Ujian Reevaluasi Kalkulus 1A 2012-2013

Bagian A

1. Hitunglah \lim_{x\rightarrow 0}x^2\cos\left(\frac{3}{x}\right)

Jawab :

Gunakan prinsip apit.

-1\leq\cos\left(\frac{3}{x}\right)\leq 1

-x^2\leq x^2\cos\left(\frac{3}{x}\right)\leq x^2

kita tahu bahwa \lim_{x\rightarrow 0} -x^2 = \lim_{x\rightarrow 0} x^2 = 0. Maka  \lim_{x\rightarrow 0}x^2\cos\left(\frac{3}{x}\right) = 0

2. Tentukan persamaan garis singgung kurva y=\frac{1}{x+1} di titik P\left(1,\frac{1}{2}\right)

Jawab :

y'=\frac{-1}{(x+1)^2}, sehingga gradien garis singgung di x=1 adalah m=-\frac{1}{4}. Diperoleh garis singgng di P adalah y=-\frac{1}{4}+\frac{3}{4}

3. Tentukan selang kemonotonan fungsi f dengan memperhatikan grafik f' dibawah ini

Jawab :

Ingat bahwa f monoton naik jika f' >0 dan turun jika f' < 0

f monoton turun pada selang (-\infty,0) dan (0,2). Sedangkan f monoton naik pada selang (2,\infty)

4.  Tentukan konstanta positif a agar \int_0^a(2x+2)\,dx=3

Jawab :

\int_0^a2x+2\,dx = \left[x^2+2x\right]_0^a=3

a^2+2a = 3 sehingga a=1

5. Hitunglah \int_{-1001}^{1001} x^2\sin 3x\,dx dengan menggunakan sifat simetri

Jawab :

\int_{-1001}^{1001} x^2\sin 3x\,dx=0 karena x^2\sin 3x adalah fungsi ganjil.

6. Tentukan \int \frac{\ln x}{x}\,dx

Jawab :

\int\frac{\ln x}{x}\,dx =\int\ln x\,d(\ln x)=\frac{1}{2}\ln^2 x+C

7. Tentukan turunan kedua dari f(x)=e^{-5x}

Jawab :

f'(x)=-5e^{-5x}, diperoleh f''(x)=25e^{-5x}

8. Tentukan solusi \frac{dy}{dx}=2xy dengan y\neq 0

Jawab :

\frac{dy}{dx}=2xy

\frac{dy}{y}=2x\,dx

\int \frac{dy}{y}=\int 2x\,dx

\ln y = x^2 + C

y = Ce^{x^2}

Bagian B

1. Diketahui daerah D merupakan daerah tertutup di kuadran 1 yang dibatasi oleh kurva y=x^2,\, y=2-x dan sumbu y

a. Sketsalah daerah D

b. Misalkan V adalah volume benda putar yang terjadi jika D diputar mengelilingi sumbu y, tuliskan \Delta V kemudian hitunglah V

Jawab :

grafik

b. dengan menggunakan metode kulit tabung

\Delta V = 2\pi x(2-x -x^2)\Delta x

sehingga volume dari benda tsb adalah

V = \int_0^12\pi x(2-x-x^2)\,dx=\frac{5\pi}{6}

2. Kecepatan transmisi sinyal, T , pada suatu kabel telegraf dapat dinyatakan dalam bentuk T(x)=kx^2 \ln \frac{1}{x} dengan x adalah perbandingan jari-jari kawat dalam kabel dan insulatornya, 0<x<1, dan k adalah suatu konstanta positif.

a. Tentukan k jika diketahui T\left(\frac{1}{e}\right) = 1

b. Tentukan titik di mana T mencapai nilai maksimum

Jawab :

a. diketahui $latex T\left(\frac{1}{e}\right) = 1$,

T\left(\frac{1}{e}\right) = k\frac{1}{e^2}\ln e = 1, diperoleh k = e^2.

b. T'(x)=-2xe\ln x - ex = 0 untuk mencari titik stasionernya

ex(-2\ln x - 1) = 0, maka -2\ln x - 1=0, diperoleh x = \sqrt{e}

dengan nilai maksimum di T(\sqrt{e}) = \frac{e}{2}

Iklan

Bukan Jawaban UAS Kalkulus IA 2012-2013

Perhatian :

– Ini jawaban versi saya sendiri, jadi belum tentu benar, tolong di cek kembali

– saya tidak bertanggung jawab atas kerugian-kerugian yang timbul akibat post ini 😛

—–

Bagian A

1. Tentukanlah F(x), jika F(x) merupakan anti turunan fungsi f(x)=2x^2-\cos x yang memenuhi F(0)=-1

Jawab :

F(x)=\int 2x^2-\cos x\,dx = \frac{2}{3}x^3-\sin x + C. Dengan informasi F(0)=-1, maka F(x)=\frac{2}{3}x^3-\sin x - 1

2. Tentukan hampiran luas daerah D menggunakan jumlah Riemann kiri dengan tiga selang bagian (n=3).

Jawab :

Dari gambar kita dapat tentukan a=0.5 dan b=2 sehingga \Delta x = \frac{b-a}{n}=\frac{2-0.5}{3}=0.5, karena yang diminta adalah jumlah Riemann kiri, maka x_1=0.5,x_2=1,x_3=1.5 atau x_i=0.5+(i-1)0.5,i=1,2,3. Sehingga jumlah Riemann kiri nya adalah

\sum_{i=1}^3f(0.5+(i-1)0.5)\cdot 0.5=\sum_{i=1}^3\left(1+\frac{1}{0.5+(i-1)0.5}\right)\cdot 0.5

3. Nyatakan limit jumlah Riemann :

\lim_{n\rightarrow\infty}\sum_{i=1}^n\left(\cosh \frac{3i}{n}\right)\frac{3}{n}

sebagai integral tentu dengan batas bawah integral a=0. (Tidak perlu dihitung).

