ini nih yg kita butuhkan untuk referensi memilih gubernur/wakil gubernur tahun depan 😀

rizasaputra

seperti kita ketahui bersama, gubernur dan wakil gubernur terpilih Jawa Barat saat ini adalah Ahmad Heryawan & Dede Yusuf.

naah, apa saja hal yang mereka janjikan pada saat kampanye? berikut ini daftarnya:

1. Mengakomodasi pembentukan Propinsi Cirebon
2. Kontrak politik yang diajukan BEM se-Jabar

  • Jaminan cagub-cawagub untuk merealisasikan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun secara gratis selambat-lambatnya 2 tahun masa jabatan.
  • Transparansi penyaluran dana bantuan pendidikan.
  • Membuka ruang publik untuk komunikasi dengan masyarakat.
  • Kebijakan berorientasi pemberdayaan usaha kecil menengah.
  • Pemerintahan bersih korupsi, kolusi, dan nepotisme.
  • Membuat peraturan daerah yang transparan.
  • Menghapus dan menindak tegas pungutan liar.
  • Membasmi mafia peradilan.

3. Pemekaran Kab. Sukabumi.
4. Pengembangan seni dan budaya di Jawa Barat melalui pembangunan gedung-gedung kesenian bertaraf internasional, mematenkan kesenian khas Jabar.
5. Pengembangan dan penataan kembali kawasan Jatinangor.
6. Membuat kawasan olah raga dan sarana pendukung untuk meningkatkan prestasi olah raga Jabar.
7. Pertahankan eksistensi pasar tradisional melalui penataan berdaya…

Lihat pos aslinya 286 kata lagi

Iklan

ini kalau di Indonesia ‘setara’ ama UN Matematika

GFBrandenburg's Blog

As promised, here is the last section (four pages, two long exercises, each one made of subsections and subquestions) of one of the French Mathematics Baccalaureate exams. This version is one for folks who did serious secondary work in mathematics and science. This was a lot of very slow, technical typing, and trying to figure out whether I want to give a literal translation, or whether I should reach for easier understanding by American readers. I tried to opt for the second choice.

Be prepared: this section of the test is rough going, too. If you can’t quite even figure out what they are asking, you are in very good company! Only folks who have been specifically and recently studying or teaching these particular concepts would have a chance of passing.  Even with a score of 45%.

(page 4:)

and page 5:


page 6:

 and finally, page 7:

If you’ve…

Lihat pos aslinya 56 kata lagi

Normal Deviate

Statisticians are woefully ignorant about computer science (CS).

And computer scientists are woefully ignorant about statistics.

O.k. I am exaggerating. Nonetheless, it is worth asking: what important concepts should every statistician know from computer science?

I have asked several friends from CS for a list of the top three things from CS that statisticians should know. While there wasn’t complete agreement, here are the three that came up:

  1. Computational complexity classes. In particular, every statistician should understand what P and NP mean (and why you get $1,000,000 from the Clay Mathematics Institute if you prove that $latex {P\neq NP}&fg=000000$.). Understanding the fact that searching through all submodels in a variable selection problem is NP hard will convince you that solving a convex relaxation (a.k.a. the lasso) is a really good idea.
  2. Estimating computing time. In CS and machine learning, it is expected that one will estimate the number of operations…

Lihat pos aslinya 149 kata lagi

Masalah SARA

Isu yang lagi hangat akhir-akhir ini, bahkan sampai menyeret seorang penyanyi dangdut (bahkan Rajanya pula) yang saya gemari. Saking hangatnya membuat suhu dingin Bandung menjadi lebih sedikit hangat ketika membicarakan ini. SARA adalah akronim dari Suku Agama dan Ras. Ketiga hal itu adalah identitas bagi mayoritas manusia dibawa sejak lahir (dengan asumsi agama adalah pemberian orang tua dan tidak berubah hingga mati). Karena sifat ‘bawaan’ seperti ini, hal ini sangat sensitif sekali untuk dibawa-bawa ke ranah publik.

Mengapa saya mengatakan ranah publik? mudahnya begini, publik adalah kumpulan berbagai macam jenis manusia, SARA nya belum tentu sama semuanya meskipun ada satu poin dari tiga itu yang sama. Iya, ranah publik, inilah yang harus diperhatikan sebelum ber-SARA ria. Pastikan semua unsur SARA itu cocok untuk semua hadirin yang hadir sebelum melakukan tindak ber-SARA ria agar tidak ada pihak yang tersinggung.

Lah berarti saya mendukung ber-SARA ria? tidak. Saya bukan mendukung, tetapi SARA ini, karena bawaan lahir, pasti ada saja celahnya dan sulit untuk dibendung di tengah kondisi masyarakat yang masih memegang teguh primordialisme ini. Karena sulit dibendung, hal yang paling memungkinkan dilakukan adalah melokalisasi kegiatan ber-SARA ria. Jika ingin ber-SARA ria, pilihlah tempat seperti lokalisasi pekerja seks komersial. Silahkan anda memakai jasa PSK itu tetapi jangan melakukan hal tersebut di ranah publik, kan malu.

