Mendeteksi Akar Ekonomi dari Radikalisme dan Disharmoni Sosial

faisal basri

Pemerintah mengklaim selama dua tahun pemerintahan Jokowi-JK berhasil mengurangi tingkat ketimpangan sebagaimana tercermin dari penurunan nisbah Gini (Gini ratio). Bahkan pada Maret 2016, nisbah gini sudah turun di bawah 0,4, yang berarti tingkat ketimpangan tergolong baik. Nisbah gini antara 0,4 sampai 0,5 masuk kategori ketimpangan sedang; dan di atas 0,5 tergolong ketimpangan buruk.

gini Sumber: Badan Pusat Statistik

ŸKecenderungan ketimpangan jangka panjang (garis hitam) masih menunjukkan pemburukan.

gini_bps

Namun perlu diingat, nisbah Gini yang dihitung oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tidak mengukur tingkat ketimpangan pendapatan (income inequality) maupun ketimpangan kekayaan (wealth inequality). BPS menghitung nisbah Gini berdasarkan data pengeluaran yang diperoleh dari Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional). Ketimpangan pengeluaran sudah barang tentu lebih rendah ketimbang ketimpangan pendapatan maupun ketimpangan kekayaan, karena perbedaan konsumsi orang terkaya dibandingkan konsumsi orang termiskin cenderung jauh lebih kecil dibandingkan perbedaan pendapatan dan kekayaannya.

Perbedaan sangat mencolok antara data pengeluaran dan kekayaan bisa dilihat…

Lihat pos aslinya 636 kata lagi

Merak – Banyuwangi dengan Kereta Api Dalam Dua Hari?

Kereta Api Krakatau (Krakatau Train)
Kereta Api Krakatau – Photo: Gudhell Fadillah (Flickr)

Sudah terpikirkan dari beberapa bulan yang lalu. Bagaimana jika kita bepergian dari Jakarta sampai Banyuwangi pulang pergi, lewat jalur kereta api yang berbeda yaitu jalur utara dan jalur selatan (atau sebaliknya), dan perjalanan tersebut dilakukan dari Jumat malam (pulang kerja), lalu sampai kembali di Jakarta pada Minggu malam atau Senin dini hari? Setelah saya riset sedikit, hal tersebut ternyata memungkinkan. Begini rencananya :

trains
Jakarta – Banyuwangi – Jakarta
  1. Naik KA Sembrani dari Stasiun Gambir. Berangkat pukul 19.15
  2. KA Sembrani akan tiba di Stasiun Surabaya Pasar Turi pukul 05.35
  3. Selanjutnya naik angkutan umum ke Stasiun Gubeng
  4. Naik KA Mutiara Timur Siang yang berangkat pukul 09.00. Sampai di kota Banyuwangi pukul 15.30
  5. Dari sini, kita harus menunggu KA Mutiara Timur Malam yang berangkat pukul 22.00. Jadi kira-kira ada waktu 5.5 jam untuk istirahat
  6. Sampai kembali di Stasiun Surabaya Gubeng pukul 04.30.
  7. Setelah itu menunggu KA Gaya Baru Malam tujuan Stasiun Pasar Senen yang berangkat pukul 12.00. KA ini merupakan KA pertama tujuan Jakarta yang melewati jalur selatan. Sampai di Stasiun Pasar Senen pukul 01.48

Dengan rencana di atas, jika kita berangkat pada Jumat malam, kita akan sampai kembali di Jakarta pada Senin dini hari. Bagus untuk orang kantoran yang tak mau menggunakan jatah cuti.

Total waktu yang dihabiskan dengan rencana di atas kira-kira 56 jam yang terdiri dari 43 jam di dalam kereta dan 13 jam dihabiskan di luar kereta.