Jawab :

karena a=0, dan \frac{b-a}{n}=\frac{3}{n}, maka diperoleh b=3 sebagai batas bawah integral. Sehingga integralnya menjadi

\int_0^3\cosh x\,dx (Tidak perlu dihitung :p)

4. Hitunglah \int_{-2}^2e^{|x|}\,dx

ingat kembali apa arti dari |x|, integral diatas menjadi

\int_{-2}^2e^{|x|}\,dx=\int_{-2}^0e^{-x}\,dx +\int_0^2e^x\,dx

= \left[-e^{-x}\right]_{-2}^0+\left[e^x\right]_0^2 = 2e^2-2.

5. Nyatakan volume benda putar yang terjadi, jika daerah D diputar mengelilingi garis y=-1 dalam bentuk limit jumlah Riemann dan integral tentunya. (Tidak perlu dihitung)

Jawab :

y=\sqrt{x+1}, \Delta x=\frac{3-0}{n}=\frac{3}{n}. Dengan menggunakan limit jumlah Riemann kiri

x_i=\frac{3i}{n}. Dengan menggunakan metode cakram, \Delta V=\left(\pi (f\left(\frac{3i}{n}\right) +1)^2 -\pi\right)\frac{3}{n}. Sehingga diperloeh

V=\lim_{n\rightarrow\infty}\frac{3\pi}{n}\sum_{i=1}^n\left( (f\left(\frac{3i}{n}\right) +1)^2 -1\right). Sedangkan dalam bentuk integral

V=\pi \int_0^3\left(\sqrt{x+1}+1\right)^2-1\,dx (lagi-lagi tak perlu dihitung)

6. Apakah fungsi y=xe^{-x} merupakan solusi dari persamaan diferensial xy'+(1+x)y=e^{-x}? Jelaskan jawaban Anda.

Jawab :

cara yang termudah adalah dengan tidak mencari solusinya, melainkan cocokkan saja y dengan persamaan diferensial tsb. y'=e^{-x}-xe^{-x}

Sehingga x(e^{-x}-xe^{-x})+(1+x)xe^{-x}=xe^{-x}-x^2e^{-x}+xe^{-x}+x^2e^{-x}=2xe^{-x}\neq e^{-x}

7. Gunakan sifat logaritma untuk menentukan \frac{dy}{dx}, jika

y=\left(\frac{(x^2+3)^{\frac{2}{3}}(3x+2)}{\sqrt{x+1}}\right)

Jawab :

\ln y= \frac{2}{3}\ln (x^2+3)+2\ln (3x+2)-\frac{1}{2}\ln (x+1)

\frac{1}{y}\frac{dy}{dx}=\frac{2}{3}\frac{2x}{x^2+3}+\frac{6}{3x+2}-\frac{1}{2(x+1)}

\frac{dy}{dx}=y\cdot\left(\frac{2}{3}\frac{2x}{x^2+3}+\frac{6}{3x+2}-\frac{1}{2(x+1)}\right)

\frac{dy}{dx}=\left(\frac{(x^2+3)^{\frac{2}{3}}(3x+2)}{\sqrt{x+1}}\right)\cdot\left(\frac{2}{3}\frac{2x}{x^2+3}+\frac{6}{3x+2}-\frac{1}{2(x+1)}\right)

8. Diketahui \frac{d}{dx}\tan^{-1}x=\frac{1}{1+x^2}, Tentukan \int\frac{3}{1+4x^2}\,dx.

Jawaban :

\int\frac{3}{1+4x^2}\,dx=\frac{3}{2}\int \frac{1}{1+(2x)^2}\,d(2x)=\frac{3}{2}\tan{-1}(2x)+C

Bagian B

1. Diketahui F(x)=\int_2^{2x}e^{2t}(t^4+1)\,dt

a. Tentukan F'(x)

b. Tunjukkan bahwa F mempunyai invers

c. Tentukan \left(F^{-1})(0)\right).

Jawab :

a. \frac{d}{dx}F(x)=\frac{d}{dx}\int_2^{2x}e^{2t}(t^4+1)\,dt

F'(x)=2e^{4x}((2x)^4+1)

b. F mempunyai invers karena F'(x)>0 untuk setiap x.

c. Karena F mempunyai invers. maka $latex  F^{-1}(0)$ dapat dicari dengan menggunakan

$latex  F^{-1}(0) =\frac{1}{F^{-1}(1)}=\frac{1}{2e^4(2^16+1)}$

Dipilih 1 karena yang menghasilkan F(x)=0 adalah untuk x=1 (Integral dari \int_2^2 f(x)\,dx=0)

2. Hitunglah titik pusat massa lamina homogen yang dibatasi oleh grafik y=4-x^2 dan sumbu x.

Jawab :

Karena lamina homogen, asumsikan \delta=1 sehingga m=\int_0^24-x^2\,dx=4x-\frac{2}{3}x^3=8-\frac{16}{3}=\frac{8}{3}

M_x=\frac{1}{2}\int_0^2 (4-x^2)^2\,dx dan M_y=\int_0^2 x(4-x^2)\,dx (silahkan hitung sendiri hehe)

maka \bar{x}=\frac{M_y}{m} dan \bar{y}=\frac{M_x}{m}

3. Ami mengundang teman-temannya untuk makan malam bersama yang dimulai tepat puku 7 malam nanti. Untuk mempersiapkan hidangan makan malam hingga matang pada temperatur 90 C, diperlukan waktu tepat 3 jam. Jika dibiarkan selama 15 menit setelah matang, temperatur hidangan akan menjadi 80 C. Hidangan baru bisa disantap jika temperaturnya mencapai 50 C. Tentukan kapan Ami mulai menyiapkan hidangan tersebut. Asumsikan temperatur ruangan tetap sebesar 25 C. (Petunjuk : Menurut Hukum Pendinginan Newton, laju perubahan temperatur suatu benda, sebanding dengan perbedaan temperatur benda tersebut dengan temperatur lingkungannya)

Jawab :

Memasak perlu waktu 3 jam hingga suhu pada t=0 adalah T=90. Model pendinginan Newton sesuai dengan petunjuk adalah

\frac{dT}{dt}=k(T-T_1)

dengan T_1 adalah suhu ruangan. Dengan menggunakan metode separasi, solusi dari persamaan diferensial di atas adalah

T(t)=T_1+T_0e^{kt}, dengan T_0=90 persamaan ini menjadi

T(t)=25 +90e^{kt}. Sekarang tugas kita adalah mencari besar dari k. Saat t=15, suhu hidangan menjadi 80 C.

