Kaum Intelektual dan In-“telek”-tual

Rumah Filsafat

amazonaws.com amazonaws.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Sedang Penelitian di München, Jerman

Di dalam sejarah Indonesia, kaum intelektual memiliki peranan yang amat besar. Mereka mendorong revolusi kemerdekaan. Mereka juga terlibat aktif dalam pembangunan setelah kemerdekaan. Mereka adalah kaum terpelajar yang telah mendapat pendidikan tinggi, lalu membagikan pengetahuan mereka untuk kebaikan bersama. Tokoh-tokoh besar, seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, Pramoedya Ananta Toer, adalah kaum intelektual Indonesia.

Namun, kaum ini sering disusupi oleh kaum lainnya, yakni kaum in-“telek”-tual. Telek berasal dari bahasa Jawa, yang berarti kotoran atau “tai”. Mereka berpakaian dan bersikap seperti kaum intelektual. Namun, mereka justru meracuni masyarakat dengan ide-ide jahat, dan justru memecah belah serta menciptakan pertikaian. Pikiran dan isi tulisan maupun kata-kata mereka bagaikan kotoran bagi kehidupan bersama.

Kita seringkali sulit membedakan kaum intelektual dan kaum in-“telek”-tual. Apa ciri-ciri dari kaum in-“telek”-tual ini? Bagaimana kita membedakan mereka? Bagaimana supaya kita tidak tertipu oleh kaum in-“

Lihat pos aslinya 448 kata lagi

Tentang Ibn al-Haytam dan Cara Berpikir

Saya penonton setia serial Cosmos. Saya selalu hadir di depan televisi setiap jam 9 malam di saluran National Geographic. Saat itu episode 5 yang bertajuk Hiding in The Light. Menceritakan seluk beluk tentang cahaya, dan mereka-mereka yang berjasa di bidang optik tersebut. Dimulai dari manusia goa yang takjub akan cahaya api, penemuan camera obscura oleh kebudayaan Tiongkok dan Arab. Ibn al-Haytam (Ibn al Hazen), Galileo Galilei, Isaac Newton, hingga temuan Joseph von Fraunhofer yang melahirkan bidang baru yaitu astrofisika.

Ibn al Hazen
Ibn al Hazen

Diantara nama-nama di atas, yang menarik perhatian saya adalah Ibn al-Haytam. Saya sudah lama mendengar nama ini. Kira-kira sejak SMA ketika saya membaca buku terbitan Republika. Saya hanya mengetahui bahwa beliau adalah salah satu saintis di bidang fisika optik saat zaman kejayaan Islam. Itulah yang sering saya baca dan kebetulan sangat dibanggakan teman-teman saya. Sayang, hal tersebut bagi saya tak terlalu spesial jika didengar. Kalau memang Ibn al-Haytam muslim, so what? Toh banyak “ilmuwan non-muslim” yang lebih membuat saya tertarik karena karya-karyanya. Tidak sekedar hanya ilmuwan tersebut beragama tertentu. Apalagi kebanyakan tak bisa jelaskan apa yang membuat ilmuwan muslim tersebut hebat.

Setelah menonton Cosmos A Spacetime Odyssey episode Hiding in The Light, akhirnya saya mengakui bahwa temuan Ibn al-Haytam itu sangat luar biasa. Bukan temuan camera obscura atau hal yang terkait fisika optik lain yang mampu membuat khalifah saat itu terobsesi dengan sains lalu banyak memberikan dana kepada ilmuwan-ilmuwan Islam, tetapi fondasi sains yang diajarkan oleh Ibn al-Haytam lah yang membuat saya terpana

Menurut Cosmos, Ibn al-Haytam membuat fondasi dasar berpikir ilmiah. Berikut kutipannya :

 Ibn al-Hazen was the first person ever to set down the rules of science.

