualitas iman dan taqwa (imtaq) yang diberikan dalam sistem pendidikan dan pembudayaan kita, yang menentukan perilaku, produktivitas, dan daya saing Generasi Penerus. sumber: adrianpradana.wordpress.com

Kita sudah Merdeka 67 Tahun, sudah melek teknologi 17 Tahun, sudah Bebas 14 Tahun. Kita sadar akan keunggulan masyarakat madani yang pluralistik, sadar akan kekuatan lembaga penegak hukum (Yudikatif) dan informasi yang mengacu pada nilai-nilai PANCASILA dan UUD-45 yang terus disesuaikan dengan perkembangan pembangunan nasional, regional, dan global.sumber: adrianpradana.wordpress.com

Saya akhiri sambutan ini dengan ucapan :

  • REBUT KEMBALI JAM KERJA!
  • WUJUDKAN KEMBALI KARYA NYATA YANG PERNAH KITA MILIKI UNTUK PEMBANGUNAN PERABADABAN INDONESIA!
  • BANGKITLAH, SADARLAH ATAS KEMAMPUANMU!

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Bandung, 10 Agustus 2012

Bacharudin Jusuf Habibie

Sepakbola Bukan Matematika?

Judul tulisan ini lah yang membuat saya tersenyum kalau kalau ada orang yang mengucapkannya. “Sepakbola bukan matematika” sering diucapkan kalau ketika ada tim yang mau bertanding, sang komentator melihat statistik atau histori pertemuan antara dua tim lalu membandingkannya. Jika di statistik tim A dan B, ternyata tim A lebih sering menang daripada B, tentu saja kita bisa berasumsi yang menang di pertandingan selanjutnya adalah A. Tetapi sekali lagi dipatahkan dengan suatu ucapkan “sepakbola bukan matematika”, haha.

Saya sih sadar, ternyata sebagian besar orang indonesia masih beranggapan bahwa ilmu matematika itu hanya sekedar menghitung, sehingga muncullah anggapan matematika sebagai ilmu pasti. 1+1 pasti hasilnya sama dengan 2. Tapi setelah saya kuliah matematika selama hampir 4 tahun di kampus gajah ini, saya semakin bingung sebenarnya matematika itu apa? sains? jelas bukan karena … (bakal panjang dan out of topic kalau saya paparkan disini).

Jelas saya menolak keras kalau mengatakan matematika itu tidak pasti karena dari tingkat 2 sampai detik ini saya belajar ketidakpastian lewat peluang. Iya peluang, hal yang sering dilupakan orang-orang kalau peluang ini juga dipelajari di matematika. Dan tentu saja peluang itu tidak pasti, karena bernilai diantara selang 0 sampai 1 saja, atau beberapa orang sering menyebutnya dengan 0% sampai 100%. Berapa peluang saya mendapatkan angka “5” jika saya melempar dadu?, seperti itulah.

Begitu juga dengan sepakbola. sangat tidak tepat jika mengatakan sepakbola itu bukan matematika karena masih relevan kok sepakbola itu ternyata memang matematika. Jika contoh kasus yang saya paparkan diatas itu diteliti secara peluang, dan mengambil contoh yang sangat sederhana sekali dengan hanya melihat data statistik berapa frekuensi tim A atau tim B yang menang ketika kedua tim itu bertemu, kita bisa tahu peluang tim A menang itu berapa, peluang tim B menang berapa. Namanya juga peluang, hal yang tidak pasti. Jika peluang saya salah ketik di tulisan ini adalah 0.05, kecil memang karena saya pengetik yang baik, tapi kecilnya 0.05 itu bisa saja terjadi kan?

Karena kita hanya mengambil variabel “menang-kalah”, tentu hasilnya tidak bisa dipertanggung jawabkan karena variabel lainnya seperti kualitas pemain, main kandang atau tandang, mental pemain, bahkan sampai kondisi lapangan ikut berpengaruh ke menang atau tidaknya suatu tim. Dan jelas, model peluang jika mengikutkan seluruh variabel itu sangat rumit jika dikaji, tapi memungkinkan untuk dilakukan.

Kesimpulannya, berhentilah mengatakan “sepakbola itu bukan matematika”, sekarang beralihlah ke “sepakbola itu memang matematika”.