80 = 25 +90e^{15k} diperoleh k = \frac{\ln (55/90)}{15}. Sehingga bentuk lengkap dari persamaan adalah

$latex T(t)=25 +90e^{\ln(55/90)t/15}$. Kita tingga mencari berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu 50 C

50 = 25 +90e^{\ln (55/90)t/15} diperoleh t = \frac{15\ln(25)-15\ln(90)}{\ln(55)-\ln(90)} karena disini saya boleh menggunakan kalkulator, hasilnya adalah sekitar 39 menit. Sehingga Ami harus mulai memasak pada pukul 7 yang dikurangi oleh (3 jam + $latex \frac{15\ln(25)-15\ln(90)}{\ln(55)-\ln(90)}$ menit). Atau sekitar pukul 3.21

Pidato Bacharudin Jusuf Habibie di Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 2012

Pidato Bacharudin Jusuf Habibie
Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 2012

Bandung, 10 Agustus 2012 adrianpradana.wordpress.com

Reaktualisasi Peran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Membangun Kemandirian Bangsa

Ysh. Gubernur/Kepala Daerah Propinsi Jawa Barat,
Ysh. Para Pejabat Kementrian Riset dan Teknologi,
Ysh. Muspida dan Pejabat tingkat Propinsi Jawa Barat,
Bapak – bapak dan ibu-ibu para peneliti, dan pemerhati Iptek yang saya cintai,
Hadirin yang terhormat,

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,

HAKTEKNAS DAN N-250 sumber: adrianpradana.wordpress.com

Hari ini tanggal 10 Agustus 2012, 17 tahun lalu, tepatnya 10 Agustus 1995, dalam rangka peringatan 50 tahun kemerdekaan Indonesia, bangsa kita telah menggoreskan pena sejarahnya dengan terbang perdana pesawat terbang canggih N-250. Pesawat turboprop tercanggih — hasil disain dan rancang bangung putra-putri bangsa sendiri — mengudara diatas kota Bandung dalam cuaca yang amat cerah, seolah melambangkan cerahnya masa depan bangsa karena telah mampu menunjukkan kedapa dunia kemampuan dalam penguasaan sain dan teknologi secanggih apapu oleh generasi penerus bangsa.

Bandung memang mempunayi arti dan peran yang khusus bagi bangsa Indonesia. Bukan saja sebagai kota pendidikan, kota pariwisata, atau kota perjuangan, namun Bandung juga kota yang menampung dan membina pusat – pusat keunggulan Iptek, sebagai penggerak utama proses nilai tambah industri yang memanfaatkan teknologi tinggi (high tech).

Kita mengenang peristiwa terbang perdana pesawat N250 itu sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS), yang dalam pandangan saya salah satu dari lima “Tonggak Sejarah” bangsa Indonesia, yaitu :

Pertama : Berdirinya Budi Utomo, 20 Mei 1908 (Hari Kebangkitan Nasional – 20 Mei); adrianpradana.wordpress.com

Kedua : Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 (Hari Sumpah Pemuda – 28 Oktober);

Ketiga : Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 (Hari Proklamasi Kemerdekaan – 17 Agustus);

Keempat : Terbang perdananya pesawat paling canggih Turboprop N250 (Hari Kebangkitan Teknologi Nasional – 10 Agustus);

Kelima : Diperolehnya “Kebebasan”, dengan dimulainya kebangkitan demokrasi pada tanggal 21 Mei 1998.

Pada Tahun 1985, sepuluh tahun sebelum terbang perdananya, telah dimulai riset dan pengembangan pesawat N250. Semua hasil penelitian dari pusat – pusat keunggulan penelitian di Eropa dan Amerika Utara dalam bidang ilmu dirgantara, ilmu aerodinamik, ilmu aeroelastik, ilmu konstruksi ringan, ilmu rekayasa, ilmu propulsi, ilmu elektronik, ilmu avionik, ilmu produksi, ilmu pengendalian mutu (quality control) dsb, telah dikembangkan diterapkan di industri IPTN, di Puspitek, di BPPT, dan di ITB. adrianpradana.wordpress.com

Dengan terbangnya N250 pada kecepatan tinggi dalam daerah “subsonik” dan stabilitas terbang dikendalikan secara elektronik dengan memanfaatkan teknologi “fly by wire”, adalah prestasi nyata bangsa Indonesia dalam teknologi dirgantara. Dalam sejarah dunia penerbangan sipil, pesawat N250 adalah pesawat turboprop yang pertama dikendalikan dengan teknologi fly by wire.

Dalam sejarah dunia dirgantara sipi, pesawat Jet AIRBUS A300 adalah yang pertama kali menggunakan fly by wire, namun AIRBUS 300 ini terbang dalam daerah “transsonik” dengan kecepatan tinggi, sebagaimana kemudian juga Boeing 777.

Fakta sejarah mencatat bahwa urutan pesawat penumpang sipil yang menerapkan teknologi canggih untuk pengendalian dan pengawasan terbang dengan “fly by wire” adalah sebagai berikut :

  1. A-300 hasil rekayasa dan produksi Airbus Industri (Eropa)
  2. N-250 hasil rekayasa dan produksi industrie Pesawat Terbang Nusantara IPTN, sekarang bernama PT. Dirgantara Indonesia (Indonesia)
  3. BOEING 777 hasil rekayasa dan produksi BOEING (USA)

Fakta sejarah dunia dirgantara juga mencatat bahwa 9 bulan sebelum N250 melaksanakan terbang perdananya, pada hari Rabu tanggal 7 December 1994 di Montreal Canada, kepada tokoh yang dianggap paling berjasa dalam industri dirgantara sipil dunia diberikan medali emas “Edward Warner Award – 50 Tahun ICAO“. Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka memperingati 50 tahun berdirinya “International Civil Aviation Organisation atau ICAO”, yang didirikan pada hari Kamis tanggal 7 Desember 1944 di Chicago – USA oleh Edward Warner bersama beberapa tokoh industri dirgantara yang lain. ICAO didirikan dengan tujuan membina perkembangan industri dirgantara sipil di dunia. Upacara penghargaan tersebut dihadiri oleh para Menteri Perhubungan Negara yang anggota Perserikatan Bangsa – Bangsa.