He created an error-correcting mechanism, a systematic and relentless way to shift out misconceptions in our thinking. Finding truth is difficult and the road to it is rough. As seekers after truth, you will be wise to withhold judgment and not simply put your trust in the writings of the ancients. You must question and critically examine those writings from every side.

You must submit only to argument and experiment and not to the sayings of any person. For every human being is vulnerable to all kinds of imperfection. As seekers after truth, we must also suspect and question our own ideas as we perform our investigations, to avoid falling into prejudice or careless thinking.

Take this course, and truth will be revealed to you.

This is the method of science.

Ketika saya menonton bagian ini, mata saya berkaca-kaca. Selain mengingat bahwa saya sendiri masih sering melakukan kesalahan berpikir, saya juga membayangkan apa yang terjadi jika kita semua mempunyai kemampuan tersebut. Terus terang, kekurangan inilah yang membuat kita terbelakang saat ini. Kita lebih percaya kepada gosip, rumor, atau semacamnya tanpa menguji kebenarannya. Apalagi di era informasi di mana informasi membanjir dengan hebatnya. Kemampuan seperti di atas lah yang mampu menjadi pelindung kita agar tak mudah terjebak oleh kesalahan berpikir.

Only a few centuries ago, a mere second of cosmic time we knew nothing of where or when we were Oblivious to the rest of the cosmos, we inhabited a kind of prison a tiny universe bounded by a nutshell.  How did we escape from the prison?

It was the work of generations of searchers who took five simple rules to heart. Question authority.  No idea is true just because someone says so, including me. Think for yourself. Question yourself. Don’t believe anything just because you want to. Believing something doesn’t make it so. Test ideas by the evidence gained from observation and experiment. If a favorite idea fails a well-designed test, it’s wrong! Get over it.

Follow the evidence, wherever it leads. If you have no evidence, reserve judgment. And perhaps the most important rule of all. Remember, you could be wrong. Even the best scientists have been wrong out some things. Newton, Einstein, and every other great scientist in history, they all made mistakes. Of course they did, they were human.

Science is a way to keep from fooling ourselves and each other. Have scientists known sin? Of course. We have misused science, every other tool at our disposal, and that’s why we can’t afford to leave it in the hands of a powerful few. The more science belongs to all of us, the less likely it is to be misused. These values undermine the appeals of fanaticism and ignorance.

– Neil deGrasse Tyson. Cosmos A SpaceTime Odyssey, Episode Unafraid of The Dark

Selamat Malam 🙂

Perkalian ala Orang Jepang

Kalau saya sedang bosan, biasanya saya langsung membuka aplikasi StumbleUpon di Android, lalu buka topik “Mathematics”. StumbleUpon memang bisa saja membuat saya amazed karena selalu saja ada hal yang baru. Salah satu hal yang baru bagi saya adalah perkalian ala Jepang.

Apa yang kita lakukan jika bertemu soal perkalian sederhana 12 x 23 ? Tentu pembaca (yang mungkin mayoritas dididik dengan menggunakan sistem pendidikan Indonesia) akan melakukan perkalian seperti di bawah ini :

Image
Pernah disalahkan guru karena tidak mengerjakan dengan cara seperti ini?

Apakah cara yang diajarkan di atas adalah satu-satunya cara? Tentu saja tidak, masih banyak cara lain. Mari kita lihat bagaimana Jepang mengajarkan anak-anaknya perkalian. Hmmm ternyata sedikit berbeda. Inilah yang mereka tulis ketika bertemu soal tersebut :

Image
Gambar seperti inilah yang harus dibuat (sulit menggambar dengan menggunakan trackpad)

 