Air Di Botol, Botol Di Pesawat

Sebenarnya post ini ga terlalu penting, hanya berisi sedikit fenomena yang mungkin bagi orang lain biasa saja tapi bagi saya sangat menarik sekali untuk “dikaji”

Permasalahannya seperti ini. Kemarin saya naik pesawat dari Jakarta ke Banjarmasin. Seperti biasa, saya duduk (saya selalu meminta di window) dengan tenang di dalam Boeing 737-900ER ini. Sayang kursinya tidak terlalu nyaman bagi yang punya postur badan tinggi. Jarak antar kursi bisa saya bilang sempit, dan kursi kurang empuk, hampir mirip kursi bis kota malah.

Sudahlah masalah kursi. Seperti biasa, dan suatu kewajiban bagi maskapai penerbangan untuk memberi tahu penumpang tentang aturan keselamatan di dalam kabin termasuk jika terjadi keadaan darurat seperti pesawat mendarat darurat atau adanya penurunan tekanan udara di dalam kabin.

Hal darurat kedua ini lah yang menarik bagi saya. Waktu itu saya membawa sebotol air minum mineral yang sudah saya minum setengah botolnya. Botol itu kemudian saya taruh di bersama saya, tidak dalam kompartemen tas yang berada diatas tempat duduk. Ketika pesawat mulai lepas landas dan mulai di ketinggian jelajah (menurut pilotnya 35.000 feet), botol mulai tampak seperti menggembung.

Saya mencoba memencet botol itu dengan jari saya. Dan benar, seperti tampak mau meledak. Lalu saya coba membuka botol pelan di dekat telinga saya. Saya mendengar suara “cess” seperti suara ban yang sedang di kempesi namun bunyi itu sebentar saja. Lalu saya tutup lagi hingga pesawat mendarat di Banjarmasin

Ketika sudah mendarat, saya melihat nasib botol ini lagi. Dan ternyata sekarang remuk dengan sendirinya. Padahal saya taruh di tempat yg aman dan tidak mungkin untuk saya duduki. Kini botol yang tinggal berisi seperempat, remuk tanpa ada yang meremuknya. Lemah bagai sudah digempur atau dilindas sesuatu. Saya mencoba membuka botol itu sebelum turun dari pesawat, dan yang terjadi botol itu kembali ke bentuknya semula.

Penjelasan sederhana dari fenomena itu adalah tekanan. Tekanan udara di ketinggian jelajah pesawat lebih rendah dengan berada di atas daratan. Namun perbedaannya sebenarnya tidak terlalu mencolok karena kabin pesawat berusaha menjaga tekanan untuk tetap sama sesuai dengan kebutuhan manusia. Sedangkan botol remuk menunjukkan tekanan udara di atas lebih rendah daripada dibawah. Akibatnya udara yang berada di luar botol menekan botol ke arah dalam sehingga menyebabkan botol remuk.

Mungkin agar lebih menarik lagi, saya akan mencoba membawa minuman bersoda. Tentu saja sangat beresiko membuka botol minuman soda yang ditutup sejak pesawat belum lepas landas. hehe

Melawan Hegemoni ITB

Melawan Hegemoni ITB
12 April 2010 16:49:01

Malam itu, saya pergi berselancar bersama Eyang Google. Mata saya terbelalak melihat kata-kata berbunyi ”Melawan Hegemoni ITB” tercecer di milist alumni ITB. Padahal niat awal hanya mencari kabar tentang Dies Emas ITB setahun lalu (nama ITB resmi dipakai 2 Maret 1959). Karena penasaran, saya malah menelusuri perdebatan ini, tanpa suatu tendensi apapun. Sampai pertanyaan, siapa kampus teknik terbaik di Indonesia? Kakaknya atau adiknya?

Kampus ITS, ITS Online – Soal SNMPTN baru saja dibagikan. Mata Andi melirik Tono. “No…Pilih apa nih, B atau S?”. “B aja. B itu pasti Bahagia”. “Kalau S?”. “S itu Sengsara Ndi. ” sekejap gigi Tono berderet tampil di bawah bibirnya yang mengembang. Sementara alis Andi mengerut keheranan. Cita-cita keduanya memang jadi insinyur. Setahu mereka, hanya ada dua sekolah yang secara jantan bisa memberi mimpi itu. Tidak sedikit anak seperti Andi yang selalu bingung memilih kampus tambatan hatinya. Akhirnya image-lah yang menuntun mereka menempatkan B dulu baru S. Benar salah?