Bagaimana jika Merak – Banyuwangi pp? Apakah bisa? Rencana yang dapat saya buat kira-kira seperti ini:

trains2
Merak – Banyuwangi – Merak
  1. Naik KA Krakatau Ekspress dari Stasiun Merak pukul 08.00
  2. Naik KA Krakatau Ekspress sampai Kertosono. Sampai di kota itu pukul 01.55
  3. Selanjutnya, naik KRD Kertosono dengan tujuan Stasiun Surabaya Gubeng. KRD Kertosono berangkat pukul 04.45. Sampai di Stasiun Surabaya Gubeng pukul 06.54
  4. Seperti rencana sebelumnya, naik KA Mutiara Timur Siang pukul 09.00. Sampai di kota Banyuwangi pukul 19.30. Lalu pergi kembali dengan KA Mutiara Timur Malam yang berangkat pukul 22.00
  5. Sampai kembali di Stasiun Surabaya Gubeng pukul 04.30.
  6. Selanjutnya naik angkutan umum ke Stasiun Surabaya Pasar Turi untuk naik KA Argo Bromo Anggrek Pagi yang berangkat pukul 08.00
  7. Sampai di Stasiun Gambir pukul 17.00 di hari yang sama. Naik Busway ke Stasiun Pasar Senen
  8. Dari Stasiun Pasar Senen, naik KA Krakatau Ekspress yang tiba dari Kediri di Pasar Senen pukul 22.00
  9. Sampai kembali di Stasiun Merak pukul 02.07

Dengan rencana di atas, harus menggunakan cuti karena berangkat dari Stasiun Merak pada Jumat pagi. Tetapi bisa sampai kembali di Merak pada Senin dini hari. Bagi yang tinggal di Jakarta, perlu naik bis / kereta kembali ke Jakarta.

Total waktu yang dihabiskan dengan rencana di atas kira-kira 66 jam yang terdiri dari 52 jam di dalam kereta dan 14 jam dihabiskan di luar kereta.

Dua rencana di atas memang baru sekedar rencana. Saya sendiri belum pernah mencobanya (suatu saat nanti). Apakah teman-teman ada yang pernah melakukan perjalanan tersebut?

The best advice on Twitter trolls was written by al-Ghazali in the 11th century

Sarah Kendzior

As I posted on Twitter earlier today, the best advice I’ve seen on dealing with Twitter trolls comes from the 11th century Sufi philosopher al-Ghazali and his text “Ayyuha l’Walad”. Al-Ghazali anticipated our social media problems by 1000 years.

By al-Ghazali’s definition, there are four types of Twitter trolls. Below: a description of the trolls, and his advice on how to deal with them.

Type 1: Jealous haters. Advice: “Depart from him and leave him with his disease.”

Then know that the sickness of ignorance is of four sorts, one curable and the others incurable. Of these which cannot be cured, [the first] is one whose question or objection arises from envy and hate, [and envy cannot be cured for it is a chronic weakness] and every time you answer him with the best or clearest or plainest answer, that only increases his rage and envy. And the…

Lihat pos aslinya 506 kata lagi

Ceremai via Linggarjati lagi

Cerita di bawah ini seharusnya saya post sekitar 10 bulan yang lalu tetapi terlupakan di draft. Karena suatu hal, saya memutuskan untuk menyelesaikannya

—-

Setelah (mendadak) solo hiking Ceremai via Linggarjati pada November 2014 lalu, weekend lalu saya, Masdan, Oki, Rakhel, dan Fitri menjajal (sebagian orang “menjajal lagi”) Ceremai via Linggarjati. Entah kenapa jalur ini sangat berkesan buat saya walau memang tanjakannya agak amit-amit. Dari beberapa gunung yang pernah saya daki, saya akui Ceremai via Linggarjati ini yang paling tough. Pendakian kali ini dilaksanakan atas prakarsa Masdan yang katanya mau latihan dulu sebelum ke Kerinci 13 Mei nanti (saya juga ikut loh), dan Fitri yang mau mencoba mendaki Ceremai.

