Hiking ke Kawah Ijen

Kawah Ijen
Kawah Ijen

Lihatlah tingginya gunung itu

Lihatlah hijaunya lembah dan bukit, serta birunya langit waktu itu

Lihatlah jalan menuju puncak yang berliku itu

Raung menyapa dari arah barat, minta untuk dikunjungi

Merupakan ide dari Alde untuk bermain ke Kawah Ijen yang terletak di perbatasan Bondowoso dan Banyuwangi, Jawa Timur. Kami berdua berangkat dari Bandung tanggal 25 Desember 2013 dengan menggunakan kereta Pasundan. Kereta berangkat pukul 5.30 dan sampai di Stasiun Gubeng sekitar pukul 21.00. Perjalanan yang agak panjang dan sulit tidur karena kereta ini bukan kereta malam yang bisa kita lewatkan begitu saja pemandangannya karena dari kaca kereta hanya gelap saja. Termasuk kami melihat gagahnya gunung Lawu di sebelah kanan kereta ketika kereta ini sudah melewati stasiun Solo Jebres.

Sesampainya di Gubeng, kami lanjutkan perjalanan ke terminal Bungurasih. Beruntung di dalam angkot F, bertemu dengan seorang ibu dengang dua anaknya yang dulunya mantan anak pecinta alam ketika SMA. Begitu katanya sembari menggendong anaknya. Mungkin ia tahu setelah melihat kita berdua memakai keril ‘full tank’. Terima kasih bu atas tipsnya tentang malam hari di kota Surabaya yang ternyata juga banyak copet. Angkot F hanya sampai terminal Joyoboyo, Wonokromo. Lanjut lagi dengan menggunakan angkot kuning jurusan Sidoarjo. Kami diturunkan persis di bawah jembatan penyebrangan yang langsung menuju pintu keluar terminal Bungurasih.

Terminal Bungurasih, jadi teringat masa kecil saya dulu di Jawa Timur. Mata saya sudah akrab dengan bis Eka, Mira, Akas, Restu dan Harapan Jaya. Hanya saja bis-bis tersebut kini tampak jauh lebih keren ketimbang terakhir kali saya melihatnya akhir tahun 1990an. Bentuk terminal pun sudah berubah, hanya bagian ruang tunggu penumpang yang masih sama seperti dulu. Disana kami makan dan meluruskan kaki sembari mencari bis menuju Situbondo.

Dengan menumpang Akas Patas AC jurusan Banyuwangi, kami sukses hanya sampai Probolinggo saja karena ternyata bis ini lewat Jember sebelum ke Banyuwangi. Di terminal Probolinggo, kami lanjut dengan bis bumel Akas menuju Situbondo. Kami berdua bertemu dua bule asal Jerman berumur kira-kira 50 tahunan yang tak jelas mau kemana, dan tiba-tiba memutuskan untuk pergi ke Ijen juga. Saya pikir mereka berdua ingin pergi ke Bromo. Oke, kini kita berempat.

Bis menuju Situbondo bukan bis ber AC. Saya lebih suka menyebutnya Bumel. Suatu istilah yang biasa dipakai di komunitas Bismania yang merupakan akronim dari mlebu kumel. Heran saya dengan supir bis di Jawa Timur ini. Doyan ngebut dengan suntikan musik dangdut koplo yang lagi trendi (buka sitik joss!). Alhasil saya tak bisa tidur, di kepala berputar bagaimana seandainya bis ini terguling, menabrak truk dari arah berlawanan (sembari perhatikan jalan yang berkelok-kelok di sekitar Paiton). Saya lihat ke deretan kursi belakang bis, bapak Jerman tadi sudah tidur telentang di bangku berkonfigurasi 2-3 ala Bumel.