Saat ini, hampir tiap kampus memiliki jurusan teknik, kecuali Akademi Kebidanan. Tapi kalau bicara masalah dedengkotnya teknik, hanya ada dua: ITB dan ITS. Nama besar keduanya jadi rebutan anak-anak SMA sederajat. ITB terkenal dengan nama harum alumninya, salah satunya Ir Soekarno, sedangkan ITS terkenal dengan industri maritim dan dunia robotikanya.

Sayang, di mata masyarakat luas, keberadaan ITS masih di bawah bayang-bayang saudara tuanya. Seperti bayang-bayang klub sepak bola Manchester United di atas Manchester City. Wajar saja, sejak SNMPTN masih bernama UMPTN sekitar 20 tahun lalu, nama ITB tak pernah bergeser dari posisi puncak nilai rata-rata terbaik untuk kelompok IPA. ITB tetap paling favorit sedang ITS hanya mampu menggoda siswa SMA sederajat di wilayah Jawa Timur dan sebagian Indonesia Timur. Bahkan di wilayah barat, nama ITS hanya terdengar sayup-sayup.

Terbukti, tiap kali saya pulang kampung ke Depok, Jawa Barat, banyak tetangga yang bilang, “ITS ya, swasta atau negeri tuh?”. Dalam hati saya membalas,”Swasta dari Hongkong!!!”. “Wah…hebat kamu ya bisa kuliah di Hongkong.” ternyata ia bisa baca kata hati saya. Lain tetangga, lain pula tusukan teman lama saya yang polosnya luar biasa. ”Kuliah dimana sekarang?” tanyanya. “Ehm…jadi nggak enak nih nyebut-nya,” gaya saya agak sombong. “ITS dong bro!” jawab saya bersemangat. “Wah…ITS, pinter juga lu bro! Di Semarang nge-kos apa sama saudara?”. Yah…

***
Sekali lagi, tanpa tendensi dan tiap fakta di bawah ini tak bisa digeneralisasi. Saya juga tak mau disebut seperti kata pepatah: istri tetangga lebih cantik dari istri sendiri. Oh salah, rumput tetangga maksudnya. Saya hanya pengamat dari perdebatan everything about ITS dan ITB di dunia maya. Saya laporkan di sini dengan kerendahan hati, semoga kita semakin terpacu.

Percaya Diri
Banyak blog (malah dari anak ITB sendiri) menyimpulkan bahwa sombong adalah sifat yang paling kentara dari anak ITB. Kalau saya menilainya bukan sombong tapi percaya diri. Simpulan lain, anak ITS malah down ketika berhadapan dengan nama besar UI, ITB, dan UGM. Pada poin terakhir ini, 80 % saya sepakat. Entah mengapa, aura mereka begitu menyilaukan.

Saya punya teman SMA di ITB, ketika sekelas di SMA dulu levelnya sepadan lah dengan saya. Kelas terbang menengah. Artinya rangking selalu melayang, bodoh tidak, pintar apalagi. Tapi ketika terakhir bertemu, wah…berubah! Kepercayaan dirinya menanjak drastis terlihat dari caranya berbicara. Katanya, menyandang gelar “anak ITB” membuatnya percaya diri. Padahal dulu, kalau ada tugas presentasi bawaannya izin ke belakang terus.

Ada sebuah idiom unik di sebuah blog,”Kalau orang ITB mikirnya negara, kalau orang ITS mikirnya bagaimana mengalahkan ITB,”. “Yah…kalau ITS mah nggak level,” tambahnya. Kalau ITS masih coba melangkahi ITB. Kami (ITB), tulisnya, sudah berpikir bagaimana bersaing dengan Todai, Kyodai, Beijing, Nanyang, NUS, Chulalongkorn dkk. “Lewatin dulu tuh UI sama UGM!” lanjutnya.

Saya sama sekali tidak marah. Malah saya bergumam,”Oh iya, kenapa tidak berpikir sejauh itu?”. Kalau sparring partner kita Tokyo Daigaku bahkan MIT, mungkin kita bisa lari lebih cepat. Mudah-mudahan saya sedang tidak bermimpi.

Contoh lain adalah masalah gaji. Di banyak forum diskusi dunia maya, banyak cerita kalau anak ITS ketika ditanya tentang gaji oleh interviewer, menjawab dengan malu-malu,”Terserah Bapak saja,” . Lantas kemudian dibalas Sang HRD “Di bawah UMR ya?”. Dalam hati saya mencandai, “Oh iya Pak, tidak apa-apa, yang penting bisa makan. Ngomong-ngomong UMR itu apa Pak?”

