Orang Orang Proyek

Orang – Orang Proyek merupakan buku kedua karya Ahmad Tohari yang saya baca. Seperti biasa, khas Ahmad Tohari dari buku Ronggeng Dukuh Paruk hingga buku ini yaitu beliau sangat jago mendeskripsikan kehidupan di kampung. Mulai dari suasana alam, perilaku orang kampung, hingga yang tidak dapat kita lihat dan dengar meskipun  kita berada di kampung seperti bunyi-bunyi binatang malam. Bagi yang pernah merasakan hidup di kampung, mungkin akan teringat kembali bagaimana damai nya hidup di kampung. 😀

2011-09-27 07.26.38

Buku ini bercerita tentang seorang sarjana bernama Kabul yang sedang memimpin sebuah proyek pembangunan jembatan di suatu kampung. Kabul dulunya adalah aktivis kampus, penuh dengan semangat idealisme. Latar dari buku ini adalah sekitar awal 1990-an, dimana Orde Baru sedang jaya-jayanya. Zaman partai hanya 3 buah. Sebagai seorang insinyur sipil, tentu saja Kabul ingin jembatan yang di bangunnya dapat awet, atau minimal memenuhi standar mutu yang dapat bertahan hingga minimal 10 tahun sesuai undang-undang.

Namun di tengah jalan, selalu ada saja hambatan non teknis yang membuatnya sulit melakukan itu. Dana yang di potong, keperluan untuk partai penguasa, bahan baku yang diturunkan kualitasnya, hingga waktu proyek yang di kebut hanya agar selesainya proyek bertepatan dengan HUT partai penguasa sehingga menjadi bahan kampanye untuk pemilu.

Hingga akhirnya Kabul mengundurkan diri sebagai pemimpin proyek tersebut karena ia menentang kebijakan kepala kontraktor yang memintanya menggunakan rangka besi bekas bongkaran untuk dipakai sebagai rangka lantai jembatan serta menggunakan pasir yang buruk mutunya.

Memang sebagian besar cerita buku ini adalah tentang proyek. Namun diluar itu kita dapat menemukan berbagai cerita tentang kehidupan kuli-kuli proyek, bagaimana mereka terhibur oleh banci, warung tegal di dekat proyek, hingga kisah Kabul dengan salah satu pegawainya yang bernama Wati. Kejadian terlucu adalah ada warga yang kehilangan anak perjaka nya, anak perjakanya ikut sebagai kuli proyek, sudah tidak pulang ke rumah selama beberapa hari, orang tuanya percaya bahwa anaknya telah dijadikan tumbal pembangunan jembatan dengan cara di cor hidup-hidup di fondasi tiang jembatan. Alangkah konyolnya!

Buku ini sangat rekomended untuk para calon2 sarjana, aktivis, dan lainnya. Betapa berbedanya alam dalam kampus dengan di luar kampus. Kondisi ideal 100% merupakan hal yang mustahil. Pinter-pinter kita nantinya, apakah memilih menjadi rimbunan pohon bambu yang mengikut arah angin, atau menjadi pohon beringin yang kokoh melawan angin?

FR Gathering Serapium Kaskus

Gathering Serapium Kaskus, diadakan pada tanggal 18 September 2011 di kota tua, lebih tepatnya di pelataran museum Fatahillah Jakarta Utara. Museum ini jadi saksi betapa berseminya bangsa Belanda (entah membangun atau menjajah) Indonesia karena tempat ini dulunya adalah kantor gubernur

2011-09-18 16.46.14

Oke, sedikit tentang tempatnya, saya akan ceritakan FR versi saya

Kami berangkat dari bandung bertiga, saya, missnn, ama neoarm23 janjian berangkat bareng dari bandung naik travel. Makasih buat neoarm yang dah mau kita repotin ngurus keberangkatan untuk mesen travel. Travel berangkat pukul 9.45 pagi dari BTC. Lumayan agak jauh dari tempat kosan kita. Saya dan missnn di Cisitu, neoarm di Tubagus Ismail. Kita janjian di pangkuan Ronald (anak ITB sekitarnya pasti tau) di simpang Dago.