Nah balik lagi ke Raja Dangdut yang saya gemari itu. Beliau tidaklah salah, ah pasti pembaca berpikir saya subjektif terhadap kasus ber-SARA ria ini. Memang, di ayat Quran ada ayat yang mengatakan janganlah memilih pemimpin dari orang kafir. Namanya juga ayat Quran, merupakan suatu ajaran agama, salah satu dari tiga poin SARA. Lakukanlah ini di tempat tertutup dan jangan sampai muncul di ranah publik agar orang-orang yang ber-SARA tidak sama dengan kita tak tersinggung. Gimana tidak tersinggung, SARA kan bawaan lahir, menyinggung SARA berarti telah menyinggung seseorang hingga ke leluhurnya (diasumsikan leluhurnya juga mempunyai SARA yang sama). Saya berani jamin, siapa sih yang tidak marah kalau leluhurnya di ejek?

Saya jadi sering berpikir, kapan ya umat manusia dapat bersatu tanpa memandang SARA? saya yakin mau SARA seperti apapun kita ini 1. diciptakan oleh Tuhan yang sama (khusus untuk yg percaya Tuhan) atau 2. masih spesies yang sama (khusus untuk yg tidak percaya Tuhan). Apakah kita harus menunggu alien menyerang bumi baru kita bersatu tanpa memandang SARA dan sama-sama berjuang atas satu nama yaitu kemanusiaan? Alien cukup lah ada di film, saya yakin kita dapat bersatu sebelum alien datang, karena kita makhluk yang berpikir.

Main Hitung-Hitungan TransJakarta

Image
Bis TransJakarta

Pagi ini (6/7) saya membaca sebuah berita di harianThe Jakarta Post tentang janji gubernur jakarta yang terpilih tahun 2007 lalu, yaitu Fauzi Bowo yang terbukti ingkar janjinya untuk membangun 15 koridor, dan hanya berhasil membuat 11 koridor yang akan dibuka akhir tahun ini. Itupun 11 koridor mayoritas peninggalan gubernur yang lalu yaitu Sutiyoso. Lalu saya menemukan sebuah data berikut dari harian tersebut :

The city now operates at total of 554 Transjakarta buses on 11 routes that cover 183.6 kilometers.

Dengan iseng, saya mengolah data diatas untuk mengetahui sebab mengapa saya harus menunggu minimal 20 menit sampai 1 jam untuk dapat naik bis TransJ saat pulang kantor.

554 bis terdapat di 11 rute (koridor), berarti masing-masing koridor mempunyai sekitar 50 buah bis. Karena bis-bis ini melayani perjalanan pulang pergi, jadi kita bagi dua lagi menjadi 25 buah bis. Dan area jalan yang tercover oleh TransJ ini 183.6 kilometer, jika kita bagi rata dengan 11 koridor, masing-masing koridor mempunyai jarak sekitar 16.7 km. Sangat masuk akal perhitungan jarak koridor ini.

Selanjutnya, jika saya distribusikan 25 bis itu ke jarak 16.7 km. Anggaplah jarak 16.7 km ini sebuah garis lurus, jika jarak bis itu sama, maka jarak antar bis adalah 1.5 km. Dan saya jadi ingat bis ini hanya boleh melaju maksimal dengan kecepatan 50 km/jam (dalam kenyataannya bisa kurang atau bahkan lebih?). Anggap lah jika bis ini selalu melaju dengan 50 km/jam, maka untuk satu titik halte tempat saya menunggu, saya harus menunggu selama 1.8 menit yang diperoleh dari 1.5 km dibagi dengan 50 km/jam.

1.8 menit itu waktu yg sebentar saudara-saudara. tapi yg saya alami sehari-hari selama satu bulan lebih ini bisa 10 kalinya. Mengapa?

Pertama adalah metode saya menghitung sampai keluar angka 1.8 menit itu. Terlalu ideal sekali. Tidak mungkin bis ini selalu melaju dengan kecepatan konstan 50 km/jam. Seakan-akan Jakarta itu kota Kuala Kapuas yang jalanannya hanya ramai ketika malam takbiran dan malam tahun baru. Saya tidak memperhitungkan jalanan macet, jalur TransJ yg diserobot mobil/motor, lampu merah, rombongan atau konvoi pengajian, supporter Persija, dan lain-lain. Belum lagi apakah benar 554 bis itu benar-benar fungsional? saya juga meragukan. Belum lagi distribusi jumlah bis tiap koridor yang jelas tidak sama, koridor 1 keliatannya lebih banyak daripada koridor 2 (mungkin). Belum lagi mengantri karena banyaknya pengguna moda transportasi ini. Memang perlu sekali-kali saya mencatat waktu saya menunggu mulai dari membayar tiket masuk hingga terangkut ke dalam bis.