Beberapa posting menyebut bahwa fresh graduate ITB terkenal berani pasang tarif tinggi. Benar atau tidak tak jadi masalah. Bagi saya bukan masalah uangnya, tapi keyakinannya. Seperti beberapa ekspatriat di Indonesia. Berapa persen sih dari mereka yang punya ”kemampuan sebenarnya”. Kadang malah hanya menang penampilan, percaya diri, dan bahasa Inggris cas-cis-cus.

Lulusan bermutu ibarat Mercy SL Class. Dua milyar atau sebanding dengan dua Alphard pun jadi impas untuk mobil dengan spesifikasi seperti itu. Nah, anak ITS bisa kasih harga bersaing seperti anak ITB. Kalau cocok, membayar berapa pun perusahaan mau. Usut punya usut, beberapa survey top university juga melakukan penilaian terhadap “harga jual” fresh graduate dalam menentukan world rank.

Apresiasi
Saya membaca dua tulisan tentang perkembangan robot ITB di website ITB. Sangat apresiatif. Walaupun seumur hidupnya tak pernah mampu mengalahkan PENS-ITS, mereka punya tekad besar dan dukungan besar untuk maju. Namun di beberapa blog, terpuruknya ITB di bidang robotika jadi bulan-bulanan civitasnya. Dari kritik sampai hujatan, lengkap. Maklum, Robot sudah seperti lambang supremasi anak teknik. Salutnya, walau ada beberapa yang tetap tak mau mengakui dengan menunjukkan prestasi ITB di bidang lain, tapi masih lebih banyak yang bilang,”Kita harus belajar dari mereka,”.

Saat saya main ke UI, waktu itu UI bikin baliho besar ucapan selamat atas masuknya UI di peringkat 250 besar world’s top university. Saya hanya membayangkan sambil tersenyum, itu baliho bisa sebesar apa ya kalau UI peringkat satu universitas terbaik sedunia-akhirat.

Penghormatan yang mungkin kurang dari diri kita. Banyak mahasiswa yang mendapat juara “cuma diambil pialanya saja”. Padahal berapa sih ongkos bikin spanduk untuk membuat ucapan selamat. Bunyi “Selamat kepada Tono atas Juara bla bla bla” itu sudah cukup. Si pemilik nama yang dipampang di sudut jalan itu wes bangganya minta ampun.

Kurang apresiasi atau memang tak ada yang berprestasi, saya tidak tahu. Saya jadi ingat kawan saya di salah satu organisasi yang sering lomba ke luar negeri. Ia mengeluh,”Kalau kita sukses saja, baru dibangga-banggakan. Tapi giliran dimintai bantuan (moril atau materil) pada ngilang semua,”. Ya, mahasiswa butuh apresiasi atas tiap ukir prestasi mereka.

Bukan hanya satu, saya sering dengar banyak mahasiswa ITS baik yang mewakili organisasi ataupun pribadi, ketika lomba pakai kantong sendiri dengan segala keterbatasannya. Tapi ketika pulang bawa piala dianggap usaha bersama satu ITS. Istilah kebahasaannya “Totem Pro Parte”.

Saya yakin sekali, sebenarnya segmen profil dalam website ITS dapat terus di-update. Namun terkadang, prestasi tersebut sampai ke meja redaksi hanya dari mulut ke mulut. Sedangkan sangat tidak mungkin bagi 12 reporter ITS Online untuk menanyakan satu per satu ke jurusan, siapa civitas yang berprestasi minggu ini.

Masalah jumlah doktor dan profesor juga jadi perdebatan. Kata mereka dalam forum, jumlah doktor pengaruh pada kualitas pengajaran. ITB masih menang jauh dari ITS. Dari 1056 dosen, ITB punya 800 doktor. Sedangkan dari data Laporan Rektor ITS, sampai Oktober 2008 (maaf kurang update) dosen ITS yang bergelar doktor hanya 200 dari 1125 orang. Belum lagi melihat produktivitas ITB dalam jurnal ilmiah internasional. Kurun Juni 2009, ITB masih peringkat teratas, bahkan di atas LIPI. Sedangkan nama ITS belum nongol di lima besar se-Indonesia versi Scopus.

Beberapa tahun lalu, seorang pejabat ITS pernah mengeluh pada media lokal kalau ITS susah menambah doktor dan profesornya karena kurangnya motivasi dan sibuk “ngantor” di luar. Tapi sekarang (mungkin) beda, ITS sedang produktif menghasilkan profesor baru. Para dosen juga “dipaksa” jadi doktor, kalau tidak bisa dibilang terpaksa karena malu dosen-dosen muda sekarang sudah banyak yang doktor. Sekali lagi, motivasi dan apresiasi.