Dalam upacara yang sangat meriah, khidmat dan mengesankan tersebut, Sekretaris Jenderal ICAO Phillippe Rochat yang didampingi oleh Sekretaris Jenderal Boutros Boutros – Ghali, menyerahkan medali emas “Edward Warner Award 50 Tahun ICAO” oleh kepada putra Indonesia, Bacharudin Jusuf Habibie.

-> Bukankah kedua Fakta Sejarah Dirgantara ini telah membuktikan bahwa kualitas SDM Indonesia sama dengan kualitas SDM di Amerika, Eropa, Jepang, dan China?

Dengan peristiwa tersebut kita dapat membuktikan kepada generasi penerus Indonesia serta masyarakat dunia, bahwa bangsa Indonesia memiliki kemampuan dan kualitas yang sama dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) secanggih apapun yang sekaligus dilengkapi dengan kokohnya iman dan taqwa (imtaq). Peningkatan jumlah dan kualitas manusia Indonesia yang terdidik tersebut juga melahirkan kesadaran akan peran dan tanggung jawab mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya generasi muda.

Para hadirin yang berbahagia

Bukan hanya Pesawar Terbang N250 yang dipersembahkan oleh Generasi Penerus sebagai hadiah Ulang Tahun Kemerdekaan ke-50 kepada Bangsa Indonesia 17 tahun yang lalu, tetapi mereka juga menyerahkan Kapal untuk 500 penumpang dan Kereta Api Cepat, yang semuanya dirancang bangun oleh Generasi Penerus.

Hal yang sekarang patut kita tanyakan adalah :

  • Hadiah HUT Kemerdekaan ke 67 apa yang dapat kita persembahkan pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, 17 tahun setelah prestasi membanggakan itu?
  • Bagaimana keadaan Industri strategis yang telah menghasilkan produk andalan yang membanggakan 17 tahun yang lalu?
  • Bagaimana perkembangan pusat keunggulan ilmu Aerodinamik, Godynamik, Getaran (LAGG), ilmu Konstruksi Ringan (LUK), Elektronik (LEN) dsb. yang telah dimulai puluhan tahun yang lalu?
  • Bagaimana keadaan pendidikan SDM yang mampu menguasai teknologi secanggih apapun?
  • masih banyak pertanyaan yang patut kita berikan dan jawab!

Pertanyaan tersebut di atas dapat dijawab dengan mengkaji fakta dan kecerendungan sebagai berikut :