Missnn dah nyampe disana duluan sambil makan mc Flurry, duduk sendirian macam anak ilang haha. neoarm belom nongol, setelah saya SMS, katanya ada rapat di asramanya (dasar aktipis!) jadi minta kita buat berangkat duluan ko BTC. Darisana mau ke fotokopian deket kampus, missnn mau fotokopi KTM nya biar dapet diskon ternyata pada tutup semua, ya udah langsung naik angkot Sadang Serang. Lalu lintas Bandung seperti yang udah gw prediksi pasti macet kalau hari minggu. Kita stuck di deket BEC, akhirnya gw mutusin turun disitu, jalan bentar ke jalan padjajaran biar langsung naik angkot arah Gunung Batu. Rupanya ni angkot doyan ngetem juga, neoarm dah sampe tempat travel ternyata.

Untung aja sengetem-ngetemnya angkot, sampai juga di BTC tepat waktu. Di travel kita cerita2 macem2. Gw duduk sebelah missnn, neoarm di belakang. Tol ga macet. Sampai mangga dua sekitar jam 12an siang. Naik angkot ke arah kota. Sampai sana kepagian, karena janjinya jam 2 siang.

Pertama kali ketemu anak serapium yaitu om adit ama temennya (sorry lupa namanya 😦 ). lalu dateng om natheo ama om danny. Sekitar jam 3 mulai ramai berdatangan.

Yang pertama adalah sesi perkenalan. Sulit bagi saya buat hapalin orang sebanyak itu dalam waktu singkat. Alhasil kalau disuruh inget2 nama, pasti ga sukses. Karena banyak banget yang dateng. Gathering kedua terbanyak orangnya yang pernah saya datengin. Gathering kaskuser ITB di Koboy itu yang paling rame.

Setelah perkenalan, kita bahas buku2 yang kita bawa kesana. Sialnya kenapa yang saya bawa itu buku Grand Design nya Stephen Hawking yak. Padahal itu bukan buku yang saya anggap terbaik (mungkin karena terjemahannya rada rada gitulah). Terpaksa ngomongin sedikit fisika partikel :hammer: yang pastinya tidak sangat menarik karena susah dimengerti bagi orang non fisika.

Koleksi bukunya anak2 serapium gokil. Saya ngiler bukunya om adit yang 1001 itu. Pengen tanya dapet dimana malah lupa. Gara2 om Danny, jadi ngiler baca The Alchemist yang Nicolhas Flamel. Kalau The Alchemist nya Paulo Coelho mah dah baca. Ternyata ada yang suka koleksi nya mbah Pram juga. Tapi tetep saya mau baca Orang-Orang Proyek nya Ahmad Tohari, ternyata om Danny punya. Lagi mau minjem akhirnya

Makin gelap, makin rame aja neh pelataran meseum Fatahillah. Ternyata bakal ada kayak pasar malam, jadi inget buku mbah Pram, Bukan Pasar Malam. Terasa banget hawanya disana. Kangen banget ama suasana ramai gini karena selama di Bandung habitat saya ga jauh2 dari Kosan-Kampus-Himpunan.

Kira2 ampe jam 6 sore kita nungguin kehadiran Putri Dangdut yang katanya mau bawa jaket. Karena dah pesen travel 18.45, saya ama missnn cabut duluan. Neoarm ga ikutan ke bandung, mau ke bekasi. Sampai bandung jam setengah 10, angkot2 Cisitu dah ga ada tuh, akhirnya muter lewat dago, Anter dulu missnn ampe depan kosannya (jadi inget kerjaannya taplok :hammer: ). Baru saya balik ke kosan

Bongkar Keyboard Untuk Layout Dvorak

Setelah mendapatkan pencerahan dari Sammy – Editor utama Mathco dan sedikit “racun” dari ezine yang diterbitkan oleh dvzine.org tentang enaknya memakai keyboard dengan layout dvorak, maka saya mengambil keputusan untuk mulai memakai keyboard ini.