DSC_0002

Bagi beberapa orang, mendaki gunung yang sama berkali-kali mungkin membosankan dan ndak enak. Apalagi kalau jalurnya start dari 600 MDPL, tidak ada air, dan penuh dengan tanjakan amit-amit 3D (Dengkul bertemu Dada dan Dagu). Menurut saya mendaki gunung yang sama berkali-kali itu berbeda. Tidak ada yang sama. Meskipun anda melewati jalur yang sama sepertinya tidak mungkin anda ingat secara persis jalur tersebut akan mengarah ke mana. Yang ada hanyalah fragmen-fragmen ingatan yang lepas satu sama lain. Menyatukan fragmen – fragmen tersebut dengan suasana baru seperti teman pendakian baru, jelas tidak akan pernah membuat anda bosan dengan pendakian gunung yang sama.

Perjalanan dimulai di terminal Kampung Rambutan. Karena pendakian ini dadakan, jadi kami opsi kendaraan umum yang tersisa hanyalah naik bis. Saya ingat bahwa Masdan awalnya mengajak kita untuk naik bis dari terminal Pulo Gadung. Saya baru ingat bahwa ada bis Setia Negara dari Kp Rambutan tujuan Cirebon. Saat itu hanya saya berpikir bahwa itulah terakhir kali naik bis Setia Negara karena ngetemnya lama sekali. Sebagai bayangan saja, dari depan terminal Kp Rambutan sampai masuk tol JORR, total waktu yang dihabiskan lebih dari 1 jam. Saya sempat frustasi saat itu.

Kekesalan belum selesai, ternyata jalanan macet sampai bis ini beberapa kali keluar tol untuk lewat jalan raya Pantura. Akhirnya kita sampai di Linggarjati sudah cukup siang, sekitar jam 6 pagi. Seharusnya pagi buta kami sudah sampai dan jam 6 sudah start mendaki.

Rencananya, kami akan naik lewat Linggarjati dan turun lewat Palutungan. Sehingga target hari itu adalah camp di puncak Pangolongokan. Sayang sekali, baru sampai Batu Lingga, kami kehujanan akhirnya kami buka tenda dan hari itu sudah malam. Lokasinya hanya beberapa puluh meter dari lokasi awal saya ke Ceremai, hanya lebih rendah saja. Jika saja tidak hujan, kami akan tetap meneruskan perjalanan walau hari gelap. Sebelum pendakian ini, saya sempat mendaki sendirian (yang akhirnya ikut kelompok dari Bekasi karena pendaki solo tidak akan mendapatkan simaksi), berangkat jam 6 pagi, dan sampai di camp Pengasinan jam 8 malam.

Jika saat pendakian pertama saya dan teman-teman kehabisan air, pendakian kali ini kami benar-benar mapan air! Bayangkan saja, di tempat kami membuka tenda, Fitri bisa mencuci kaki dan matrasnya dengan cara menyiramnya dengan air. Ceritanya dimulai dengan masing-masing orang membawa minimal 4 botol air mineral berukuran 1.5 liter. Kami sepakat hanya boleh minum maksimal sebanyak satu botol saat perjalanan naik, 2 botol untuk masak, dan satu botol sisanya untuk perjalanan turun. Okay, semua sepertinya mengikuti aturan tersebut. Tiba-tiba malam itu hujan turun dengan derasnya di pos Batu Lingga sehingga flysheet kami menampung banyak sekali air hujan. Dari situ, kami berilma mendapatkan ekstra 6 botol air hujan. Di dalam gunung dan hutan yang diketahui tidak ada sumber air, air hujan dan air mineral botol rasanya sama saja. Bahkan beberapa kali saya minum air tersebut mentah-mentah atau untuk menyeduh kopi sachet.