Sampai Situbondo kurang lebih jam setengah 6. Kami turun, saya keluarkan keril dari bagasi, dan langsung pergi pipis ke WC terdekat. Sudah ada lagi minibis (kalau di Jakarta mungkin seperti Metro Mini atau Kopaja) jurusan Situbondo – Bondowoso. Inilah bis yang kami tumpangi sebelum menuju ke Ijen. Ongkosnya murah, hanya 6 ribu rupiah (saya sampai bilang “twelve thousand” ke bapak bule untuk memastikan bahwa kedua bule itu membayar dengan jumlah yang sama).  Sepanjang jalan Situbondo – Bondowoso akan melewati lahan tebu, rel lori tebu (entah lorinya ke mana), dan bagian yang saya suka: Gunung Argopuro di sebelah kanan jalan. Tidak sampai 2 jam kira-kira pukul 8, kami turun di daerah yang bernama Gardu Atak. Hanya pertigaan seperti biasanya. Lengkap dengan pangkalan ojek dan Indo*maret.

Hampir dua jam kami menawar, mempertimbangkan, menghitung-hitung, menolak, mengajukan, menawar kembali, dan seterusnya angkutan yang akan kami gunakan menuju Kawah Ijen. Si bapak Jerman ini menganggap ongkos yang dikenakan tukang ojek ini terlalu mahal. Jelas mahal karena ia membandingkan ongkos tersebut dengan ongkos sewa motor harian 50 ribu di pedalaman Sulawesi Tengah, bagian Indonesia yang telah ia kunjungi selama 3 minggu belakangan. Ujung – ujungnya kami deal naik angkot terlebih dahulu sampai daerah Sukosari (sekitar 15 km), dan jarak ke Kawah Ijen dari desa tersabut masih sekitar 51 kilometer lagi. Dari sana, kami naik ojek dengan ongkos Rp70.000,-

Pada mulanya, ongkos sebesar itu saya anggap mahal. Namun setelah betapa sadar saya naik ojek dengan jarak 51 kilometer selama hampir 3 jam dengan trek aspal menanjak, kiri-kanan hutan lalu masuk perkebunan kopi milik PTPN, akhirnya saya lumayan berbaik hati untuk menganggap tarif tersebut lumayan fair. Rutenya adalah dari Sukosari menuju Sempol, lalu dari Sempol menuju pos pertama Kawah Ijen atau yang bernama Paltuding. Di Paltuding, kami harus kembali membayar tiket masuk per orang kalau tidak salah Rp2000,- (kecuali untuk bapak-ibu Jerman tadi).

Fasilitas di areal kawasan Kawah Ijen lumayan lengkap, ada camping ground, WC -yang tak boleh digunakan untuk mandi- , dan beberapa warung. Beberapa hari sebelumnya saya browsing, tertulis bahwa diperlukan waktu 3 jam jalan kaki  dengan jalan setapak berpasir untuk sampai ke Kawah Ijen dari Paltuding. Keril kami titip di kantor, saya hanya membawa botol air 900ml dan tas pinggang.

“Hiking Ceria”, itulah yang pantas saya sematkan untuk trek dari Paltuding menuju Kawah Ijen. Benar-benar ceria karena trek sudah rapi dibuat berpasir untuk memudahkan penambang belerang lalu lalang melalui jalan tersebut. “Ceria” bagi kita yang sekedar hiking ke Kawah, mungkin “tidak terlalu Ceria” untuk penambang belerang yang memanggul bongkahan belerang yang beratnya mungkin mencapai 80 kg atau lebih.

Trek didominasi oleh jalan berpasir dengan lebar kira-kira dua meter. Tidak seperti kebanyakan gunung lain yang hanya berupa jalan setapak. Pemandangan selama naik pun cukup oke. Kita bisa lihat gagahnya gunung Raung di belakang, dan bukit hijau di depan kita jika menjelang sampai ke tepi kawah. FYI, jarak dari Paltuding menuju ke puncak adalah 3 km. Yah mirip-miriplah dengan jarak parkiran Cibodas ke air terjun Cibereum di Taman Nasional Gede Pangrango. Sedangkan elevasinya dimulai dari ketinggian 1800an meter naik hingga 2300an meter. Jadi kira-kira akan menanjak setinggi 500 meter.