Jadi apa maksud dari gambar garis-garis di atas? Garis dikelompokkan dalam dua warna, saya buat merah dan biru agar memudahkan meskipun pada prakteknya warna tak perlu berbeda, yang penting mempunyai kemiringan yang sama dan saling sejajar. Kelompok pertama (merah) adalah representasi dari bilangan 12. Ada 1 buah garis merah, dan 2 buah garis biru. Urutan disini penting. Tulislah dari atas ke bawah (mengapa harus begini? nanti akan terjawab). Kelompok kedua (biru), adalah representasi dari bilangan 23, yaitu 2 garis, dan 3 garis yang ditulis dari bawah ke atas. Oke, ini mudah, hanya perkara menggambar garis sejajar saja 🙂

Selanjutnya, perhatikan titik potong yang terjadi dari garis-garis sejajar tersebut

Image
Kalau melihat angka-angka yang tertera, merasa familiar dengan cara perkalian standar?

Hitung jumlah titik potong yang terjadi dari garis-garis sejajar di atas. Ya, di bagian kiri, terjadi dua titik potong. Pada bagian tengah, ada tiga dan empat titik potong, serta bagian paling kanan ada enam titik potong. Sekarang mari kita lihat bagaimana hasil perkaliannya. Caranya, bagian paling kanan, adalah representasi dari satuan, yaitu 6. Di tengah, ada 3 dan 4, jumlahkan kedua bilangan tersebut sehingga kita dapat 7 sebagai puluhan. Dan terkahir di bagian paling kiri, 2 sebagai ratusan. Sehingga kalau dijumlahkan, kita akan memperoleh hasil 276

Image

 

Pertama kali saya tahu cara perkalian seperti ini, saya langsung mencoba-coba berbagai soal perkalian. Excited seperti anak yang baru belajar perkalian. Cara seperti ini mudah untuk perkalian dengan jumlah digit yang sama, dan angka satuan yang kecil (mungkin tak lebih dari 5) karena repot sekali jika harus membuat 9 garis untuk menghitung 29 x 91 atau 399 x 222. Anda bisa mencobanya sendiri di rumah.

Cara seperti ini intinya sama dengan cara “biasa” yang saya terangkan di awal. Hanya saja cara ini lebih mengedepankan visualisasi. Penggunanya hanya menghitung berapa jumlah titik yang terjadi akibat perpotongan dua kelompok garis sejajar tersebut.

Partai Golput Nyatakan Kemenangan, Siapkan Calon Presiden

POS RONDA | Indonesia's Political Infotainment

Bendera putih, simbol dan ikon yang menjadi andalan simpatisan Partai Golput. (photo courtesy of islamedia.web.id Bendera putih, simbol dan ikon yang menjadi andalan simpatisan Partai Golput. (photo courtesy of islamedia.web.id

JAKARTA, POS RONDA – Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Indonesia telah melangsungkan pemilihan umum legislatif kemarin (9/4). Pemungutan suara dilangsungkan di seluruh Indonesia semenjak pagi hari dan berakhir pada pukul 13.00 WIB. Hasil penghitungan cepat (quick count) dari pemungutan suara kemudian disampaikan oleh berbagai lembaga survei dan partai politik, termasuk POS RONDA yang bekerja sama dengan lembaga survei dan penghitungan global, Monte Cristo Counting (MCC).

Konsensus tidak tertulis dalam hasil penghitungan cepat yang dilakukan oleh berbagai survei menempatkan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDIP) sebagai pemenang pemilu, Partai Golkar di urutan kedua, dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) di tempat ketiga. Persaingan ketat terjadi antara Partai Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang bergantian menempati peringkat 4 dan 5 tergantung dari hasil quick count dari lembaga yang mengeluarkan datanya.

Penghitungan cepat yang dilakukan oleh POS…

Lihat pos aslinya 524 kata lagi

Tentang Kausalitas dan Korelasi

Kausalitas menurut KBBI adalah perihal sebab-akibat. Contohnya jika saya sengaja membenturkan kepala ke tembok, akibatnya kepala saya akan sakit dan mungkin benjol. Suatu hal “penyebab” diikuti dengan “akibat”. Bagaimana dengan korelasi? Korelasi -sekali lagi- menurut KBBI adalah hubungan timbal balik atau sebab akibat. Lah lalu apa bedanya? Ternyata kedua hal ini berbeda sama sekali.

