Database Profesi di Occupational Outlook Handbook

Beberapa hari ini saya sedang getol mencari-cari info tentang profesi aktuaris. Entah kenapa setiap kali saya menemukan tulisan, saya selalu merasa makin tidak tahu apa sebenarnya aktuaris itu. Padahal pertama kali mendengar profesi itu ketika SMA kelas 2, saat itu saya hadir di dalam pameran pendidikan Australia, di dalam salah satu booklet yang saya peroleh, di sana menjelaskan tentang program studi yang belum ada di Indonesia, salah satunya Aktuaria.

Tapi bukan aktuaria yang ingin saya bahas, saya ingin membahas web yang berhasil saya temukan dan menurut saya baik sekali untuk teman-teman yang sedang tingkat akhir di kuliahnya, atau mungkin untuk adik-adik saya yang ingin masuk kuliah, yaitu web database profesi yang dibuat oleh United States Department of Labour yang bernama Occupational Outlook Handbook.

Web ini berisi katalog profesi/pekerjaan yang ada di Amerika Serikat. Deskripsinya dari setiap profesi disajikan dengan baik sekali seakan-akan seperti sebuah ensiklopedia profesi. Mulai dari Deskripsi profesi, lingkungan kerja, gaji, pasar tenaga kerja, hingga langkah-langkah yang diperlukan agar dapat menjadi orang yang berprofesi seperti itu.

yap, inilah Actuaries

 

Web ini bagus sekali bagi orang tua karena anak-anak zaman sekarang mempunyai cita-cita yang sangat beragam. Tidak seperti zaman saya kecil dulu yang hanya tau pekerjaan dokter, insinyur, pengacara, tentara, polisi, dll. Mungkin jika ditanya “kamu mau menjadi apa?” ketika anak tersebut baru lulus SMA, bisa saja anak itu menyebutkan suatu profesi yang sama sekali baru kita dengar. Hal yang baru belum tentu selamanya buruk. Mungkin ketidaktahuan lah yang membuatnya buruk. Oleh karena itu jika orang tua tahu profesi apa yang diinginkan oleh anaknya, dengan melihat web ini, si orang tua akan tau jalur apa yang harus ditempuh agar si anak dapat berprofesi seperti yang ia inginkan.

Web ini juga dapat digunakan oleh adik-adik saya yang akan masuk kuliah. Mungkin ayah dan ibumu tak tahu profesi yang kamu inginkan, sodorkan saja web ini ke orang tua mu, berilah pengertian bahwa dengan saya menyukai profesi ini dan ingin orang tua merestui jalan yang kamu pilih. Karena saya sendiri waktu itu sedikit kesulitan menjelaskan apa itu profesi Aktuaris ke orang tua saya. Tetapi karena beliau berdua adalah orang tua yang sangat baik dan percaya kepada saya, sepertinya tanpa tahu apa itu aktuaris pun, asal melihat saya bahagia, tetapi didukung. Beruntung! Sayangnya tidak semua orang tua di dunia seperti orang tua saya hehe, jadi manfaatkanlah web ini.

Tidak Perlu Membandingkan Indeks Prestasi Mahasiswa Satu Sama Lain

source: collisionscience.co.uk

Indeks Prestasi (IP) adalah yang katanya alat ukur prestasi atau pencapaian akademik dari setiap mahasiswa, baik mulai dari S1 hingga S3 (saya tidak tahu Diploma bagaimana). Menurut buku peraturan akademik kampus saya, Indeks Prestasi adalah

prestasi akademik mahasiswa yang dicapai dalam kurun waktu tertentu atas dasar perhitungan perolehan nilai akhir sejumlah mata kuliah, dimana jika ada mata kuliah yang diulang, nilai yang diperhitungkan adalah nilai terakhir mata kuliah tersebut saja tanpa memperhitungkan nilai mata kuliah tersebut pada pengambilan sebelumnya.

Saya tidak tahu di kampus lain apakah punya definisi atau arti serupa. Yang jelas apapun definisinya, ada satu poin penting disini, IP sangat ditentukan oleh nilai mata kuliah yang kita ambil. Sedangkan hal yang terjadi dalam kegiatan perkuliahan itu banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi IP kita. Sebut saja mulai dari waktu belajar, proses tatap muka kelas, ketersediaan bahan kuliah, kesulitan kuliah, dosen, sampai kegiatan selain kuliah yang kita ambil.