  • Produk pesawat terbang, produk kapal laut, dan produk kereta api — yang pernah kita rancang – bangun — dalam “eufori reformasi” telah kita hentikan pembinaannya atau bahkan sedang dalam “proses penutupan”. Misalnya PT. DI yang dahulu memiliki sekitar 16.000 karyawan, sekarang tinggal kurang lebih 3000 karyawan, yang dalam 3 sampai 4 tahun mendatang dipensiun karena tidak ada kaderisasi dalam segala tingkat.
  • Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) yang mengkordinir 10 perusahaan yang pada tahun 1998 memiliki kinerja turn-over sekitar 10 Milliard US$ dengan 48.000 karyawan, kemudian dalam “eufori reformasi” dibubarkan! Pembinaan Industri Dirgantara, industri Kapa, industri Kereta Api, industri Mesin, industri Elektronik – Komunikasi dan industri Senjata, dsb, tidak lagi mendapat perhatian dan pembinaan!
  • KEPPRES No. 1 tahun 1980 tentang ketentuan penggunaan produk pesawat buatan dalam negeri dihapus dan PTDI tidak lagi didukung secara finansial maupun kebijakan industri pendukung lain.
  • PTDI berupaya untuk tetap bertahan hidup (survive) dengan berkonsentrasi kepada penjualan produk yang ada a.l. CN235 dan pesawat lisensi NC212 dan helikopter.
  • Di lain pihak, biaya pengembangan pesawat – termasuk pendidikan SDM terampil – dianggap hutang kepada Pemerintah, yang mengakibatkan PTD buruk di mata perbankan sehingga menyulitkan industri untuk dapat beroperasi dan tidak memungkinkan industri berinvestasi.
  • PTDI melakukan diversifikasi usaha di berbagai bidang a.l jasa aerostructure, engineering service, dan maintenance-repair-overhaul dan tidak lagi menitikberatkan pada rancang bangun dan produksi.
  • Dengan terpuruknya program pengembangan dalam negeri, banyak design engineers yang memilih pergi ke luar negeri (a.l. Amerika, Eropa) untuk bekerja di industri pesawat terbang lain. Sebagian besar dalam beberapa tahun pulang, setelah negara setempat mendahulukan pekerja lokal dibandingkan dengan pekerja asing (kasus: Embraer).
  • Dengan berjalannya waktu, tanpa program pengembangan, PTDI tidak dapat melakukan pergantian/regenerasi karyawan engineering, yang pada gilirannya mengancam kapabilitas dan kompetensi PTDI sebagai produsen pesawat.
  • Apa yang dialami oleh PT. Dirgantara, dialami pula oleh semua perusahaan yang dahulu dikordinir oleh Badan Pengelolah Industri Strategis, BPIS.
  • Segala investasi yang dilaksanakan pada perkembangan dan pendidikan SDM yang terampil tanpa kita sadari telah “dihancurkan” secara sistematik dan statusnya kembali seperti kemampuan bangsa Indonesia 60 tahun yang lalu!
  • Prasarana dan sarana pengembangan SDM di industri, di PUSPITEK, di Perguruan Tinggi (ITB, ITS, UI, UGM, dsb) serta di pusat-pusat keunggulan yang dikoordinasikan olem Menteri Riset dan Teknologi dialihkan ke bidang lain atau dihentikan, sehingga teknologi — untuk meningkatkan “nilai tambah” suatu produk canggih apapun — yang dibutihkan oleh pasar domestik dikurangi dan bahkan dihentikan pembinaannya dan diserahkan kepada karya SDM bangsa lain dengan membuka pintu selebar-lebarnya untuk impor!
  • Pasar Domestik yang begitu besar di bidang transportasi, komunikasi, kesehatan dsb. “diserahkan” kepada produk diimpor yang mengandung jutaan “jam kerja” untuk penelitian, pengembangan dan produksi produk yang kita butuhkan.
  • Produk yang dibutuhkan itu harus kita biayai dengan pendapatan hasil ekspor sumber daya alam terbaharukan dan tidak terbaharukan, energi, agro industri, pariwisata, dsb. Ternyata potensi ekspor kita ini tidak dapat menyediakan jam kerja yang dibutuhkan sehingga SDM di desa harus ke kota untuk mencari lapangan kerja atau ke luar negeri sebagai TKI dan TKW. Akibatnya proses pembudayaan dalam rumah tangga terganggu dsb, dsb. Proses pembudayaan (“Opvoeding, Erszeihung, Upbringing”) harus disempurnakan dengan proses pendidikan dan sebaliknya, karena hanya dengan demikian sajalah produktivitas SDM dapat terus ditingkatkan melalui pendidikan dan pembudayaan sesuai kebutuhan pasar.
  • Pertumbuhan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi seharusnya dipelihara setinggi mungkin untuk dapat meningkatan “pendapatan burto masyarakat” atau peningkatan ” kekayaan national” atau “national wealth“. Namun pemerataan pemberian kesempatan berkembang, pemerataan pendidikan – pembudayaan dan pemerataan pendapatanlah yang pada akhirnya menentukan kualitas kehidupan, kualitas kesejahteraan dan kualitas ketentraman yang menjadi sasaran tiap masyarakat.
  • Bukankah jam kerja yang terselubung pada tiap produk yang kita beli itu pada akhirnya menentukan tersedianya lapangan kerja atau mekanisme proses pemerataan dalam arti yang luas itu?
  • Kita harus pandak memproduksi barang apa saja yang dibutuhkan di pasar nasional dan memberi insentip kepada siapa saja, yang memproduksi di dalam negeri, menyediakan jam kerja dan akhirnya lapangan kerja.
  • Potensi pasar nasional domestik kita yang sangat besar. Misalnya pertumbuhan penumpang pesawat terbang sejak 10 tahun meningkat sangat tinggi, sekitar 10% – 20% rata2 tiap tahun. Produksi pesawat terbang turboprop N250 untuk 70 penumpang — yang sesuai rencana pada tahun 2000 sudah mendapat sertifikasi FAA pada tahun 2004 — adalah jawab kita untuk memenuhi kebutuhan pasar. Kedua produk yang dirancang bangun oleh putra-putri generasi penerus ini yang mengandung jutaan jam kerja, bahkan terus dihentikan. MENGAPA? ? ?
  • Demikian pula dengan produksi Kapal Caraka Jaya, Palwobuwono dan kapa Container yang harus dihentikan. Produksi kereta api harus pula dihentikan.
  • walaupun pasar domestik nasional begitu besar, namun sepeda motor, telepon genggam dsb. — yang semuanya mengandung jam kerja yang sangat dibutuhkan — nyatanya barang – barang tersebut tidak diproduksi di dalam negeri. MENGAPA ? MENGAPA ? MENGAPA?
  • Memang kesejahteraan meningkat, golongan menengah meningkat dan pertumbuhan meningkat pula, namun proses pemerataan belum berjalan sesuai kebutuhan dan kemampuan kita
  • Ini hanya mungkin jikalau jam kerja yang terkandung dalam semua produk yang dibutuhkan itu secara nyata diberikan kepada masyarakat madani Indonesia. Oleh karena itu pada kesempatan untuk berbicara di hadapan peserta Sidang Paripurna MPR tanggal 1 Juni tahun 2011, saya garis bawahi pentingnya kita menjadikan NERACA JAM KERJA  sebagai Indikator Makro Ekonomi disamping NERACA PERDANGANGAN  dan NERACA PEMBAYARAN.

Para hadirin yang berbahagia

Pada peringatan HAKTEKNAS tahun 2012 saat ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang sudah dikemukakan banyak kalangan yakni perlunya kita melakukan reaktualisasi peran iptek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka meningkatkan daya saing dan produktivitas nasional, serta untuk menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang. Problema kebangsaan yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, dan hal tersebut akan mensyaratkan solusi yang tepat, terencana dan terarah.

Kita tahu bahwa fenomena globalisasi mempunayi berbagai bentuk. Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, adalah pengalihan kekayaan alam suatu Negara ke Negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke Negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus “membeli jam kerja’ bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu “VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru”. (Hal tersebut telah saya sampaikan pada Pidato Peringatan Kelahiran Pancasila di hadapan Sidang Pleno MPR RI tanggal 1 Juni 2011 yang lalu).

Dalam forum yang terhormat ini, sya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para tokoh dan cendekiawan di kampus-kampus serta di lembaga-lembaga kajian dan penelitian lain untuk secara serius merumuskan impelementasi peran iptek dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dalam konteks masa kini dan masa depan.

Terkait dengan hal tersebut, saya sangat menghargai upaya Pemerintah dalam membentuk Komite Inovasi Nasional (yang dikenal dengan KIN) dan Komite Ekonomi Nasional (yang dikenal dengan KEN) dengan tugas sebagai advisory council untuk mendorong inovasi di segala bidang dan mempercepat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Saya mengetahui bahwa KIN maupun KEN telah merumuskan berbagai strategi dan kebijakan dan agenda aksi, khususnya yang menyangkut perbaikan ekosistem inovasi dan pengembangan wahana transformasi industri. Apa yang ingin saya ingatkan ialah, jangan sampai berbagai konsep yang dirumuskan oleh KIN maupun KEN tersebut hanya berhenti ditingkat masukan kepada Presiden saja, ataupun di tingkat rencana pembangunan saja, namun perlu direalisasikan dalam kegiatan pembangunan nyata. Jangan kita merasa puas dengan wacana maupun berencana, namun ketahuilah bahwa rakyat menunggu aksi nyata kita semua, baik para penggiat teknologi, penggiat ekonomi, pemerintah maupun lembaga legislatif.