Saya berikan suatu ilustrasi yang saya peroleh dari kuliah online Mikroekonomi via YouTube. Di suatu negeri antah berantah, terdapat suatu desa yang sedang diserang pandemi suatu penyakit, kolera misalkan. Tentu pemerintah tak mau tinggal diam melihat rakyatnya satu per satu jatuh sakit karena kolera. Akhirnya pemerintah berinisiatif mengirimkan banyak dokter ke desa yang semakin banyak kasus koleranya. Namun sejak hari pertama hingga hari ke tujuh, ternyata wabah kolera semakin melebar. Pemerintah mengirimkan lagi banyak dokter ke desa tersebut. Warga mulai merasa adanya suatu pola di sana yaitu mengapa semakin banyak dokter yang dikirim, justru penyakit tersebut semakin melebar? Akhirnya mereka mengambil kesimpulan bahwa dokter lah penyebab dari meluasnya kolera tersebut. Dari cara pengambilan kesimpulan demikian, mungkin yang terjadi selanjutnya adalah keadaan desa semakin rusuh, mereka mengusir para dokter satu per satu karena dianggap sebagai biang keladi dari bencana yang menimpa desanya.

Menarik bukan? Satu hal yang dapat dipahami dengan mudah adalah warga tak mampu membedakan mana yang berkorelasi dan mana yang merupakan suatu kausalitas. Jumlah dokter dengan jumlah kasus kolera mungkin berkorelasi secara positif atau searah. “Searah” dalam hal ini bisa dikatakan jumlah dokter meningkat diiringi oleh jumlah wabah kolera ATAU jumlah wabah meningkat diiringi dengan jumlah dokter. Tapi tak bisa diambil kesimpulan bahwa Dokter menyebabkan kolera. Atau mungkin jumlah wabah kolera yang menentukan banyaknya dokter?

Kesalahan berpikir ini sering sekali saya temukan (dan mungkin saya juga pernah melakukannya) saat sedang menguji suatu model dari banyak variabel. Misalkan besarnya klaim asuransi kendaraan bermotor dapat bergantung pada harga kendaraan, daerah pemakaian kendaraan, jenis kelamin dari si pengendara, tahun pembuatan kendaraan, dan lain-lain. Saya uji korelasi antar variabel-variabel tersebut. Misalkan saya menemukan hasil bahwa besarnya klaim asuransi kendaraan bermotor berkorelasi positif (atau searah) terhadap variabel jenis kelamin wanita, daerah pemakaian kendaraan dan berkorelasi negatif dengan harga kendaraan dan tahun pembuataan kendaraan. Kita mengira-mengira apakah data menunjukkan hasil yang make sense atau tidak karena model yang dibuat akan menjadi useless jika tidak sesuai dengan realita. Contoh, besarnya klaim berkorelasi negatif dengan harga kendaraan bermotor. Ini sedikit aneh karena besarnya harga pertanggungan selalu mengikuti besarnya klaim yang terjadi. Bisa juga dikatakan pemilik kendaraan yang harganya mahal menjadi lebih hati-hati dalam mengendarai kendaraannya sehingga klaim menjadi sedikit. Siapa tau? Perlu penelitian lebih lanjut. Begitu juga dengan pertanyaan apakah benar para wanita selalu menimbulkan klaim lebih besar daripada pria?