Dr Nieuwenhuis berkata “Suatu bangsa tidak akan maju sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkurban untuk keperluan bangsanya,”. Saya mengartikannya sebagai sosok guru yang tulus mengembangkan ilmu untuk muridnya. Melalui muridnya itulah bangsa ini maju. Walaupun guru itu yang akhirnya menjadi korban dengan kesederhanaannya.

Pola pikir terbuka
Walaupun (katanya) sombong, alumni ITB secara terbuka ramai mengkritik almamaternya sendiri. Lihat milis dan blog bertema ITB. Terkadang kritiknya pedas, sehingga debat kusir sering terjadi di dunia maya. Uniknya, pemikiran terbuka dan perdebatan itu berjalan konstruktif.

Mereka juga membahas guyonan Jusuf Kalla saat memberi pidato saat Dies Emas ITB 2009 kemarin. “Kalau negeri ini gagal, maka ITB harus bertanggung jawab,”. Argumen Kalla waktu itu karena ITB menempatkan tujuh alumninya di kabinet SBY-JK. Cukup logis, apalagi dua orang ITB juga pernah meraih kursi RI 1. Hati saya nyeletuk, untung ITS cuma taruh Pak Nuh.

Termasuk pola pikir ”Saya harus kerja jadi insinyur, karena saya lulusan ITS!” itu cukup terpatri kuat. Apa memang hukumnya wajib ketika saya lulus nanti saya harus bergaul dengan alat-alat pertukangan? Apa tidak ada pilihan lain? Jujur, terkadang hal ini menghambat pola pikir kreatif. Tapi saya sadar, saya tak boleh mengingkari ”kodrat” sebagai (nantinya) alumni institut teknologi.

Dalam beberapa blog, civitas ITB begitu bangga dengan pesebaran alumninya. Mereka bernostalgia dengan nama besar Soekarno dan Habibie. Mereka juga bercerita bagaimana apiknya Hatta Radjasa membanting setir dari Kepala BPPT menjadi Ketua Parpol lalu sekarang jadi Ketua Ikatan Alumni ITB. Atau Ahmad Bakrie dan Arifin Panigoro dengan raksasa bernama Bakrie Group dan Medco Group yang mereka rintis dari nol. Mungkin lebih mencengangkan adalah kisah hidup anak desa dari Sulawesi: Ciputra.

Tak jarang alumni ITB yang justru keluar jalur. Seperti bagaimana fasihnya seorang Fadjroel Rahman dan Rizal Ramli beretorika tentang sistem ekonomi negara. Lain hal, tentu para pecinta sastra tak lupa ketika Nirwan Dewanto mengagetkan dunia sastra Indonesia saat ia tampil di kongres kebudayaan 20 tahun silam. Atau bagaimana seorang Purwacaraka pandai menggubah partitur walau latar pendidikannya Teknik Industri.

Sebenarnya pola pikir ini harus sedikit demi sedikit tertanam. Mungkin sudah mulai tampak dalam dunia akdemik dan kemahasiswaan di ITS. Munculnya pelatihan ESQ, mata kuliah Technopreneurship, seminar-seminar softskill, dan semakin banyak mahasiswa yang cum laude dan lulus tepat waktu (walau saya tak termasuk di dalamnya) bisa jadi bukti. Geliat kegiatan mahasiswa juga mulai tampak kreatif dan tepat guna. Beberapa tahun terakhir, dari mahasiswa muncul sebuah gerakan dinamisasi untuk mendobrak jauh keluar pattern yang kolot.

Alumni
Sadar atau tidak, IKA ITS jadi panutan bagi ikatan alumni lainnya. Bahkan di milis IA ITB, IKA ITS benar-benar disanjung. Bukan sebuah khayalan, ikatan alumni bisa jadi kendaraan politik yang cukup solid dan bernilai. Hal itu yang terjadi pada Joko Kirmanto (Menteri PU) mantan Ketua KAGAMA, Sofyan Djalil (mantan Menkominfo) juga bosnya ILUNI, dan Hatta Radjasa (Menko Ekuin) adalah Ketua IA ITB.