Saya juga menyarankan agar Pemerintah maupun Legislatif lebih proaktip dan peduli bersungguh-sungguh dalam pemanfaat produk dalam negeri dan “perebutan jam kerja”. Kerjasama Pemerintah daerah dan Pusat bersama dengan wakil rakyat di lembaga Legislatif daerah dan Pusat perlu ditingkatkan konvergensinya ke arah yang lebih pro rakyat, lebih pro pertemubuhan dan lebih pro pemerataan.

Pada kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan pesan dan himbauan, hendaknya kita pandai-pandai belajar dari sejarah. Janganlah kita berpendapat tiap pergantian kepemimpinan harus dengan serta – merta disertai pergantian kebijakan, khususnya yang terkait dengan program penguasaan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ktia mengetahui bahwa dalam penguasaan, pengembangan dan penerapan teknologi diperlukan keberlanjutan (continuity). Jangan sampai pengalaman pahit yang dialami industri dirgantara dan industri strategis pada umumnya — sebagaimana saya sampaikan di atas — terulang lagi di masa depan! Jangan sampai karena eufori regormasi atau karena pertimbangan politis sesaat kita tega “menghabisi” karya nyata anak bangsa dengan penuh ketekunan dan semangat patriotisme tinggi yang didedikasikan bagi kejayaan masa depan Indonesia.

Para hadirin yang berbahagia

Kita dapat bersyukur bahwa bangsa Indonesia adalah suatu bangsa yang multi etnik dan sangat peka terhadap keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa, Allah subahana wata’alla. Oleh karena itu PANCASILA adalah falsafah hidup nyata bangsa ini yang dari masa ke masa selalu disesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan peradaban yang dikembangkan dan diterapkan oleh kita bersama. sumber: adrianpradana.wordpress.com

Dapat kita catat, bahwa saat ini bangsa kit asudah keluar dari “eufori kebebasan” dan mulai kembali ke “kehidupan nyata” antara bangsa-bangsa dalam era globalisasi. Persaingan menjadi lebih ketat dan berat. Peran SDM lebih menuntukan dan informasi sangat cepat mengalir. Kita menyadari bahwa tidak semua informasi menguntungkan peningkatan produktivitas dan daya saing SDM Indonesia. Budaya masyarakat lain dapat memasuki ruang hidup keluarga. Kita harus meningkatkan “Ketahanan Budaya” sendiri untuk mengamankan kualitas iman dan taqwa (imtaq) yang diberikan dalam sistem pendidikan dan pembudayaan kita, yang menentukan perilaku, produktivitas, dan daya saing Generasi Penerus. sumber: adrianpradana.wordpress.com

Kita sudah Merdeka 67 Tahun, sudah melek teknologi 17 Tahun, sudah Bebas 14 Tahun. Kita sadar akan keunggulan masyarakat madani yang pluralistik, sadar akan kekuatan lembaga penegak hukum (Yudikatif) dan informasi yang mengacu pada nilai-nilai PANCASILA dan UUD-45 yang terus disesuaikan dengan perkembangan pembangunan nasional, regional, dan global.sumber: adrianpradana.wordpress.com

Saya akhiri sambutan ini dengan ucapan :

  • REBUT KEMBALI JAM KERJA!
  • WUJUDKAN KEMBALI KARYA NYATA YANG PERNAH KITA MILIKI UNTUK PEMBANGUNAN PERABADABAN INDONESIA!
  • BANGKITLAH, SADARLAH ATAS KEMAMPUANMU!

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Bandung, 10 Agustus 2012

Bacharudin Jusuf Habibie

Hanya Sekedar Renungan

Tulisan ini saya dapat dari sebuah Note Diklat Aktivis Terpusat 2009. Penulisnya adalah alm Sigit Firmansyah (EL01)

semoga mencerahkan
Malam ini saya bertemu dengan seorang kawan yang

bercerita tentang academic excellent, mimpi-mimpi yang

kini telah mulai hilang dari kampus kami dan juga

semangat kerja keras yang mulai luntur. Kami berbagi

kesedihan dan keprihatinan tentang mutu pendidikan

yang makin turun, IPK adik-adik kami mahasiswa TPB

yang makin rendah, mahasiswa TPB yang mulai suka main

kartu di TVST, soal ujian Kalkulus yang makin mudah

dari tahun ke tahun dan juga mahasiswa yang mulai

kuliah dengan tidak serius.

Apa yang salah dengan kampus ini?

Kami rindu akan kampus yang dipenuhi dengan

orang-orang yang dengan penuh ambisi akademik ingin

selalu belajar, belajar dan belajar. Kami rindu akan

ruang-ruang perpustakaan yang dipenuhi orang, namun

tenang penuh keseriusan. Kami rindu bertemu mahasiswa

dengan pakaian sopan sederhana, yang uang dan waktu

nya telah tercurah untuk buku dan ilmu.

Bagi kami, ITB hampir-hampir kehilangan satu-satunya

aset terpenting yang seharusnya dimiliki yaitu :

“lingkungan akademik”. Lingkungan akademik yang

terpancar mulai dari segenap penjuru bolevard,

pojok-pojok kantin hingga laboratorium dan ruang

kuliah. Penjuru kampus harusnya dipenuhi dengan

manusia-manusia dewasa yang berinteraksi layaknya kaum

intelektual, berdiskusi dan bercerita tentang

mimipi-mimpi teknologi. Bukan penindasan dan

pembodohan.

Kampus ini sepertinya telah kehilangan orang-orang

yang ketika pertama kali menginjakkan kampus mempunyai

mimpi tentang membuat robot dan roket. Kampus ini

sepertinya telah kehilangan orang yang dikepalanya

dipenuhi mimpi-mimpi tentang mengembangkan ilmu

pengetahuan dan teknologi. Telah hilang orang-orang

yang mau memberikan segalanya untuk belajar.