Pondok BunderDengan info di atas dan menggunakan konsep trigonometri sederhana, jalur mempunyai kemiringan sekitar 12 derajat. Tidak terlalu curam kan? karena itu hanya pendekatan secara sederhana saja. Padahal terdapat bonus turunan atau jalan mendatar di beberapa tempat sehingga jalur menjadi defisit beberapa derajat. Defisit beberapa derajat berarti harus dibayar dengan kecuraman di tempat lain karena jalur yang kita lewati berupa kontur permukaan kontinu. Tentu kecuraman sudut akan berkurang jika trek atau cara berjalan kita zig – zag. Cara berjalan zig – zag ini yang sering saya gunakan ketika naik gunung.

Setelah di Paltuding, kita akan melewati suatu tempat yang bernama Pondok Bunder di ketinggian 2214 mdpl. Pondok Bunder mungkin tempat peristirahatan para penambang belerang karena disini ada beberapa bangunan. Ada juga warung kalau anda ingin rehat sebentar sebelum menuju ketinggian 2300 mdpl. Kira – kira satu jam 45 menit, kita berdua telah sampai di Kawah Ijen. Saat itu angin mengarah ke (kalau tidak salah) utara sehingga bau belerang tidak terlalu terasa. Dinding kawah didominasi warna putih – cokelat, air di dalam kawah berwarna biru. Lengkap dengan kepulan asap putih pekat. Angin di bibir kawah lumayan kencang. Menurut Wiki, tingkat keasaman air di kawah mencapai 0.5, tentu ide yang buruk jika anda ingin berenang di sana. Karena kami berdua naik ke atas saat siang hari, jadi matahari sedang terik-teriknya di atas kepala. Namun percayalah tidak terlalu panas karena angin yang bertiup bagai AC, sangat sejuk. Tetapi saran saya tetap menggunakan sunblock.

Setelah kira-kira satu jam menikmati Kawah Ijen, kami berdua langsung turun. Ternyata turun lebih cepat lagi karena selain perut sudah lapar karena kami tidak sarapan, juga kami harus mengejar bis terakhir menuju Situbondo hari itu juga untuk ke Magelang. Si bule Jerman memutuskan untuk pulang duluan karena sudah ada tukang ojek yang menunggu sedari tadi di parkiran. Mereka ingin pergi ke Bromo sepertinya. Pada awalnya mereka ingin mengikuti kami berdua untuk naik Merbabu (yang tadinya mereka kira kami ingin naik Merapi sampai – sampai mereka tanya apa lewat jalur Selo atau Kaliurang setelah membaca Lonely Planet). Sebelum berangkat dan packing ulang, kami berdua masak spaghetti terlebih dahulu di bawah pohon yang rimbun seperti orang lagi piknik 🙂

Kira – kira jam 4 atau setengah 5 sore kami sampai kembali di Gardu Atak. Saya menunggu bis menuju Situbondo di depan Indo*maret Wonosari sembari packing ulang dan cek logistik untuk pendakian selanjutnya yaitu Merbabu

Berikut tips yang mungkin perlu di catat:

  • Sebenarnya ada angkutan umum yang melewati Gardu Atak namun hanya sampai Sempol. Angkutan umum berupa Elf besar ini mulai ada sekitar pukul 9 pagi (kami sampai Gardu Atak terlalu pagi). Entah berapa tarifnya, tetapi jelas lebih irit ketimbang naik ojek dari Sukosari atau bahkan dari Gardu Atak langsung. Dari beberapa info di internet, naik ojek dari Sempol ke Paltuding sekitar Rp50.000,-
  • Bawa uang secukupnya karena ATM di daerah ini sangat jarang. Hanya ada beberapa ATM BRI dan semacam sudah lama tidak digunakan. Jika tidak ketemu, coba anda ke daerah Wonosari (sekitar 2 km arah Bondowoso dari Gardu Atak). Ada ATM Mandiri dan BNI di sana.
  • Jangan barengan dengan wisatawan bule kalau tak mau kena ongkos mahal. Ini juga yang menjadi curhat si bule ke Alde, ia bilang mengapa di Asia selalu begitu? (bule kena ongkos lebih mahal)
  • Sekali anda sampai Paltuding, pikirkanlah bagaimana cara pulang. Ide yang paling bagus adalah anda janjian dengan tukang ojek. Tawarkan suatu harga untuk pulang dan pergi, bayar kira-kira sepertiganya terlebih dahulu lalu dua pertiga ketika pulang untuk menjamin mereka kembali ke Paltuding.
  • Kalau mau beli minuman/makanan kecil, Sempol adalah lokasi terakhir jika anda ingin harga yang lebih murah 🙂
  • Pastikan sebelum bermain ke Kawah Ijen, anda harus olah raga terlebih dahulu. Jangan anggap enteng jarak 3 km. Jika tubuh anda belum terbiasa berjalan kaki, mulailah terbiasa. Jangan pernah anggap enteng gunung apapun. Sudah ada korban jatuh di Gunung Ijen