Alumni ITB tersebut kagum dengan kedewasaan para alumni ITS. Alumni ITS, katanya, tidak ambisius dan saling sikut. Padahal Pak Nuh, saat masih Menkominfo, berpeluang besar jadi ketua. ”Apa ia nggak mau ikut jejak temannya di kabinet?” katanya. Tapi IKA ITS mampu mendorong agar Pak Nuh fokus pada amanahnya sehingga kursi Ketum jatuh ke Dwi Sutjipto, Dirut Semen Gresik, tanpa “pertumpahan darah”.

Bukan isapan jempol. Saya pernah kerja praktek di galangan. Ketika itu banyak alumni ITS (bukan banyak tapi semuanya), saya serasa hidup di rumah sendiri. Pembimbing saya sangat membantu, termasuk memudahkan saya membuat laporan. Kalau bertemu alumni ITS rasanya seperti kawan lama tak bersua.

Kekuatan alumni inilah yang sering terlupa. ITB dan UI terkenal punya jaringan yang menggurita di pemerintahan, BUMN, dan BUMS. Kesolidannya terihat dimana ketika ada alumninya yang promosi jabatan, maka semua alumni serentak mendukung. Mereka juga secara aktif menempatkan alumni terbaiknya di institusi penting itu dan merekrut juniornya untuk turut mewarnai institusi. ”Alumni ITS kelihatannya kalau sukses sendiri-sendiri,” tulis dalam milis itu. Belum lagi tentang loyalitas mereka pada almamater.

Alumni ITS? Diam-diam menghanyutkan. Baru-baru ini terbit buku berjudul Inspire to Succes: Menuju Kemandirian Bangsa Ide 100 tokoh alumni ITS. Entrepreneur, Pejabat BUMN/BUMS, Pemerintahan, Pendidikan, LSM/Organisasi, dan peneliti. Pucuk-pucuk pimpinan dan posisi strategis itu sudah pernah kita pegang. Bahkan tak sedikit, alumni ITS yang keluar jalur dan sukses. Walau tak sepopuler alumni ITB, nyatanya alumni ITS juga tak bisa dipandang remeh.

Semua poin tadi adalah sedikit perbandingan saja. Masing-masing punya karakter dan nilai positif. Agar tak tergelincir, maka belajarlah merunduk seperti padi. ITB dan ITS memang kampus teknik terbaik, tapi baru di kandang sendiri. Ketika di Asia apalagi dunia, nama keduanya masih ”di bawah garis kemiskinan”. Bagi saya, lulusan apa pun kita atau bahkan tak pernah mencicipi bangku kuliah sekalipun, akan lebih bernilai ketika kita mampu berkontribusi bagi masyarakat luas di sekitar kita. Dengan cara apapun.

”Dik, Kakak beri kamu sebungkus hadiah untuk ulang tahunmu November besok,”.
”Jangan Kak. Beri saja hadiah itu pada Ibu. Dialah yang berjasa sampai kita berumur 50,”
”Sekarang Ibu mana?”
”Itu…” Sang Adik menunjuk gubuk-gubuk reot di balik kemegahan gedung berteknologi tinggi yang dibangun para insinyur cerdas.

Bahtiar Rifai Septiansyah
Mahasiswa Teknik Perkapalan

Tulisan diatas adalah tulisan dari kawan mahasiswa ITS, sangat menginspirasi saya untuk dapat belajar lebih 😀

kilobytes ke terrabytes dalam 20 tahun

Dunia teknologi, khususnya di bidang komputer memang terkenal mempunyai dinamika yang sangat cepat. Berbagai vendor berlomba-lomba meluncurkan produk teranyar, terkuat, dan terbaru mereka. Disisi lain, para provider software juga semakin giat membuat perangkat lunak yang memakan banyak resource dan storage sehingga mau tak mau konsumen harus mengikuti itu semua agar segala kebutuhannya terpenuhi.

Perlombaan ini tentu saja berdampak perkembangan teknologi yang sangat cepat, mari kita balik ke tahun 1989, saya melihat memory card pertama yang diluncurkan dengan kapasitas 128 kilobytes.

128kilobytes

dan saat ini, hasil search ketika saya tanya ke om google berapa kapasitas terbesar untuk sebuah memory card saat ini, juaranya adalah Sony Memory Stick Duo, dengan kapasitas 2 terrabytes. Berarti dalam 20 tahun, memory card telah mengalami peningkatan sebanyak hampir 16 juta kali. Wow!

memory stick duo 2 terrabytes

kalau mau sedikit bercanda dengan asumsi perkembangan kapasitas memory card itu secara linear, maka 20 tahun lagi akan ada memory card dengan kapasitas 32 EB (Exabytes). hehe