Kami takut suatu saat nanti kampus ITB, menjadi tidak

lebih dari seperti SMU-SMU biasa yang berstatus

sebagai perguruan tinggi, namun isinya tetap saja

mahasiswa-mahasiswa gaul sok borjuis yang sama sekali

tidak memiliki etos kerja keras.

Kalau kampus kita sudah seperti itu, jangan sebut lagi

kampus ini dengan sebutan Institut Teknologi!

Kami yakin bahwa kebesaran bangsa ini, salah satunya

dibangun dari kampus ini, dan itu adalah kenyataan

sedih yang harus dihadapi.

Kami berdoa semoga mimpi buruk ini tidak pernah

terjadi…..

Dan saya mohon siapapun yang membaca tulisan ini,

turut mengaminkan doa kami. Kami ingin yang membaca tulisan ini bersama kami

mengaminkan doa ini dengan tangan, kaki, cucuran

keringat dan air mata. Mengaminkan dengan penuh

kesungguhan yang juga disertai kerja keras dan

konsistensi. Tidak sekedar amin dalam kata-kata.

Karena, ….ITB adalah aku, kamu, kami dan kita.

Kelak kebesaran dan prestasi ITB adalah untuk

Indonesia tercinta.

Habibie di Aula Barat ITB

Habibie di Aula Barat

foto by salmanitb.com

Sosok Bacharuddin Jusuf Habibie, mungkin hampir seluruh orang di Indonesia mengenalnya. Mendengar nama Habibie, mungkin seketika di kepala kita hadir berbagai macam istilah teknologi. Sebut saja N250 Gatot Kaca, IPTN, pesawat terbang, pintar, jerman, dan lain-lainnya. Hari Rabu, 4 November 2009 bertempat di Aula Barat ITB, beliau datang untuk mengisi kuliah umum yang bertajuk “Indonesia 2045: Superpower baru?”. Saya mengetahui kegiatan ini melalui baligho besar di gerbang depan.

ITB, rumah lama Habibie

Hari itu, dengan setelah jas kremnya, Habibie mengisi kuliah umumnya diatas mimbar. Beliau bercerita romantisme jaman dulu yaitu tahun 1952 beliau berada di ruangan yang sama sebagai mahasiswa baru Universitas Indonesia, Fakultas Teknik. 1962 beliau ceramah tentang keilmuan beliau di bidang penerbangan, dan pada tahun 1977 ketika beliau dinobatkan sebagai guru besar ITB. Memang dari berbagai sumber yang saya baca tentang kehidupan BJ Habibie. Habibie sempat kuliah selama 6 bulan di tempat yang dulunya bernama Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, 7 tahun sebelum Institut Teknologi Bandung diresmikan oleh Bung Karno. Tentu saja itu menjadi kebanggaan saya sendiri, menjadi seorang mahasiswa yang sama dari seorang BJ Habibie. Beliau menyebut ITB sebagai “My intelectual home!”

Indonesia Superpower 2045?

Menanggapi tema yang diangkat. Beliau menganggap bahwa menjadi negara superpower tidaklah penting. Superpower sendiri tergantung dilihat dari segi manakah? Apakah itu dari segi militer? tetapi masih banyak orang tidak mempunyai kesempatan kerja. Atau dari segi ekonomi? tetapi masih banyak orang yang kelaparan. Beliau berpendapat bahwa yang terpenting dari sebuah negara adalah bagaimana rakyatnya bisa sejahtera dan tentram. Tentram sendiri dalam artian rakyat kira-kira tahun besok bagaimana. Tidak seperti sekarang, rakyat tidak tahu apakah besok masih tetap bisa makan atau tidak.

Menurut beliau, peradaban adalah suatu sinergi positif dari ketiga elemen yaitu budaya, pegangan hidup (agama/iman takwa), dan ilmu pengetahuan. Beliau menganalogikan sebuah pesawat yang memiliki dua buah sayap. Kedua sayap tersebut haruslah seimbang. Jika salah satu sayap itu tidak seimbang, maka pesawat akan jatuh. Beliau memisalkan sayap kanan adalah iman, serta sayap kiri adalah takwa. Dan ilmu pengetahuan sebagai jet propulsi yang membuat pesawat itu dapat terbang dengan cepat.

Mengenai kecintaan beliau kepada Indonesia. Kita dapat melihat sosok beliau dari keinginannya berkontribusi untuk negara ini setelah sekian tahun lamanya beliau menuntut ilmu di Jerman. Jika kita proyeksikan pada saat ini, hal tersebut masihlah jarang. Selain itu beliau menyebut gugusan kepulauan Indonesia sebagai “Benua Maritim”. Istilah tersebut pertama kali beliau kemukakan di Amerika Serikat pada tahun 1970-an ketika beliau meilhat citra satelit gugusan kepulauan Indonesia. Dilihat dari segi geografis, memang Indonesia tampak indah jika dilihat dari langit. Kita dapat melihat dua buah warna biru yang sangat luas di bagian timur laut (Samudera Pasifik) dan di bagian barat daya (Samudera Hindia). Selain itu Indonesia juga diapit kedua benua Asia dan Australia yang tampak berwarna coklat.

Beliau menampilkan beberapa slide yang berisi data-data mengenai keadaan Indonesia. Dari data Badan Pusat Statistik, menurut beliau jumlah penduduk Indonesia pada saat 2025 adalah 273.219.200 jiwa. Dan dengan proyeksi BPS, beliau memperkirakan penduduk Indonesia pada tahun 2045 adalah 364.101.076. Tingkat kemiskinan secara persentase menurun sedangkan secara abosolut, jumlah penduduk yang masih miskin pun meningkat dengan asumsi kategori miskin adalah siapa yang mendapat pemasukan kurang dari $2 per orang. Menurutnya, tolak ukur tingkat kemiskinan harus sesuai dengan tempatnya seperti di Eropa misalnya, kategori miskin adalah siapa-siapa yang berpenghasilan dibawah 700 Euro per bulan. Jumlah penduduk miskin yang masih banyak di negeri ini, menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan dan rasa tentram itu belum ada.

Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu

Selain itu, tingkat kemiskinan yang tinggi diperkuat lagi dengan tidak meratanya lapangan pekerjaan. Saat ini lapangan pekerjaan terpusat seluruhnya di perkotaan yang menimbulkan efek arus urbanisasi. Beliau juga menampilkan slide yang berisi tentang pertumbuhan jumlah penduduk perkotaan dari tahun ke tahun. Sayang sekali saya lupa mencatatnya. Bertambahnya penduduk perkotaan tentu saja berakibat banyak hal. Hal-hal tersebut antara lain kota sebagai tempat aglomerasi kegiatan ekonomi, sebagian besar investasi berada di kota, peran kota semakin penting, beban penduduk kota terus meningkat, dan kualitas kota akan menurun.

Beliau juga menjadi pelopor suatu Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu (KAPET) sebagai bentuk dan upaya menanggulangi arus urbanisasi. KAPET ini telah dirumuskan oleh berbagai tokoh dan pakar nasional dari hasil diskusi selama ribuan jam. Lokasi KAPET ini merupakan kawasan luar kota yang berpotensi untuk dibangun berbagai sarana pembangkit energi maupun transportasi. Namun sayangnya KAPET ini belum dapat berjalan sepenuhnya. Beliau juga menyayangkan masih adanya oknum yang beranggapan dan masih membedakan-bedakan “orde baru” atau yang lainnya.

Menerima Penghargaan

Pada kesempatan kali itu, ITB melalui rektor Djoko Santoso memberikan penghargaan tertinggi ITB yaitu Penghargaan “Ganesha Prajamanggala Bakti Kencana” sebagai bentuk apresiasi jasa Habibie bagi negeri ini yang telah banyak membangun dan berkontribusi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Setelah Setahun Kuliah …

Tingkat I selesai, ditutup dengan Research Based Learning di mata kuliah Fisika. Tugasnya kelihatannya sederhana, pelontar magnetik :-P. Pertanyaan yang sangat penting bagi anak-anak TPB 2008, apa yang kita dapat setahun ini? mungkin jawabannya bervariasi. Kalau saya sendiri, dengan mudah akan saya jawab, CAPEK. Haha bercanda gan!. Kalau dilihat dari mata kuliah2 yang dipelajari setahun ini, tentu saja ada perbedaan yang sangat mencolok jika kita balik ke masa SMA dulu.

Oke, jika sudah selesai menjawab pertanyaan tadi, bagaimana jika kita lanjut ke pertanyaan berikutnya. Kita sudah tahu apa yang kita dapat, apa buktinya kalau kita sudah mendapat apa yang kita jawab di pertanyaan pertama? Pertanyaan ini dapat diartikan, karya apa yang sudah kita buat selama setahun? bisa saja kita jawab dengan catatan-catatan kuliah kita, soal-soal yang sudah kita kerjakan, nilai-nilai yang sudah kita dapat, atau sebagainya.

Sip, apa yang kita dapat, sudah ada, bukti dari apa yang kita dapat, sudah ada, sekarang lanjut ke pertanyaan selanjutnya. Kita sebagai mahasiswa, sebagai orang yang diberi nikmat untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dimana orang-orang lain belum tentu mendapatkannya, tentunya kita mempunyai tanggung jawab untuk mencerdaskan masyarakat dengan bermodalkan ilmu yang kita dapat, nah, pertanyaannya, apakah kita sudah melakukan itu? maksud saya pengabdian kita ke masyarakat? atau minimal ikut serta dalam berpikir membantu masalah yang ada di masyarakat? sudahkah kita melakukan itu?

Logikany, dengan kemampuan dan tools yang sudah kita dapat selama setahun ini, minimal kita dapat berbuat sesuatu. Mungkin ada celetukan yang beredar di kalangan mahasiswa. “Ah, ngapain, kita kan belum lulus, ntar deh kalau udah lulus, gw janji untuk bla bla bla bla”. Wah gan jika kita berpikir seperti ini, kita kalah dong ama orang yang kursus menjahit, kursus reparasi handphone. Mereka cukup beberapa bulan kursus, sudah menghasilkan karya nyata di masyarakat.

Disinilah kelemahan terbesar kita gan, kita memang banyak belajar, kita memang cerdas, tapi itu hanya di kepala gan. Memang sih, saya sendiri jg masih merasa seperti itu gan. Inti dari tulisan ini, mari kita buat karya nyata sebagai salah satu cara untuk menunjukkan eksistensi dan bakit kita di masyarakat. Sebagai mahasiswa, tentu saja banyak cara. Akhir semester, merupakan liburan, ayolah menggunakan liburan ini untuk membuat karya nyata itu, buktikan dengan modal setahun ini, kita dapat berbuat banyak (bukan berarti jg saya nyumpahin kita kuliah cuman setahun, ampun gan!). Libur sangat basi sekali jika kita gunakan buat bengong. Ayo bikin rencana, apa yang kita perbuat di liburan ini. 😀

Cisitu Lama

Jalan, merupakan suatu sarana transportasi yang sangat penting. Kondisi jalan sangat mempengaruhi keadaan berbagai aspek sosial yang dilewatinya. Entah itu dari segi aspek ekonomi, perkembangan budaya dan lain-lain. Jalan menjadi suatu urat nadi kehidupan bagi para manusia yang menggunakannya. Membuat jarak seakan-akan menjadi pendek. Dan membuat waktu seolah tidak berarti. Dan tentu, keefisienan lah yang menjadi alasan utama mengapa manusia menggunakan jalan. Namun ditengah perjalanannya, dan seiring dengan pesatnya pertumbuhan penduduk. Jalan yang sudah dirancang oleh para pendahulu menjadi penuh sesak. Kemacetan terjadi di sana-sini. Semua orang tidak peduli, yang penting sampai tujuan lebih cepat, masa bodoh dengan kepentingan orang.

Lanjutkan membaca “Cisitu Lama”