Bersih-bersih

Sepertinya sudah hampir setengah tahun tidak ada konten baru di blog ini. Saat ini saya lebih suka twitter daripada blogging. Niat untuk menjadikan beberapa tweet menjadi ide tulisan di blog sama sekali tak terlaksana

Bahasan di Twitter sangat dinamis. Saat bangun tidur di pagi hari, anda bisa saja membahas konspirasi bom yang terjadi di Jl. MH Thamrin hari Kamis lalu, tetapi malamnya anda bisa saja membicarakan mengapa Jokowi tidak memasukkan kemejanya atau mengapa ada orang yang masih menganggap matahari mengitari Bumi. Saking dinamisnya, ia tak punya arah sama sekali. Arahnya adalah bergantung siapa saja yang ada di timeline-mu

Omong-omong saya sedikit kaget. User interface dari WordPress kini dengan tampilan yang baru dan lebih ‘bersih’. Entah sejak kapan karena ini pertama kalinya saya membuka blog sejak Juli 2015 lalu. Semoga sedikit banyak memotivasi saya untuk kembali menulis lagi

Sekelumit Sejarah Jilbab di Sekolah Negeri di Indonesia

Maaini's Weblog

KASUS JILBAB DI SEKOLAH-SEKOLAH NEGERI DI INDONESIA

TAHUN 1982-1991

OLEH:

ALWI ALATAS

* Keterangan: Artikel ini disederhanakan dari paper akademik yang diajukan untuk lomba penelitian LIPI beberapa tahun lalu, walaupun sayangnya tidak menang. Artikel lengkapnya bisa diambil pada attachment di bagian ke-3 tulisan ini. Secara umum isinya hampir sama dengan buku Revolusi Jilbab yang pernah kami tulis, hanya saja lebih ringkas dan lebih mengikuti pola penulisan akademik yang strict. Semoga bermanfaat.

Latar Belakang

Hubungan antara Pemerintah Orde Baru dengan umat Islam telah banyak mendapat perhatian dari para pengamat sosial dan politik. Sebagaimana masa-masa sebelumnya, hubungan umat Islam dan negara pada masa Orde Baru mengalami proses pasang surut. Hubungan tersebut diawali dengan adanya kerja sama di antara kedua belah pihak, kemudian terjadi ketegangan dan konflik, dan akhirnya kembali saling mengakomodasi.

Kerja sama antara kedua belah pihak di awal terbentuknya pemerintahan Orde Baru sebenarnya lebih dilandasi oleh adanya kepentingan bersama…

Lihat pos aslinya 4.154 kata lagi

Menghadapi Pandangan Orang Awam Mengenai Matematika

jonathanhoseana

Pengantar

Ada beberapa persepsi tidak benar mengenai matematika yang dimiliki oleh orang awam. Persepsi-persepsi tersebut menjadikan matematika tidak lagi bermakna, dan berangsur-angsur kehilangan jati dirinya. Tulisan ini akan membahas dua persepsi yang menurut penulis paling sering muncul. Yang pertama adalah persepsi bahwa matematika adalah pelajaran menghitung, sedangkan yang kedua adalah persepsi bahwa matematika adalah pelajaran yang tidak berguna karena jauh dari kehidupan nyata.

Persepsi Pertama: Matematika Sebagai Pelajaran Menghitung

Ketika sekumpulan mahasiswa dari berbagai bidang studi yang sedang bersantai di kafe ingin menghitung besar patungan yang harus dibayar oleh masing-masing dari mereka atau besar uang kembalian yang seharusnya mereka peroleh, secara spontan mereka langsung menunjuk mahasiswa matematika untuk melakukannya. Mari kita kritisi fenomena ini.

Sebagai seseorang yang menekuni matematika, sudah tidak jarang lagi penulis berhadapan dengan situasi seperti ini. Sekali dua kali, penulis menganggapnya sebagai candaan. Lama kelamaan, penulis merasa bahwa ada yang bisa dikaji dari pengalaman itu.

Pertama-tama, penulis…

Lihat pos aslinya 1.586 kata lagi