Atas dasar faktor – faktor yang saya sebutkan tadi, aneh sekali jika masih terdengar dua orang mahasiswa atau lebih membandingkan IP nya masing – masing, entah siapa yang paling rendah atau yang paling tinggi. Ini ibaratnya membandingkan kambing dengan sapi dari segi bobot, suara, susu, dagingnya padahal kesamaan mereka hanya karena dua hewan itu termasuk mammalia. Menurut saya IP dari dua orang mahasiswa hanya dapat dibandingkan secara adil minimal jika keadaan – keadaan ini dipenuhi :

  • jurusan dan kampus yang sama
  • jumlah SKS, dosen dari matakuliah yang diambil dalam satu semester sama
  • kegiatan diluar kuliah yang relatif sama

Jika minimal ketiga hal tersebut tidak terpenuhi, maka IP tidak bisa dijadikan patokan siapa yang lebih cerdas dan siapa yang kalah cerdas karena apa yang dibandingkan sudah sangat berbeda. Apalagi dijadikan taruhan “ayo tinggi-tinggian IP semester ini”, ini adalah taruhan yang aneh. Bisa saja kita menang taruhan tersebut dengan mudah yaitu ambil saja kuliah-kuliah yang ‘murah nilai’ dan SKS jangan terlalu banyak agar dapat konsentrasi lebih.

Memang kondisi yang sebut diatas adalah kondisi yang sangat ideal. Pada kenyataannya setiap kali saya melihat lowongan kerja, mayoritas dari perusahaan masih mensyaratkan batas IP minimum. Jelas kalau mengikuti apa yang saya katakan diatas perbandingan akan menjadi semakin bias karena sangat memungkinkan terjadi kasus beda universitas. Apalagi bukan rahasia umum bahwa nilai A di universitas X belum tentu sama kemampuannya dengan nilai A di universitas Y. Beberapa selentingan dan gosip yang saya dengar katanya HRD perusahaan sudah tahu cara ‘menyamakan’ IP tersebut dalam menyaring calon karyawan perusahaannya. Entah bagaimana caranya, sistem penyaringan IP seperti ini akan terus berlangsung karena belum ada alat ukur yang dapat menjelaskan secara pasti kemampuan dari mahasiswa.

Saya pernah terpikir mungkin lebih cocok menyaring tenaga kerja berdasarkan ‘apa yang kau bisa’ dibanding ‘IP kamu berapa’. Sepertinya saat ini trennya mulai mengarah kesini. Sistem seperti ini lebih tepat karena kemampuan mahasiswa bahkan dari kampus dan jurusan yang sama itu belum tentu sama dan seragam. Contohnya saya dan teman saya anggap saja si X, walaupun saya dan X sama-sama kuliah di jurusan Matematika, ketika lulus nanti belum tentu skill kami sama. Apalagi di Matematika terpecah lagi menjadi 5 kelompok keahlian di mana kalau sudah masuk ke salah satu kelompok keahlian hampir dipastikan jarang menyetuh topik 4 kelompok keahlian lainnya. Hal ini mengindikasikan pertanyaan ‘apa yang kau bisa’ lebih tepat karena ‘apa yang kau bisa’ itulah yang bisa dan pernah kita kerjakan sehingga mungkin kita tidak perlu waktu lagi untuk belajar hal yang baru (walaupun belajar hal yang baru itu tidak buruk).

Selama proses penyaringan calon tenaga kerja adalah ‘berapa IP kalian’, skill dasar yang mutlak harus dimiliki adalah satu, yaitu kemampuan belajar yang cepat. Makanya jangan heran jika ada seseorang dari jurusan Pertambangan misalnya, dia bekerja di bank padahal selama kuliah yang ia tahu mungkin hanya seluk beluk teknologi pertambangan. Skill belajar cepat itulah yang membuatnya mampu beradaptasi di dunia perbankan. Memang terkesan tidak nyambung dengan apa yang kita pelajari, namun ‘kemampuan belajar’ itulah yang menjadi esensi sebenarnya dari menjadi seorang sarjana.