2011-09-10 10.42.59

Sebenarnya tidak perlu mengganti layout keyboardnya secara fisik, karena windows telah menyediakannya di control panel. caranya ada di web dvzine yang telah saya berikan diatas.

Sebenarnya bukan baru-baru ini saya memakai keyboard ini, dulu saya telah memakai tetapi hanya sebentar saja. belajar pun baru sampai homerow saja, yaitu AOEU HTNS. Saya sedikit kesulitan menghapal posisi huruf-hurufnya. namun karena keyboard ini menjanjikan kecepatan yang lebih daripada keyboard QWERTY, saya rela membongkar keyboard laptop untuk disusun menjadi berlayout dvorak.

Beruntung Toshiba type M punya keyboard yang mudah dibongkar tanpa obeng sekalipun

2011-09-10 10.34.11

kini tinggal perlancar saja di web http://learn.dvorak.nl/

Pidato Tadi Malam

Saat-saat yang ditunggu oleh seluruh rakyat Indonesia mengenai krisis yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia yaitu pidato oleh Presiden kita. Dan isinya ternyata tidak jauh-jauh dari perkiraan orang kebanyakan, yaitu isi pidato akan bersifat normatif dan defensif.

Inilah Pidato Presiden SBY mengenai krisis antara Indonesia dan Malaysia, disadur dari web Siaganews.com

PIDATO
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MENGENAI
DINAMIKA HUBUNGAN INDONESIA – MALAYSIA
Jakarta, 1 September 2010
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Saudara-saudara se-bangsa dan se-tanah air yang saya cintai dan saya banggakan,
Malam ini, saya ingin memberikan penjelasan kepada rakyat Indonesia mengenai hubungan Indonesia – Malaysia. Marilah kita mengawalinya dengan melihat perkembangan dan dinamika hubungan kedua negara, salah satu hubungan bilateral Indonesia yang paling penting.  
Hubungan Indonesia dan Malaysia memiliki cakupan yang luas, yang semuanya berkaitan dengan kepentingan nasional, kepentingan rakyat kita.
Pertama, Indonesia dan Malaysia mempunyai hubungan sejarah, budaya dan kekerabatan yang sangat erat – dan mungkin yang paling erat dibanding negara-negara lain, dan sudah terjalin selama ratusan tahun. Kita mempunyai tanggung jawab sejarah, untuk memelihara dan melanjutkan tali persaudaraan ini.
Kedua, hubungan Indonesia dan Malaysia adalah pilar penting dalam keluarga besar ASEAN.  ASEAN bisa tumbuh pesat selama empat dekade terakhir ini, antara lain karena kokohnya pondasi hubungan bilateral Indonesia – Malaysia.
Ketiga, ada sekitar (2) juta saudara-saudara kita yang bekerja di Malaysia – di perusahaan, di kantor, di perkebunan, dan di rumah tangga.  Ini adalah jumlah tenaga kerja Indonesia yang terbesar di luar negeri.  Tentu saja keberadaan tenaga kerja Indonesia di Malaysia membawa keuntungan bersama, baik bagi Indonesia maupun Malaysia.
Sementara itu, sekitar 13,000 pelajar dan mahasiswa Indonesia belajar di Malaysia, dan 6,000 mahasiswa Malaysia belajar di Indonesia.  Ini merupakan asset bangsa yang harus terus kita bina bersama, dan juga modal kemitraan di masa depan.  
Wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Indonesia adalah ketiga terbesar dengan jumlah 1,18 juta orang, dari total 6,3 juta wisatawan mancanegara.
Investasi Malaysia di Indonesia 5 tahun terakhir (2005-2009) 285 proyek investasi, berjumlah US$ 1.2 miliar, dan investasi Indonesia di Malaysia berjumlah US$ 534 juta.  Jumlah perdagangan kedua negara telah mencapai US$ 11,4 miliar pada tahun 2009.  Hal ini menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Indonesia – Malaysia sungguh kuat.  
Namun, hubungan yang khusus ini juga sangat kompleks.  Hubungan ini tidak bebas dari masalah dan tantangan.  Ada semacam dalil diplomasi, bahwa semakin dekat dan erat hubungan dua negara, semakin banyak masalah yang dihadapi.
Contoh masalah dan tantangan yang kita hadapi adalah menyangkut tenaga –kerja Indonesia di Malaysia.   Kita tahu bahwa keberadaan 2 juta tenaga kerja Indonesia di Malaysia, disamping memberikan manfaat bersama, juga memunculkan kasus-kasus di lapangan yang harus terus dikelola.  Oleh karena itulah, sejak awal, saya berupaya keras untuk memperjuangkan hak-hak Tenaga Kerja Indonesia, antara lain menyangkut gaji dan waktu libur; memberikan perlindungan hukum, dan mendirikan  sekolah bagi anak-anak TKI.
Dalam kunjungan saya yang terakhir ke Malaysia, kita telah berhasil mencapai kesepakatan, mengenai pemberian dan perlindungan Hak bagi tenga kerja kita di Malaysia.
Berkaitan dengan permasalahan hukum yang dihadapi oleh tenaga kerja Indonesia di Malaysia, pemerintah aktif melakukan langkah-langkah pendampingan dan advokasi hukum, untuk memastikan saudara-saudara kita mendapatkan keadilan yang sebenar-benarnya.
Selain masalah TKI dan perlindungan WNI, kita juga kerap menjumpai masalah yang terkait dengan perbatasan kedua negara.  Masalah ini memerlukan pengelolaan yang serius dari kedua belah pihak.  
Karena itulah, menyadari kepentingan bersama ini, saya dan Perdana Menteri Malaysia sering berkomunikasi secara langsung, di samping forum konsultasi tahunan yang kami lakukan, untuk memastikan bahwa isu-isu bilateral ini dapat kita kelola dan carikan jalan keluarnya dengan baik.

