Brain Drain

Brain drain adalah peristiwa para ahli-ahli dari suatu negara berkembang menuju ke negara yang lebih maju. Brain drain telah banyak dituduh sebagai bentuk kemunduran suatu bangsa karena banyak ahli-ahli yg meninggalkan negaranya dan karena jg negara yang tidak mampu membuat para ahli-ahli itu tetap meniti karir di negaranya sendiri. Biasanya mereka-mereka yang hijrah ke luar negeri itu adalah ilmuwan, insinyur, dokter, pakar IT, dan ahli-ahli lainnya. Tentu saja ini sebuah kerugian besar karena jika kita telaah lebih lanjut, negara harus menggunakan SDM dari luar negeri sementara di dalam negeri para ahli-ahliny sudah pindah ke luar. Tentu saja, SDM yang diimpor dari luar diiming-imingi bayaran yang lebih tinggi. Hal ini juga yang membuat para ahli-ahli dalam negeri enggan berkarir di negerinya sendiri, banyak perusahaan-perusahaan swasta, bahkan perusahaan milik negara yang bersedia membayar lebih tinggi untuk tenaga impor yang kemampuannya sama dengan tenaga lokal yang dibayar lebih rendah.

Sebenarnya banyak faktor lain yang menyebabkan terjadinya brain drain ini. Faktor ekonomi memang yang utama. Prospek ekonomi di negara maju memang lebih menjanjikan dibanding di negara sendiri. Gaji yang lebih tinggi, kondisi kerja, lingkungan yang aman, etos kerja yang baik di perusahaan yang dituju. Teknologi juga turut berpengaruh, di negara berkembang seperti Indonesia, para ahli-ahli yang mungkin di bidangnya sangat terpengaruh dengan alat-alat atau stuff yang canggih yang bisa saja tidak dimiliki oleh negara ini, terpaksa harus hengkang agar ilmu yang dipelajarinya dapat di aplikasikan.

Ada lagi faktor yang sebenarnya cukup menarik untuk kita ketahui. Bagi para ilmuwan yang mempelajari ilmu-ilmu yang tergolong baru bagi negara asalnya, juga turut menjadi oknum brain drain. Ilmu yang dianggap baru ini mungkin saja tidak atau belum berguna di negara asalnya sehingga sekali lagi seperti alasan diatas, agar ilmu yang dipelajarinya dapat diaplikasikan, maka terpaksa dia harus mencari pekerjaan di luar negeri.

Tidak sedikit juga warga kita yang mencomooh para ahli-ahli yang berkarir di luar negeri. Alasan utama mereka adalah kurangnya rasa cinta tanah air si ahli ini karena mau-maunya bekerja untuk bangsa lain. Namun jika kita simak lebih seksama alasan-alasan yang saya berikan diatas, faktor rasa cinta tanah air sepertinya tidak terlalu berpengaruh. Negara ini harus mencari siasat agar ahli-ahli itu pulang ke negeri ini lalu mengembangkan ilmunya ditanah airnya sendiri.

Sebagai contoh, B.J Habibie, seorang ahli penerbangan asal indonesia, karir beliau memang berkembang sangat pesat di perusahaan tempatnya bekerja di Jerman. Jerman memang pusat teknologi penerbangan. Namun suatu ketika, Presiden Soeharto memintanya kembali ke Indonesia, lalu beliau diberi amanah untuk memimpin IPTN. Hingga suatu saat, IPTN mampu membuat pesawat sendiri. Pertanyaanny, apakah pemerintah sekarang dapat berbuat seperti ini? menarik kembali para ahli-ahlinya di luar negeri untuk membangun negeri ini?

Selain itu, faktor politik juga turut berperngaruh. Saya pernah membaca buku tentang Soekarno. Pada era 50-an, Presiden Soekarno sedang gencar-gencarnya mengirim putra putri terbaik Indonesia untuk belajar ke luar negeri, salah satu negara tujuannya adalah Uni Soviet. Dari sekian banyak ahli-ahli yang dikirim ke Soviet, saya hanya kenal satu orang saja, yaitu Nurtanio. Nurtanio belajar tentang pesawat di Soviet, ketika kembali ke Indonesia, Nurtanio dapat membuat pesawat dari bangkai-bangkai pesawat milik Belanda yang sudah usang. Nurtanio juga sebagai founding fatherny IPTN (Industri Pesawat Terbang Nurtanio) yang pada era Presiden Soeharto huruf N diubah menjadi Nasional(apa Nusantara atau Negeri, hehe). Ada beberapa orang Indonesia yang masih belajar di Soviet saat itu tidak bisa pulang karena peristiwa G-30S PKI. Indonesia menjadi negara yang alergi terhadap komunis sejak peristiwa itu. Dan nasib para ahli yang belajar di Soviet tentu saja menjadi tidak jelas. Sehingga mereka memilih untuk berkarir di luar negeri daripada pulang untuk di tangkap dan dituduh sebagai PKI. Satu paragraf yang saya ceritakan ini pernah diceritakan di acara Kick Andy.

Terakhir, Pemerintah harus dapat menarik kembali para ahli-ahlinya yang sudah belajar di luar negeri. Kalau yang ini namanya reverse brain drain atau istilah lainnya Brain Gain. India mampu melakukan Brain Gain sehingga saat ini India menjadi negara yang patut diperhitungkan di Benua Asia. Hal ini dapat ditunjukkan oleh berdirinya markas Microsoft di India. Bahkan Bangalore, sudah dijuluki Indian Silicon Valley, Silicon Valley adalah tempat riset perusahaan-perusahaan raksasa dunia seperti IBM, Hewlett-Packard, dan Microsoft.

sumber:

Brain Drain, Masalah Besar Bagi Negara Berkembang
oleh Hariyanto EP FE UNS Surakarta