Mendaki Gunung Burangrang PP

Sebelumnya saya ceritakan dulu mengenai gunung Burangrang. Gunung ini terletak di sebelah utara dari kota Bandung. Bersebelahan dengan gunung Tangkuban Perahu yang berada di sebelah timurnya. Mempunyai ketinggian 2064 meter diatas permukaan laut. Gunung ini adalah gunung purba. Saya kurang tahu kenapa disebut gunung purba, mungkin karena gunung ini sudah ada dari jaman prasejarah #ngasal.

Untuk dapat mencapai gunung ini, dari kota Bandung kita dapat mengambil angkutan umum ke arah Ledeng, lalu tinggal nyebrang dari terminal Ledeng ada angkot putih jurusan Ledeng – Parongpong. Parongpong adalah salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Bandung Barat. Dari sini, dengan melihat ke arah utara kita sudah dapat betapa gagahnya gunung Burangrang di sebelah kiri dan gunung Tangkuban Perahu di sebelah kanannya. Biasanya puncak Burangrang tertutup oleh kabut.

Sedangkan untuk mendaki ke puncaknya, yang saya tahu terdapat 2 jalur pendakian yaitu pertama melewati gerbang Komando dan kedua melewati jalur legok haji. Disebut jalur komando mungkin karena jalur ini melewati daerah latihan Kopassus, sehingga untuk dapat naik ke gunung kita harus lapor dulu di pos pintu angin, sekitar 20 menit berjalan kaki dari gapura bertuliskan “KOMANDO” di sisi jalan raya Parongpong – Cisarua. Jalur ini sangat terkenal di kalangan pendaki pemula (mungkin) karena mempunyai trek yang lebih landai dan pemandangan yang lebih memukau dibandingkan jalur legok haji yang lebih curam dan hanya melewati rimbunan hutan saja.

Hari Sabtu, 14 Januari 2012, saya berdua dengan teman saya Rifqi FI09 mendaki gunung ini secara PP (pulang pergi tanpa camping). Kami berangkat dari gerbang belakang kampus ITB jam 7 naik angkot Cicaheum – Ledeng, lalu lanjut dengan angkot Ledeng – Parongpong yang ngetemnya super lama itu. Kira2 sampai di gerbang komando sekitar pukul 9 kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju pos pintu angin kira2 20 menit menuju utara. Disana kami beristirahat sebentar sembari minta izin ke Burangrang oleh seorang anggota Kopassus. Dari pos itu terdapat dua jalur yaitu ke kanan dan ke kiri. Jalur kanan adalah jalur menuju Situ Lembang dan ke kiri jalur menuju puncak Burangrang.

Tepat setengah 10 kami mulai mendaki. Trek benar2 landai dan masih santai tidak terlalu menguras tenaga. Pemandangan yang dapat dinikmati adalah hutan pinus dan kokohnya Burangrang di sebelah kiri jalan. Kira-kira 10-15 menit melewati hutan pinus, vegetasi mulai berubah menjadi semak-semak lalu mulai memasuki hutan. Di dalam hutan trek masih landai dengan sesekali ada tanjakan. Karena malamnya hujan, tanjakan ini menjadi arena “perosotan” bagi kami berdua yang tidak memakai sepatu khusus trekking, malah Rifqi memakai sepatu futsal.