Lalu apakah hitungan saya ini berguna? kadang perhitungan kasar seperti ini, dengan banyak asumsi, ikut membantu bagaimana menyelesaikan masalah ini. Mungkin metode probabilistik akan jauh lebih akurat lagi.

Negara Sering Bencana, Sudah Saatnya Memanfaatkan Asuransi Bencana

Resiko terbesar Indonesia terletak di daerah cincin api Pasifik, tentunya sering membuat tanah yang kita diami ini “berguncang”. Mulai dari gempa bumi, gunung meletus, hingga tsunami. Negara ini rawan bencana sejak dulu kala, bukan karena kerusakan moral, memang karena berada di daerah yang rawan. Untuk itulah kita harus belajar banyak mengenai mitigasi bencana dengan salah satunya penanganan resiko kerusakan bencana secara finansial. Mengapa secara finansial? ya karena itulah yang manusia bisa lakukan dengan kemampuannya karena kita tidak bisa mengganti nyawa yang hilang karena bencana. Yang bisa kita lakukan adalah awareness atau antisipasi terjadinya bencana, mulai dari sebelum terjadinya bencana hingga pasca terjadinya bencana.

Pernah suatu ketika saya mencari bahan untuk tugas akhir saya mengenai catastrophe modelling atau model katastropik, penelitian di bidang ini banyak dilakukan di Jepang, Amerika Serikat, New Zealand, Turki dan beberapa negara lainnya. Jika kita lihat lebih seksama, negara-negara tersebut mempunyai posisi dekat atau berada di atas patahan lempeng bumi. Walaupun secara penggunaan model katastropik tidak hanya digunakan untuk gempa bumi saja tetapi badai, banjir, kebakaran besar bahkan sampai ancaman keamanan oleh teroris. Namun Indonesia bagamaina?

Kerugian finansial yang besar sangat mungkin terjadi jika terdapat suatu daerah yang vital peran ekonominya dan terletak di daerah rawan bencana. Contoh kecil adalah misalnya terdapat suatu pabrik gula. Pabrik tersebut terletak di kaki sebuah gunung berapi yang mungkin sudah lama tidak meletus tetapi masih aktif. Tetap saja ada kemungkinan gunung tersebut meletus (besarnya kemungkinan harus berdasarkan perhitungan ahli vulkanologi). Bagaimana jika seandainya terjadi letusan gunung berapi tersebut? tentu saja pabrik dapat akan musnah dengan seketika. Kalaupun pabrik tidak hancur, akan ada gangguan bisnis karena para buruhnya harus di evakuasi ke tempat yang lebih aman yang berakibat pabrik tidak beroperasi. Inilah yang harus dipikirkan karena dampak ekonomi yang muncul akan dapat membuat efek bencana ini jauh lebih buruk dari hanya sekedar kerusakan infrastruktur.

Sering saya mendengar setiap kali terjadi bencana yang dapat pemerintah lakukan ketika rekonstruksi adalah mengeluarkan uang dari APBN. Bayangkan jika terdapat bencana beruntun (seperti tahun 2006 dimana Gempa bumi Yogyakarta dan bencana Lumpur Lapindo yang terjadi secara berdekatan) nantinya akan terjadi lagi kejadian serupa di masa depan? tentu APBN kita lama-lama akan tekor. Mungkin perlu dikaji lagi apakah negara kita perlu asuransi bencana secara nasional dan menyeluruh sehingga pengeluaran APBN hanya terjadi untuk membayar premi asuransi bencana setiap tahunnya ketimbang mengeluarkan uang dalam jumlah besar ketika bencana terjadi

Bayangkan jika pemerintah memang menganggarkan setiap tahunnya untuk membayar premi asuransi bencana. Jika terjadi suatu bencana, rekonstruksi infrastruktur yang hancur atau rusak akan cepat diperbaiki karena dananya telah tersedia dari asuransi. Walau cara ini tidak menjamin secara sepenuhnya. Sebagai contoh adalah Gempa bumi dan tsunami di Tohoku Jepang tahun 2011 lalu. Sudah setahun sejak bencana, masih ada korban yang belum memiliki rumah karena rumahnya hancur disapu tsunami, padahal kita tahu Jepang mempunyai mekanisme perlindungan finansial terhadap bencana. Bahkan kata seorang teman saya mengatakan kok bisa-bisanya orang Indonesia bisa hidup tanpa asuransi? Tentu kejadian di Jepang akan jauh lebih buruk dampaknya jika pemerintah setempat tidak bersiap-siap menanggung kerugian finansial akibat bencana.

Karena tulisan ini ditulis berdasarkan pengetahuan saya di bidang asuransi bencana yang masih sangat minim, mungkin nantinya terdapat suatu ketidakakuratan mengenai apa yang saya tulis. Mungkin akan terdengar lucu jika saya baca kembali tulisan ini setelah saya magang di sebuah perusahaan re-asuransi yang menangani asuransi gempa. Tetapi itulah ilmu, akan tetap nyangkut kalau ditulis Open-mouthed smile