Lanjutkan membaca “Pidato Tadi Malam”

Alangkah Lucunya (Kacaunya) Negeri Ini

Baru saja kita merayakan hari yang sangat istimewa bagi seluruh rakyat Indonesia yaitu hari Kemerdekaan yang ke 65 Republik Indonesia. Memang kita sudah merdeka secara fisik kawan, tidak ada lagi penjajah yang dengan ganasnya menduduki negeri ini dengan peluru dan mesiunya. Tapi ingatlah, negeri kita belum lepas dari penjajahan mental. Metode penjajahan tercanggih dan modern.

Penjajahan mental adalah penjajahan yang lebih sulit dilawan karena penjajahan ini menyerang langsung akal dan batin manusia. Berbeda sekali dengan penjajahan fisik, musuh berada diluar jiwa kita, berbentuk nyata, dan dapat langsung kita lawan. Dalam penjajahan mental, musuhnya bisa siapa saja, bahkan teman terdekat, orang terhormat, pejabat, bahkan presiden sekalipun. Tak perlu orang asing yang langsung datang ke negeri ini untuk menjajah, tetapi hanya memerlukan orang dalam yang sudah terjajah akalnya.

Salah satu contoh penjajahan mental adalah kebodohan dan merasa diri inferior. Dua hal ini cukup untuk membuat bangsa yang seakan-akan merdeka padahal terjajah. Kita dapat lihat Indonesia saat ini, banyak SDA kita yang dikuasai asing dengan dalih kita tidak mampu mengeksplorasi dan mengeskploitasinya karena teknologi kita belum sampai kesana, salah satu kita telah terkena penjajahan “merasa diri inferior” sekaligus menjustifikasi kita bahwa kita bodoh. Mari kita ambil contoh Freeport yang telah mengeksploitasi tanah Papua sejak tahun 1967 (wikipedia). Okelah saat itu kita adalah negara yang baru mengalami gejolak politik pada September 1965. Tetapi sudah lebih dari 30 tahun kawan mereka mengambil kekayaan alam kita. Kemanakah kita selama lebih dari 30 tahun itu? apakah kita tidak memulai sama sekali riset atau penelitian mengenai alat-alat tambang dari dulu? sementara kita terus bergantung kepada mereka untuk mengambil bahan tambang kita. Semakin lama saja alasan “teknologi kita belum sampai” itu dipakai sebagai alat pembenaran agar mereka dapat terus menghisap kekayaan alam kita.