Makin keatas, hutan semakin padat dan sesekali jalan setapak dihalangi oleh pohon yang tumbang. Perpaduan gerakan mendaki dan merunduk menjadi sebuah kelaziman. Kira-kira setelah berjalan 1 jam, hutan semakin rimbun dan semakin basah karena kabut. Jalan setapak ini dibuat di punggungan sehingga di sebelah kiri dan kanan jalan dapat berupa jurang atau memiliki tanah yang lebih rendah. Waspadai jalanan yang licin yang mungkin saja dapat membuat kita terperosok. Setelah jalan 2 jam-an, di sebelah kanan dapat terlihat jelas (jika tidak ada kabut) pemandangan cekungan antara gunung Tangkuban Perahu dan Situ Lembang, indah sekali, sayang waktu itu kami berdua tidak membawa kamera sehingga perjalanan ini tidak ada dokumentasinya. Jika pembaca penasaran silahkan di googling saja fotonya, saya kira pemandangan ini adalah pemandangan favourite dan unik ketika mendaki Burangrang lewat jalur Komando.

Kabut juga sering turun di tempat yang tinggi ini. Kadang juga disertai oleh gerimis, sehingga wajib bawa jas hujan atau minimal jaket yang tahan air. Ketika mendekati puncak, vegetasi mulai berubah menjadi tumbuhan paku setinggi pinggang. Ada beberapa tanjakan curam sebelum sampai di puncak. Tanjakan ini berupa campuran batu dan tanah liat yang akan sangat licin jika hujan.

Kurang lebih pukul 12 siang kami telah sampai di puncak Burangrang. Pertanda anda sudah mencapai puncak adalah tugu triangulasi yang menandakan anda berada di ketinggian 2064 mdpl. Sayang masih ada saja vandalisme di tugu ini. Banyak coretan dan bahkan “relief-relief” nama diukir disana! Dari puncak Burangrang kita dapat melihat pemandangan kota Bandung di arah Tenggara (jika tidak tertutup kabut). Kota Bandung bagai kota yang digelar di dasar mangkok pegunungan yang mengelilinginya. Percayalah bahwa Bandung itu berada di cekungan dan dikelilingi oleh gunung-gunung. Melihat ke sedikit arah timur, ada gunung Manglayang yang menjadi target pendakian saya selanjutnya.

Kira-kira hanya setengah jam kami keatas, karena kabut mulai tebal dan hujan mulai turun, kami memutuskan untuk turun. Tapi kami tidak melalui jalur yang sama dengan berangkat, kami melalui jalur lain yaitu jalur legok haji yang langsung mengarah ke selatan dari puncak. Dan jalur ini curam. Bahkan ditengah jalan akan sering kita temui turunan yang membuat kita sedikit lompat karena tinggi sekali. Karena malamnya hujan, jalur ini sangat licin sekali. Saya berkali-kali terpeleset dan jatuh. Malah yang lebih parah saya sekali terpeleset jatuh terduduk, lalu meluncur ke bawah dan terguling-guling. Untung tidak ada luka yang berarti, hanya lecet-lecet sedikit. Saya perkirakan saya meluncur dari ketinggian kira-kira 2 meter.

Turunan yang curam ini akan terus ada hingga kami melewati 2 “terowongan” yang sebenarnya adalah tumbuhan yang membentuk terowongan. Jika vegetasi berubah dari hutan hujan menjadi semak-semak, anda sudah dekat dengan tepi hutan. Kira-kira setelah berjalan 2 jam 15 menit kami sudah keluar dari hutan. Kini kiri-kanan jalanan adalah padang rumput. Saya lihat ke belakang gunung Burangrang sangat kokoh dengan kabut di puncaknya. Jalur masih turun kebawah, lama-lama akan melewati perkebunan milik warga lalu akan berujung ke jalan beraspal suatu kampung (saya tidak tahu nama kampungnya). Dari jalanan kampung menuju jalan utama Parongpong Cisarua ternyata masih jauh. Beruntung kami mendapat tumpangan motor oleh penduduk setempat yang mau ke pertigaan SPN Cisarua. Disana kami naik angkot ke arah Parongpong, lanjut Ledeng dan pulang.

Mungkin ada beberapa tips dari saya

1. pastikan bawa air yang cukup. Selama diperjalanan mendaki saya tidak melihat sumber air

2. jangan lupa memakai sepatu trekking yang mempunyai sol yang tidak licin dan kasar

3. hati-hati tanaman berduri, banyak sekali di jalur legok. mungkin jika kita membawa golok akan sangat membantu