Pemilihan legislatif sebentar lagi akan dimulai. Sebelum itu dimulai, saya banyak melihat grafik tentang partai mana yang paling banyak korupsinya bertebaran di berbagai sosial media. Dari berbagai sumber tersebut, saya menangkap adanya pola bahwa urutan teratas partai yang paling banyak korupsinya adalah partai yang paling banyak menempatkan wakilnya di DPR. Karena saya tidak mempunyai data untuk menguji seberapa valid pola yang saya sebut di atas, maka tak banyak yang dapat di-hipotesis-kan. Juga menjadi suatu pertanyaan lagi adalah apakah penyebab korupsi dari suatu partai karena banyak wakilnya berada di parlemen? Pertanyaan ini menganggap hubungan banyak wakil – banyak korupsi menjadi kausalitas. Jika benar seperti ini, maka bisa jadi tak ada gunanya meraih dukungan dengan menyebarkan grafik tersebut 🙂

Dikit – dikit Herbal

“Obat herbal lebih aman, bebas dari bahan kimia”

dan bayangkanlah kalimat – kalimat lain yang bermakna serupa kalau anda bertemu orang yang sedang promosi obat herbal. Kadang saya tertawa geli di dalam hati ketika mendengar atau membaca statement seperti di atas. Ada beberapa yang mengganjal di benak saya tentang itu.

Pernyataan “bebas dari bahan kimia” itulah yang paling aneh. Dari apa yang saya pelajari di kampus, air yang kita minum pun masuk kategori “bahan kimia”. Oksigen yang kita hirup, juga bahan kimia. Tak ada benda yang di Bumi ini yang bukan bahan kimia karena semua benda mengandung unsur kimia yang ada tertera di tabel periodik yang sering kita lihat di sekolah itu. Apakah obat herbal mengandung bahan yang belum ada di tabel kimia? Saya jadi teringat film Battleship. Puing-puing pesawat luar angkasa milik alien tak ada di dalam tabel periodik. Mungkin bisa dijadikan bahan obat herbal.

Okelah, mungkin yang dimaksud “bahan kimia” itu adalah bahan kimia berbahaya. Siapa bilang bahan alami selalu aman dikonsumsi? Saya pernah dengar daun bayam tak baik bagi yang menderita asam urat. Padahal jelas – jelas daun bayam alami. Juga saya punya teman yang alergi dengan kacang. Kasihan sekali kalau alerginya kambuh. Padahal jelas – jelas kacang itu berasal dari alam. Bahan kimia berbahaya pun menjadi relatif. Dosen Kimia Dasar saya dulu mengatakan, kita terlalu takut dengan tahu yang menggunakan formalin. Beliau bilang formalin baru akan berpengaruh buruk ke kesahatan anda kalau anda minum segelas formalin tiap hari. Ternyata berbahaya pun ada kadarnya (saya tak menganjurkan anda makan tahu berformalin selama bertahun-tahun).

Selain itu, gembar – gembor lain obat herbal adalah obat herbal diambil langsung dari alam. Pernah saya diskusi dengan Alde perihal ini. Kata ibunya yang seorang dokter, ketika harus menjelaskan “obat herbal” ke pasien awam, beliau bilang obat “kimiawi” pun dulu asalnya juga herbal. Jadi prosesnya begini. Anggaplah ada dedaunan yang bisa menyembuhkan penyakit batuk. Daun tersebut diteliti, zat apa yang ada di dalamnya yang memang “bertugas” menyembuhkan batuk, karena di dalam tersebut juga ada zat – zat lainnya. Riset jalan bertahun-tahun hingga menghasilkan kesimpulan di dalam daun itu, ada zat yang namanya X yang bisa menyembuhkan batuk. Lalu dicari cara bagaimana membuat zat X tadi di laboratorium sehingga kita tak perlu repot – repot menanam tumbuhan itu dalam skala besar dan hanya diambil daunnya. Voila! Jadilah obat yang pada umumnya kita temui di apotik. Sederhananya begitulah. Obat yang kita sebut “mengandung bahan kimia” itu tak asal sim salabim ala kadabra. Apalagi cuma “dipercaya” seperti yang sering kita dengar bahwa “makanan X dipercaya menyembuhkan bla bla bla”.