Manusia makhluk sosial, memerlukan individu lain untuk dapat hidup, bukan berarti “harus” bergantung dengan yang lain agar dapat hidup. Kita dapat mandiri tanpa perlu bantuan negara lain. Daripada kita jauh-jauh mengikuti kebijakan Amerika untuk diterapkan disini, mengapa kita tidak meniru saja negara berkembang lain, ambil contohlah Iran. Mereka telah lama diembargo oleh Amerika serikat dalam hal persenjataan, dan kini yang terbaru adalah sanksi ekonomi. Tetapi mereka masih tetap dapat berkarya. Sedangkan Indonesia yang tidak mendapatkan sanksi apapun, masih begini-begini saja. Padahal dari segi jumlah penduduk, Iran sudah kalah telak. Hanya tinggal usaha kita saja mungkin masih kurang. Kita perlu pemimpin pemberani dan bertangan besi, bukan pemimpin peragu dan tukang curhat.

Alangkah kacaunya negeri ini

Mathematicians Solve 140 Year Old Boltzmann Equation

ScienceDaily (May 14, 2010) — Pennsylvania mathematicians have found solutions to a 140-year-old, 7-dimensional equation that were not known to exist for more than a century despite its widespread use in modeling the behavior of gases.

The study, part historical journey but mostly mathematical proof, was conducted by Philip T. Gressman and Robert M. Strain of Penn’s Department of Mathematics. The solution of the Boltzmann equation problem was published in the Proceedings of the National Academy of Sciences. Solutions of this equation, beyond current computational capabilities, describe the location of gas molecules probabilistically and predict the likelihood that a molecule will reside at any particular location and have a particular momentum at any given time in the future.

During the late 1860s and 1870s, physicists James Clerk Maxwell and Ludwig Boltzmann developed this equation to predict how gaseous material distributes itself in space and how it responds to changes in things like temperature, pressure or velocity.

The equation maintains a significant place in history because it modeled gaseous behavior well, and the predictions it led to were backed up by experimentation. Despite its notable leap of faith — the assumption that gases are made of molecules, a theory yet to achieve public acceptance at the time — it was fully adopted. It provided important predictions, the most fundamental and intuitively natural of which was that gasses naturally settle to an equilibrium state when they are not subject to any sort of external influence. One of the most important physical insights of the equation is that even when a gas appears to be macroscopically at rest, there is a frenzy of molecular activity in the form of collisions. While these collisions cannot be observed, they account for gas temperature.

Gressman and Strain were intrigued by this mysterious equation that illustrated the behavior of the physical world, yet for which its discoverers could only find solutions for gasses in perfect equilibrium.

Using modern mathematical techniques from the fields of partial differential equations and harmonic analysis — many of which were developed during the last five to 50 years, and thus relatively new to mathematics — the Penn mathematicians proved the global existence of classical solutions and rapid time decay to equilibrium for the Boltzmann equation with long-range interactions. Global existence and rapid decay imply that the equation correctly predicts that the solutions will continue to fit the system’s behavior and not undergo any mathematical catastrophes such as a breakdown of the equation’s integrity caused by a minor change within the equation. Rapid decay to equilibrium means that the effect of an initial small disturbance in the gas is short-lived and quickly becomes unnoticeable.

“Even if one assumes that the equation has solutions, it is possible that the solutions lead to a catastrophe, like how it’s theoretically possible to balance a needle on its tip, but in practice even infinitesimal imperfections cause it to fall over,” Gressman said.

The study also provides a new understanding of the effects due to grazing collisions, when neighboring molecules just glance off one another rather than collide head on. These glancing collisions turn out to be dominant type of collision for the full Boltzmann equation with long-range interactions.

“We consider it remarkable that this equation, derived by Boltzmann and Maxwell in 1867 and 1872, grants a fundamental example where a range of geometric fractional derivatives occur in a physical model of the natural world,” Strain said. “The mathematical techniques needed to study such phenomena were only developed in the modern era.”

The study was funded by the National Science Foundation.