Tulisan ini bukan anjuran untuk meninggalkan obat herbal. Saya hanya ingin mengajak para pembaca untuk semakin kritis dan tak mudah tergoda iming-iming sembuh secara instan, apalagi ketika bertemu klaim suatu obat dapat menyembuhkan seribu satu macam penyakit. Mohon maaf apabila ada yang tersinggung dengan tulisan ini. Pastikan saja obat herbal yang anda konsumsi sudah terdaftar di BPPOM sehingga ada jaminan obat herbal tersebut aman dikonsumsi.

Pahlawan Tan Malaka dan Alimin

ROSO DARAS

Tan MalakaSiapa Tan Malaka dan Alimin? Dua tokoh nasional yang berkibar pada tahun 40-an. Keduanya juga dikenal sebagai tokoh komunis Indonesia. Lantas apa hubungannya dengan status pahlawan mereka? Erat sekali hubungannya, karena keduanya tercatat sebagai pahlawan kemerdekaan nasional.

Tan Malaka ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tanggal 28 Maret 1963, melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 53 Tahun 1963. Sementara, Alimin, ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tanggal 26 Juni 1964 melalui Keppres No. 163 Tahun 1964.

Gelar Pahlawan Nasional ditetapkan oleh presiden. Sejak dilakukan pemberian gelar ini pada tahun 1959, nomenklaturnya berubah-ubah. Untuk menyelaraskannya, maka dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 disebutkan bahwa gelar Pahlawan Nasional mencakup semua jenis gelar yang pernah diberikan sebelumnya, yaitu:

  • Pahlawan Perintis Kemerdekaan
  • Pahlawan Kemerdekaan Nasional
  • Pahlawan Proklamator
  • Pahlawan Kebangkitan Nasional
  • Pahlawan Revolusi
  • Pahlawan Ampera

Tan Malaka adalah nama populer. Nama aslinya Ibrahim. Kemudian dari garis ningrat ibunya (Sumatera Barat), ia mendapat gelar kebangsawanan, sehingga nama…

Lihat pos aslinya 573 kata lagi

LaTeX di Mac

Kurang lebih dua bulan ini saya mulai menggunakan mac. Tentunya proses migrasi ini tak memakan waktu satu sampai dua hari, saya harus bisa beradaptasi karena sudah bertahun-tahun menggunakan Windows. Tentu yang pertama kali saya cari adalah membuat keyboard QWERTY di mac menjadi Dvorak, lalu mencari software pengganti yang biasa saya gunakan di Windows.

Dari sekian banyak software pengganti tersebut, salah satunya adalah TexShop. Ketika masih menggunakan Windows, TexStudio (dulunya TexMakerX) adalah software favorit saya jika ingin membuat dokumen dengan menggunakan LaTeX. Kini saya mulai menggunakan TexShop. Walaupun selepas kuliah sepertinya saya tak lagi memerlukan LaTeX untuk pekerjaan sehari-hari, tetapi inilah yang membuat saya menjadi sedikit lebih happy 😀

TexShop yang saya gunakan adalah bundling dari compiler LaTeX di Mac yang bernama MacTex. Jika di Windows mungkin software ini seperti MiKTeX. Jika dibandingkan dengan TexStudio, tentu TexShop lebih tak ramah karena mempunyai user interface yang sangat minimalis. Berbeda sekali dengan TexStudio yang sangat ramai dengan fitur, shortcut, dan menu. Kalau boleh saya bilang TexShop seperti TexWorks, software editor bawaan dari MiKTeX.

Jika di TexStudio saya perlu menekan tombol F9 untuk melihat preview dari dokumen saya, di TeXShop, shorcut yang tersedia adalah Command + T (perlu waktu sekitar 15 menit untuk mencari-cari ini -.- ).

Image
Tampilan TeXShop dan jendela preview

Mungkin step selanjutnya adalah saya akan mencoba compile ulang file LaTeX dari tugas akhir saya dengan menggunakan TexShop 🙂